Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 menit yang lalu


Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

JAKARTA, KOMPAS.TV -- Presiden Donald Trump bersikeras mempertahankan kebijakan tarif resiprokal, meskipun telah dibatalkan Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Dengan mencari landasan legal lain, Trump mengancam akan menjatuhkan tarif lebih tinggi, jika ada negara yang mundur atau mengubah kesepakatan.

Sejumlah pihak menilai kesepakatan tersebut memberi peluang strategis, sementara lainnya melihat adanya ketimpangan yang berisiko terhadap kedaulatan ekonomi nasional.

Baca Juga Pernyataan Presiden Prabowo Bertemu Raja Yordania: Singgung Kemerdekaan Palestina hingga BOP Trump di https://www.kompas.tv/internasional/653160/pernyataan-presiden-prabowo-bertemu-raja-yordania-singgung-kemerdekaan-palestina-hingga-bop-trump



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/653573/adu-argumen-connie-rahakundini-vs-ksp-kadin-soal-kesepakatan-tarif-trump-bola-liar
Transkrip
00:01Halo selamat malam saudara, bola liar kembali menggelinding ke hadapan anda.
00:05Presiden Donald Trump bersekeras mempertahankan kebijakan tarif presiden prokal
00:09meskipun telah dibatalkan Mahkamah Agung Amerika Serikat.
00:13Dengan mencari landasan legal lain, Trump mengancam akan menjatuhkan tarif lebih tinggi
00:18jika ada negara yang mundur atau mengubah kesepagatan.
00:22Bagaimana Indonesia harus bersikap?
00:24Apalagi saat banyak kalangan menilai kesepakatan tarif dan komitmen perdagangan dengan Amerika Serikat
00:32timpang lebih banyak wajiban untuk Indonesia, jauh lebih sedikit untuk Amerika Serikat.
00:39Dengan banyak klausul yang asimetris, apakah kesepakatan Indonesia dengan Amerika Serikat
00:44bisa dipahami sebagai langkah strategis?
00:47Saudara inilah bola liar bersama saya, Mas Ister Tarigan.
00:54Untuk membahas lebih jauh, sudah hadis dulu narasumber di studio.
00:57Saya menyapa Ahmad Hodel Umam, Kepala Bandar Reset dan Inovasi Strategis Partai Demokrat.
01:02Sama-malam.
01:02Sama-malam, Pak Ilona.
01:04Muhammad Putra Utama, Teraga Ahli Utama Kantor Setap Presiden.
01:07Sama-malam, Mas Ister Tarigan.
01:08Sama-malam, Pak Ilona.
01:10Pak Alam Mansuri, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan dan Perjanjian Internasional.
01:15Sama-malam, Pak Alam.
01:17Iqra Nusabakti, Duta Besar RI untuk Tunisia 2017-2021.
01:22Sama-malam, Pak Iqraar.
01:23Sama-malam.
01:25Pony Rahakundini, Bakri Guru Besar Hubungan Internasional St. Petersburg State.
01:30Selamat malam, Pak Iqraar.
01:32Pratama Dalian Persada, Chairman Cisrek.
01:35Sama-malam.
01:35Sama-malam, Pak.
01:37Agung Paskoro, Direktur Eksekutif Trias Politiga Strategis.
01:40Sama-malam, Mas Agung.
01:41Sama-malam, semua.
01:43Ahmad Heri Firdaus, Ekonomi Indepth.
01:45Selamat malam, Mas Ari.
01:46Selamat malam.
01:47Saya langsung ke Bu Kony.
01:48Kalau begitu, Bu Kony, Donald Trump bersikeras untuk tetap menerapkan tarif resiprokal.
01:53Bagaimana sikap Indonesia?
01:54Ikuti maunya Trump atau negosiasi ulang saja?
01:58Kalau mau jawaban cepat, negosiasi ulang.
02:00Bisa? Masih ada ruang?
02:01Masalahnya bukan bisa atau nggak bisa.
02:03Harus atau tidak harus.
02:05Karena keputusan ini, bagaimanapun berakhir pada ujungnya kepentingan nasional, kan?
02:10Jadi saya berharap di titik ini kita nggak memperdebatkan salah atau betul.
02:14Apakah Presiden kemarin terkesa-kesa atau tidak, gitu.
02:17Saya lebih melihatnya kepada kenapa kita pada saat dipropos kepada Presiden,
02:22saya nggak tahu menyertai Presiden, waktu itu kalau nggak salah Bapak ikut ya.
02:24Ikut.
02:24Saat apa?
02:25Ikut, Pak Pala ikut waktu itu.
02:26Ya.
02:27Apakah tidak misalnya ada, saya mungkin mesti bahasnya dari perspektif saya di Rusia, ya.
02:34Kita tuh kalau ada perjanjian apa-apa tuh kita skeptical dulu.
02:38Jadi nggak semua, wah ini kayak green light di Amerika Serikat, oke deh, gitu.
02:41Nggak.
02:42Tapi kita perhatikan kira-kira apa nih, resikonya apa.
02:45Terus skenario ini bagaimana.
02:47Lalu apakah jalan, ini begini loh.
02:49Sebelum kita memutuskan menara tangan,
02:51harusnya intelijen kita dalam bidang ekonomi, fiskal, perdagangan, tarif, dan lain-lain itu
02:56sudah ada yang bisa penetrasi duluan.
02:58Jadi Presiden itu terupdate, terdata, apa yang harus dilakukan.
03:03Apakah harus cepat-cepat kan nggak juga.
03:04Apakah kalau kita sikap menunggu kemudian kita ditinggalkan, kan tidak juga.
03:08Tapi kenapa?
03:09Pertanyaan buat saya, apa yang membuat atau impetus yang menjadikan keputusan itu begitu cepat,
03:16terus terang aja kita kaget, atau at least saya kaget, gitu.
03:19Karena kelihatannya kita nggak pernah bahas, nggak pernah apa-apa tau-tau diputuskan.
03:22Jadi kalau ditanya tadi, apakah harus divisit ulang, revisit ulang?
03:25Harus.
03:26Tetapi dengan, sekali lagi, skema yang betul tentang pertama tadi, komponen intelijen ekonomi.
03:32Yang kedua, komponen doktrin.
03:35Saya nggak tahu nih, kita punya nggak sih doktrin jika terjadi apa-apa secara ekonomi.
03:39Kita yang ngomong doktrin, pikirannya keperang, pikirannya kemiliter.
03:42Ada loh doktrin non-militer yang terkait tadi, ekonomi lagi, fiskal lagi, hukuman lagi.
03:46Nah, saya bisa lihat ini, kita kalau perhatikan ya, sejak era perang Crimea 2014, kemudian Special Military Operations Rusia 2022,
03:56itu kan perang yang terjadi, udah nggak bisa perang, jangan dilihat perang yang secara fisik.
04:00Hampir semua itu mulai dari peraturan dagang, fiskal, ekonomi, tarif, dan lain.
04:05This is the new kind of war.
04:06Sehingga ketika presiden meneratangan atau berkomitmen, harusnya kembali ke apa yang saya harap,
04:12ada yang bisa memberitahu dari tadi, paling tidak dua aspek, intelijennya, ya kan?
04:15Sama tadi, apa, kenapa tidak ada skeptical, apa ya, skeptical pandang, view-nya lah.
04:24Bahwa ini nggak harusnya cepat-cepat gitu.
04:27Kira-kira itu aja dulu kode dari saya.
04:28Oke, Pak Pala, Anda kan ikut kemarin dalam kesempatan dagang tersebut.
04:33Jadi, apakah benar memang presiden tidak merima full atau penuh insight yang mungkin lebih hati-hati?
04:39Kalau kata Bu Koni tadi, skeptical dikit lah.
04:42Ya, kami pada waktu itu hadir di Amerika Serikat memang mewakili kadin.
04:48Jadi, kami dari mewakili dari dunia usaha, memang melihat bahwa hasil daripada negosiasi ini kan sudah berjalan cukup lama.
04:56Dan memang kita memiliki satu urgency di bidang usaha, khususnya adalah dalam hal ini di sektor-sektor yang memang berbasis
05:04tenaga kerja tinggi.
05:05Atau labor intensive industry.
05:07Dan memang kalau kita lihat pada saat ini, dengan hasil negosiasi tarif yang ada pada saat ini, sektor-sektor yang
05:14memiliki pengaruh kepada,
05:16tadi kan ada disebutkan, ada 1.819 komoditas.
05:19Dan kalau kita lihat, komoditas-komoditas yang memang mendapatkan tarif yang cukup rendah, bahkan nol,
05:25itu pada saat ini itu cukup banyak.
05:28Jadi, seperti misalnya alas kaki, kemudian kedua juga tekstil, garment.
05:35Kemudian tadi juga disebutkan komoditas-komoditas yang merupakan komoditas andalan kita juga,
05:40seperti misalnya kopi dan lain.
05:42Jadi, ini memang merupakan satu kesempatan buat kita.
05:45Nah, apakah ini merupakan satu ketergesa-gesaan?
05:48Memang kalau kita lihat saat ini, kan sudah ada kurang lebih sekitar 8 negara lainnya, kalau saya nggak salah.
05:54Termasuk juga negara-negara lainnya yang sudah menantangani adalah negara-negara seperti misalnya Malaysia, Bangladesh, kemudian ada juga Taiwan.
06:02Jadi, merupakan negara-negara yang memang merupakan para pesaing utama kita, khususnya yang bergerak di bidang labor intensive industry tadi.
06:09Jadi, memang kalau kita lihat, ya ada impetusnya tadi, ada urgency memang untuk melihat bagaimana supaya apa yang kita lihat
06:17saat ini,
06:17di mana kita membutuhkan satu dorongan, satu momentum positif, sehingga memang labor intensive industry ini memang bisa bergerak di tahun
06:252026.
06:25Jadi, Presiden sudah well informed ya?
06:28Nggak ada keterdesakan, nggak ada terburu-buru dalam pendana tangan?
06:30Kalau itu-itu, saya tidak tahu.
06:32Tetapi, kalau menurut saya, dari struktur tarif yang ada, ini sudah menunjukkan adanya bahwa Indonesia nggak bisa dibilang bahwa kita
06:40kalah.
06:41Bisa dibilang bahwa kita memang mendapatkan sesuai dengan objektif.
06:45Dalam sebuah negosiasi, pasti yang menjadi ukurannya adalah objektif kita ini apa.
06:50Objektif kita yang paling utama tentunya kalau kita lihat adalah bagaimana memang kita bisa membangun kembali, mendorong competitiveness khususnya di
06:58labor intensive industry.
06:59Oke, baik. Mas Heri, kesepakatan tidak bisa disebut bahwa Indonesia itu kalah. Anda salah satu yang bilang bahwa ini timpang
07:05kesepakatan ini.
07:06Jawaban Anda?
07:07Ya, jadi kalau kita lihat memang ini timpang.
07:09Jadi, seperti yang tadi disampaikan, kita wajib banyak untuk memenuhi keinginan Amerika Serikat.
07:16Kita diminta untuk membuka akses pasar secara full, 99 persen.
07:22Kemudian, kita juga diminta untuk menghilangkan hambatan non-tarif, NTM, TBT, SPS, dan lain sebagainya.
07:28Ya, kemudian kita diminta untuk langsung menerima standar mereka.
07:32Jadi, kita tidak boleh lagi menyeleksi produk-produk Amerika itu untuk masuk sini.
07:36Pokoknya, kita terima.
07:37Artinya, timpang yang Anda maksud Indonesia kalah negosiasi dengan Amerika Serikat?
07:41Ya, kita jelas. Kita kalah telak kalau menurut saya.
07:42Kalah telak?
07:43Artinya, ya kita diminta untuk menerima semua apa keinginan Amerika Serikat.
07:47Seperti tadi, kita seakan-akan jadi ruang pemerintah untuk menyusun kebijakan ini jadi lebih sempit ke depannya.
07:56Khususnya untuk kebijakan-kebijakan yang terkait dengan industrialisasi.
08:00Ya, kita diminta untuk berkomitmen tidak menerapkan TKDN untuk Amerika Serikat.
08:06Sementara negara-negara lain itu sudah mau mengikuti TKDN kita.
08:11Nah, ini kan nanti kita dianggap kok nggak konsisten.
08:14Kita disangka memberi karpet merah khusus buat Amerika Serikat.
08:18Sementara negara-negara lain yang sudah bahkan membangun pabrik di sini untuk mengikuti TKDN kita,
08:23mereka sudah oke, sudah komitmen.
08:24Nah, Amerika Serikat seakan-akan kita kasih karpet merah.
08:27Ini kan akan menjadi presiden buruk bagi pemerintah, dari pandangan dari investor.
08:32Mas Tama, kalau kota Mas Heri kita kalah telak katanya.
08:36Industrialisasi itu kita mundur jadinya.
08:38Kalau dulu kita mewajibkan orang TKDN, sekarang kita berikan karpet merah kepada Amerika Serikat.
08:42Tidak perlu memenuhi persyarat TKDN.
08:44Iya, kita harus melihat dulu ya.
08:47Sebenarnya perjanjian ini, kalau kita lihat apakah kita mendapatkan benefit lebih atau tidak,
08:53kalau menurut kami kita mendapatkan benefit lebih.
08:55Oh, apa itu?
08:56Dibandingkan kalau kita tidak sama sekali melakukan negosiasi ataupun malah kita melakukan retaliasi.
09:01Kenapa tadi?
09:03Kenapa saya bilang seperti itu?
09:04Karena pertama, Bu, kita dapat 0% di beberapa produk unggulan kita,
09:09tekstil, garmen, termasuk juga ada CPO, coklat, kopi, dan lain-lain yang kita mendapatkan tarif 0%.
09:18Tentunya kita juga harus lihat bahwa kacamatanya jangan kacamata Indonesia dengan US saja.
09:24Kita juga harus lihat bagaimana negara-negara kompetitor kita itu deal dengan US seperti apa?
09:31Karena yang kita lihat sekarang adalah bagaimana kita bisa bersaing dengan produk-produk yang negara yang menghasilkan sama seperti kita.
09:39Seperti yang Pak Pahala tadi sampaikan.
09:41Kita saat ini, bayangkan, Pak, kita ke US, tujuan pasar utama kita ke US itu nomor 2.
09:48Oke.
09:48Maksa pasar 11% Bu, Pak.
09:50Terus juga Mas tadi kita tahu tekstil atau garmen itu peringkat nomor 1.
09:55Saya ada datanya di sini, tahun 2024 saja kita pakaian jadi itu 2,81 miliar USD.
10:02Lalu alas kaki 2,80 miliar USD.
10:05Pakaian rajutan 2,1 miliar USD.
10:07Oke.
10:07Kalau kita kehilangan dari tadi ya kita memilih tidak negosiasi, kita melakukan retaliasi, di samping tadi kita sudah tidak ada
10:14pasar ekspor, kita melakukan retaliasi, tentunya tidak bagus untuk konsumen kita.
10:17Jadi menurut Anda ini kesepakatan yang strategis, bukan asimetris?
10:22Tentu, menurut kami apa yang dilakukan sekarang, seperti yang disampaikan itu tidak tergesa-gesa.
10:29Kalau kita lihat adalah proses ini hampir setahun Pak ya, setahun lebih Bu, dari apa yang ditetapkan saat di bulan
10:35April oleh Presiden Donald Trump dengan adanya tarif resipokal.
10:39Lalu kita bergerak cepat untuk melakukan proses-proses negosiasi yang tentunya dilit oleh Kementerian Koordinator Perekonomian, ada di situ Kementerian
10:47Luar Negeri juga, ada Kementerian Perdagangan yang juga ikut memproses diskusi dengan USTR.
10:53Yang tidak ada orang intelijennya ya?
10:55Yang saya bilang tadi, jadi prosesnya adalah bahwa jangan sampai kita justru malah lose-lose gitu ya, kita kehilangan pasar
11:04utama kita untuk produk-produk padat karya kita,
11:06bayangkan ada 4-5 juta yang bekerja di sektor-sektor industri padat karya yang saat ini kita juga lagi mengalami
11:13penurunan dari daya saing.
11:17Tentunya kalau kita kehilangan lebih bahaya lagi gitu ya.
11:20Saya boleh potongan Mas Tamaya, mohon maaf Bu Konsep.
11:22Silahkan Bu Konek.
11:23Karena gini, yang saya khawatirkan sekarang sudah terjadi, tetapi yang saya khawatirkan kita itu tidak punya substantif skeptinism.
11:30Harusnya kalau itu ada dari awal, kita ini seluruh rakyat Indonesia langsung mendukung saja.
11:35Tidak ada yang bertanya-tanya Presiden benar atau tidak, kita kehilangan atau untung, tidak ada.
11:39Kita ini sekarang, masalahnya adalah di titik sekarang, kita itu tidak punya itu.
11:42Sehingga ketika kebijakan dilakukan oleh Presiden, rakyat riuh, akademisi riuh, pelaku pasar juga riuh.
11:50Saya bisa ngomong begini, sekali lagi ini bukan mengkritisi apa-apa.
11:53Saya cuma mau bilang, di negara yang saya tinggal sekarang, itu tuh terjadi.
11:56Sehingga keputusan Presiden tuh absolut.
11:58Ketika Presiden Putin bilang, ah udah gak ada rakyat membuat suara B apa C.
12:02Karena udah tahu, udah pasti dibikin benar.
12:04Contoh nih sekarang, misalnya, dengan tadi statement Trump di dalam tweetnya dia itu.
12:08Siap gak kita tiba-tiba dengan misalnya kita mau negosiasi ulangkan, ya kan, dari 19 ke 10 gitu.
12:14Siap gak kita tiba-tiba misalnya swift quote kita dimatikan, gitu.
12:17Misalnya nih, saya rasa gak siap.
12:20Saya jawab, Ibu.
12:21Jadi terkait dengan tadi yang disampaikan, kami juga koordinasi dengan Deputi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi.
12:30Saat ini pun proses diskusi dengan USTR tuh tidak berhenti.
12:33Bahkan kita juga tetap melakukan diskusi, apa namanya, khususnya pasca terbitnya tadi.
12:38Keputusan dari Supreme Court dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa tarif resi vokal itu dibatalkan.
12:46Saat itu juga Donald Trump mengganti tarifnya menjadi kebijakan 10%.
12:50Bahkan dia ada wancana ke 15%.
12:52Dengan, dia sampaikan bahwa itu dalam waktu 150 hari lalu dilakukan investigasi.
12:58Dan nantinya pun kita tidak tahu yang pasti akan ada yang tinggi dan lain, nantinya.
13:03Kalau kita lihat apa yang sudah dilakukan sekarang, itu dengan kita melakukan kepastian di awal, kita melakukan proses kesepakatan dengan
13:11US.
13:11Kalau saya berpandangan bahwa saat ini justru kita malah memberikan yang namanya first, apa namanya, advantage pertama gitu ya.
13:21First moving advantage.
13:22Jadi dengan kita melakukan langkah pertama dengan US, kita lebih ada kepastian sebenarnya.
13:26Kenapa?
13:27Tadi yang saya bilang, saat ini lagi proses bernegosiasi.
13:30Negosiasi lagi?
13:31Proses menanyakan, saat ini kan nggak mungkin mbak, kita dapat 19%.
13:35Tapi bukan poin-poin yang dinegosiasikan, tapi berlaku atau berlakunya.
13:38Tarif resi vokal yang berlaku di US mau 10 sampai 15, kan itu nggak masuk logika.
13:42Pasti akan diproses, apalagi kita minta pasti lebih rendah.
13:46Karena apa untungnya kita melakukan agreement on the resi vokal trade.
14:01Harusnya kita tuh meributkan isi ini semua ketika belum di tangan-tangan itu loh.
14:05Bukan saya bilang yang tadi dinyatakan mas itu belum dilakukan.
14:09Udah, memang iya.
14:10Tapi kalau memang itu sudah betul, kenapa ada kegelisahan?
14:13Contoh, mungkin dari saya aja ya.
14:14Kenapa induk ayam?
14:15Apa ayam itu?
14:16Green parent stock.
14:18Nah, kenapa coba?
14:19Kalau saya takutnya ya, ada beberapa isu.
14:21Apakah kedaulatan petani kita, peternak kita akan aman misalnya nih?
14:25Dan lain-lain.
14:26Sekali lagi saya bukan ahlinya di sana, cuman saya lebih kepada sebuah negara itu harus berketahanan.
14:31Harus berkemandirian, harus juga independen gitu.
14:35Apalagi kita mendorong sebuah sembahan depanan ya.
14:37Karena yang paling penting sovereign.
14:38Nah, akan sovereignkah kita tetap jika ini kita teruskan?
14:43Saya nggak bilang ini harus dibatalkan ya.
14:45Tapi bagaimana kita tetap menjaga sovereignitas kita ketika kita ini berjalan terus ke depan dengan kondisi hati ini.
14:51Itu loh maksudnya.
14:52Baik.
14:53Mas Tama, Presiden Amerika Serikat
14:55Bahkan mengancam
14:56Untuk negara yang tidak mengikuti kesepakatan
15:00Itu akan dikenakan tarif lebih tinggi lagi.
15:03Jadi sekarang
15:04Bagaimana peran Indonesia?
15:06Ikut saja, manut saja, atau berani melawan?
15:08Nanti dijawab.
15:09Mulai lihat.
15:09Sekali kembali.
15:10Terima kasih.
15:12Terima kasih.
15:12Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan