Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Luar Negeri Indonesia periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, menilai serangan terhadap Iran lebih mencerminkan kepentingan Israel, dengan dukungan dari Amerika Serikat.

Menurut Hassan, Israel sejak lama memiliki kepentingan strategis untuk mempertahankan dominasi atau hegemoni di kawasan Timur Tengah.

Karena itu, setiap kekuatan yang dianggap dapat menyaingi posisi Israel, cenderung menjadi target untuk dilemahkan.

Ia menegaskan bahwa Iran memiliki struktur kepemimpinan yang berlapis dan telah menyiapkan berbagai figur yang berpotensi menjadi penerus kepemimpinan.

Maka, gugurnya Ayatollah Ali Khamenei tidak serta-merta membuat sistem politik di Iran runtuh.

Hassan menggambarkan kondisi tersebut dengan pepatah, hilang satu tumbuh seribu.

Karena itu, menurutnya, kematian Ali Khamenei tidak bisa dianggap sebagai tanda keberhasilan misi dalam konflik tersebut.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Ar0YyHxS21c

#iran #israel #AS

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/655326/eks-menlu-hassan-wirajuda-iran-tak-akan-tumbang-meski-khamenei-gugur-rosi
Transkrip
00:00Banyak latar belakang dari proses itu yang cukup mencerahkan semua yang hadir dalam pertemuan.
00:07Kita memahami lebih baik karena itu saya melihat kalau itu dijelaskan kepada publik lainnya lebih baik.
00:13Susahnya memang sebagian itu kan tidak mudah juga untuk dijelaskan.
00:18Karena dalam diplomasi ada banyak hal yang bersifat rahasia yang tidak mudah gelar secara terbuka.
00:27Tapi esensinya kan bisa dijelaskan.
00:29Itu yang disadari oleh pemerintah.
00:31Dan dalam board of peace misalnya saya mengatakan mengapa dari awal kita tidak cukup menjelaskan.
00:41Setelah pertemuan di New York pada tanggal 23 September setelah beliau berbicara di majelis umum.
00:50Kan ada pertemuan bersama dengan 8 negara-negara berpenduduk mayoritas Islam atau negara Islam.
01:01Dan disitu dibangun kesepakatan untuk 8 itu akan ikut serta dalam board of peace.
01:08Yang kedua sebelum penandatanganan dokumen board of peace di Davos pada bulan Januari kan juga didahului pertemuan di antara negara
01:228 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Islam.
01:27Yang kita bagian dari kesepakatan itu untuk ikut serta dalam board of peace.
01:34Saya melihat dari segi kalkulasi kekuatan 8 negara itu bisa menjadi penyeimbang.
01:41Dari katakanlah kedudukan Trump yang sebagai ketua sangat dominan dan bukan tanpa kekuatan sebab Trump pasti menghitung bahwa 8 negara
01:58ini juga punya peran atau kontribusi yang tidak bisa diabaikan.
02:04Khususnya adalah kontribusi pendanaan dari kegiatan yang dirancang untuk memulihkan Gaza.
02:10Itu satu. Jadi satu yang kita lihat sebagai satu elemen positif kenapa kita masih ikut.
02:20Yang lain adalah bahwa sebelum gagasan tentang board of peace kita akan menyaksikan selama 2 tahun lebih sejak selama 2
02:30tahun lebih Israel sangat leluasa.
02:33Setiap hari menyerbu Gaza kita saksikan penduduk sipil wanita anak-anak yang menjadi korban 71 ribu menjadi korban meninggal.
02:46Belum jumlah besar kerusakan yang terjadi.
02:50Tapi lebih dari itu juga tidak ada tanda-tanda ke arah memulihkan situasi perang menjadi satu kencatan senjata.
03:03Sekat atau tidak kita kepada Presiden Trump adalah Presiden Trump yang memang punya kemampuan untuk menekan Israel menyepakati kencatan senjata.
03:15Dan dari situlah kita saksikan penderitaan rakyat Palestina belum sebetulnya berakhir tapi mulai ada tanda-tanda ke arah perbaikan.
03:25Misalnya dengan penyaluran bantuan kemanusiaan.
03:27Jadi dari penjelasan Presiden yang langsung kepada para mantan menlu, tokoh-tokoh pada waktu itu Pak Hasan melihat bahwa ini
03:37make sense pada waktu itu mengapa setuju untuk masuk BOP.
03:41Pak saya mau masuk nanti saya akan tanya juga soal BOP setelah ada serangan Amerika dan Israel ini.
03:48Sebagai seorang mantan menteri luar negeri, seorang diplomat senior, saya ingin dengar apa tanggapan Bapak soal apa yang terjadi?
04:00Mengapa Amerika menyerang Iran bersama Israel?
04:05Sebenarnya ini perangnya siapa?
04:07Perangnya Israel yang dibantu oleh Amerika atau perangnya Amerika yang dibantu oleh Israel?
04:14Yang kedua, yang pertama, perangnya Israel dibantu Amerika.
04:18Karena memang netannya sudah cukup lama berpikiran tentang bagaimana mengubah kawasan itu di mana Israel menjadi pemegang peranan sebagai hegemon.
04:30Karena setiap kekuatan yang muncul yang dianggap menjadi tandingan saingan Israel pasti dia akan lemahkan.
04:37Kita lihat saja mulai dari Irak, Saddam Hussein, kemudian Syria ketidak masa Assad, dan Iran di masa kepemimpinan spiritual yang
04:53Ali Khomeini yang kemarin korban dari pemboman.
04:58Ini sesuatu yang juga sangat mengejutkan dan menjadi pembicaraan bahwa dalam serangan tanggal 28 Februari lalu,
05:08pemimpin Ali Khamani itu berhasil digugur atau dikena rudal, gugur, dan juga perangkat-perangkat pemimpin lainnya.
05:22Dalam tempo kurang dari 24 jam. Apakah pada waktu itu, itu bisa diklaim sebagai kemenangan serangan Amerika dan Israel?
05:32Atau gugurnya Khomeini itu tidak bisa serta-merta dianggap sebagai klaim kemenangan serangan Amerika-Israel, Pak Hassan?
05:41Dari perspektif Amerika dan mungkin juga Israel, bahwa kematian Sheikh Ali Khamenei dianggap sebagai berakhirnya atau tumbangnya rezim,
05:55suara Trump sebelum atau segera setelah berita kematian itu juga cenderung ke arah rezim berakhir.
06:03Yang dilupakan adalah bahwa dan faktanya sekarang kita saksikan bahwa ada berlapis calon-calon pemimpin pengganti Ayatullah Ali Khamenei
06:18yang mungkin menggunakan pepatah kita hilang satu tumbuh seribu dan memang Iran punya kemampuan itu.
06:26Jadi dengan gugurnya Khamenei itu tidak dianggap sebagai sebuah mission accomplished?
06:35Kenyataannya paling tidak seserlah ditunjuknya penguasa sementara.
06:41Jelas tidak mission yang accomplished.
06:44Karena itu masih diperluas.
06:48Dengan termasuk berita hari ini, CIA mensponsori suku Kurdis Syiah di Iran untuk menggunakan kekuatan senjata melawan rezim di Teheran.
07:02Jadi dan kita juga tahu dalam pengalaman sejarah di kawasan itu,
07:08mensponsori satu kelompok belum tentu bisa berhasil.
07:11Tapi yang jelas bisa akan memperluas perang.
07:14Ketika objek dari agresi itu adalah pergantian rezim,
07:19apakah menurut Pak Hassan ini adalah sebuah alasan yang dibuat-buat?
07:24Atau sesungguhnya memang ada target operasi untuk pergantian rezim yang masih belum bisa dilakukan oleh Amerika?
07:33Sebetulnya kalau menurut saya yang menjadi target Amerika,
07:39lebih lagi Israel adalah pengembangan senjata nukuler oleh Iran.
07:44Itu isu yang sudah sejak saya awal menteri pun sudah diisu ya.
07:49Tetapi kalau kita lihat terakhir, dalam perang 12 hari,
07:55Trump kan sangat bangga mengatakan bahwa
08:01research nukuler Iran sudah obliterated, sudah musnah.
08:06Tapi sekarang ketika dia gunakan argumen bahwa
08:10Iran merupakan ancaman besar terhadap Amerika Serikat
08:17antara lain karena kemampuan mengembangkan senjata nukuler
08:22yang pada tahun lalu dikatakan sudah musnah.
08:25Jadi memang tidak ada konsistensinya karena di domestic politics Amerika juga
08:30mempertanyakan motif perang ini apa sebetulnya.
08:36Tapi buat Israel jelas dan itu bagian dari seragi besar untuk tidak ada saingan Israel
08:43apalagi Iran yang punya tidak hanya kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir pada waktunya
08:49tapi juga kemampuan mengembangkan misil.
08:53Punya nuklir is one thing, tapi kalau tidak punya misil untuk mendelivery
08:58ya tidak banyak manfaatnya.
09:00Tapi Iran menunjukkan luar biasa kemampuan mengembangkan misil yang
09:04dengan hypersonic tapi juga drones yang jumlahnya puluhan ribu
09:13yang mematahkan mitos bahwa Israel tidak mungkin terjangkau
09:20dengan dome sistem pelindungan melalui misil Patriots dan Tad.
09:28Nyatanya Iran dapat melakukan itu.
09:31Bahkan Tel Afib dan Yerusalem kena serangan terakhir.
Komentar

Dianjurkan