00:01Saudara polisi menetapkan Ibu Tiri sebagai tersangka penganiayaan anak di Sukabumi, Jawa Barat.
00:07Polisi menyebut korban kerap dianiaya oleh Ibu Tirinya sejak 2023.
00:40Kasus penganiayaan Ibu Tiri terhadap seorang anak hingga meninggal dunia memasuki babak baru.
00:46Polisi menetapkan sang Ibu Tiri sebagai tersangka penganiayaan.
00:51Polisi mengungkap kekerasan terhadap korban dilakukan sejak tahun 2023.
00:55Pada 2024 tersangka sempat dilaporkan dengan kasus yang sama, namun saat itu diselesaikan secara kekeluargaan.
01:04Namun polisi masih mengusut motif kekerasan itu.
01:09Selain menetapkan Ibu Tiri sebagai tersangka, polisi juga akan memeriksa ayah kandung korban terkait laporan dugaan pembiaran dan penelantaran korban.
01:18Dari Polisi Sukabumi saat restri sudah menetapkan tersangka sekolah RITR yang merupakan Ibu Tiri.
01:28Seperti di tanggal 4 November 2024 itu berada juga laporan, namun laporan itu sudah kita proses dan ada perdamaian.
01:40Dan itu tentunya akan kita dalami lagi, akan kita tindak lanjuti.
01:45Dan sebelumnya hasil dari keterangan korban NS pada saat DLP yang 2024, 2023 juga mengalami kekerasan yang sama.
01:57Kejaksaan Negeri Sukabumi juga menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan SPDP,
02:03kasus kematian remaja usia 13 tahun yang diduga dianyaya Ibu Tiri.
02:08Dan kami sudah menunjuk beberapa jaksa untuk mengikuti dan meneliti perkembangan dari penyidikan yang sedang dilakukan oleh teman-teman Polres
02:19Pelabuhan Sukabumi, Polres Sukabumi di Pelabuhan Rantuan.
02:23Oke, detail dari SPDP ini sendiri Pak?
02:24SPDP-nya itu atas nama terlapornya itu saudari TR, selaku ibu tiri dari korban.
02:35Sementara pasal yang dikenakan di SPDP itu pasal 80 ayat 1, ayat 2, junto pasal 76C, larangannya 76C.
02:45Yang intinya itu kekerasan, melakukan kekerasan terhadap anak, yang ayat 1-nya itu luka biasa, yang ayat 2-nya itu
02:54luka biasa.
02:56Sebelumnya, Lisnawati, ibu kandung korban, melaporkan mantan suaminya yang juga ayah kandung korban ke Polres Sukabumi.
03:04Dasar pelaporan adanya unsur pembiaran, kelalaian, dan penelantaran terhadap almarhum.
03:10Ibu kandung korban mengaku sudah 4 tahun tidak bertemu korban, karena dihalang-halangi mantan suaminya.
03:29Namun, Amran, kakak TNI, sang ibu tiri, menyangkal tudingan adanya penganiayaan terhadap korban.
03:35Menurut Amran, korban tak mungkin mau pulang ke rumah jika ibu tirinya kejam.
03:41Amran menyebut, adiknya justru kerap memberikan perhatian layaknya ibu kandung kepada korban.
03:46Kalau seandainya emang nggak nyaman, karena di sini istilahnya nggak nyaman, karena ibu tirinya benar-benar kejam,
03:54ya pasti kan dia juga pergi dan nggak bakalan pulang ke sini.
03:58Kenapa? Karena logikanya anak itu udah 12 tahun, bukan anak kecil lagi.
04:03Sekarang menurut informasi, itu adalah dari korek kemudian dibawa ke korek.
04:12Sebelum meninggal, korban sempat menyebut dianyaya ibu tiri.
04:16Dari hasil pemeriksaan dokter, korban mengalami sejumlah luka di sekujur tubuh dan gangguan pola napas.
04:22Di meliputan Kompas TV.
04:27Untuk membahas kasus ini, kita sudah terhubung dengan psikolog anak remaja dan keluarga Sani Budiantini Hermawan.
04:33Selamat siang, Mbak Sani dengan Bella di studio.
04:37Selamat siang.
04:38Mbak Sani, ini kita sangat miris ya kejadian yang terjadi di Sukabumi dan juga ada beberapa kasus lain.
04:43Keluarga yang harusnya jadi ruang aman, malah jadi lingkaran terdekat yang punya potensi jadi pelaku kekerasan.
04:50Sebenarnya apa sih yang bisa melatar belakangi keluarga yang kemudian menjadi pelaku, Mbak Sani?
04:58Iya.
04:59Dalam kesempatan ini juga saya sangat menghimbau pada semua orang tua bahwa kekerasan pada anak ini tidak dibenarkan dengan alasan
05:09apapun.
05:10Mbak adalah individu yang mestinya dilindungi, dibesarkan dengan kasih sayang sehingga tidak bisa dijadikan menjadi objek kekerasan.
05:22Nah inilah yang melatar belakangi kenapa orang tua atau di dalam rumah itu membuat anak menjadi target karena anak dirasa
05:32sebagai objek, bukan sub-subjek.
05:34Objek di mana orang tua merasa anak adalah sumber pelampiasan ketika orang tuanya marah, anak yang kena sasar.
05:42Ketika anak tidak disiplin misalnya, maka orang tua merasa pantas anak itu diberikan hukuman.
05:49Nah dari persepsi orang tua yang melihat anak sebagai objek dan bukan subjek, inilah awal dari mudahnya kekerasan di dalam
05:57rumah itu terjadi.
05:59Baik kekerasan fisik, psikologis maupun kekerasan verbal.
06:04Mbak Sani, lalu sebenarnya faktor apa yang paling sering menjadi pemicu? Apakah ekonomi atau mungkin ada semacam dia punya sejarah
06:15masa lalunya yang juga pernah mengalami hal yang sama?
06:20Maaf, ini putus-putus tadi bagaimana?
06:23Apakah memang faktor ekonomi bisa menjadi pemicu utama Mbak Sani?
06:28Iya, putus-putus bisa jadi ada beberapa faktor begitu ya menurut saya.
06:33Karena kan kalau kita lihat, salah satu orang tua yang tidak bisa mengontrol emosi itu biasanya akan melampiaskan kekesalahan itu
06:41terhadap orang di sekitarnya.
06:43Nah orang yang paling mudah dilampiaskan, yang dianggap paling rentan adalah kan misalnya anak.
06:48Dan anak dilakukan hal ini juga merasa orang tua punya otoritas terhadap dirinya.
06:53Sehingga anak bisa saja diam saja, dia tidak bisa lari, bahkan ketakutan tanpa dia tahu bagaimana cara keluar dari permasalahan
07:00ini.
07:01Dan orang tua yang kepribadiannya seperti ini, ini sangat membahayakan anaknya.
07:06Atau anak sambungnya misalnya, atau anak kecil di sekitarnya misalnya.
07:10Jadi ada multifaktor, salah satunya adalah ketidakmampuan kontrol emosi, juga ada kepribadian yang sifatnya sadistis.
07:18Memang suka menyakiti orang lain.
07:22Seperti juga misalnya menyakiti binatang, tidak peduli dengan orang, tidak berempati.
07:28Ya tadi bahkan senang kalau misalnya emosinya sudah tersalur dengan cara menyakiti orang lain.
07:35Ini kan kadang korban juga mungkin tidak berani untuk melapor karena pelakunya masih keluarga.
07:40Lalu apa yang harus dilakukan?
07:41Terutama misalnya kalau di Sukabumi kan warga sekitar sudah bilang tuh kalau sebenarnya sudah ada tanda-tandanya.
07:48Nah bagaimana warga sekitar bisa membantu korban tapi tidak juga masuk ke dalam ranah privatnya, Mbak Sani?
07:57Iya, ini sepenanggapan saya ya pertanyaannya adalah bagaimana tadi ya pertolongan terhadap korban gitu ya sebenarnya.
08:04Nah kalau saya melihat, kita ini kan anak ini kan memang ada first homenya adalah keluarga, second homenya adalah sekolah.
08:12Ada juga misalnya circle dua yaitu keluarga dari misalnya tante, om gitu ya atau dan sebagainya.
08:19Nah ini yang menurut saya perlu adanya memang saling berkomunikasi.
08:23Ketika second homenya itu sekolah melihat anak ini misalnya diam atau mengelus sakit,
08:29nah ini juga bisa menelusuri kenapa atau apa yang terjadi pada anak tersebut.
08:34Kemudian juga tadi keluarga circle kedua ya tadi ya misalnya bisa dihubungi, bagaimana kabarnya.
08:40Dengan komunikasi kan juga tahu keadaan anak tersebut.
08:43Nah kemudian juga ada warga di sekitar yaitu komunitas yang ada di lingkungan rumahnya.
08:47Bisa saja tetangga atau RTL yang tahu keadaan ini atau mendengar berita ini bisa menelusuri.
08:57Jadi di sini juga perlu yang namanya social responsibility,
09:00di mana akhirnya bisa terkantisipasi anak-anak yang tidak lagi jadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
09:06Karena KDRT ini masih banyak dan marak di sekitar kita dan ini menjadi darurat kekerasan pada anak.
09:14Mbak Sani, terkadang kan memang ada juga mungkin keluarga atau kerabat atau mungkin tetangga yang tidak berani untuk ikut campur
09:21lebih jauh.
09:22Mungkin ada penonton Kompas TV juga yang sedang mengalami hal yang sama.
09:25Dia tahu ada anak yang menjadi korban.
09:27Apa yang lebih dulu harus dilakukan agar tidak terjadi lagi nih kasus-kasus anak sampai meninggal dunia karena kekerasan oleh
09:35orang terdekatnya?
09:38Ya, ini tadi ya, ini karena terlihat terputus tadi ya.
09:41Jadi intinya adalah kekerasan itu kan tidak bisa dipenangkan di sini.
09:45Nah jadi ketika kita sebagai orang tua harus perlu tahu sebagai peran orang tua itu seperti apa.
09:52Kita harus ada penjiwaan sebagai peran orang tua untuk mendidik anak kita dengan baik dan benar gitu ya.
09:59Dan juga sesuai dengan koridornya.
10:01Nah tadi warga atau sekitar itu bisa saja menjadi berbasis komunitas ya.
10:07Untuk kita tingkatkan kemampuannya atau berbasis komunitas kita bisa menjadikan warga itu menjadi juga penjaga anak di sekitar kita begitu.
10:19Jadi ketika tetangga atau misalnya tadi ada rukun keluarga misalnya itu mengetahui ada sesuatu itu bisa dilaporkan.
10:26Nah dengan demikian itu tidak akan terjadi luka yang terjadi pada anak.
10:30Nah luka itu bisa dua, luka batin dan luka fisik.
10:32Nah ketika ada luka fisik maka nyawa pun bisa teranggut di situ karena kita tidak tahu batasan kesadisan perilaku dari
10:42orang dewasa itu sebatas mana.
10:44Karena ketika anak tidak ada perlindungan, tahu anak ini tidak melawan, tahu anak ini cuma sebatang karak artinya tidak ada
10:51orang yang mengetahui keadaannya.
10:53Maka kesadisan perilaku itu menjadi unlimited.
10:57Dia tidak tahu bagaimana menyetopnya.
11:00Karena merasa ketika anak sebagai objek itu terlampiaskan emosinya dia puas.
11:07Nah ini akhirnya menjadi tidak terbatas dan bisa meranggut nyawa seseorang.
11:12Itu tadi yang paling penting adalah awareness atau kesadaran bahwa kalau misalnya memang ada permasalahan secara psikologis segera menghubungi orang
11:20terdekat.
11:20Kalau keluarga atau kerabat atau mungkin tetangga penonton kompas TV merasa ada yang salah dengan anak tetangganya atau kerabatnya segera
11:28melapor.
11:29Karena dari laporan itulah kita bisa mencegah agar kejadian seperti ini tidak terjadi kembali.
11:33Terima kasih atas diskusinya di siang hari ini.
11:36Sani Budiantini Hermawan, psikolog anak remaja dan keluarga selamat beraktifitas kembali.