00:00Apakah kita enggak fokus ke dalam negeri saja Pak? Eh dunia yang sedang mengelomban begini, yang interconnected, interrelated, tidak mungkin.
00:11Saya berikan contoh orang dunia yang luang, kita enggak ikut-ikutan, jadi korban juga.
00:16Ini kalau yang menentukan mendatang negara tertentu, negara besar, belum baik ke C20, ya kita bisa berbuat apa?
00:23Jadi terungkap pemerintah, jadi korban juga. Jadi menurut saya fokus ke dalam negeri untuk mempersiapkan diri, yes.
00:31Meningkatkan deterrence kita, yes. Meningkatkan kekuatan pertahanan kita, yes.
00:39Meningkatkan ketahanan energi, pangan, dan lain-lain. Bisa susah kalau terjadi disruption pada negara dunia, yes.
00:47Tetapi kita tidak boleh naif, dan tidak boleh seolah-olah tidak akan bersentuh begitu. Kita tidak punya masalah.
00:54Don't say that. Karena sudah memang kacau seperti ini.
00:58Jadi menurut saya, effort dalam kelihatan, diplomasi, kerjasama internasional, kelihatan,
01:07memahami safety of power relations, ya. Dengan dunia yang kita lakukan, insya Allah akan benar.
01:17Kemudian, mengapa dulu saya punya dream 6%?
01:22To reduce untuk mengurangi kemiskinan, misalnya kita turunkan dari 11 ke 3,11.
01:29Mengurangi penampuran, mengurangi debt to GDP ratio, meningkatkan GDP, GDP per kapita, APBD, ekonomi harus terburu.
01:406% naif waktu itu. Dari 4,3% ketika saya memimpin Indonesia.
01:47Jadi naiknya bukan hanya 1%.
01:50Nah, kemudian Pak Prabowo punya dream. 7-8% tidak salah. Karena dengan 8% harapannya lebih tajam lagi penurunan
02:02kemiskinan per kapita income.
02:05Kemudian, kemudian, kadangkali juga, unemployment disakitari. Just because we could create more jobs because our economy is growing.
02:13Tuh hukum ekonomi seperti itu. SDG saya ekonomi. Jadi saya menghentik masalah ekonomi.
02:19Tentu Pak Prabowo akan menyelesaikan lagi. Day by day. Month by month. Year by year.
02:26Nah, dunianya seperti ini. Indonesia seperti ini. Tapi belum boleh punya aim, punya dream, set the goals, tapi nanti untuk
02:36ada adjustment along the way.
02:38Jadi saya tidak berlalu worry. Yang jelas harus tunggu.
02:43Pertanyaan yang bagus, bisa nggak Indonesia keluar dari middle income track record?
02:48Gini. Kalau para peserta tahu, Pak Gubernur, kalau misalkan ada waktu diizinkan, entah apalah bisa terkunjung ke, ini bukan jualan,
03:03saya punya museum di Pacitan.
03:06Presidential Museum, pertama kali di Asia. Silahkan ikan.
03:12Silahkan ikan. Silahkan ikan. Ini data dari data resmi Indonesia, dari IMF, dari World Time, semua data ada di situ
03:22tentang progres kita dulu di bidang ekonomi.
03:27Silahkan. Dilihatkan. Saya setulah dibanding ke negara lain kita bangun di Indonesia.
03:34Itu bicara tentang prioritas, tentang fakta, tentang data, tentang truth, atau kebenaran.
03:43Ya, maka kalau misalnya, inilah karan saya, income per kapita tahun 2004, $1.100 USD.
03:57Penghasilan per koran per tahun 2014, naik menjadi $3.760, naik 350%.
04:10Kalau ini dijaga oleh Presiden Jokowi kemarin, saya tahu memang ada COVID-19 itu, tidak terjaga.
04:23Kita akan keluar dari kategori pendapatan negara menengah, yang belum keluar dari middle income check.
04:36Bukan hanya retorik, bukan hanya slogan.
04:40Bukan, tunjukkan dalam ekonomi kita, utamanya GDP dan GDP per kapita tahun, tunjukkan bahwa our policy, our strategy is right.
04:51Tunjukkan dalam hasil. Strategi macam-macam. Policy macam-macam, but at the end of the day, yang dilihat hasilnya ada.
04:59Jadi, saya masih punya harapan, baru tiga, kalau dikembalikan lagi trajektori ini, kita akan keluar dari middle income track.
05:08Apalagi kalau kembali ke 6%, lebih lagi seperti keinginan Pak Prabowo kembali, naik ke-7-8% akan kuitifu.
05:18Dua berkaji berat pada kerja keras dan pikiran cerdas untuk menuju ke sini.
Komentar