00:00Mana yang lebih ruwet perang telur kedua Bush Junior sama sekarang ketika Amerika dan Israel bersatu padu menyerang Iran?
00:08Baik perang dilancarkan oleh Presiden Bush Junior terhadap Irak, seperti perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran sekarang.
00:17Itu Amerika berada pada posisi atau kebijakan ini didasarkan kebijakan yang sangat unilateral.
00:22Dia mengabaikan segala aturan internasional, dia mengabaikan PBB dan tapi berbedanya adalah dari segi kepemimpinan Adesun Kresi sebagai leader, Trump
00:36itu memang berbeda dengan Presiden Bush.
00:40Walaupun dalam kita menanggapi persewa itu, kita cerminkan posisi kita yang sangat prinsipal, yang sangat tegas kalau dibilang.
00:52Karena misalnya terhadap perang yang dilancarkan Amerika terhadap Irak, statement kita itu mungkin tidak banyak negara, boleh dikatakan mungkin satu
01:01-satunya.
01:02Apa yang waktu itu Pak, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia, Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda mengeluarkan statement?
01:12We strongly condemn, kita mengutuk dengan keras.
01:16Tindakan agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika terhadap Irak.
01:21Dan yang kedua, itu merupakan pelanggaran terhadap piagam PBB dan hukum internasional.
01:27Karena itu kita meminta, saya katakan bahwa yang ketiga adalah bahwa itu merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan dunia.
01:35Karena itu kita meminta kepada Dewan Keamanan untuk sesuai dengan mandatnya memulihkan perdamaian dan keamanan di kawasan itu.
01:44Itu pertanyaannya yang sangat keras loh Pak.
01:46Sangat keras.
01:46Karena itu tidak heran kalau empat hari kemudian, Menteri Luar Negeri Colin Powell menelpon saya, melobi agar Indonesia bisa mendukung
01:56agresi militer Amerika terhadap Irak.
02:01Saya katakan Anda mesti sudah baca statement yang kita keluarkan di Jakarta, yang saya katakan tadi elemennya.
02:08Dan itu suatu proses yang sangat demokratis.
02:10Sebelum perang Irak dilancarkan pada tanggal 20 Maret 2003, kita melakukan konsultasi yang ada dengan berbagai pihak, tokoh masyarakat, tokoh
02:20lintas agama bahkan.
02:21Kita mendiskusikan apakah kita harus mencegah perang, yang kita tahu akan gagal.
02:26Tapi semua berlaku, perlu kita lakukan upaya mencegah perang.
02:29Sebab kita khawatir perang itu akan ditapsirkan di dunia barat dan juga oleh kita sebagai perang bukan hanya Amerika, tapi
02:38barat terhadap Islam.
02:40Lebih parah lagi kalau itu Kristen hadap Islam.
02:43Jadi kita melakukan upaya-upaya yang sangat intensif.
02:46Dan sampai pada kesimpulan, ya kita upayakan bersama untuk mencegah perang yang tidak tahu akan gagal.
02:54Tetapi juga yang kedua, kita sepakati statement yang akan kita keluarkan.
02:59Jadi karena itu kepada Colin Powell, saya katakan, itu statement pernyataan yang tidak hanya mewakili pernyataan pemberita, tapi juga rakyat
03:08Indonesia.
03:08Dan ini suatu proses yang sangat demokratis, sehingga beliau bereaksi dengan sangat gentle.
03:14Saya paham.
03:15Kita setuju dengan menyesuaikan.
03:19Menurut saya luar biasa.
03:21Karena selama kita bisa menjalankan political standpoint kita, saya rasa tidak ada satupun negara lain yang bisa memaksa apa yang
03:29menjadi pilihan pandangan politik kita.
03:32Apalagi kita adalah sejak dulu adalah bebas dan aktif.
03:36Seberapapun otoriter atau dianggap seorang tiran Saddam Hussein, tetapi ketika dia dijatuhkan dengan agresi militer,
03:45kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki pandangan politik bebas mereka,
03:50kita tetap bisa mengutuk apa yang dilakukan bahwa itu sangat melanggar hukum internasional dan di luar moral peradaban.
03:58Ada tiga hal dalam tindakan perang melancarkan Amerika seperti sebelumnya terhadap Irak, yaitu tidak ada respek penghormatan terhadap kedaulatan negara,
04:14suatu negara, yang kedua tidak ada penghormatan terhadap prinsip keutuhan wilayah negara,
04:23dan tidak ada penghormatan terhadap prinsip atau violation terhadap prinsip non-interference.
04:29Itu prinsip, tiga prinsip yang sudah ada sejak 350 tahun lalu, yang juga kemudian dikemas dalam piagam PBB.
04:37Jadi dalam artian itu luar biasa langgaran itu.
04:41Kementerian luar negeri seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama dilakukan oleh Kementerian luar negeri di eranya Pak Hasan Wira
04:52Yuda.
04:53Situasi apa yang menurut Bapak membedakan ketika, ini juga menjadi banyak pertanyaan,
05:01ketika political statement pemerintahan Indonesia itu satu tidak mengecam apa yang terjadi agresi Israel dan Amerika ke Iran,
05:10dan juga tidak mengucapkan duka cita atas gugurnya pemimpin tertinggi KMENI.
05:17Kira-kira situasi apa yang menjadi pertimbangan sehingga kita tidak memilih political statement seperti itu, and condolences?
05:27Ada tiga hal yang tidak perlu saling berkaitan, tapi juga menjadi faktor pertimbangan menurut saya.
05:33Pertama, kita ada tengah dalam proses negosiasi tentang tarif.
05:39Yang kedua, pembentukan board of peace, yaitu upaya memulihkan Gaza dari malapetaka perang yang lancarkan Israel selama dua tahun.
05:50Yang ketiga, tentunya perang Irannya itu sendiri.
05:54Tiga hal ini saling terkait yang mungkin menjadi pertimbangan,
05:58kenapa kita tidak terlalu vokal dalam menyuarakan posisi kita.
06:05Menyuarakan itu kan tidak perlu kita bilang strongly condemned,
06:09ada seribu satu kata dalam bahasa diplomatik yang bisa digunakan.
06:13Misalnya seperti dikatakan oleh Macron terhadap perang ini,
06:17bahwa apa yang dilancarkan oleh Amerika itu tidak sejalan dengan hukum internasional.
06:22Agak cukup orang sudah paham makna itu.
06:24Jadi, itu atau terlambat dilakukan.
06:35Tapi memang berbeda dengan perang Irak dulu,
06:38kaitan-kaitan dengan masalah-masalah lain yang tengah menjadi preokupasi kita.
06:44Karena kenapa jadi banyak pertanyaan seperti ini?
06:47Karena Indonesia dan pemerintahan dan Iran itu bersahabat.
06:52Semua presiden dari Bung Karno sampai Presiden Joko Widodo pernah ke Teheran.
06:58Dan Presiden Ahmadinejad juga mengunjungi Indonesia.
07:02Pak Hasan Wirayuda yang waktu itu menyambut sebagai Menteri Luar Negeri.
07:07Artinya ketika ada pemimpin tertinggi negara sahabat yang gugur
07:11karena diserang oleh dua negara adidaya,
07:14rasanya meskipun kita punya kepentingan dengan dua, dengan Amerika,
07:19rasanya itu tidak menyampingkan untuk pernyataan dukacita
07:27atas meninggalnya seorang pemimpin negara sahabat.
07:30Bukankah kita bersahabat dengan Iran?
07:32Saya cukup gembira bahwa kemarin pernyataan itu dikeluarkan.
07:36Wakil oleh Menteri Luar Negeri.
07:39Apakah itu juga masukan dari para tokoh
07:41dalam pertemuan dengan Presiden yang kedua kemarin?
07:45Sejujurnya ya.
07:50Kita boleh berbeda aliran politik ya.
07:55Tapi menghormati tokoh yang meninggal atau siapapun sebetulnya
08:01juga satu kewajiban.
08:04Kewajiban bahkan dari perspektif agama.
08:07Lepas dari pandangan kita tentang perangnya itu sendiri.
08:11Tapi gugurnya seorang tokoh pemimpin negara
08:15ya wajar untuk kita sampaikan dukacita kita yang mendalam.
08:20Dan itu sudah dinyatakan.
08:22Akhirnya dinyatakan.
08:23Akhirnya dinyatakan.
08:24Terima kasih.
08:24Terima kasih?
08:26Terima kasih.
08:27Terima kasih.
08:28Terima kasih.
Komentar