Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kasus tewasnya satu keluarga di Warakas, Tanjung Priok, pada 2 Januari silam menemui titik terang. Polisi mengungkap motif pembunuhan yang dilakukan anak korban karena dendam.

Setelah dilakukan pemeriksaan alat bukti dan keterangan pelaku, polisi menyampaikan jika pelaku sengaja meracuni ibu dan dua saudaranya karena dendam atas perlakuan berbeda sang ibu kepada pelaku. Pelaku merencanakan pembunuhan korban dengan cara diracuni.

#racun #keluargadiracun #jakut

Baca Juga Beri Dukungan Penuh, Ayah Samuel Eko Optimistis Indonesia Menang di Final | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/olahraga/649058/beri-dukungan-penuh-ayah-samuel-eko-optimistis-indonesia-menang-di-final-sapa-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/649065/full-psikolog-bedah-kasus-pria-nekat-bunuh-ibu-dan-saudara-kandung-akibat-dendam
Transkrip
00:00Setelah kasus tewasnya, satu keluarga di Warakas Tanjung Priok pada 2 Januari Srila menemui titik terang.
00:06Polisi mengungkap motif pembunuhan yang dilakukan anak korban karena dendam.
00:12Setelah dilakukan pemeriksaan alat bukti dan keterangan pelaku,
00:15polisi menyampaikan jika korban sengaja meracuni ibu dan dua saudaranya karena dendam
00:20atas perlakuan berbeda sang ibu ke pelaku.
00:23Pelaku merencanakan pembunuhan korban dengan cara diracuni.
00:30Dari hasil pembunuhan korban, motivasi dari pelaku adalah dendam kepada keluarganya
00:41karena merasa hidup terlalu berbeda dan sering di marah itu.
00:522 Januari 2026, warga digegarkan dengan tewasnya 3 orang dalam satu keluarga
00:59di rumah kontrakannya di Warakas Tanjung Priok, Jakarta Utara.
01:03Saat ditemukan, ketiga korban tewas dengan kondisi mulut berbusa.
01:07Sementara satu anak korban kondisinya lemas dan dibawa ke rumah sakit.
01:12Setelah lebih dari satu bulan investigasi dilakukan polisi,
01:15ternyata anak korban yang terbalik lemas tersebut
01:17merupakan pelaku pembunuhan tiga anggota keluarganya.
01:20Pelaku Abdullah Sawki Jamaluddin membunuh ibu dan saudara-saudaranya menggunakan racun.
01:27Dari rekaman CCTV di lokasi kejadian menunjukkan,
01:30pelaku Abdullah Sawki Jamaluddin tiba di rumah kontrakan keluarganya di Warakas.
01:36Terekam pelaku keluar dari rumah kontrakan dengan membawa salah satu panci
01:39yang sudah disiapkan untuk meracuni keluarganya.
01:42Dalam pengakuannya kepada polisi, pelaku meracuni ketiga korban
01:47dengan racun tikus dan kapur barus.
01:50Aksi kejam kepada keluarga itu dipicu oleh dendam
01:52karena kerap mendapat perlakuan berbeda dari sang ibu.
01:56Akibat perbuatannya, kini pelaku dijerat dengan pasal pembunuhan berencana
02:21dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.
02:24Tim Liputan Kompas TV
02:27Rasa dendam menjadi pemicu pelaku nekat membunuh keluarganya.
02:35Lebih lengkap terkait dengan kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas ini
02:38kita akan bahas bersama dengan psikolog anak remaja dan keluarga Sani Budiantini.
02:44Assalamualaikum, selamat malam Bu Sani.
02:47Assalamualaikum, selamat malam.
02:50Bu Sani, jadi ini sejauh mana rasa iri, cemburu, bisa berkembang menjadi sebuah dendam
02:57yang memicu aksi nekat pelaku ini, Bu Sani?
03:00Dalam kasus-kasus pembunuhan memang biasanya kerap kali dendam itu menjadi motif utama.
03:07Tapi saya rasa perjalanan menjadi dendam itu pastinya perlu juga waktu.
03:16Jadi tidak satu kondisi saja.
03:18Mungkin sudah beberapa saat atau beberapa lama si pelaku ini menaruh kecewa.
03:26Mungkin ya kecewa, mungkin dia juga tidak bisa mengungkapkan.
03:30Kemudian timbul yang namanya bongkahan emosi negatif yang mengumpul.
03:33Nah memang di satu situasi, orang-orang yang memiliki bongkahan emosi yang negatif itu bisa meledak.
03:42Nah ledakannya itu biasanya memunculkan sikap agresif.
03:47Ini memang sangat memperhatinkan karena yang dibunuh atau dilukai adalah keluarga kandungnya sendiri.
03:54Nah biasanya pelaku dalam kasus ini tidak melihat keluarga sebagai hubungan keluarga
04:01atau hubungan darah yang perlu disayangi, tapi menjadi sumber penderitaan si pelaku.
04:07Sehingga pelaku akhirnya melakukan pemusnahan ini demi menghilangkan sumber penderitaan.
04:15Itu yang biasanya difikirkan.
04:17Bu Sani, kalau dari profil pelaku ini usianya di antara 23 sampai 24 tahun,
04:26biasanya kan usia seperti ini mulai memiliki pikiran-pikiran atau emosi yang matang.
04:32Atau seperti apa biasanya?
04:33Ya, memang membangun emosi matang atau meregulasi emosi secara sehat itu tidak selalu dilihat dari usia.
04:44Ada juga usia yang tua tapi emosinya kekanak-kanakan.
04:49Ada juga yang lebih muda tapi lebih matang.
04:51Tapi di sini adalah sebenarnya bagaimana seseorang bisa memahami situasi dan kemudian bisa meregulasi emosi.
04:58Saya yakin ketika seseorang bisa berkomunikasi mengutarakan kekecewaannya mungkin atau ketidakveran yang diterima mungkin,
05:08itu bisa membuat amarah seseorang itu bisa meredah begitu.
05:13Makanya saya mengharapkan sekali memang hubungan atau komunikasi antar keluarga itu harus ditingkatkan.
05:19Sebenarnya ini untuk tidak terjadinya akumulasi amarah atau emosi negatif yang bisa memuncak dan bisa menimbulkan perilaku yang agresif.
05:30Agresif itu juga bisa berbagai macam.
05:32Bisa agresif horrible, bisa fisik, bahkan sampai melukai atau menghilangkan nyawa seseorang.
05:39Nah ini yang dikhawatirkan.
05:41Nah menurut saya adalah memang perlunya tadi sekarang ini bagaimana investigasi juga kepolisian untuk melihat kasus ini secara komprehensif.
05:50Termasuk pemeriksaan psikologis dari orang tersebut, dari pelaku tersebut.
05:55Kalau catatan Anda apakah ada juga bagaimana kajian?
05:59Apakah memang masih banyak orang tua yang tidak menyadari jika mereka memperlakukan anak-anaknya secara berbeda?
06:07Ya, saya yakin tidak ada orang tua yang mau menyakiti anaknya.
06:12Namun terkadang orang tua tidak nge atau tidak sengaja melakukan hal-hal yang sebenarnya itu melukai perasaan anak.
06:20Contoh, mengabaikan emosi anak itu pintu gerbang anak itu depresi atau stres.
06:26Karena diabaikan.
06:27Apalagi kemudian dibandingkan.
06:29Biasanya kasus-kasus ini itu muncul karena parenting style yang tidak ramah anak.
06:35Walaupun itu tidak disengajai.
06:37Makanya sekarang banyak orang tua yang kemudian disadarkan bahwa parenting itu adalah sangat penting demi membangun kepribadian anak.
06:46Termasuk bagaimana emosi anak menjadi sehat.
06:49Hubungan antara anak juga baik.
06:51Karena bagaimanapun anak itu kan tergantung orang tuanya.
06:54Nah, di sini kalau saya lihat memang usia 22 tahun itu bukan usia muda, bukan usia anak-anak lagi, sudah usia dewasa.
07:01Tapi apa yang dia terima mungkin sudah lama-selama ini.
07:05Sehingga ini yang menjadi akumulasi.
07:07Tapi kita juga kenal yang namanya anti-social personality disorder atau sociopath.
07:12Orang yang sebenarnya itu tidak sensitif, tidak empati juga ada.
07:17Jadi ada yang tadi emosi terakumulasi kemudian meledak.
07:22Ada juga memang memiliki anti-social personality disorder.
07:26Di mana dia tidak peka atau tidak memiliki empati.
07:30Dan biasanya ada unsur manipulatif.
07:33Dia juga abis terhadap hukum.
07:34Makanya ini semua harus ditegakkan diagnosanya.
07:37Ke arah mana si anak ini, kenapa menjadi pelaku melukai atau tidak melukai keluarga kandungnya sendiri.
07:44Oke, semoga ini menjadi alarm terutama bagaimana kita belajar parenting, memposisikan seperti apa anak kita.
07:52Terima kasih psikolog anak remaja dan juga keluarga Sani Budiantini telah menyampaikan pandangannya di program Kompas Malam hari ini.
Komentar

Dianjurkan