Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan Indonesia tidak bisa hanya fokus pada persoalan domestik di tengah situasi global yang semakin terhubung dan penuh ketidakpastian.

Menurutnya, dinamika geopolitik dan ekonomi dunia pasti berdampak pada kondisi nasional.

Dalam kesempatan tersebut, SBY menilai target pertumbuhan 78 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah sesuatu yang keliru.

Namun, ia mengingatkan bahwa target tersebut tetap memerlukan penyesuaian dari waktu ke waktu sesuai kondisi global dan nasional.

"Kemudian Pak Prabowo punya dream 7-8% tidak salah. Karena dengan 8% harapannya lebih tajam lagi penurunan kemiskinan per capital income. Kemudian barangkali juga pengangguran bisa kita kurangi. kita bisa menciptakan lebih banyak lapangan kerja karena perekonomian kita sedang tumbuh. Itu hukum ekonomi seperti itu," kata SBY di Lemhanas, Senin (23/2/2026).

SBY juga menyinggung capaian ekonomi yang dilanjutkan pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia memahami adanya tekanan besar akibat pandemi COVID-19 yang memengaruhi trajektori pertumbuhan.

Meski demikian, SBY berharap pemerintahan saat ini dapat mengembalikan kurva pertumbuhan ke jalur sebelumnya agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Galih

#sby #jokowi #prabowo

Baca Juga Dugaan Kekerasan Aparat di Pulogadung: Petugas SPBU Dianiaya, Diancam Dibunuh di https://www.kompas.tv/regional/652583/dugaan-kekerasan-aparat-di-pulogadung-petugas-spbu-dianiaya-diancam-dibunuh



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/652597/sby-bandingkan-era-jokowi-soroti-target-prabowo-ekonomi-8-persen
Transkrip
00:00Apakah kita enggak fokus ke dalam negeri saja Pak? Eh dunia yang sedang mengelomban begini, yang interconnected, interrelated, tidak mungkin.
00:11Saya berikan contoh orang dunia yang luang, kita enggak ikut-ikutan, jadi korban juga.
00:16Ini kalau yang menentukan mendatang negara tertentu, negara besar, belum baik ke C20, ya kita bisa berbuat apa?
00:23Jadi terungkap pemerintah, jadi korban juga. Jadi menurut saya fokus ke dalam negeri untuk mempersiapkan diri, yes.
00:31Meningkatkan deterrence kita, yes. Meningkatkan kekuatan pertahanan kita, yes.
00:39Meningkatkan ketahanan energi, pangan, dan lain-lain. Bisa susah kalau terjadi disruption pada negara dunia, yes.
00:47Tetapi kita tidak boleh naif, dan tidak boleh seolah-olah tidak akan bersentuh begitu. Kita tidak punya masalah.
00:54Don't say that. Karena sudah memang kacau seperti ini.
00:58Jadi menurut saya, effort dalam kelihatan, diplomasi, kerjasama internasional, kelihatan,
01:07memahami safety of power relations, ya. Dengan dunia yang kita lakukan, insya Allah akan benar.
01:17Kemudian, mengapa dulu saya punya dream 6%?
01:22To reduce untuk mengurangi kemiskinan, misalnya kita turunkan dari 11 ke 3,11.
01:29Mengurangi penampuran, mengurangi debt to GDP ratio, meningkatkan GDP, GDP per kapita, APBD, ekonomi harus terburu.
01:406% naif waktu itu. Dari 4,3% ketika saya memimpin Indonesia.
01:47Jadi naiknya bukan hanya 1%.
01:50Nah, kemudian Pak Prabowo punya dream. 7-8% tidak salah. Karena dengan 8% harapannya lebih tajam lagi penurunan
02:02kemiskinan per kapita income.
02:05Kemudian, kemudian, kadangkali juga, unemployment disakitari. Just because we could create more jobs because our economy is growing.
02:13Tuh hukum ekonomi seperti itu. SDG saya ekonomi. Jadi saya menghentik masalah ekonomi.
02:19Tentu Pak Prabowo akan menyelesaikan lagi. Day by day. Month by month. Year by year.
02:26Nah, dunianya seperti ini. Indonesia seperti ini. Tapi belum boleh punya aim, punya dream, set the goals, tapi nanti untuk
02:36ada adjustment along the way.
02:38Jadi saya tidak berlalu worry. Yang jelas harus tunggu.
02:43Pertanyaan yang bagus, bisa nggak Indonesia keluar dari middle income track record?
02:48Gini. Kalau para peserta tahu, Pak Gubernur, kalau misalkan ada waktu diizinkan, entah apalah bisa terkunjung ke, ini bukan jualan,
03:03saya punya museum di Pacitan.
03:06Presidential Museum, pertama kali di Asia. Silahkan ikan.
03:12Silahkan ikan. Silahkan ikan. Ini data dari data resmi Indonesia, dari IMF, dari World Time, semua data ada di situ
03:22tentang progres kita dulu di bidang ekonomi.
03:27Silahkan. Dilihatkan. Saya setulah dibanding ke negara lain kita bangun di Indonesia.
03:34Itu bicara tentang prioritas, tentang fakta, tentang data, tentang truth, atau kebenaran.
03:43Ya, maka kalau misalnya, inilah karan saya, income per kapita tahun 2004, $1.100 USD.
03:57Penghasilan per koran per tahun 2014, naik menjadi $3.760, naik 350%.
04:10Kalau ini dijaga oleh Presiden Jokowi kemarin, saya tahu memang ada COVID-19 itu, tidak terjaga.
04:23Kita akan keluar dari kategori pendapatan negara menengah, yang belum keluar dari middle income check.
04:36Bukan hanya retorik, bukan hanya slogan.
04:40Bukan, tunjukkan dalam ekonomi kita, utamanya GDP dan GDP per kapita tahun, tunjukkan bahwa our policy, our strategy is right.
04:51Tunjukkan dalam hasil. Strategi macam-macam. Policy macam-macam, but at the end of the day, yang dilihat hasilnya ada.
04:59Jadi, saya masih punya harapan, baru tiga, kalau dikembalikan lagi trajektori ini, kita akan keluar dari middle income track.
05:08Apalagi kalau kembali ke 6%, lebih lagi seperti keinginan Pak Prabowo kembali, naik ke-7-8% akan kuitifu.
05:18Dua berkaji berat pada kerja keras dan pikiran cerdas untuk menuju ke sini.
Komentar

Dianjurkan