00:02Terima kasih Anda masih menyaksikan Rosy. Saya mengundang Pak Said Dido karena Pak Said Dido termasuk satu dari kelompok pertama
00:10dalam rangkaian pertemuan para tokoh dengan Presiden Prabowo Subianto.
00:15Ada hal yang ingin saya klarifikasi Pak Said Dido karena Pak Abraham dan beberapa tokoh lainnya mengatakan ada pembicaraan dengan
00:22Pak Presiden soal reformasi Polri dan kemudian soal pergantian Kapolri.
00:27Di situ terasa macam reformasi Polri ini nggak akan bisa jalan kalau Kapolri-nya nggak diganti. Itu rasanya seruan dari
00:36para tokoh gitu kira-kira.
00:37Dan itu kemudian dibantah oleh Ketua Komisi 3 Pak Habibur Rahman yang mengatakan itu tidak ada. Tidak benar bahwa reformasi
00:44ada pembicaraan dengan Presiden tentang pergantian Kapolri.
00:47Jadi sebenarnya pembicaraan tentang reformasi Polri dan pergantian Kapolri ada atau nggak?
00:52Saya agak mendalam ada dan sampai Pak Presiden menanyakan karena Susno kan ada Susno Duwaji kira-kira yang baik itu
01:01yang mana sih?
01:02Apakah polisi itu dibawa langsung Presiden atau dibawa kementerian?
01:08Itu Presiden bertanya dan dijelaskan oleh Susno Duwaji dan kita jelaskan.
01:13Dan memang nuansa pertama malam itu kita menyatakan bahwa Pak ini tuntutan publik tentang Kapolri ini tidak bisa diabaikan.
01:21Karena seakan-akan apapun yang Presiden lakukan, kalau ini tidak dilakukan itu seakan-akan Presiden takut kepada Kapolri.
01:29Itu intinya.
01:32Dan malam itu menurut saya terklarifikasi bahwa anggapan kita selama ini kan selalu pun belum menyatakan.
01:39Dia tidak berani mengganti karena mungkin ada alas budi atau mungkin ada sesuatu yang dia pegang.
01:46Itu kan yang ada di pukul.
01:47Nah malam ini terbantahkan menurut saya.
01:49Alas budi maksudnya karena kemenangan Prabowo dan Mas Gibran adalah karena juga campur tangan parcok.
01:57Dan dijelaskan bahwa, dan datanya ada, ada yang dijelaskan bahwa pada saat itu parcok ini konsentrasi memenangkan partainya Kaisang.
02:09PSI.
02:09Bukan memenangkan Prabowo.
02:12Nah jadi, nah terus, jadi tidak ada bahwa itu belas budi.
02:18Nah setelah itu.
02:18Oh itu konteksnya.
02:19Jadi Anda menangkap kesan bahwa Pak Prabowo tidak takut untuk melakukan reformasi di Kepolri.
02:27Karena dia tidak merasa bahwa harus balas budi.
02:30Nah terkonfirmasi lagi setelah itu pertemuan kan saya enam mata dengan beliau.
02:38Dan menyampaikan langkah-langkah yang diambil mereformasi Polri.
02:43Oh ini setelah lima tokoh terus Bapak?
02:45Iya.
02:45Bersama Pak Presiden, Pak Syedidu dan satu tokoh lagi?
02:48Satu tokoh lah.
02:49Satu orang-orang ini.
02:51Dan saya dengarkan dengan tekun.
02:55Oke.
02:56Jadi saya menyatakan ke publik, rencana Presiden melakukan reformasi Polri itu menurut saya sudah jalan yang benar.
03:05Dan mencapai titik tertentu yang saya oke.
03:08Nah jadi apa yang dikatakan oleh Habibur Rahman itu menurut saya ini saya menyayangkan.
03:18Karena Habibur Rahman itu partai Gerindra.
03:21Dan menaikkan menjadi keputusan pleno seakan-akan menekam Presiden untuk tidak ada pilihan kecuali bahwa Kapolri has sudah Presiden.
03:31Padahal Presiden malam itu masih bertanya yang mana yang terbaik.
03:35Nah saya sekasian Presiden janganlah menekam Presiden.
03:40Biarkanlah Presiden ambil keputusan.
03:42Nah jadi menyatakan salah kapra menurut saya Pak Habibur Rahman mungkin dia tidak tahu karena dia tidak hadir gitu ya.
03:50Tapi yang saya sayangkan kader partai Gerindra yang seakan-akan menekam Presiden agar mengambil keputusan sesuai dengan keputusan Komisi 3.
04:01Ya menarik Mbak Rusi.
04:02Baru kali ini loh namanya keputusan Komisi dinaikkan di pleno yang tidak terkait dengan apa namanya pemilihan orang keputusan.
04:11Itu dinaikkan.
04:12Nah jadi padahal Pak Presiden lagi jernih betul untuk memikirkan.
04:18Saya membacanya begini.
04:19Presiden ini tidak gegabah hanya penggantian Kapolri menyelesaikan masalah polisi.
04:25Karena sudah sering sekali penggantian Kapolri.
04:27Saya mendengarkan ini dia menyelesaikan secara tuntas tentang kepolisian sehingga terkesan lamban penggantian Kapolri.
04:36Jadi pergantian orang itu bukan melulu akan menyelesaikan masalah semuanya.
04:43Tapi Anda menangkap bahwa satu bahwa ini bukan karena urusan balas budi dan ini juga bukan karena ada semacam ketakutan
04:54karena tidak punya orang.
04:56Pertanyaannya adalah sebenarnya punya orang atau tidak?
04:58Kalau ya mohon maaf dia.
05:01Nama itu disebut karena saya tahu.
05:04Saya tahu dan menurut saya oke.
05:07Oke kalau itu langkah itu dilakukan saya yakin itu akan rakyat akan dapat tepuk tangan.
05:13Oke.
05:14Prabowo akan dapat tepuk tangan kalau yang dia jelaskan saat itu Namata dia lakukan.
05:22Saya yakin bahwa rakyat mungkin akan berpesta menyatakan kami sudah punya presiden yang sebenarnya.
05:31Tentu Anda tidak bisa mengatakannya sekarang Pak Said Hidup.
05:33Tetapi nanti ketika ada pengumuman entah kapan itu.
05:36Itu prerogatif presiden Prabowo.
05:38Itu akan saya tanyakan kembali ke Pak Said Hidup.
05:40Apakah ini orangnya yang sama dengan yang dikatakan kepada Anda pada saat bertemu Namata.
05:46Pertanyaan terakhir saya Pak Said Hidup.
05:49Anda kan tadi Anda mengklasifikasikan orang-orang yang bertemu di rumah itu adalah orang dalam, pavilion.
05:56Yang belum benar masuk ke dalam.
05:58Lalu orang yang sudah kehilangan harapan.
06:02Atau orang yang tetap masih memiliki harapan.
06:05Anda di posisi yang mana setelah bertemu dengan presiden?
06:08Saya selalu bahwa saya di posisi orang luar dan yang punya harapan.
06:14Yang menitipkan harapan.
06:16Karena begini, kenapa saya menitipkan bahwa saya punya harapan ke dia?
06:19Karena saya ini ketemu presiden yang punya patriotisme, punya nasionalisme, dan punya keberanian untuk melakukan perbaikan.
06:31Nah, yang menarik itu pada saat selesai itu, kayaknya kita perlu ketemu dua minggu sekali.
06:37Presiden sibuk lah Pak.
06:38Saya bilang, Pak, udah lah Pak, kami butuh keputusan tiap hari, bukan pertemuan dua minggu sekali.
06:44Tapi ada keputusan, saya perlu suntikan keberanian.
06:49Nah, saya bilang, Pak, kurang-kurangnya nggak Anda lebih berani dari saya.
06:54Mau ngosok presiden ngomong gitu, Pak?
06:56Iya, maksudnya mungkin ya.
06:57Karena saya kan memberikan pejabat, tapi berberani mau dia.
07:02He's trying to be, inilah, modest.
07:04Nah, jadi, saya menganggap bahwa sepertinya presiden memang ini butuh dukungan rakyat agar dia butuh keberanian untuk mengambil langkah yang
07:15tegas.
07:16Karena niatnya saya bilang, saya kasih ingin menyatakan, Mbak Rosi, saya percaya presiden niatnya seribu persen saya percaya.
07:24Tapi saya frustrasi tentang caranya.
07:27Anda percaya seribu persen pada niatnya, tapi frustrasi dengan caranya?
07:31Nah, setelah saya ketemu malam ini, oke.
07:34Ternyata, bukan omong-omong, dia punya niat dan ingin melaksanakan.
07:40Dan dilaksanakan, sepertinya, itu hampir tiap hari dilaksanakan, cuma tidak diumumkan di pelaksanaannya.
07:47Saya mengambil contoh tadi tentang pengunduran diri OJK.
07:52Nah, ini saya berharap, nah yang problem sebenarnya adalah Pak Presiden tidak punya jubir yang menyampaikan apa yang sudah dilaksanakan.
08:02Apa yang sudah dilaksanakan.
08:03Yang mampu mengartikulasikan apa yang menjadi prinsip-prinsip atau landasan berpikir mengapa ia mengambil keputusannya.
08:11Karena terlihat sekali misalnya soal board of peace itu.
08:15Nah, begitu para mantan menlu atau ya sekelas Pak Dino Jalal kemudian bisa memahami karena hanya itu yang ada di
08:24meja kan.
08:26Pilihan satu-satu yang harus diambil dan bisa punya peluang untuk keluar kalau itu tidak sesuai.
08:31Artinya memang ada gap antara apa yang menjadi bagian dari keputusan seorang Presiden dan bagaimana itu dikomunikasikan pada publik.
08:40Jadi, Pak Sayedidu siap jadi jubir Pak Presiden?
08:44Saya mungkin lebih bermanfaat bersama rakyat di luar untuk membantu Presiden di dalam untuk melaksanakan apa yang dia cita-cita.
08:53Negeri ini butuh pemimpin yang kuat karena kerusakannya harus dihentikan.
08:58Harus dihentikan. Jangan kembali lagi. Saya mengingatkan teman-teman yang menganggap berposisi.
09:04Hentikan sekarang kita mendukung-mendukung si A, si B, si C.
09:07Karena faktanya oligarki juga di belakang mereka.
09:13Itu yang akhirnya kalau kita mendukung si A maka dia jual kita ke oligarki.
09:19Nah, jadi kita sekarang punya agenda mengembalikan kedolatan.
09:23Nanya menarik, Pak Presiden. Saya besok akan rapat tentang pembentukan gerakan merebut kembali kedolatan.
09:34GMKR itu?
09:35GMKR. Langsung persimpulasi. Aku dukung. Aku depan. Spontan.
09:41Artinya, memang di kepala beliau dulu bahwa kedaulatan ini harus kembalikan.
09:46Secara prinsip pasti setuju. Tetapi ketika ada salah satu tokoh yang mengatakan Adili Jokowi, Mak Zulkan Gibran,
09:55saya rasa itu belum tentu juga sejalan dengan apa yang menjadi rasanya Presiden.
10:01Saya pikir ya, itu ya. Tapi saya bilang begini.
10:05Saya tanya teman-teman, kenapa ini muncul?
10:07Dia bilang, karena inilah yang menghambat kedaulatan dikembalikan.
10:11Kan tiga di situ, kan? Reformasi Polri, tangkap Adili Jokowi, dan...
10:18Saya bilang, kenapa ini masuk?
10:20Enggak, ini penghambat kembalinya kedolatan.
10:23Jadi, tapi saya yakin betul.
10:25Kan begini. Pak Prabowo kan begini.
10:27Kalau kita lihat, saya selalu menyatakan.
10:29Pak Prabowo ini otaknya Rambo, hatinya Rinto.
10:33Jadi maksudnya, semangatnya untuk memperbaiki, ya semangat Rambo.
10:37Tapi kasih sayangnya itu lagu-lagu Rinto gak kita tahu.
10:41Nah, tapi itulah Prabowo.
10:45Nah, tapi dia tidak juga menyatakan bahwa, saya menyatakan begini.
10:51Pak Prabowo tidak memenghukum orang, tapi dia tidak melindungi orang yang kena hukum.
10:57Itu tangkapan saya sekarang.
11:01Pak Prabowo tidak ada niat menghukum orang, tapi tidak mau membela orang yang memang melanggar hukum.
11:07Oke, clear kalau begitu.
11:08Terima kasih Pak Saididu.
11:10Saya rasa ini cukup menjelaskan tentang pertemuan tadi.
11:13Dan rasanya tetap nyalakan optimisme.
11:18Bukan dukung-mendukung orang.
11:19Tetapi yang didukung adalah kebijakannya.
11:24Terima kasih ya Pak Saididu.
11:25Terima kasih.
11:26Selamat malam.
11:27Dan terima kasih juga bagi Anda yang telah menyaksikan Rosi.
11:29Kita jumpa lagi Kamis depan hanya di Kompas TV, independen terpercaya.
11:33Sampai jumpa.
11:45Terima kasih.
12:08Terima kasih.
Komentar