Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Luar Negeri Indonesia 2001-2009, Hassan Wirajuda menilai kekuatan Iran tidak muncul secara tiba-tiba.

Menurutnya, Iran memiliki modal sejarah peradaban yang sangat panjang.

Hassan menjelaskan bahwa peradaban Persia telah berkembang selama sekitar dua ribu lima ratus tahun dan berlangsung secara berkesinambungan.

Warisan sejarah tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting yang membentuk karakter bangsa Iran dalam menghadapi tekanan eksternal.

Selama beberapa dekade terakhir, Iran menghadapi berbagai tekanan dari dunia internasional, mulai dari sanksi ekonomi, isolasi politik, hingga konflik militer.

Namun negara tersebut tetap mampu bertahan.

Selain faktor sejarah dan identitas peradaban, Hassan juga menyoroti kemampuan diplomasi Iran.

Ia menilai para diplomat Iran dikenal sebagai negosiator yang tangguh dalam berbagai perundingan internasional.

Bagi Hassan, kemampuan bertahan dan bernegosiasi itulah yang membuat Iran tidak mudah ditekan atau dipaksa oleh kekuatan internasional.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Ar0YyHxS21c

#iran #israel #USA

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/655329/mengapa-iran-sulit-ditundukkan-eks-menlu-hassan-wirajuda-ungkap-rahasianya-rosi
Transkrip
00:00Kalau begitu pertanyaan Pak, seberapa besar negara-negara teluk juga akan melakukan retaliation atau pembalasan atas serangan ini?
00:09Meskipun alasannya adalah self-defense atas apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat?
00:14Saya lihat potensi Saudi, karena dari berbagai kalkulasi kekuatan, Saudi punya potensi untuk membalas.
00:21Dan juga harga dirinya sebagai tokoh di negara-negara wilayah itu yang selama ini dianggap potensi yang mampu bersaing dengan
00:30Iran.
00:31Tapi kita juga tahu Saudi tidak punya pengalaman atau tradisi berperang.
00:37Di Yemen bagian utara ada klub etnik namanya suku Houthi yang Syiah.
00:43Sehingga melancarkan perang sepanjang perbatasan terhadap Saudi, bahkan meluncurkan roket ke arah Riyadh dan sebagainya,
00:54Saudi juga tidak berhasil omerangi mereka.
00:58Bahkan kita saksikan sekarang suku Houthi yang berkuasa di Yemen.
01:03Jadi sementara ini Iran ini bangsa petarung.
01:07Sejak zaman Persia dulu Iran itu memang unggul dalam berperang.
01:13Jadi kita tidak bisa abaikan tradisi ini juga.
01:17Jadi Pak Hasan melihat bahwa dalam sejarahnya meskipun bisa dikatakan ada ketidaknyamanan dari pemimpin-pemimpin negara teluk,
01:27kenapa mereka jadi kena getahnya.
01:29Tetapi untuk melakukan retaliation secara langsung berperang ke Iran rasanya itu peluang yang sangat-sangat kecil.
01:39Menurut saya begitu.
01:42Jadi belum lagi kalau kita lihat di negara-negara Arab sendiri kan terpecah.
01:48Misalnya ketika negara-negara anggota Gulf Council memberikan sanksi kepada Qatar,
01:58karena Qatar dianggap dekat dengan Iran.
02:00Jadi tidak semua dari negara itu satu paham dalam menghadapi Iran.
02:06Dan bahkan ada komunikasi terakhir kan antara menurut Iran dengan Qatar.
02:12Jadi kontak dengan Qatar memang dibuka.
02:15Karena memang mereka selama ini juga lebih terbuka, saling terbuka dibandingkan Saudi Arabia.
02:20Jadi kalau melihat mereka yang berkonflik itu, apakah tetap hanya Amerika-Israel melawan Iran?
02:26Atau kita juga akan melihat adanya dukungan untuk Iran?
02:32Mau berperang bersama Iran dari negara-negara yang selama ini berhadapan-hadapan dengan Amerika?
02:36Misalnya Rusia atau China yang selama ini juga memiliki hubungan dengan Iran?
02:41Pertama, kewajiban untuk ikut membantu Iran dalam perang itu kan harus didasarkan pada satu.
02:51Bukannya tradisi hubungan baik.
02:53Tapi ikatan dari kacamata baik China wapun Rusia, Iran sebagai treaty allies.
03:05Jadi berdasarkan adanya persekutuan lebih dulu.
03:09Jadi bahwa Rusia simpati pada Iran karena memang dalam perang Ukraina juga Iran men-supply drones yang besar jumlahnya.
03:20Demikian juga China yang menjadi pemasuk senjata.
03:23Tapi untuk ikut serta perang fisik membantu Iran mungkin jauh dari kemungkinan.
03:32Jadi Pak Hassan ketika ada yang mencemaskan apakah ini bisa menjadi prakondisi untuk perang dunia ketiga.
03:41Pak Hassan kalau tadi melihat yang diserang negara-negara teluk oleh Iran ke negara-negara teluk saja kecil kemungkinannya untuk
03:50membalas balik.
03:52Sehingga konflik itu tidak jadi meluas atau tidak mendalam.
03:56Mereka yang ingin membantu atau bersimpati dengan Iran seperti Rusia dan China saja juga tidak ingin terlalu frontal untuk ikut
04:03berperang membantu Iran.
04:05Artinya kondisi ini membuat apakah bisa saya simpulkan tidak menjadi satu prakondisi terjadinya perang dunia ketiga.
04:16Pertama, Iran tidak memiliki senjata nuklir.
04:21Bahkan antara pemilik senjata nuklir sendiri, mereka takut berperang menggunakan senjata nuklir yang menjurus pada perang dunia ketiga.
04:29Karena level teknologi senjata nuklir itu sudah pada derajat mutually assured destruction.
04:39Siapapun yang mulai melontarkan senjata nuklir dia juga akan musnah.
04:44Jadi sementara ini kan perang yang Israel punya nuklir.
04:48Iran tidak, tapi Israel juga tidak mudah menggunakan senjata nuklir untuk melawan Iran.
04:55Sama seperti Rusia memiliki 6.000 senjata nuklir melawan Rusia, melawan Ukraina.
05:02Betapun tidak mudahnya perang tapi dia juga tidak mudah menggunakan senjata nuklir terhadap Ukraina.
05:08Karena itu saya tidak berpikir dari perang ini akan menuju pada perang dunia ketiga.
05:16Terima kasih.
05:17Terima kasih.
05:18Terima kasih.
05:20Terima kasih.
05:20Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan