00:00Terima kasih, saya dilampingi Pak Seskap dan Pak Dubes Indonesia di Amerika, Pak Indroyono Susilo.
00:06Pertama, kemarin sudah ada keputusan dari Supreme Court terkait dengan pembatalan tarif secara global
00:14dan meminta pemerintah Amerika mengembalikan, reimburse tarif yang sudah dikenakan ke masing-masing korporasi.
00:21Nah, bagi Indonesia yang sudah menandatangani perjanjian, ini namanya perjanjian antar dua negara,
00:27ini masih tetap berproses karena ini diminta dalam perjanjian adalah untuk berlakunya dalam periode 60 hari
00:38sesudah ditandatangani dan masing-masing pihak berkonsultasi dengan institusi yang diperlukan.
00:45Artinya, dalam tanda petik mungkin Amerika juga perlu berbicara dengan Kongres atau Senat,
00:52sedangkan Indonesia kan dengan DPR.
00:54Namun, keputusan kemarin yang 10% itu hanya berlaku untuk 150 hari, yang 10%.
01:02Sesudah itu, mereka bisa perpanjang atau mereka bisa merubah dengan regulasi yang ada.
01:08Nah, bagi Indonesia, karena perjanjian ini masih berlaku, akan efektif 60 hari, kita punya waktu.
01:15Kami sudah berkoordinasi dengan USTR, dan mereka mengatakan akan ada keputusan kabinet mereka
01:22terhadap mereka yang sudah menandatangani perjanjian.
01:25Dan Alhamdulillah, kemarin Indonesia sudah menandatangani perjanjian.
01:29Dan yang diminta oleh Indonesia adalah,
01:32kalau yang lain semua berlaku 10%,
01:35tetapi yang sudah diberikan 0%,
01:38itu kita minta tetap.
01:41Karena itu, sebagian sudah ada yang untuk agriculture,
01:45dalam bentuk executive order yang berbeda.
01:47Jadi, itu tidak dibatalkan.
01:49Nah, itu termasuk kopi, kakao, produk-produk yang terkait dengan agriculture.
01:54Namun kan kita juga yang 0% itu,
01:57ada supply chain untuk elektronik,
01:59dan juga CPO,
02:02dan juga tekstil dan foodware, dan yang lain.
02:05Nah, jadi ini yang kita tunggu
02:06sampai dengan 60 hari ke depan.
02:10Pak, itu menguntungan Indonesia, Pak?
02:12Ya, dua-dua untung, lah.
02:14Kalau yang EPR yang berdasarkan kota itu, jadinya gimana, Pak?
02:18Ini juga 60 hari kita bahas,
02:20tetapi mereka masih konsentrasi
02:23untuk menangani tarif global ke seluruh dunia.
02:26Pak, Bapak kan sudah negosiasi begitu lama.
02:29Apakah ada pembedaan
02:30antara negara-negara yang sudah tanda tangan ART ini?
02:33Akan ada pembedaan.
02:34Karena beberapa negara yang sudah,
02:36itu akan diberikan kebijakan yang tidak sama secara global.
02:41Kalau barang AS yang masuk ke Indonesia, Pak,
02:43itu tarifnya jadi gimana?
02:44Kemarin kan kita kasih 0%.
02:45Kemarin ada yang sudah 0.
02:46Kayak WIT itu sudah 0.
02:47Kemudian ada Soyabin dan yang lain.
02:50Ada yang 5%.
02:50Kalau itu masih tetap seperti itu,
02:52sampai dengan implementasi
02:55daripada agreement on reciprocal tarif.
02:58Bagaimana Pak Presiden masih mendengar perubahan ini?
03:02Kemarin kami sudah lapor ke Pak Presiden,
03:04dan beliau minta kita mempelajari
03:07seluruh resiko-resiko yang mungkin timbul,
03:12dan Indonesia siap dengan berbagai senario.
03:15Karena senario keputusan Mahkamah Agungnya Amerika ini
03:20sudah dibahas dengan USTR sebelum kita tanda tangannya.
03:24Kemarin kan Pak Erlangen Famos tadi sempat bilang
03:27bahwa ini tuh ada kejutan baru
03:29atau ada keuntungan baru yang akan diterima Indonesia.
03:31Lebih terkejut lagi.
03:33Jadi ini lebih terkejut daripada kejutan.
03:37Akhirnya memang tidak tahu akan jadi seperti ini?
03:40Yang keputusan 10%-nya kita tidak tahu.
03:43Tetapi kemungkinan terkait pembatalan
03:48agak kelihatan sedikit.
03:49Pak, ini kan kita sama aja sama negara lain,
03:51supaya 10% meskipun Pak Erlangen sudah mendekosiasi
03:54beberapa kali ini.
03:56Ya, pertama kita ada yang 10%,
03:58tetapi ada yang kita senang bicarakan
04:01yang sudah diputus nol supaya tetap nol.
04:05Bukan dari Pak Presiden, nanti dari Pak Presiden
04:12tanya Pak Presiden.
04:13Tapi intinya begini,
04:14jadi Bapak Presiden melakukan diplomasi langsung
04:17terhadap Amerika Serikat gitu ya.
04:19Intinya, kita Indonesia siap
04:21dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
04:25Oke, sebelum ada Keputusan Supreme Court,
04:27Mahkamah Agung, kita sudah negosiasi
04:30bahwa Presiden dan tim dari 32% menjadi 19%.
04:33Kemudian mungkin juga akan bisa lebih turun lagi.
04:37Oke, nah setelah ada Supreme Court kemarin,
04:40ya tentunya dari 19% menjadi 10%,
04:43itu secara hitung-hitungan lebih baik gitu ya.
04:45Tapi intinya pada prinsipnya Indonesia siap
04:48dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
04:52Oke, jadi kita sudah sedia payung sebelum hujan.
04:54Begitulah kira-kira.
04:55Mas, legenda Presiden selanjutnya.
04:56Iya, Mas, sampai angin dan selanjutnya.
04:59Nanti saya ceritakan, oke?
05:01Nanti aja.
05:03Sekarang ini fokus ya.
05:05Iya, terima kasih.
05:06Oke, terima kasih.
05:07Terima kasih, Mas.
05:13Sudara kecepatan informasi dan akurasi data adalah komitmen kami.
05:18Satu langkah lebih dekat, satu langkah lebih terpercaya.
05:22Saksikan Sapa Indonesia Malam di Kompas TV Channel 11 di televisi Anda.
05:27Sampai jumpa di video selanjutnya kita kita'
05:27Mas sin eh, seperti itu saja kita.i
05:27hullah. Se
05:28jumpa. Sampai
Komentar