Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memunculkan pertanyaan baru bagi Indonesia: kapan waktu yang tepat untuk keluar dari Board of Peace (BoP)?

Menteri Luar Negeri Indonesia 2001-2009, Hassan Wirajuda menilai keputusan tersebut tidak bisa diambil secara tergesa-gesa.

Menurut Hassan, saat ini Senat dan House of Representatives disebut tengah menilai kebijakan Presiden Donald Trump yang melancarkan serangan terhadap Iran.

Penilaian ini berkaitan dengan aspek konstitusional, apakah keputusan perang tersebut sah secara hukum atau justru melanggar konstitusi Amerika Serikat.

Jika polemik ini berkembang di dalam negeri AS, hal itu justru bisa menjadi faktor penahan yang berpotensi meredam eskalasi konflik.

Namun situasi bisa berubah jika Amerika benar-benar mengerahkan pasukan darat ke Iran.

Langkah tersebut dinilai akan meningkatkan intensitas perang dan membuka kemungkinan konflik meluas ke kawasan lain.

Hassan juga mengingatkan potensi munculnya sentimen ideologis dan keagamaan, khususnya di wilayah dengan populasi Syiah.

Sentimen ini berisiko memicu aksi balasan secara sporadis terhadap Amerika Serikat, Israel, maupun pihak-pihak yang dianggap merepresentasikan keduanya.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Ar0YyHxS21c

#indonesia #boardofpeace #USA

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/655333/as-israel-serang-iran-ri-harus-keluar-dari-board-of-peace-ini-analisis-eks-menlu-hassan-wirajuda
Transkrip
00:00Berapa lama lagi tapi harus kita menanti, menunggu eskalasi?
00:05Apa prakondisi menurut Pak Hasan yang memang this is it, it's the final say, keluar dari BOP?
00:11Satu, kita mesti pertimbangkan, mesti hitung konteks domestik Amerika.
00:17Hari-hari ini, kemarin dan hari ini, Senat dan House sedang melakukan penilaian terhadap kebijakan Trump ini.
00:28Apakah tindakan yang didasarkan oleh pertimbangan eksekutif dan mengabaikan kewajiban bahwa perang harus dinyatakan oleh Kongres, itu yang tidak terjadi.
00:43Yang kata lain, apakah perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran itu konstitusional atau tidak konstitusional.
00:49Itu satu faktor yang bisa mengeram.
00:52Mudah-mudahan ke arah penghentian atau sebelum penghentian ke arah pengurangan tegangan melalui dialog misalnya.
01:01Jadi itu satu.
01:02Yang kedua, perkembangan di lapangan sendiri.
01:05Apabila, dan sudah disebut sampai kemarin bahwa Amerika akan menggelar pasukan darat,
01:12dan itu akan memperdalam intensitas dari perangnya itu sendiri.
01:19Bahkan saya khawatirkan bisa menjadi meluas di wilayah-wilayah di mana penduduk atau warga syiah di sejumlah negara di kawasan
01:32itu besar.
01:33Mulai dari Lebanon yang punya Hezbollah, yang sudah terjadi juga perang dengan Hezbollah melawan Israel.
01:40Kemudian Syria, kemudian Irak sendiri.
01:46Kemudian Iran, Bahrain yang 70% penduduknya syiah.
01:51Yemen yang berkuasa, dikuasai oleh juga Houthi yang syiah.
01:57Mudah-mudahan sentimen keagamanannya tidak menjadi contributing factor dalam membuat perang itu meluas dan menjadi lebih intensify.
02:08Maksud Bapak, contributing factors itu adalah untuk membalaskan, Pak, serangan Amerika, Israel ke Iran sehingga ada sentimen ideologis
02:20yang kemudian dari secara sporadis itu akan membalas Amerika, Israel, atau tempat-tempat lain di luar Amerika dan Israel
02:29yang dianggap representasi dari dua negara ini.
02:32Jadi itu kalau lebih utamanya apabila terjadi serangan darat.
02:40Kalau serangan udara kan relatif korban juga lebih terbatas karena selektif target.
02:46Darat akan lebih meluas jangkauan wilayahnya, tapi juga korban yang lebih besar dan akan lebih lama.
02:56Karena sekali Amerika masuk juga tidak mudah untuk mundur.
02:59Dan Amerika punya rekam jejak buruk dalam peperangan di mana diploid pasukan, infantry, ground troops.
03:08Karena mereka tidak pernah menang di sana, kita bicara soal Vietnam, Afghanistan, Iraq.
03:13Rasanya mereka tidak akan dengan mudah juga mengerahkan pasukan darat untuk apa yang disebut dengan pergantian rezim.
03:21Karena pergantian rezim hanya bisa berhasil kalau mengirimkan pasukan darat.
03:24Rasanya Amerika harus berpikir 3, 4, 5 kali untuk melakukan itu.
03:29Itu yang bisa mengubah pandangan politik domestik Amerika.
03:36Seperti kita tahu, sejak ada perang Vietnam yang mengubahkan demo-demo besar di seluruh Amerika untuk penghentian perang.
03:46Pahasan terakhir, jadi apakah satu, Presiden Prabowo mengatakan bersedia untuk menjadi mediator Irak dan Israel Amerika.
03:57Meskipun Iran dan Amerika, meskipun memang untuk menjadi seorang mediator itu adalah panggilan dari dua belah pihak yang bertikai.
04:08Sebenarnya seberapa besar daya tawar kita bisa menjadi mediator dari tiga negara ini?
04:16Pertama, pikiran atau kebijakan untuk damai biasanya sangat tergantung pada kondisi peperangan.
04:25Apakah sudah mencapai satu stalemate.
04:28Di mana pihak-pihak yang berperang tidak lagi punya harapan untuk menang dalam proses perang itu.
04:34Itu yang membuka pikiran mereka untuk oke, kita coba dialog.
04:39Nah sekarang ini belum ada tanda-tanda itu.
04:41Dan katain momentum untuk mengusulkan, memajukan dialog belum ada di sana.
04:47Karena kalau kita dengar sendiri pernyataan dari otoritas Iran mengatakan untuk Israel dan Amerika tidak terbuka ruang dialog.
04:55Tidak ada ruang negosiasi.
04:57Itu rasanya juga secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa kami tidak perlu juru damai.
05:03Yang kedua, semestinya yang dibujuk, diajak untuk berdialog pihak yang penyerang.
05:13Bukan yang diserang.
05:15Karena yang diserang kalau dia yang menguatkan oke saya dialog berarti kapitulasi.
05:20Pertama menjawab mereka terperaihannya sendiri bahwa perang dihentikan karena semacam menyerah.
05:27Jadi pendekatan kita harusnya lebih utama pada Amerika dan Israel.
05:32Tapi persoalannya, apakah kita punya leverage, posisi tawar terhadap kedua negara?
05:37Tadap Israel pasti tidak karena kita tidak punya hubungan diplomatik.
05:41Tadap Amerika kita tahu bagaimana Trump.
05:45Ujakan Trump sekarang yang sangat mengabaikan apapun.
05:52Jadi, satu tidak mudah.
05:55Ada juga seruan dari kelompok masyarakat kita, ORMAS, untuk kita mengambil inisiatif melalui jalur organisasi konferensi Islam.
06:04Kurang disadari bahwa OKI pun terpecah.
06:06Dan kita juga perlu tahu kalau kita bicara di OKI, praktis Saudi Arabia punya hak fitu.
06:12Sekali dia bilang tidak, ya enggak akan terjadi apa-apa.
06:14Kalau begitu Pak, Indonesia bisa ambil peran apa?
06:18Peran bersama negara-negara lain yang tidak mengendaki perang terjadi dan terjadi berkepanjangan untuk menggalang suara.
06:29Tidak kurang di Eropa sendiri, Spanyol sangat frontal untuk menolak pangkalan militer yang digunakan oleh Amerika.
06:37Kemudian Inggris, Perancis, Jerman, Uni Eropa sama sikapnya terhadap tindakan agresi militer Amerika dan Israel.
06:50Tapi juga China dan Rusia.
06:54Jadi dengan kata lain, suara bersama itu juga diperlukan.
06:58Dan di situ mungkin kita bisa berperang karena praktis kita punya hubungan baik dengan semua.
07:03Jadi tapi tidak serta-merta segera untuk berperan mendamaikan mereka.
07:10Jadi terminologinya bukan mendamaikan karena yang keinginan perdamaian itu hanya bisa terjadi
07:20kalau Israel dan Amerika berhenti agresi terhadap Iran.
07:24Tetapi menyerukan bahwa dua negara ini berhenti untuk melakukan serangan.
07:30Betul kan Pak?
07:32Jadi bahasanya adalah bagaimana bersama-sama negara lain Indonesia terlibat aktif untuk mengatakan pada Amerika dan Israel
07:38stop doing this.
07:41Menurut saya itu yang lebih realistik saya lakukan.
07:44Karena terhadap banyak pandangan yang sama di dunia termasuk yang kawasan yang dulu sekutunya Amerika.
07:51Terima kasih Pak Hasan Wirayuda.
07:54Saya senang sekali karena bicara dengan seorang Menlu yang sepanjang karirnya menjadi seorang Menteri Luar Negeri
08:02juga mengalami peristiwa perang yang bisa dibilang sangat betul-betul menjadi sejarah
08:12bagaimana bom WTC dan kemudian New York tidak lagi sama seperti biasa.
08:17Kemudian ada soal Al-Qaeda dan ISIS.
08:20Terima kasih Pak Hasan Wirayuda.
08:22Terima kasih banyak.
08:22Sungguh sebuah perspektif yang luar biasa.
08:25Terima kasih.
08:26Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan