Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Eks Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu bicara soal Reformasi Polri yang dibahas dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo.

Diketahui pada Jumat (30/1/2026), Presiden Prabowo melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh-tokoh yang dianggap kritis pada pemerintah. Apa sebenarnya motif dan tujuan dari pertemuan ini?

Rosianna Silalahi mengundang salah satu tokoh "oposisi" yang bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, yakni Sekretaris Kementerian BUMN 2005-2010, Said Didu.

Saksikan dalam #ROSIKompasTV episode "PRABOWO BERTEMU PARA TOKOH, APA MAKNANYA?" Tayang Kamis, 12 Februari 2026 pukul 20.30 WIB LIVE di @KompasTV!

#presidenprabowo #saiddidu #pemerintah #rosi

: kompas.tv/live

Produser: Theo Reza

Video Editor: Laurensius Galih

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/650924/said-didu-bicara-reformasi-polri-hingga-oligarki-terkait-pertemuan-dengan-presiden-prabowo
Transkrip
00:02Terima kasih Anda masih menyaksikan Rosy. Saya mengundang Pak Said Dido karena Pak Said Dido termasuk satu dari kelompok pertama
00:10dalam rangkaian pertemuan para tokoh dengan Presiden Prabowo Subianto.
00:15Ada hal yang ingin saya klarifikasi Pak Said Dido karena Pak Abraham dan beberapa tokoh lainnya mengatakan ada pembicaraan dengan
00:22Pak Presiden soal reformasi Polri dan kemudian soal pergantian Kapolri.
00:27Di situ terasa macam reformasi Polri ini nggak akan bisa jalan kalau Kapolri-nya nggak diganti. Itu rasanya seruan dari
00:36para tokoh gitu kira-kira.
00:37Dan itu kemudian dibantah oleh Ketua Komisi 3 Pak Habibur Rahman yang mengatakan itu tidak ada. Tidak benar bahwa reformasi
00:44ada pembicaraan dengan Presiden tentang pergantian Kapolri.
00:47Jadi sebenarnya pembicaraan tentang reformasi Polri dan pergantian Kapolri ada atau nggak?
00:52Saya agak mendalam ada dan sampai Pak Presiden menanyakan karena Susno kan ada Susno Duwaji kira-kira yang baik itu
01:01yang mana sih?
01:02Apakah polisi itu dibawa langsung Presiden atau dibawa kementerian?
01:08Itu Presiden bertanya dan dijelaskan oleh Susno Duwaji dan kita jelaskan.
01:13Dan memang nuansa pertama malam itu kita menyatakan bahwa Pak ini tuntutan publik tentang Kapolri ini tidak bisa diabaikan.
01:21Karena seakan-akan apapun yang Presiden lakukan, kalau ini tidak dilakukan itu seakan-akan Presiden takut kepada Kapolri.
01:29Itu intinya.
01:32Dan malam itu menurut saya terklarifikasi bahwa anggapan kita selama ini kan selalu pun belum menyatakan.
01:39Dia tidak berani mengganti karena mungkin ada alas budi atau mungkin ada sesuatu yang dia pegang.
01:46Itu kan yang ada di pukul.
01:47Nah malam ini terbantahkan menurut saya.
01:49Alas budi maksudnya karena kemenangan Prabowo dan Mas Gibran adalah karena juga campur tangan parcok.
01:57Dan dijelaskan bahwa, dan datanya ada, ada yang dijelaskan bahwa pada saat itu parcok ini konsentrasi memenangkan partainya Kaisang.
02:09PSI.
02:09Bukan memenangkan Prabowo.
02:12Nah jadi, nah terus, jadi tidak ada bahwa itu belas budi.
02:18Nah setelah itu.
02:18Oh itu konteksnya.
02:19Jadi Anda menangkap kesan bahwa Pak Prabowo tidak takut untuk melakukan reformasi di Kepolri.
02:27Karena dia tidak merasa bahwa harus balas budi.
02:30Nah terkonfirmasi lagi setelah itu pertemuan kan saya enam mata dengan beliau.
02:38Dan menyampaikan langkah-langkah yang diambil mereformasi Polri.
02:43Oh ini setelah lima tokoh terus Bapak?
02:45Iya.
02:45Bersama Pak Presiden, Pak Syedidu dan satu tokoh lagi?
02:48Satu tokoh lah.
02:49Satu orang-orang ini.
02:51Dan saya dengarkan dengan tekun.
02:55Oke.
02:56Jadi saya menyatakan ke publik, rencana Presiden melakukan reformasi Polri itu menurut saya sudah jalan yang benar.
03:05Dan mencapai titik tertentu yang saya oke.
03:08Nah jadi apa yang dikatakan oleh Habibur Rahman itu menurut saya ini saya menyayangkan.
03:18Karena Habibur Rahman itu partai Gerindra.
03:21Dan menaikkan menjadi keputusan pleno seakan-akan menekam Presiden untuk tidak ada pilihan kecuali bahwa Kapolri has sudah Presiden.
03:31Padahal Presiden malam itu masih bertanya yang mana yang terbaik.
03:35Nah saya sekasian Presiden janganlah menekam Presiden.
03:40Biarkanlah Presiden ambil keputusan.
03:42Nah jadi menyatakan salah kapra menurut saya Pak Habibur Rahman mungkin dia tidak tahu karena dia tidak hadir gitu ya.
03:50Tapi yang saya sayangkan kader partai Gerindra yang seakan-akan menekam Presiden agar mengambil keputusan sesuai dengan keputusan Komisi 3.
04:01Ya menarik Mbak Rusi.
04:02Baru kali ini loh namanya keputusan Komisi dinaikkan di pleno yang tidak terkait dengan apa namanya pemilihan orang keputusan.
04:11Itu dinaikkan.
04:12Nah jadi padahal Pak Presiden lagi jernih betul untuk memikirkan.
04:18Saya membacanya begini.
04:19Presiden ini tidak gegabah hanya penggantian Kapolri menyelesaikan masalah polisi.
04:25Karena sudah sering sekali penggantian Kapolri.
04:27Saya mendengarkan ini dia menyelesaikan secara tuntas tentang kepolisian sehingga terkesan lamban penggantian Kapolri.
04:36Jadi pergantian orang itu bukan melulu akan menyelesaikan masalah semuanya.
04:43Tapi Anda menangkap bahwa satu bahwa ini bukan karena urusan balas budi dan ini juga bukan karena ada semacam ketakutan
04:54karena tidak punya orang.
04:56Pertanyaannya adalah sebenarnya punya orang atau tidak?
04:58Kalau ya mohon maaf dia.
05:01Nama itu disebut karena saya tahu.
05:04Saya tahu dan menurut saya oke.
05:07Oke kalau itu langkah itu dilakukan saya yakin itu akan rakyat akan dapat tepuk tangan.
05:13Oke.
05:14Prabowo akan dapat tepuk tangan kalau yang dia jelaskan saat itu Namata dia lakukan.
05:22Saya yakin bahwa rakyat mungkin akan berpesta menyatakan kami sudah punya presiden yang sebenarnya.
05:31Tentu Anda tidak bisa mengatakannya sekarang Pak Said Hidup.
05:33Tetapi nanti ketika ada pengumuman entah kapan itu.
05:36Itu prerogatif presiden Prabowo.
05:38Itu akan saya tanyakan kembali ke Pak Said Hidup.
05:40Apakah ini orangnya yang sama dengan yang dikatakan kepada Anda pada saat bertemu Namata.
05:46Pertanyaan terakhir saya Pak Said Hidup.
05:49Anda kan tadi Anda mengklasifikasikan orang-orang yang bertemu di rumah itu adalah orang dalam, pavilion.
05:56Yang belum benar masuk ke dalam.
05:58Lalu orang yang sudah kehilangan harapan.
06:02Atau orang yang tetap masih memiliki harapan.
06:05Anda di posisi yang mana setelah bertemu dengan presiden?
06:08Saya selalu bahwa saya di posisi orang luar dan yang punya harapan.
06:14Yang menitipkan harapan.
06:16Karena begini, kenapa saya menitipkan bahwa saya punya harapan ke dia?
06:19Karena saya ini ketemu presiden yang punya patriotisme, punya nasionalisme, dan punya keberanian untuk melakukan perbaikan.
06:31Nah, yang menarik itu pada saat selesai itu, kayaknya kita perlu ketemu dua minggu sekali.
06:37Presiden sibuk lah Pak.
06:38Saya bilang, Pak, udah lah Pak, kami butuh keputusan tiap hari, bukan pertemuan dua minggu sekali.
06:44Tapi ada keputusan, saya perlu suntikan keberanian.
06:49Nah, saya bilang, Pak, kurang-kurangnya nggak Anda lebih berani dari saya.
06:54Mau ngosok presiden ngomong gitu, Pak?
06:56Iya, maksudnya mungkin ya.
06:57Karena saya kan memberikan pejabat, tapi berberani mau dia.
07:02He's trying to be, inilah, modest.
07:04Nah, jadi, saya menganggap bahwa sepertinya presiden memang ini butuh dukungan rakyat agar dia butuh keberanian untuk mengambil langkah yang
07:15tegas.
07:16Karena niatnya saya bilang, saya kasih ingin menyatakan, Mbak Rosi, saya percaya presiden niatnya seribu persen saya percaya.
07:24Tapi saya frustrasi tentang caranya.
07:27Anda percaya seribu persen pada niatnya, tapi frustrasi dengan caranya?
07:31Nah, setelah saya ketemu malam ini, oke.
07:34Ternyata, bukan omong-omong, dia punya niat dan ingin melaksanakan.
07:40Dan dilaksanakan, sepertinya, itu hampir tiap hari dilaksanakan, cuma tidak diumumkan di pelaksanaannya.
07:47Saya mengambil contoh tadi tentang pengunduran diri OJK.
07:52Nah, ini saya berharap, nah yang problem sebenarnya adalah Pak Presiden tidak punya jubir yang menyampaikan apa yang sudah dilaksanakan.
08:02Apa yang sudah dilaksanakan.
08:03Yang mampu mengartikulasikan apa yang menjadi prinsip-prinsip atau landasan berpikir mengapa ia mengambil keputusannya.
08:11Karena terlihat sekali misalnya soal board of peace itu.
08:15Nah, begitu para mantan menlu atau ya sekelas Pak Dino Jalal kemudian bisa memahami karena hanya itu yang ada di
08:24meja kan.
08:26Pilihan satu-satu yang harus diambil dan bisa punya peluang untuk keluar kalau itu tidak sesuai.
08:31Artinya memang ada gap antara apa yang menjadi bagian dari keputusan seorang Presiden dan bagaimana itu dikomunikasikan pada publik.
08:40Jadi, Pak Sayedidu siap jadi jubir Pak Presiden?
08:44Saya mungkin lebih bermanfaat bersama rakyat di luar untuk membantu Presiden di dalam untuk melaksanakan apa yang dia cita-cita.
08:53Negeri ini butuh pemimpin yang kuat karena kerusakannya harus dihentikan.
08:58Harus dihentikan. Jangan kembali lagi. Saya mengingatkan teman-teman yang menganggap berposisi.
09:04Hentikan sekarang kita mendukung-mendukung si A, si B, si C.
09:07Karena faktanya oligarki juga di belakang mereka.
09:13Itu yang akhirnya kalau kita mendukung si A maka dia jual kita ke oligarki.
09:19Nah, jadi kita sekarang punya agenda mengembalikan kedolatan.
09:23Nanya menarik, Pak Presiden. Saya besok akan rapat tentang pembentukan gerakan merebut kembali kedolatan.
09:34GMKR itu?
09:35GMKR. Langsung persimpulasi. Aku dukung. Aku depan. Spontan.
09:41Artinya, memang di kepala beliau dulu bahwa kedaulatan ini harus kembalikan.
09:46Secara prinsip pasti setuju. Tetapi ketika ada salah satu tokoh yang mengatakan Adili Jokowi, Mak Zulkan Gibran,
09:55saya rasa itu belum tentu juga sejalan dengan apa yang menjadi rasanya Presiden.
10:01Saya pikir ya, itu ya. Tapi saya bilang begini.
10:05Saya tanya teman-teman, kenapa ini muncul?
10:07Dia bilang, karena inilah yang menghambat kedaulatan dikembalikan.
10:11Kan tiga di situ, kan? Reformasi Polri, tangkap Adili Jokowi, dan...
10:18Saya bilang, kenapa ini masuk?
10:20Enggak, ini penghambat kembalinya kedolatan.
10:23Jadi, tapi saya yakin betul.
10:25Kan begini. Pak Prabowo kan begini.
10:27Kalau kita lihat, saya selalu menyatakan.
10:29Pak Prabowo ini otaknya Rambo, hatinya Rinto.
10:33Jadi maksudnya, semangatnya untuk memperbaiki, ya semangat Rambo.
10:37Tapi kasih sayangnya itu lagu-lagu Rinto gak kita tahu.
10:41Nah, tapi itulah Prabowo.
10:45Nah, tapi dia tidak juga menyatakan bahwa, saya menyatakan begini.
10:51Pak Prabowo tidak memenghukum orang, tapi dia tidak melindungi orang yang kena hukum.
10:57Itu tangkapan saya sekarang.
11:01Pak Prabowo tidak ada niat menghukum orang, tapi tidak mau membela orang yang memang melanggar hukum.
11:07Oke, clear kalau begitu.
11:08Terima kasih Pak Saididu.
11:10Saya rasa ini cukup menjelaskan tentang pertemuan tadi.
11:13Dan rasanya tetap nyalakan optimisme.
11:18Bukan dukung-mendukung orang.
11:19Tetapi yang didukung adalah kebijakannya.
11:24Terima kasih ya Pak Saididu.
11:25Terima kasih.
11:26Selamat malam.
11:27Dan terima kasih juga bagi Anda yang telah menyaksikan Rosi.
11:29Kita jumpa lagi Kamis depan hanya di Kompas TV, independen terpercaya.
11:33Sampai jumpa.
11:45Terima kasih.
12:08Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan