Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 11 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Luar Negeri 2001-2009, Hassan Wirajuda mengungkapkan pemerintah saat itu melakukan konsultasi luas dengan berbagai pihak sebelum menentukan sikap sebelum pecahnya perang Irak pada tahun 2003.

Konsultasi tersebut melibatkan tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, hingga berbagai elemen publik.

Langkah ini dilakukan untuk membahas kemungkinan upaya mencegah perang yang saat itu hampir pasti terjadi.

Menurut Hassan, salah satu kekhawatiran terbesar Indonesia adalah potensi persepsi global bahwa perang tersebut bukan sekadar konflik politik, tetapi bisa ditafsirkan sebagai perang antara Barat dan Islam.

Bahkan, situasi itu dikhawatirkan bisa berkembang menjadi persepsi konflik antara agama.

Karena itu, pemerintah Indonesia saat itu tetap berupaya melakukan berbagai langkah diplomasi untuk mencegah perang, meskipun menyadari peluang keberhasilannya sangat kecil.

Selain itu, pemerintah juga menyepakati pernyataan resmi yang akan disampaikan kepada dunia internasional.

Ia bahkan menyampaikan langsung sikap tersebut kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Colin Powell.

Hassan menegaskan pernyataan tersebut tidak hanya mewakili sikap pemerintah, tetapi juga mencerminkan aspirasi masyarakat Indonesia.



Menurut Hassan, Powell merespons dengan sikap diplomatis dan menyatakan bahwa kedua pihak bisa saja memiliki pandangan berbeda.

Bagi Hassan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa selama Indonesia konsisten menjalankan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, tidak ada negara lain yang dapat memaksakan pilihan politiknya kepada Indonesia.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Ar0YyHxS21c

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/655331/diplomasi-eks-menlu-hassan-wirajuda-cegah-perang-irak-tak-mau-terbelah-barat-vs-islam-rosi
Transkrip
00:00Mana yang lebih ruwet perang telur kedua Bush Junior sama sekarang ketika Amerika dan Israel bersatu padu menyerang Iran?
00:08Baik perang dilancarkan oleh Presiden Bush Junior terhadap Irak, seperti perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran sekarang.
00:17Itu Amerika berada pada posisi atau kebijakan ini didasarkan kebijakan yang sangat unilateral.
00:22Dia mengabaikan segala aturan internasional, dia mengabaikan PBB dan tapi berbedanya adalah dari segi kepemimpinan Adesun Kresi sebagai leader, Trump
00:36itu memang berbeda dengan Presiden Bush.
00:40Walaupun dalam kita menanggapi persewa itu, kita cerminkan posisi kita yang sangat prinsipal, yang sangat tegas kalau dibilang.
00:52Karena misalnya terhadap perang yang dilancarkan Amerika terhadap Irak, statement kita itu mungkin tidak banyak negara, boleh dikatakan mungkin satu
01:01-satunya.
01:02Apa yang waktu itu Pak, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia, Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda mengeluarkan statement?
01:12We strongly condemn, kita mengutuk dengan keras.
01:16Tindakan agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika terhadap Irak.
01:21Dan yang kedua, itu merupakan pelanggaran terhadap piagam PBB dan hukum internasional.
01:27Karena itu kita meminta, saya katakan bahwa yang ketiga adalah bahwa itu merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan dunia.
01:35Karena itu kita meminta kepada Dewan Keamanan untuk sesuai dengan mandatnya memulihkan perdamaian dan keamanan di kawasan itu.
01:44Itu pertanyaannya yang sangat keras loh Pak.
01:46Sangat keras.
01:46Karena itu tidak heran kalau empat hari kemudian, Menteri Luar Negeri Colin Powell menelpon saya, melobi agar Indonesia bisa mendukung
01:56agresi militer Amerika terhadap Irak.
02:01Saya katakan Anda mesti sudah baca statement yang kita keluarkan di Jakarta, yang saya katakan tadi elemennya.
02:08Dan itu suatu proses yang sangat demokratis.
02:10Sebelum perang Irak dilancarkan pada tanggal 20 Maret 2003, kita melakukan konsultasi yang ada dengan berbagai pihak, tokoh masyarakat, tokoh
02:20lintas agama bahkan.
02:21Kita mendiskusikan apakah kita harus mencegah perang, yang kita tahu akan gagal.
02:26Tapi semua berlaku, perlu kita lakukan upaya mencegah perang.
02:29Sebab kita khawatir perang itu akan ditapsirkan di dunia barat dan juga oleh kita sebagai perang bukan hanya Amerika, tapi
02:38barat terhadap Islam.
02:40Lebih parah lagi kalau itu Kristen hadap Islam.
02:43Jadi kita melakukan upaya-upaya yang sangat intensif.
02:46Dan sampai pada kesimpulan, ya kita upayakan bersama untuk mencegah perang yang tidak tahu akan gagal.
02:54Tetapi juga yang kedua, kita sepakati statement yang akan kita keluarkan.
02:59Jadi karena itu kepada Colin Powell, saya katakan, itu statement pernyataan yang tidak hanya mewakili pernyataan pemberita, tapi juga rakyat
03:08Indonesia.
03:08Dan ini suatu proses yang sangat demokratis, sehingga beliau bereaksi dengan sangat gentle.
03:14Saya paham.
03:15Kita setuju dengan menyesuaikan.
03:19Menurut saya luar biasa.
03:21Karena selama kita bisa menjalankan political standpoint kita, saya rasa tidak ada satupun negara lain yang bisa memaksa apa yang
03:29menjadi pilihan pandangan politik kita.
03:32Apalagi kita adalah sejak dulu adalah bebas dan aktif.
03:36Seberapapun otoriter atau dianggap seorang tiran Saddam Hussein, tetapi ketika dia dijatuhkan dengan agresi militer,
03:45kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki pandangan politik bebas mereka,
03:50kita tetap bisa mengutuk apa yang dilakukan bahwa itu sangat melanggar hukum internasional dan di luar moral peradaban.
03:58Ada tiga hal dalam tindakan perang melancarkan Amerika seperti sebelumnya terhadap Irak, yaitu tidak ada respek penghormatan terhadap kedaulatan negara,
04:14suatu negara, yang kedua tidak ada penghormatan terhadap prinsip keutuhan wilayah negara,
04:23dan tidak ada penghormatan terhadap prinsip atau violation terhadap prinsip non-interference.
04:29Itu prinsip, tiga prinsip yang sudah ada sejak 350 tahun lalu, yang juga kemudian dikemas dalam piagam PBB.
04:37Jadi dalam artian itu luar biasa langgaran itu.
04:41Kementerian luar negeri seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama dilakukan oleh Kementerian luar negeri di eranya Pak Hasan Wira
04:52Yuda.
04:53Situasi apa yang menurut Bapak membedakan ketika, ini juga menjadi banyak pertanyaan,
05:01ketika political statement pemerintahan Indonesia itu satu tidak mengecam apa yang terjadi agresi Israel dan Amerika ke Iran,
05:10dan juga tidak mengucapkan duka cita atas gugurnya pemimpin tertinggi KMENI.
05:17Kira-kira situasi apa yang menjadi pertimbangan sehingga kita tidak memilih political statement seperti itu, and condolences?
05:27Ada tiga hal yang tidak perlu saling berkaitan, tapi juga menjadi faktor pertimbangan menurut saya.
05:33Pertama, kita ada tengah dalam proses negosiasi tentang tarif.
05:39Yang kedua, pembentukan board of peace, yaitu upaya memulihkan Gaza dari malapetaka perang yang lancarkan Israel selama dua tahun.
05:50Yang ketiga, tentunya perang Irannya itu sendiri.
05:54Tiga hal ini saling terkait yang mungkin menjadi pertimbangan,
05:58kenapa kita tidak terlalu vokal dalam menyuarakan posisi kita.
06:05Menyuarakan itu kan tidak perlu kita bilang strongly condemned,
06:09ada seribu satu kata dalam bahasa diplomatik yang bisa digunakan.
06:13Misalnya seperti dikatakan oleh Macron terhadap perang ini,
06:17bahwa apa yang dilancarkan oleh Amerika itu tidak sejalan dengan hukum internasional.
06:22Agak cukup orang sudah paham makna itu.
06:24Jadi, itu atau terlambat dilakukan.
06:35Tapi memang berbeda dengan perang Irak dulu,
06:38kaitan-kaitan dengan masalah-masalah lain yang tengah menjadi preokupasi kita.
06:44Karena kenapa jadi banyak pertanyaan seperti ini?
06:47Karena Indonesia dan pemerintahan dan Iran itu bersahabat.
06:52Semua presiden dari Bung Karno sampai Presiden Joko Widodo pernah ke Teheran.
06:58Dan Presiden Ahmadinejad juga mengunjungi Indonesia.
07:02Pak Hasan Wirayuda yang waktu itu menyambut sebagai Menteri Luar Negeri.
07:07Artinya ketika ada pemimpin tertinggi negara sahabat yang gugur
07:11karena diserang oleh dua negara adidaya,
07:14rasanya meskipun kita punya kepentingan dengan dua, dengan Amerika,
07:19rasanya itu tidak menyampingkan untuk pernyataan dukacita
07:27atas meninggalnya seorang pemimpin negara sahabat.
07:30Bukankah kita bersahabat dengan Iran?
07:32Saya cukup gembira bahwa kemarin pernyataan itu dikeluarkan.
07:36Wakil oleh Menteri Luar Negeri.
07:39Apakah itu juga masukan dari para tokoh
07:41dalam pertemuan dengan Presiden yang kedua kemarin?
07:45Sejujurnya ya.
07:50Kita boleh berbeda aliran politik ya.
07:55Tapi menghormati tokoh yang meninggal atau siapapun sebetulnya
08:01juga satu kewajiban.
08:04Kewajiban bahkan dari perspektif agama.
08:07Lepas dari pandangan kita tentang perangnya itu sendiri.
08:11Tapi gugurnya seorang tokoh pemimpin negara
08:15ya wajar untuk kita sampaikan dukacita kita yang mendalam.
08:20Dan itu sudah dinyatakan.
08:22Akhirnya dinyatakan.
08:23Akhirnya dinyatakan.
08:24Terima kasih.
08:24Terima kasih?
08:26Terima kasih.
08:27Terima kasih.
08:28Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan