Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Eks Gubernur Jakarta Anies Baswedan menggelar open house di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan pada Sabtu (21/3/2026) sore.

Dalam kesempatan tersebut, Anies menekankan makna Idulfitri sebagai momentum kembali ke fitrah, baik secara pribadi maupun sebagai bangsa.

Terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus, Anies menilai peristiwa tersebut bukan kriminal biasa, melainkan ancaman terhadap demokrasi.

Ia mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas hingga ke dalang atau pemberi perintah, bukan hanya pelaku lapangan.

"Dari awal ini bukan kriminal biasa. Ini serangan terhadap pribadi yang memperjuangkan demokrasi. Peristiwa ini harus diselidiki sampai ke pemberi perintahnya, termasuk alasan di baliknya, dan semua yang terlibat harus diproses hukum dengan hukuman yang menjerakan agar tidak terulang lagi," kata Anies.

Anies juga menekankan pentingnya transparansi melalui peradilan umum agar publik dapat mengawasi proses hukum.

Ia berharap negara hadir secara tegas untuk melindungi kebebasan berpendapat dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Video Editor: Galih

Baca Juga Pantauan Arus Lalu Lintas Libur Lebaran di Tol Padaleunyi dan Semarang-Batang 22 Maret 2026 Pagi di https://www.kompas.tv/nasional/658468/pantauan-arus-lalu-lintas-libur-lebaran-di-tol-padaleunyi-dan-semarang-batang-22-maret-2026-pagi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/658480/anies-penyiraman-air-keras-bukan-kriminal-biasa-harus-usut-dalangnya
Transkrip
00:00Peristiwa ini harus diselidiki sampai pada pemberi perintahnya.
00:38Terima kasih.
01:10Terima kasih.
01:39Terima kasih.
01:40Terima kasih.
01:47Terima kasih.
02:00Terima kasih.
02:13Terima kasih.
02:23Terima kasih.
02:28Terima kasih.
02:51Terima kasih.
03:03Terima kasih.
03:05Terima kasih.
03:10Terima kasih.
03:36Terima kasih.
03:50Terima kasih.
04:16Terima kasih.
04:19Terima kasih.
04:56Terima kasih.
05:05Terima kasih.
05:14Terima kasih.
05:19Terima kasih.
05:29Terima kasih.
05:40Terima kasih.
05:49Terima kasih.
05:59Terima kasih.
06:03Terima kasih.
06:05Terima kasih.
06:06Terima kasih.
06:07Terima kasih.
06:10Terima kasih.
06:13Terima kasih.
06:14negara hadir dan tegas
06:28kita menginginkan publik
06:30saya rasa menginginkan transparansi
06:32menginginkan ada
06:36proses yang bisa dipantau
06:38semuanya
06:39dan jangan sampai berulang
06:42seperti peristiwa-peristiwa yang
06:44pesering kejadian
06:45selalu yang
06:47terkena hukuman adalah
06:50pelaku paling
06:51hilir
06:53yang hulunya itu gak pernah
06:55jarang sekali
06:57nah sekarang buktikan
07:00dengan adanya
07:02peradilan di
07:03peradilan umum
07:05mudah-mudahan akan memberikan kesempatan itu lebih besar
07:08yang penting sekarang ini
07:13menurut saya proses itu dulu
07:14proses itu dulu
07:16lakukan investigasi
07:17lakukan penyelidikan
07:18dan sampai pada
07:19pemberi perintah
07:21dan alasan memberi perintah
07:22dan sikap beliau
07:37yang berkomitmen untuk melakukan penyelidikan itu
07:41harus diwujudkan
07:43oleh seluruh aparat hukum
07:45bahwa
07:46Pak Presiden
07:48bersikap ingin melindungi demokrasi
07:50aparat di bawahnya
07:52harus
07:53menjalankan
07:55arahan Presiden
07:56ya
07:57begitu ya
07:58terima kasih ya
08:05kecepatan informasi dan akurasi data
08:08adalah komitmen kami
08:10satu langkah lebih dekat
08:11satu langkah lebih terpercaya
08:14saksikan Sapa Indonesia Malam
08:16di Kompas TV
08:18channel 11
08:19di televisi Anda
08:20selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan