00:00Untuk mencoba tifa di dalam soal yang disebut ada unsur pidananya.
00:05Meneliti itu enggak ada unsur pidananya, itu.
00:08Yang saya sampaikan waktu tahun saya, yang saya peroleh adalah ini.
00:13Dari penyidik dapat senggoren dan saya habiskan empat kelas COVID-19.
00:19Tidak apa, itu.
00:22Tadi dikanya berapa kok saya itu?
00:24Yang penting pertanyaan yang esensial.
00:33Dan saya diminta untuk memberi kesaksian kepada keahlian saya tentang metodologi yang dipakai oleh dokter Tiba.
00:42Yang dimulai dari kuriositas beliau sebagai akademisi, lalu waktu dikumpulkan,
00:47untuk menguji kaosanitas, kapasitas, seseorang yang tidak disebut dan penampilan narasi publiknya.
00:58Dan kita minta pijakan.
00:59Dan itu fungsi dari penelitik itu.
01:01Saya menunggu, walaupun saya bukan ahli neurosains atau fungsi lain,
01:08tapi metodologinya saya paham itu.
01:10Saya mengajar metodologi di banyak instansi.
01:13Jadi, terlihat bahwa dokter Tiba sudah memenuhi sebuah persyaratan prosedural akademis.
01:23Dan itu tidak ada yang dia tertutupi.
01:26Kan diperlihatkan di terbuku.
01:27Yang tidur, tadi saya sebut, menurutnya benar enggak?
01:29Jokowi-Jokowi-Jokowi.
01:31Jadi buku itu yang harusnya dibaca, bukan sensasi di Twitter, di sosial media.
01:36Itu kan beda dong.
01:37Jadi itu intinya.
01:39Oke.
01:39Bukan tidak menyelai, sesuai prosedurnya anda tidak menyelai.
01:47Yang ada bidana, jadi orang melitik.
01:49Bahkan kalau kasus ini pun suruh saya, beliti aja terlukan.
01:53Tapi penyidik sendirinya, dari enggak sibuk kalau dia mengetahui batas antara penyelitian akademis dan juga tindak bidana?
02:00Penyidik itu menyidik, yang harus menerangkan saya.
02:02Ya saya terangkin, batas antara, bukan batas sebetulnya, beda antara sesuatu yang dihasilkan oleh curiosity, akademik curiosity,
02:12melalui kecurigaan terhadap kasus, maka waktu kita bekerja, itu namanya hermeneutical suspicion.
02:19Kita mencurigai secara hermeneutis, bukan mencurigai secara sentimen.
02:23Tidak ada urusan kan, soal personal dengan Pak Jokowi.
02:26Jadi betul-betul, tiba-tiba melakukan prosedur akademis untuk meneliti sesuatu yang jadi isu publik.
02:33Supaya publik mengerti bahwa apa yang diteliti itu hanya untuk menunjukkan persoalan secara akademik.
02:39Nah sensasi itu urusan sosial media lah, yang ngulik-ngulik segala macam itu.
02:45Tapi itu tidak bisa terhindari, karena sifat dari penyelitian selalu harus dipamerkan,
02:51difestivalkan, namanya the festival of ideas, festival of knowledge itu.
02:57Tapi publik menangkap bagian yang sensasi aja, soalkan kalian tuh yang bikin-bikin sensasi.
03:01Tapi sensasi juga hak kalian, karena semua isu publik pasti bagian sensasinya harus tiba lebih dahulu.
03:08Tetapi jangan segera tiba di dalam kulit sensasi, lihat substansinya tuh.
03:13Riset itu memerlukan data, riset itu memerlukan kecurigaan.
03:17Riset itu memerlukan penelitian pulang, jadi berulang-ulang di riset.
03:21Dan yang fair, dokter Tifa memperlihatkan hasil risetnya di dalam bentuk buku dicetak menjadi aksi semua orang.
03:27Tapi dokter Tifa sudah menandang satu tersangka lagi, gimana dari?
03:32Tersangka karena ada urusan tadir, jadi ada penelitian yang isinya mungkin.
03:38Kan itu intinya kan, mengkina atau mencemarkan nama bapak itu adalah reaksi publik.
03:44Atau terutama reaksi kalangan pak Joko, oh itu ada penelitian Tifa kan.
03:48Gitu, coba tanya misalnya, lawyernya baca gak buku itu tuh?
03:50Mengerti gak apa itu harmoni keu-saspision, mengerti gak apa itu public science, mengerti gak apa itu neurofilosofi kan.
03:56Mereka gak paham.
03:56Jadi mereka ambil bagian yang sensasional untuk mencoba Tifa di dalam soal yang disebut ada unsur pidananya.
04:05Menelitian itu gak ada unsur pidananya itu.
04:07Berarti gak ada pencemaran nama bapak, gue jangan pencemaran dengan Sarah ya.
04:10Ya apa, gak sering mau mencemarkan nama bapak, mau namanya aja gak, bukan namanya gak diketahui.
04:17Relasi personal itu yang memungkinkan terjadi pencemaran nama bapak.
04:21Kalau saya dengar pada orang, saya cemarkan nama bapaknya.
04:23Kalau saya gak kenal, ngapain saya cemarkan nama bapaknya.
04:25Begok dong, gitu.
04:26Dapat.
04:33Ya itu yang terlihat di dalam pembuktian-pembuktian melalui riset.
04:37Jadi itu hasil riset, bukan hasil omong-omong.
04:40Saya Triska Klarissa, saksikan program-program Kompas TV melalui siaran digital, pay TV, dan media streaming lainnya.
04:56Kompas TV, independen, terpercaya.
04:58Terima kasih.
Komentar