Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemerintah terus mendorong upaya pemerataan ekonomi hingga ke wilayah desa. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, mengusulkan pembatasan ekspansi ritel modern atau minimarket ke desa agar ekonomi lokal bisa lebih berkembang.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan menilai kehadiran koperasi desa (Kopdes) justru dapat membuka peluang kolaborasi dengan ritel modern, bukan semata menjadi pesaing.

Lantas, apakah pembatasan ekspansi ritel modern benar-benar efektif untuk memperkuat ekonomi desa? Bagaimana pandangan pelaku usaha ritel terhadap wacana ini?

Kami membahasnya bersama Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Jimmy Gani.

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/654146/full-aprindo-bicara-wacana-pembatasan-ritel-modern-di-desa
Transkrip
00:26Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, KOMEN dan SHARE...
00:30dan Uni Usaha Warga Desa, sekaligus pendorong pemerataan ekonomi nasional.
01:00Dan kepastian keuntungan itu kembali lagi ke rakyat, karena ini menggunakan dana APBN.
01:05Nah, oleh karena itu, yang sudah ada silahkan jalan.
01:08Kami tidak pernah mengatakan menutup Alpamat atau Inumara, yang sudah ada silahkan jalan.
01:13Tapi karena sekarang, Ritual Modernian ini sudah masuk ke desa-desa Moham,
01:18para pemanggung pentingan untuk tidak lagi membuat izin baru.
01:23Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengaku sudah membahas masalah
01:28Koperasi Desa Merah Putih dengan Mendes dan PDT Yandri Susanto.
01:33Menurut Mendak, Koperasi Desa Merah Putih bertujuan untuk memberdayakan ekonomi desa
01:37dengan mempercepat distribusi barang ke masyarakat di desa.
01:41Mendak meyakini, kehadiran Koperasi Desa justru membuka peluang kolaborasi bagi Ritual Modern
01:46untuk mendistribusikan atau mensuplai produk-produknya ke Koperasi Desa.
01:52Koperasi Desa atau Koperasi Desa yang sudah ada di daerah-daerah itu
01:58sebenarnya ingin lebih dekat distribusinya kepada para konsumen yang ada di desa.
02:04Nah, ini sebenarnya kesempatan bagus untuk saling kolaborasi
02:08dengan minima, dengan distributor untuk menyalurkan produknya melalui Koperasi Desa.
02:16Koperasi Desa ini praktek kolaborasi atau pemerintahan ini kan juga pernah
02:21dan sering dilakukan sampai sekarang masih berlaku dengan toko kelontong.
02:28Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia, APRINDO, menghormati langkah pemerintah
02:32untuk memperkuat ekonomi desa.
02:34Namun APRINDO berharap kebijakan ini tidak mengganggu distribusi dan ketersediaan barang
02:39terutama kebutuhan pokok
02:40dan konsumen mendapatkan pelayanan serta harga yang terbaik.
02:45APRINDO ini kan sebagai asosiasi yang menaungi para retail
02:50itu menghormati langkah pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa.
02:54Yang terpenting adalah bagaimana kebijakan ini diarahkan pada kolaborasi konkret
02:58bukan pembatasan yang berpotensi mengganggu distribusi barang
03:02terutama barang kebutuhan pokok
03:04dan juga lapangan kerja di desa maupun di kelurahan.
03:09Kita kan yang penting itu konsumen mendapatkan yang terbaik
03:13layanan yang terbaik, harga yang terbaik
03:15kemudian juga ketersediaan barang yang juga continuous
03:20serta juga mereka bisa mendapatkan kapan saja.
03:24Nah selama itu dijalankan secara kompetitif
03:26siapapun kan boleh ada di sana.
03:30Wacana pembatasan retail modern di pedesaan
03:33sebagai bagian dari strategi pemerintah
03:35untuk melindungi keberlangsungan penjualan di warung kelontong tradisional
03:39serta memperkuat ekonomi desa
03:41melalui Koperasi Desa atau Kopdes Merah Putih.
03:45Tim Liputan, Kompas TV
03:55Upaya pemerataan ekonomi terus dilakukan pemerintah.
03:58Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto
04:01mengusulkan agar ekspansi retail modern atau minimarket di wilayah desa dibatasi.
04:06Sementara Mendak meyakini kehadiran Kopdes membuka peluang kolaborasi bagi retail modern.
04:12Apakah pembatasan ekspansi retail modern ke wilayah desa bisa berhasil memperkuat ekonomi di wilayah desa
04:18dan bagaimana tanggapan dari Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia atau APRINDO
04:22sudah bergabung bersama kami Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia, Jimmy Ghani.
04:28Selamat pagi Mas Jimmy.
04:30Selamat pagi Mas Bermanamana.
04:32Ya, Mas Jimmy ini kan usulan dari Mendes PDT ya
04:35soal moratorium izin baru untuk minimarket.
04:38Nah, kalau dari APRINDO ini menilainya sebagai hambatan ekspansi
04:42atau mungkin ada potensi kehilangan oportuniti pendapatan di sana?
04:47Ya, terima kasih Mas Bermanamana.
04:49Ini isu yang menarik ya.
04:52Jadi, sebagaimana kami sampaikan, APRINDO itu menghormati pandangan dan keundangan pemerintah
04:57dalam memperkuat ekonomi desa dan kooperasi.
04:59Ya, masalah ini adalah satu hal yang mengurangi potensi pendapatan yaitu hal yang lain gitu.
05:09Namun, kami juga merasa bahwa perlu memandang pendekatan terbaik bukan penghentian ekspansi,
05:16penghentian ekspansi ya secara umum,
05:19melainkan penataan berbasis kebutuhan wilayah dan kajian yang komprehensif.
05:23Karena bagaimanapun kan yang namanya konsumen itu kan perlu mendapatkan akses
05:29terhadap pelayanan yang terbaik, harga yang paling kompetitif,
05:33kemudian juga kontinus supply daripada produk-produk yang dibutuhkan,
05:39terutama kebutuhan pokok.
05:41Nah, kalau misalnya kita dibatasi,
05:43ya tentu kita berharap barang-barang itu tetap tersedia
05:46dengan tadi poin-poin yang saya sampaikan.
05:51Jadi perlu dipahami bahwa dalam kondisi konsumen yang melambat dan daya beli yang tertekan,
05:57ekspansi bagi retail bukan semata agresivitas,
05:59melainkan strategi untuk menjaga keberlanjutan usaha.
06:03Tanpa ekspansi, pertumbuhan itu sulit untuk tercapai ketika penjualan stagnan
06:09atau cenderung menurun.
06:11Namun, ekspansi tetap harus dilakukan secara terukur,
06:14sesuai regulasi daerah dan kebutuhan pasar.
06:17Jadi, Mas Beryamana, framing yang tepat itu adalah kolaborasi dan keseimbangan,
06:23bukan pembatasan sepihak gitu ya.
06:25Jadi kan framing yang sekarang ada ini kan seakan-akan kita mesti membatasi gitu kan,
06:31karena ada nanti kooperasi merah-putih yang mau jalan
06:37dan perlu diberikan semacam karpet merah lah gitu kira-kira.
06:42Nah, sebaiknya ini kolaborasi bersama dengan kooperasi desa merah-putih
06:48atau kalau dari Aprindo, mendingan dibagi aja wilayahnya.
06:50Jadi, pisa-pisa tetap mau jalan sendiri-sendiri?
06:53Kami sih melihatnya sih, sebetulnya kolaborasi adalah hal yang sangat potential.
06:57Karena kan kalau kita bicara dalam perdagangan,
07:00itu kan mata ratai pasoknya itu, supply chain-nya itu kan panjang gitu ya.
07:05Mulai dari ujung hulunya,
07:09di mana produsen itu harus nanti mendistribusikan barang,
07:13itu nanti diambil oleh distributor,
07:15distributor kemudian nanti meneruskan kepada wholesaler,
07:20perdagang besar, kemudian ke perdagang kecil,
07:22baru ke retail gitu kan.
07:24Nah, di situ kan nanti tinggal kita coba untuk identifikasi.
07:28Kita kan bisa diskusi dan akhirnya mencari titik-titik kolaborasi yang sangat memungkinkan gitu.
07:35Nah, itu yang sebetulnya harusnya dilakukan
07:38daripada kita mempolemikan atau memframing bahwa ini adalah
07:47kooperasi desa versus retail modern gitu,
07:50yang saya rasa kurang tepat untuk kita melihatnya dari situ gitu.
07:54Kalau bisa sama-sama jalan, sama-sama untung, kenapa tidak ya berkolaborasi?
07:57Tetapi yang jadi pertanyaan kolaborasi yang paling memungkinkan,
08:01yang paling menguntungkan bagi kedua belah pihak,
08:03di sebelah mananya nih, Mas Jimmy?
08:05Oke, saya kasih gini ya, Mas Bermana ya.
08:09Analogi dulu ya.
08:10Jadi kita nggak keluar daripada dunia retail gitu.
08:13Kita lihat ke sektor finansial kan,
08:16ini seakan-akan misalnya ada perbankan.
08:18Perbankan yang besar gitu,
08:19tidak boleh masuk sampai ke desa-desa gitu kan.
08:22Kemudian diambil alih oleh kooperasi simpan pinjang gitu,
08:26yang ada di seluruh Indonesia.
08:28Nah, ini kan tentunya jadi pembatasan dan kemungkinan merugikan konsumen gitu kan.
08:35Nah, kalau kita lihat sebetulnya ada potensi untuk kolaborasi
08:40antara tadi, di sektor tadi.
08:42Begitu juga dengan di sektor retail,
08:45di mana kolaborasi itu sangat mungkin.
08:48Misalnya gitu ya, kita bisa memberikan pendampingan, manajemen.
08:53Karena ini penting loh.
08:55Membuka toko itu nggak mudah gitu.
08:57Saya pernah jadi di Ruta Sarina tahun 2009 sampai 2012.
09:03Memimpin retail itu nggak mudah gitu.
09:05Dan itu perlu orang yang cakep,
09:08yang manajemen yang luar biasa gitu kan.
09:11Kemudian kemampuan untuk mengelola stok yang baik.
09:17Kemudian juga sistem yang bagus di dalam IT-nya.
09:20Kemudian juga jangan lupa,
09:22harus juga ada funding yang cukup gitu untuk men-stok barang kan.
09:27Karena kan kita nggak bisa semua barang itu masuk
09:30tanpa kita harus membiayai dulu barang-barang itu.
09:34Banyak sekali, Mas Beremana, faktor-faktor yang menyebabkan
09:38toko retail itu perlu dikelola dengan baik gitu.
09:44Jadi nggak sesimpel seperti yang dibayangkan gitu ya.
09:48Bahwa nanti kooperasi membuka toko,
09:53kemudian tiba-tiba bisa jalan aja gitu loh.
09:55Dengan mengandalkan pembelinya adalah anggota-anggotanya.
10:01Saya nggak mengatakan tidak bisa ya.
10:02Tentu sangat memungkinkan gitu.
10:04Tapi juga jangan dibayangkan mudah untuk melakukannya kira-kira gitu.
10:09Tentunya karena retail modern sudah berpengalaman
10:12dan memiliki sistem sendiri ya untuk bisa menjalankan bisnisnya.
10:15Tapi kemudian yang menjadi pertanyaan muncul,
10:17ini kan kekhawatiran gitu.
10:19Kalau misalnya terlalu banyak retail modern yang ada di desa-desa terpencil
10:22ataupun yang seharusnya ada kooperasi di sana,
10:25ini bisa mematikan UMKM lokal ataupun juga warung tradisional.
10:29Kalau dari Aprindo sendiri melihatnya seperti apa, Mas Jimmy?
10:32Saya bisa memahami ya, persepsi itu.
10:35Tapi itu persepsi.
10:37Kenyataannya adalah bahwa teman-teman kita di retail
10:43itu justru banyak bekerjasama sama UMKM.
10:47Artinya kan tadi supply chain itu kan panjang kan.
10:51Kita nggak bisa mengadalkan hanya satu dua pihak aja,
10:54tapi banyak pihaknya.
10:55Nah UMKM baik itu yang sifatnya UMKM yang produksi gitu ya,
11:01itu kan perlu nanti sarana atau outlet untuk bisa menyalurkan barangnya
11:06sehingga dibeli oleh konsumen.
11:08Itu kita kerjasama banyak sekali.
11:10Bahkan di berbagai acara kita, di berbagai perayaan kita,
11:13misalnya hari retail nasional kita selalu mengusung
11:17bagaimana kita bisa berkolaborasi dengan UMKM secara baik gitu.
11:21Memberikan mereka pelatihan, memberikan mereka akses terhadap outlet,
11:27kemudian kita kurasi supaya mereka juga tahu apa kekurangan mereka,
11:32sehingga mereka naik kelas.
11:33Dan jangan lupa, Mas, bagaimana,
11:35retail-retail Indonesia itu bukan hanya eksis di Indonesia loh.
11:39Kita ini udah go internasional gitu.
11:42Nah, merek-merek ya saya nggak perlu nyebutkan,
11:44tapi boleh dicek gitu.
11:45Merek-merek retail Indonesia yang dibangun sudah puluhan tahun,
11:50itu sudah bukan berada hanya di Indonesia aja,
11:53tapi juga di luar negeri seperti di Filipina,
11:55sebarusan ada di Bangladesh, dan seterusnya.
11:58Ini merupakan peluang untuk digunakan oleh UMKM
12:02dalam rangka mereka go global ya,
12:05bukan hanya go nasional atau go regional.
12:09Jadi kembali lagi,
12:10kalau menurut saya janganlah kita framing gitu ya,
12:15bahwa UMKM ini justru tidak memberikan kesempatan kepada UMKM.
12:20Kira-kira gitu.
12:21Oke, itu tadi ya ada kesempatan-kesempatan
12:23yang bisa dimanfaatkan juga oleh UMKM kita
12:25untuk selain nitip barang lah,
12:27simpelnya ya nitip barang ke retail modern bisa sampai ke luar negeri.
12:30Tapi Mas Jimmy yang jadi pertanyaan juga ini soal
12:32kemungkinan persaingan usaha ke depannya,
12:35ketika misalnya nanti harus berdampingan retail modern
12:37dengan juga kooperasi desa merah putih.
12:39Memang izin barunya nanti misalnya gitu ya,
12:42dihentikan misalnya.
12:43Tapi kan masih ada retail modern yang existing gitu,
12:45yang mungkin berdampingan dengan kooperasi desa merah putih.
12:49Nah, Anda melihatnya persaingan ke depannya
12:51kalau misalnya nanti tetap dilarang
12:54ataupun di moratorium ekspansi nggak seperti apa, Mas?
12:57Ini Mas, bagaimana?
12:58Jadi kompetisi itu kan bukan hanya antara
13:01retail modern sama kooperasi merah putih.
13:05Di dalam retail modern sendiri kita bisa lihat gitu kan,
13:07ada retail-retail merek tertentu yang juga tidak bisa bertahan.
13:11Kenapa?
13:11Karena memang kompetisinya itu stiff,
13:13kompetisinya itu begitu fit, begitu kuat ya.
13:16Karena kita kan nggak bisa maksa konsumen,
13:20masyarakat untuk memilih tokoh-tokoh tertentu.
13:24Masyarakat itu punya preferensinya,
13:26apakah dari sisi harga,
13:28kedekatannya dari rumahnya,
13:30pelayanannya,
13:31kualitas produknya, dan seterusnya.
13:33Nah, kalau kita lihat,
13:35selama tadi ya,
13:38kan kita ikut dengan kemenangan pemerintah sebagai regulator.
13:42Jadi, akan regulator menentukan
13:48bagaimana regulasinya,
13:50tapi perlu diingat,
13:51perlu dikaji secara mendalam.
13:53Bukan hanya sekedar reaktif terhadap
13:57kondisi bahwa ini kooperasi merah putih akan jalan.
14:00Saya juga, kita juga kan di retail modern ini
14:05bukan hanya,
14:07bukan sekedar langsung buka gitu ya.
14:09Kan kita melewati satu proses dalam izin,
14:14dan juga mencoba untuk mereview
14:18apakah layak untuk kita buka di satu tempat gitu.
14:22Oke, usaha-usaha yang dilakukan oleh retail modern
14:26juga sangat banyak untuk sebelum bisa membuka usaha,
14:28dan juga, lagi-lagi tadi ya,
14:31kemudian bagaimana regulasi dari pemerintah ini
14:32juga bisa dikaji lebih mendalam,
14:34dan supaya tadi,
14:36dari APRINDO juga mendorong,
14:37bukan moratorium,
14:39tapi ya kolaborasi,
14:41biar sama-sama jalan gitu ya, Mas Jimmy ya.
14:43Baik, kami akan nanti bahas bersama
14:46Menteri Kooperasi Saudara,
14:47terima kasih.
14:48Mas Jimmy Gani,
14:49Ketua Dewan Pengawas APRINDO,
14:51sudah bergabung bersama kami
14:52di Sapa Indonesia Pagi.
14:55Dan Saudara, kami akan langsung bahas
14:58soal bagaimana wacana larangan ekspansi retail modern ke desa ini
15:01langsung dengan pihak Kementerian Kooperasi,
15:04usai cita berikut.
15:05Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan