00:00Berapa lama lagi tapi harus kita menanti, menunggu eskalasi?
00:05Apa prakondisi menurut Pak Hasan yang memang this is it, it's the final say, keluar dari BOP?
00:11Satu, kita mesti pertimbangkan, mesti hitung konteks domestik Amerika.
00:17Hari-hari ini, kemarin dan hari ini, Senat dan House sedang melakukan penilaian terhadap kebijakan Trump ini.
00:28Apakah tindakan yang didasarkan oleh pertimbangan eksekutif dan mengabaikan kewajiban bahwa perang harus dinyatakan oleh Kongres, itu yang tidak terjadi.
00:43Yang kata lain, apakah perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran itu konstitusional atau tidak konstitusional.
00:49Itu satu faktor yang bisa mengeram.
00:52Mudah-mudahan ke arah penghentian atau sebelum penghentian ke arah pengurangan tegangan melalui dialog misalnya.
01:01Jadi itu satu.
01:02Yang kedua, perkembangan di lapangan sendiri.
01:05Apabila, dan sudah disebut sampai kemarin bahwa Amerika akan menggelar pasukan darat,
01:12dan itu akan memperdalam intensitas dari perangnya itu sendiri.
01:19Bahkan saya khawatirkan bisa menjadi meluas di wilayah-wilayah di mana penduduk atau warga syiah di sejumlah negara di kawasan
01:32itu besar.
01:33Mulai dari Lebanon yang punya Hezbollah, yang sudah terjadi juga perang dengan Hezbollah melawan Israel.
01:40Kemudian Syria, kemudian Irak sendiri.
01:46Kemudian Iran, Bahrain yang 70% penduduknya syiah.
01:51Yemen yang berkuasa, dikuasai oleh juga Houthi yang syiah.
01:57Mudah-mudahan sentimen keagamanannya tidak menjadi contributing factor dalam membuat perang itu meluas dan menjadi lebih intensify.
02:08Maksud Bapak, contributing factors itu adalah untuk membalaskan, Pak, serangan Amerika, Israel ke Iran sehingga ada sentimen ideologis
02:20yang kemudian dari secara sporadis itu akan membalas Amerika, Israel, atau tempat-tempat lain di luar Amerika dan Israel
02:29yang dianggap representasi dari dua negara ini.
02:32Jadi itu kalau lebih utamanya apabila terjadi serangan darat.
02:40Kalau serangan udara kan relatif korban juga lebih terbatas karena selektif target.
02:46Darat akan lebih meluas jangkauan wilayahnya, tapi juga korban yang lebih besar dan akan lebih lama.
02:56Karena sekali Amerika masuk juga tidak mudah untuk mundur.
02:59Dan Amerika punya rekam jejak buruk dalam peperangan di mana diploid pasukan, infantry, ground troops.
03:08Karena mereka tidak pernah menang di sana, kita bicara soal Vietnam, Afghanistan, Iraq.
03:13Rasanya mereka tidak akan dengan mudah juga mengerahkan pasukan darat untuk apa yang disebut dengan pergantian rezim.
03:21Karena pergantian rezim hanya bisa berhasil kalau mengirimkan pasukan darat.
03:24Rasanya Amerika harus berpikir 3, 4, 5 kali untuk melakukan itu.
03:29Itu yang bisa mengubah pandangan politik domestik Amerika.
03:36Seperti kita tahu, sejak ada perang Vietnam yang mengubahkan demo-demo besar di seluruh Amerika untuk penghentian perang.
03:46Pahasan terakhir, jadi apakah satu, Presiden Prabowo mengatakan bersedia untuk menjadi mediator Irak dan Israel Amerika.
03:57Meskipun Iran dan Amerika, meskipun memang untuk menjadi seorang mediator itu adalah panggilan dari dua belah pihak yang bertikai.
04:08Sebenarnya seberapa besar daya tawar kita bisa menjadi mediator dari tiga negara ini?
04:16Pertama, pikiran atau kebijakan untuk damai biasanya sangat tergantung pada kondisi peperangan.
04:25Apakah sudah mencapai satu stalemate.
04:28Di mana pihak-pihak yang berperang tidak lagi punya harapan untuk menang dalam proses perang itu.
04:34Itu yang membuka pikiran mereka untuk oke, kita coba dialog.
04:39Nah sekarang ini belum ada tanda-tanda itu.
04:41Dan katain momentum untuk mengusulkan, memajukan dialog belum ada di sana.
04:47Karena kalau kita dengar sendiri pernyataan dari otoritas Iran mengatakan untuk Israel dan Amerika tidak terbuka ruang dialog.
04:55Tidak ada ruang negosiasi.
04:57Itu rasanya juga secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa kami tidak perlu juru damai.
05:03Yang kedua, semestinya yang dibujuk, diajak untuk berdialog pihak yang penyerang.
05:13Bukan yang diserang.
05:15Karena yang diserang kalau dia yang menguatkan oke saya dialog berarti kapitulasi.
05:20Pertama menjawab mereka terperaihannya sendiri bahwa perang dihentikan karena semacam menyerah.
05:27Jadi pendekatan kita harusnya lebih utama pada Amerika dan Israel.
05:32Tapi persoalannya, apakah kita punya leverage, posisi tawar terhadap kedua negara?
05:37Tadap Israel pasti tidak karena kita tidak punya hubungan diplomatik.
05:41Tadap Amerika kita tahu bagaimana Trump.
05:45Ujakan Trump sekarang yang sangat mengabaikan apapun.
05:52Jadi, satu tidak mudah.
05:55Ada juga seruan dari kelompok masyarakat kita, ORMAS, untuk kita mengambil inisiatif melalui jalur organisasi konferensi Islam.
06:04Kurang disadari bahwa OKI pun terpecah.
06:06Dan kita juga perlu tahu kalau kita bicara di OKI, praktis Saudi Arabia punya hak fitu.
06:12Sekali dia bilang tidak, ya enggak akan terjadi apa-apa.
06:14Kalau begitu Pak, Indonesia bisa ambil peran apa?
06:18Peran bersama negara-negara lain yang tidak mengendaki perang terjadi dan terjadi berkepanjangan untuk menggalang suara.
06:29Tidak kurang di Eropa sendiri, Spanyol sangat frontal untuk menolak pangkalan militer yang digunakan oleh Amerika.
06:37Kemudian Inggris, Perancis, Jerman, Uni Eropa sama sikapnya terhadap tindakan agresi militer Amerika dan Israel.
06:50Tapi juga China dan Rusia.
06:54Jadi dengan kata lain, suara bersama itu juga diperlukan.
06:58Dan di situ mungkin kita bisa berperang karena praktis kita punya hubungan baik dengan semua.
07:03Jadi tapi tidak serta-merta segera untuk berperan mendamaikan mereka.
07:10Jadi terminologinya bukan mendamaikan karena yang keinginan perdamaian itu hanya bisa terjadi
07:20kalau Israel dan Amerika berhenti agresi terhadap Iran.
07:24Tetapi menyerukan bahwa dua negara ini berhenti untuk melakukan serangan.
07:30Betul kan Pak?
07:32Jadi bahasanya adalah bagaimana bersama-sama negara lain Indonesia terlibat aktif untuk mengatakan pada Amerika dan Israel
07:38stop doing this.
07:41Menurut saya itu yang lebih realistik saya lakukan.
07:44Karena terhadap banyak pandangan yang sama di dunia termasuk yang kawasan yang dulu sekutunya Amerika.
07:51Terima kasih Pak Hasan Wirayuda.
07:54Saya senang sekali karena bicara dengan seorang Menlu yang sepanjang karirnya menjadi seorang Menteri Luar Negeri
08:02juga mengalami peristiwa perang yang bisa dibilang sangat betul-betul menjadi sejarah
08:12bagaimana bom WTC dan kemudian New York tidak lagi sama seperti biasa.
08:17Kemudian ada soal Al-Qaeda dan ISIS.
08:20Terima kasih Pak Hasan Wirayuda.
08:22Terima kasih banyak.
08:22Sungguh sebuah perspektif yang luar biasa.
08:25Terima kasih.
08:26Terima kasih.
Komentar