Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 8 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Psikolog keluarga Alissa Wahid dalam program ROSI menyoroti bagaimana media sosial menciptakan benchmark atau standar yang begitu tinggi tentang bagaimana seorang anak "seharusnya" menjadi.

"Dulu anak yang tinggal di desa tidak tahu apa yang dilakukan anak seusianya di kota. Sekarang benchmark itu ada di kepalanya. Lalu ketika itu tidak bisa terwujud, itu menjadi beban," ujar Alissa.

Menurutnya, jarak antara realitas dan standar yang dilihat di media sosial bisa terasa sangat jauh. Bahkan bagi orang dewasa, kondisi seperti itu sudah berat. Apalagi bagi anak usia 10 tahun.

Di usia tersebut, anak sebenarnya sedang memasuki masa praremaja (pre-teen). Hormon menuju kedewasaan mulai muncul, sementara kematangan emosional belum sepenuhnya terbentuk.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 20222027, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, pengasuhan berkualitas bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak anak.

"Persoalannya sekarang adalah bagaimana anak mendapatkan haknya itu," tegas Margaret.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U

**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/649150/alissa-wahid-ingatkan-beban-berat-praremaja-hingga-standar-media-sosial-rosi
Transkrip
00:00Nah kita juga perlu, seperti tadi kata Mbak Margaret, kita memang belum tahu ya, tapi kita juga belum tahu bagaimana relasi antara dia dengan ibunya.
00:11Apakah ibunya misalnya secara tidak sadar, lebih emosional misalnya karena beban hidup ini, lebih emosional terhadap anak-anaknya misalnya seperti itu.
00:26Atau lebih tertekan sehingga ketika misalnya anaknya meminta, tadi meminta buku terus ibunya bisa jadi ada orang tua yang akan menjawab jangan minta-minta terus gitu.
00:39Tapi ada juga yang kemudian ibu gak punya nak gitu, itu kan semuanya dua-duanya tetap membebani anak.
00:46Jadi kita bayangkan anak ini mendapatkan beban psikologisnya yang terlalu bertumpuk-tumpuk sehingga meledak jadi satu titik seperti ini.
01:00Nah bagi kita masyarakat ini sebetulnya harus menjadi pelajaran yang sangat berharga, terutama sebagai komunitas.
01:10Ada yang kita sebut sebagai prinsip community parenting, di mana saling menjaga rukun tetangga, rukun warga itu perlu untuk memahami kondisi keluarga-keluarga di dalam lingkungan itu.
01:32Sehingga beban-beban kemiskinan seperti ini tidak kemudian diemban secara personal atau perkeluarga.
01:41Dalam hal ini personal sang ibu.
01:44Itu mungkin yang bisa retrospeksi kita ya seperti itu.
01:51Tetapi dalam kondisi saat itu tentu saja bebannya berat sekali.
01:54Ketika dia berbeda dengan teman-temannya dan kita juga tahu sekarang media sosial membuat benchmark yang sangat tinggi anak itu harus seperti apa.
02:12Dulu anak yang tinggal di desa tidak tahu apa yang anak-anak seusianya yang dilakukan di kota.
02:20Atau anak yang tinggal di Indonesia tidak tahu apa yang anak-anak di Eropa.
02:23Seperti apa kehidupan mereka.
02:26Dengan benchmark yang seperti itu ada di kepalanya lalu itu tidak bisa terwujud.
02:31Jaraknya sangat jauh itu tentu beban juga yang sangat besar.
02:39Bahkan bagi orang dewasa saja dalam kondisi seperti itu sudah berat.
02:44Apalagi ini anak yang umur 10 tahun.
02:47Dan kita jangan lupa anak umur 10 tahun itu sebetulnya dia memasuki masa pancaroba yang hormonnya sudah mulai masuk.
02:57Hormon-hormon menuju kedewasaan itu sudah mulai muncul.
03:02Tapi di masa-masa itulah kegamangan terhadap segala sesuatu mulai terasa lebih besar dibandingkan masa-masa sebelumnya.
03:11Jadi ini biasanya kita menyebut ini sebagai preteen kan, pra-remaja.
03:17Yang itu memang pergolakan emosinya atau psikologinya juga lebih berat begitu.
03:24Untuk community parenting tadi di lingkungan kemiskinan ekstrim itu bagaimana yang sejauh ini berjalan Mbak Margaret kalau KPAI lihat?
03:32Sebenarnya kalau kita bicara tentang parenting ya, bahkan di luar komunitas yang kemiskinan ekstrim, itu pun juga seringkali kan tidak bisa dilakukan.
03:48Anak-anak dalam keluarga yang utuh saja itu masih banyak yang mengalami pengasuhan yang tidak berkualitas.
03:55Gitu ya, apalagi dalam kondisi kasus ini yang berlapis-lapiskan beratnya si ibu gitu.
04:02Cuman saya mau bilang begini Mbak, bahwa sebenarnya itu adalah hak anak untuk mendapatkan pengasuhan yang berkualitas gitu ya.
04:12Sekarang ini kan problemnya bagaimana kemudian anak mendapatkan haknya ini.
04:17Tentu beban berat kemudian seolah-olah ada di orang tua dan keluarga untuk bisa memenuhi pengasuhan berkualitas kepada anak ini.
04:28Tapi kan juga tidak apa ya, tidak wise juga kalau kemudian itu kita serahkan sepenuhnya.
04:34Pokoknya bagaimana caranya orang tua harus mampu melakukan pengasuhan berkualitas tanpa kita mau memandang apapun kondisi orang tua.
04:41Kan itu juga tidak fair.
04:43Nah, di sini kemudian saya kira yang kemudian butuh lahir adanya intervensi.
04:50Atau mungkin kebijakan dari pemerintah untuk mendorong.
04:54Kan tidak semua juga masyarakat faham dan tahu tentang bagaimana yang pengasuhan yang berkualitas gitu ya.
05:00Tidak semua orang tahu gitu.
05:02Kadang-kadang kan sebagian terbawa pada masa lalu.
05:05Yang namanya pengasuhan itu kayak dulu zaman kita masih kecil ya.
05:10Sebenarnya itu tidak lagi bisa dipraktekan dan malah terbentur dengan peraturan perundang-undangan sebenarnya.
05:16Kan kita tidak boleh melakukan pengasuhan dengan kekerasan kan begitu.
05:20Nah, tapi kemudian kewajiban dari pemerintah adalah memastikan bagaimana nih supaya anak ini mendapatkan pengasuhan berkualitas.
05:30Pada keluarga gitu ya yang mungkin tidak memahami ya berarti butuh di edukasi.
05:35Maka butuh ada intervensi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
05:39Terkait bagaimana pengasuhan berkualitas, bagaimana pengasuhan di era sekarang nih.
05:44Yang zaman dulu kita tidak kenal ada konten-konten negatif yang mempengaruhi.
05:49Eh sekarang ada true crime community lah.
05:53Apalah, apalah.
05:53Nah ini kan masyarakat orang tua harus diupdate kan begitu.
05:57Tidak hanya orang tua sebenarnya.
05:58Hal yang sama juga menjadi apa namanya dibebankan atau dilekatkan kepada orang-orang yang ada di lingkungan terdekat dengan anak.
06:08Misalnya di satuan pendidikan seperti yang tadi saya sampaikan.
06:11Hari ini guru memang ya bagaimana dengan kondisi yang seperti sekarang.
06:16Tidak mungkin kalau kemudian hanya memikirkan bagaimana proses belajar berjalan tapi tanpa memperhatikan kondisi-kondisi psikologis yang mengiringi anak-anak.
06:26Ada anak yang harus berjuang jauh lebih keras ke sekolahnya, belum tentu punya situasi belajar yang sama dengan yang lainnya.
06:32Dalam kondisi keterbatasan seperti yang tadi Mbak Alisa sampaikan, butuh ada komunitas yang tadi untuk membantu saling menjaga.
06:41Itu kan juga salah satu untuk mengatasi kalau-kalau ya ada tetangga yang kemudian mungkin dari sisi keterbatasan seperti ibu yang ada di apa namanya entity ini gitu ya.
06:54Sehingga kemudian itu bisa di backup, diisi oleh tetangga yang ada di sekitar sebagai support system.
07:01Bisakah kita katakan bahwa di kasus ini bukan maksud menyalahkan siapa-siapa tapi jadi pembelajaran bahwa ini ada kegagalan peranata sosial di sana.
07:10Artinya lingkungan dalam skala kecil maupun besar tidak bisa mendeteksi ada seorang anak yang butuh bantuan baik itu di lingkungan sekolah maupun lingkungan terdekatnya.
07:21Mbak Alisa.
07:21Saya rasa sebagian besar masyarakat saat ini memang sedang beradaptasi dengan perubahan peradaban ya.
07:32Peradaban kita yang sekarang ini yang tadi apa namanya informasi datang dari sumber-sumber yang tidak ada di sekitarnya secara fisik itu kan juga banyak.
07:41Nah saya melihat ada pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat yang membuat juga ini terlewatkan gitu.
07:50Artinya kalau zaman kita dulu anak-anak itu kita tahu anak-anak itu mainnya itu ya itu dia tidak ada informasi lainnya gitu.
08:00Lebih terkontrol ya kita tahu ya.
08:01Betul. Misalnya teknik mengakhiri hidup itu dapat dari mana?
08:07Nah itu kan juga sebuah pertanyaan begitu.
08:12Jadi kalau kita sekarang melihat masyarakat kita sedang grappling ke apa ya Mbak?
08:19Sedang berusaha untuk mencari cara-cara baru itu ya.
08:25Beradaptasi mencari cara-cara baru.
08:27Ya misalnya dengan anak-anak terhadap gadget atau pengaruh dari teman-teman sebaya itu saya rasa ini memang tugas masyarakat saat ini untuk belajar menjadi support system bagi setiap anak-anak di Indonesia.
08:44Karena sekali lagi kita tidak pernah tahu apakah anak ini benar-benar happy walaupun dia ketawa-ketawa begitu.
08:52Atau kok masih ada ruang-ruang?
08:57Semakin anak ini beranjak remaja semakin sulit dia menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya kepada orang dewasa yang mungkin selama ini ada.
09:08Misalnya seperti itu.
09:09Karena itu kalau di dalam komunitas itu ada orang-orang yang memang menjalankan peran pendamping misalnya guru yang akrab dengan murid-muridnya dan dipercaya oleh murid-muridnya maka si anak ini tidak akan segan untuk menyampaikan kepada gurunya.
09:28Atau misalnya dia dengan pamannya atau dengan guru ngajinya atau pendeta di gerejanya misalnya.
09:38Nah ini bagian dari community parenting sebetulnya seperti ini.
09:43Pengasuhan komunitas itu seperti ini bukan berarti kemudian semua harus menjadi orang tua seperti bayangan kita normalnya orang tua.
09:56Setidaknya bisa peduli terhadap lingkungannya, khususnya anak-anak di lingkungan.
10:02Betul, betul.
10:04Karena juga bicara soal anak dan kasus bunuh diri dari sumber KPAI ini ada grafis angka yang memprihatinkan.
Komentar

Dianjurkan