Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Indonesia memutuskan untuk bergabung, dengan Dewan Perdamaian besutan Presiden Donald Trump, di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026) waktu setempat.

Keikutsertaan Indonesia ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia, untuk terus berperan aktif dalam penyelesaian damai konflik internasional.
Ketika sejumlah negara Eropa menyatakan menolak, Indonesia justru memutuskan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian.

Hal itu ditandai dengan penandatanganan piagam Dewan Perdamaian, yang dilakukan Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo menyatakan, langkah yang diambil Indonesia ini merupakan kesempatan bersejarah, sekaligus peluang dalam menjaga komitmen agar proses transisi Gaza tetap berada pada solusi dua negara atau two state solution.

Indonesia akan menggunakan keanggotaannya ini, untuk menyuarakan penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, dan akses kemanusiaan, serta pemulihan tata kelola sipil Palestina.

Lalu apa sebenarnya keuntungan dan kerugian bagi Indonesia, usai bergabung dalam Dewan Perdamaian usungan Presiden Donald Trump? Apakah cita-cita menciptakan perdamaian di tanah Gaza bisa terwujud dengan pembentukan dewan ini?

Untuk membahasnya, kita sudah bergabung dengan Kishino Bawono, pakar hubungan internasional dari Unpar.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga [FULL] DPR dan Pakar HI Soal Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Langkah yang Tepat? di https://www.kompas.tv/nasional/645864/full-dpr-dan-pakar-hi-soal-indonesia-gabung-dewan-perdamaian-bentukan-trump-langkah-yang-tepat

#donaldtrump #presidenprabowo #dewanperdamaian #gaza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/645866/full-respons-soal-indonesia-gabung-dewan-perdamaian-bentukan-trump-pakar-hi-ada-untungnya
Transkrip
00:00Kami lanjutkan Sapa Indonesia Malam dengan satu topik manca negara, Saudara.
00:08Indonesia memutuskan bergabung dengan Dewan Perdamaian Besutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Davos, Swiss pada Kamis waktu setempat.
00:16Keikut sertaan Indonesia ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia untuk terus berperan aktif dalam penyelesaian damai konflik internasional.
00:30Ketika sejumlah negara Eropa menyatakan menolak, Indonesia memutuskan bergabung dengan Dewan Perdamaian.
00:40Hal itu ditandai dengan penanda tanganan piagam Dewan Perdamaian yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
00:46Presiden Prabowo menyatakan langkah yang diambil Indonesia ini sebagai kesempatan bersejarah dan merupakan peluang dalam komitmen menjaga proses transisi Gaza.
00:56Tetap pada solusi dua negara atau two-state solution.
01:01Indonesia disebut akan menggunakan keanggotaannya untuk menyuarakan penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, dan akses kemanusiaan serta pemulihan tata kelola sipil Palestina.
01:12Saya kira ini kesempatan bersejarah, ini kesempatan bersejarah, ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza.
01:27Yang jelas, penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, sangat berkurang.
01:34Bantuan-bantuan kemanusiaan begitu jelas, begitu besar sudah masuk.
01:41Saya sangat berharap dan Indonesia siap ikut serta.
01:46Siapa yang ingin perdamaian di situ, siapa yang ingin bantu Gaza, rakyat Palestina, ya, ya.
01:57Oke, terima kasih.
01:59Mencermati dinamikanya sejauh ini, apa sebenarnya untung dan rugi bagi Indonesia
02:04usai bergabung dalam Dewan Perdamaian Usungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump?
02:09Apakah cerita-cita menciptakan damai di tanah Gaza bisa terwujud dengan pembentukan Dewan ini?
02:14Saya diskusikan ini bersama Kishino Bawono, pakar hubungan internasional dari Universitas Katolik Parahiangan, Jawa Barat.
02:21Mas Ino, apa kabar?
02:24Selamat malam, Mas.
02:25Terima kasih sudah bergabung bersama kami.
02:27Kalau melihat dinamikanya, Eropa masih belum menyatakan sikap atas Dewan ini.
02:32Kemudian Amerika Serikat yang ngelit, yang memimpin tim ini.
02:36Ada Israel yang sempat melakukan upaya pendudukan Gaza, Palestina belum jadi anggota di situ.
02:43Anda membaca bahwa arah Dewan Perdamaian atau Board of Peace ini benar-benar sudah jelas?
02:49Atau masih ada yang Anda pertanyakan di sini?
02:52Oke, terima kasih untuk pertanyaan ya, Mas.
02:56Terkait arah dari Board of Peace ini,
02:59spesifiknya misal untuk terkait perdamaian atau kemerdekaan Palestina,
03:03nampaknya saya masih skeptis, gitu ya.
03:06Walaupun tadi dibilang ini akan jadi jalan untuk two-state solution,
03:13bahkan untuk kemerdekaan dan perdamaian di Palestina,
03:16saya rasanya masih skeptis karena ketika kita bicara Board of Peace,
03:21berbeda dengan PBB, ketika di PBB kita punya negara-negara lain
03:28yang cukup besar yang bisa menjadi penyeimbang Amerika Serikat
03:32yang kadang bisa bilang tidak atau bahkan abstain
03:35ketika Amerika pengen membuat suatu policy di level internasional.
03:40Nah, tapi di dalam Board of Peace ini, so far sampai sore ini,
03:46negara terbesarnya, ya Amerika, dan kemudian disusul oleh Israel.
03:51Nampaknya, kalau dari secara struktur,
03:54ketika kita melihat biagam yang sudah dibikin,
03:57yang kemudian Indonesia juga setuju,
03:59rasanya akan sangat disetir oleh chairmannya,
04:04yaitu Presiden Donald Trump,
04:06yaitu Presiden Amerika Serikat ini.
04:08dan kalau kita melihat bagaimana rezim Trump 1 dan Trump 2
04:13sekarang berjalan, gitu ya,
04:17rasanya rezim Trump ini sangat suportif
04:19dengan apapun yang Israel lakukan,
04:22termasuk bagaimana mereka bisa cukup bebas
04:26untuk melakukan serangan pasca 7 Oktober 2023,
04:30termasuk juga dengan meratakan Gaza seperti sekarang,
04:35dan itu tidak ada repercussion-nya
04:40dari pemerintah AS.
04:42Pemerintah AS basically bilang,
04:44ya sudah silahkan.
04:46Jadi rasanya,
04:47kalau rezim yang internasional,
04:50yang dibikin oleh BOP,
04:52dibikin oleh Amerika ini,
04:54akan bicara perdamaian di Palestina,
04:58rasanya saya akan skeptis bahwa ini
05:00akan genuinely bicara perdamaian di Palestina.
05:05Mungkin ini akan membicarakan
05:07bagaimana Palestina diperlakukan
05:09menurut pemerintah Israel.
05:11Jadi Anda merasa bahwa Indonesia
05:13di posisi yang rugi di sini,
05:14atau masih ada untung yang didapatkan Indonesia
05:16dengan bergabung ke Board of Peace?
05:19Oke, terkait untung dan rugi,
05:22saya masih bisa melihat ada untungnya
05:24dengan pemerintah Indonesia masuk ke Board of Peace.
05:27Di bagian mana itu?
05:27Presiden Trump ini adalah presiden yang
05:32kalau dilihat,
05:33beliau itu sangat take it personally.
05:36Kalau ada orang yang mengkritik,
05:38itu dia rasa sebagai kritikan personalnya
05:41sehingga mengganggu ego,
05:43yang kemudian mengganggu mood beliau,
05:44sehingga kemudian dia akan menjadi moodnya tidak baik,
05:47dia akan memberikan serangan balasan
05:49entah itu sekedar dengan bicara di sosial media,
05:53seperti yang terjadi pasca Davos ini,
05:55beliau itu kan cukup banyak melakukan posting di sosial media,
06:00mengkritik balik orang-orang yang dianggap tidak friendly
06:04dengan proposal Board of Peace-nya dia.
06:07Di sisi lain juga,
06:09yang lebih repot adalah ancaman tarif.
06:12Beliau, terutama di rezim kedua ini,
06:15di era keduanya,
06:17sering menggunakan tarif sebagai senjata diplomatiknya.
06:20Indonesia dengan ikut Board of Peace ini,
06:24untungnya satu yang bisa saya lihat adalah
06:27pemerintah Indonesia bisa memainkan ego dari beliau,
06:31sehingga tidak menyenggol sensitivitas perasaan beliau,
06:37sehingga harapannya urusan-urusan Indonesia
06:39dengan pemerintah Amerika,
06:41baik salah satunya juga kita masih bermasalah dengan tarif,
06:44itu bisa diselesaikan dengan lebih mudah.
06:45Tapi di sisi lain, kerugian juga masih ada,
06:49yang saya bisa lihat.
06:51Ketakutan saya adalah,
06:53seperti yang tadi saya bilang,
06:54kalau di PBB,
06:56kita punya negara penyeimbang
06:57dari Amerika Serikat.
07:01Sebagai contoh,
07:02dalam DKA PBB atau Dewan Keamanan,
07:04kita punya lima negara tetap.
07:06Di sana, selain Amerika Serikat,
07:08ada Inggris, Perancis,
07:10Rusia, dan Cina,
07:11yang sering,
07:13jika mereka membutuhkan,
07:14mereka akan memveto.
07:15Nah, masalahnya dalam Board of Peace ini,
07:18yang punya kemampuan veto itu,
07:21hanya di chairmannya,
07:23yaitu nanti akan Presiden Trump,
07:25atau dua per tiga member.
07:27Artinya, ini sangat berpusat di Presiden Trump.
07:31Oke, sorry saya potong di situ.
07:32Karena kalau melihat posisi kita di Board of Peace ini,
07:35sesungguhnya Indonesia bisa membawa pengaruh nggak sih?
07:39Bargaining position kita cukup kuat nggak sih?
07:41Mempengaruhi kebijakan di dalam board itu?
07:42Atau sebetulnya nasib kita itu cuma jadi stempel legitimasi,
07:46mewakili negara-negara mayoritas muslim aja,
07:48di dalam tim itu?
07:51Saya bergerak, berpikir lebih setuju ke arah itu ya.
07:56Yang kedua berarti?
07:56Melanjutkan tadi,
07:58ya, melanjutkan tadi,
07:59kita melihat bahwa Presiden Trump,
08:02itu bersama pengamat-pengamat CAI lainnya,
08:05itu tidak suka dengan skema multilateralisme
08:07dan organisasi internasional seperti PBB.
08:10Dalam PBB,
08:11ketika ada penyeimbang,
08:13berarti,
08:13dan ada aturan hukumnya,
08:15terlepas penerapannya tidak se-ideal itu ya,
08:20ketika ada hukum,
08:20pemerintah Amerika Serikat tidak bisa memaksakan kekuatannya,
08:25militer dan ekonominya,
08:26untuk kemudian memaksa atau mengancam negara lain,
08:30harus mengikuti perintahnya atau kebijakannya.
08:33Nah, di dalam board of peace ini,
08:35Amerika menjadi satu-satunya negara hadidaya di sana,
08:39yang akibatnya,
08:40selain dia memegang chairman,
08:42dia bisa mengontrol dinamika di dalam kelompok ini.
08:45Ditambah lagi,
08:46chairman itu punya kemampuan untuk memutus keanggotaan secara setiap.
08:52Yang akibatnya,
08:53jadi misal nanti,
08:55ada salah satu negara di board of peace yang menurut dia,
08:58dia tidak sukai,
08:59entah apapun alasannya,
09:00tiba-tiba bisa di-cut.
09:02Dan saya takutnya kemudian,
09:03ketika Indonesia di posisi itu ya,
09:06ingin menyuarakan sesuatu yang berbeda dengan pemerintah.
09:09Amerika Serikat,
09:09takutnya Indonesia kemudian dibuang.
09:12Karena ya,
09:13kekuatannya semuanya,
09:15bergantung dengan
09:16hadidayaan Amerika Serikat.
09:19Ditambah lagi dengan posisi AS,
09:22memang bersekutu erat dengan Israel,
09:24sehingga rasanya akan sulit mencapai kata damai itu ya, Mas?
09:28Iya.
09:29Iya.
09:31Maka bacaannya gimana untuk proyeksi ke depannya?
09:33Karena saya memikirkannya begini sih,
09:35kalau kemudian semangat awalnya untuk
09:36memperbaiki kondisi Gaza,
09:39untuk transisi perbaikan di Gaza,
09:41sementara Israel yang melakukan pendudukan di Gaza saja,
09:43ikut bergabung ke situ,
09:45apakah akan jadi drama baru dalam tanda kutip
09:48untuk bisa mencapai yang katanya damai itu?
09:50Tapi kita akan bahas itu di segmen berikutnya.
09:53Tahan dulu di situ,
09:54kami segera kembali.
09:54Masih melanjutkan diskusi, Mas Nino,
10:04dari pertanyaan saya di segmen sebelumnya,
10:07ada Israel,
10:09sekutunya Amerika Serikat,
10:11yang pernah menduduki,
10:12atau masih tetap konsisten menduduki
10:14Gaza sampai sekarang,
10:15jadi bagian dari Board of Peace,
10:18sementara kita mendukung
10:20kemerdekaan Palestina.
10:21Dengan prinsip politik kita yang bebas aktif ini,
10:23apakah posisi Indonesia akan tersandra nanti?
10:26Oke, kalau pertanyaannya,
10:30apakah Indonesia akan tersandra?
10:33Jawaban saya kira-kira akan begini.
10:36Balik lagi,
10:37bahwa Board of Peace itu didukung migrasi oleh
10:39pemerintah Amerika Serikat.
10:41Dia jadi satu-satunya negara agi daya,
10:43dia bisa mendiktai bagaimana dinamika di sana.
10:46Termasuk bahkan nanti
10:47bisa mengeluarkan anggota-anggota
10:49yang dirasa takutnya
10:51tidak sejalan dengan
10:55polisinya mereka.
10:57Yang saya takutkan kemudian,
10:59jadi poin kerugian Indonesia
11:00masuk ke Board of Peace ini adalah,
11:02ketika Indonesia tidak punya posisi tawar
11:04yang cukup baik
11:05terhadap pemerintah AS,
11:08ketika pemerintah Indonesia
11:09mengajukan two-state solution
11:11yang kemungkinan besar
11:13berbeda dengan persepsi
11:15bagaimana perdamaian di Israel-Palestina.
11:17Menurut pemerintah Israel,
11:18yang saya takutkan kemudian ya,
11:21nanti pemerintah Indonesia akan disetir
11:23jika ingin masih tetap mempertahankan
11:26membership-nya di dalam Board of Peace.
11:28Supaya apa?
11:29Supaya tidak dianggap bermusuhan
11:31dengan pemerintah AS,
11:32tidak bertentangan dengan polisinya,
11:34dan kemudian pertanyaannya kemudian,
11:37prinsip bebas aktifnya kita,
11:39gitu ya, sebagai guiding principle
11:41dalam kebijakan warna negeri kita
11:43dari zaman dulu,
11:45nah, ketika kita disetir,
11:47bebasnya kita di mana?
11:48Itu yang kemudian saya juga bertanya
11:51bersama teman-teman pengamat lainnya.
11:55Ditambah lagi,
11:56sampai sekarang Eropa belum bersuara
11:58atau belum menyatakan sikapnya
12:00akan bagaimana,
12:01walaupun bahasanya
12:01arah-arahnya menolak.
12:03Termasuk,
12:03saya mengutip pernyataan
12:04Menteri Luar Negeri Prancis
12:05yang bilang,
12:06ini menimbulkan kekhawatiran
12:08bahkan disebut sangat jauh
12:09dari piagam perserikatan bangsa-bangsa.
12:11Sementara Trump sendiri
12:13secara sikap negaranya
12:15sudah keluar dari banyak
12:16organisasi internasional,
12:18terutama Dewan Perdamaian PBB.
12:20So, menurut Anda ini
12:21akan jadi drama baru,
12:23drama barunya ke arah mana ini nanti?
12:28Arah yang ingin dibuat Presiden Trump
12:31nampaknya itu adalah
12:32bermula atau berasal
12:34dari ketidaksukaannya
12:35beliau terhadap
12:36organisasi internasional yang sudah ada,
12:39termasuk kenapa kemudian
12:39dia mundur dari PBB gitu ya,
12:41yang tadi saya bilang bahwa
12:42PBB punya aturan,
12:43PBB sebagai resin
12:44punya hukum
12:45yang itu
12:46menghambat Amerika untuk
12:49bisa membuli
12:51negara-negara yang lebih kecil
12:52berdasarkan kekuatan ekonomi
12:54dan militernya.
12:56Dia pengen membuat
12:57organisasi pembanding,
12:58organisasi apa ya,
13:00ibaratnya
13:00selain PBB
13:02di mana dia bisa membuli
13:03negara-negara yang lebih kecil.
13:05Ketakutan saya di situ
13:06karena yang paling berkuasa di sana,
13:08aturan main yang dibikin
13:10adalah aturan main
13:11ala mereka.
13:12Dan di sisi lain,
13:14bisa disambungkan dengan
13:16another kerugian kita
13:17masuk ke dalam BUP adalah
13:18Presiden Trump itu
13:20tidak suka dengan
13:21mekanisme multilateralisme.
13:22di mana satu negara
13:24tidak hanya sendirian
13:26bekerja sama dengan negara lain,
13:28tapi rame-rame.
13:29Beliau itu lebih suka
13:30kalau mekanismenya bilateral.
13:33Jadi satu negara
13:34dengan negara lainnya.
13:35Efeknya apa ketika
13:37multilateralisme,
13:38misalkan Amerika harus
13:39bernegosiasi dengan ASEAN
13:41secara multilateral,
13:43artinya
13:43Amerika harus di-link
13:45dengan sebelas negara.
13:47Kekuatannya bisa lebih
13:48imbang.
13:50Tapi kalau itu kemudian
13:51ditarik ke level bilateral,
13:54yang ditakutkan itu
13:54yang akan dibawa
13:55di dalam board of peace ini,
13:57negara-negara yang
14:01lebih kecil ini
14:02lebih mudah,
14:03lebih freja,
14:03lebih rawan
14:04untuk dipaksa,
14:06untuk ditekan
14:06dengan cara apapun
14:08yang pemerintah Amerika
14:09punya.
14:11Dan efeknya apa?
14:12Ya organisasi ini
14:13kemudian sangat disetir
14:15yang tadi
14:15juga saya bilang
14:17bahwa kita
14:18saya takutnya
14:20bahwa
14:20ini akan
14:21apa ya,
14:22sangat
14:23dipengaruhi oleh
14:24bagaimana Amerika
14:25bergerak.
14:27Termasuk bagaimana mereka
14:28mendefinisikan
14:29perdamaian di
14:30Israel Palestina.
14:31Ditambah lagi
14:32yang terdengar infonya
14:34ada
14:34iuran
14:35keanggotaan juga
14:36untuk bisa berada
14:38di tim itu.
14:39Apakah ini bagian
14:40untuk setir itu?
14:42Untuk bagian awalnya
14:42menurut Anda,
14:43Mas Nino?
14:43Kalau
14:46diartikan
14:49sebagai
14:49bagaimana
14:50AS menyetir
14:51dengan biaya
14:52keanggotaan,
14:53saya mungkin
14:53tidak terlalu
14:54menangkap hal itu
14:56ya,
14:56bahwa ini adalah
14:57bagian dari menyetir,
14:58tapi ini
14:58bagian juga
14:59dari keinginan
15:01Trump
15:01yang sebetulnya
15:02terlihat
15:02dalam pola-pola
15:03sebelumnya.
15:04Presiden Trump
15:05itu tidak suka
15:06untuk
15:07apa ya,
15:08kalau Amerika
15:08ibaratnya harus
15:09menomboki,
15:10memberi subsidi
15:11kepada
15:11organisasi
15:12internasional
15:13atau rezim
15:14internasional,
15:15dia pengennya
15:16bahwa
15:16anggota-anggota
15:17yang join
15:17dalam organisasi
15:19internasional
15:19itu juga
15:20kontribute
15:20sama seperti
15:21Amerika.
15:22Ini bisa kita
15:23lihat seperti
15:23di NATO
15:24ke Residen
15:25Amerika,
15:26sorry,
15:26Presiden Trump
15:27ini berulang kali
15:28pengen bilang
15:29bahwa negara-negara
15:30anggota lainnya
15:30juga harus
15:31kontribute
15:31seperti Amerika
15:33kontribute,
15:33sebesar Amerika
15:34kontribute yang
15:35mana nampaknya
15:36negara-negara lain
15:37juga keberatan.
15:38Nah ini
15:38Indonesia
15:40nggak tahu
15:40gimana
15:41apakah akan
15:42join untuk
15:43ikut bayar
15:43segitu
15:44atau tidak.
15:45Oke, singkatnya
15:45menurut Anda
15:46Indonesia bisa
15:47berbuat apa
15:47menunjukkan
15:48posisi kita
15:49tegas untuk
15:49kemerdekaan
15:50Palestina,
15:51tapi kita juga
15:51akan menerapkan
15:52politik bebas aktif
15:53karena kita
15:53sudah kadung
15:54masuk ke
15:54board of peace
15:55ini.
15:57Ini yang agak
15:58susah sih
15:58mas jawabannya,
16:00bagaimana Indonesia
16:01bertindak
16:01di dalam
16:02board of peace,
16:03board of peace
16:03juga isinya
16:04negara-negara yang
16:05nampaknya akan
16:06mengikuti bagaimana
16:07Amerika bertindak,
16:09jadi kalau
16:10jawaban biasanya
16:11bahwa Indonesia
16:12harus punya
16:12negara-negara
16:13sekutu,
16:13negara-negara lain
16:14yang sependapat,
16:16yang sesuara
16:17dengan kita,
16:18nah masalahnya
16:18sekarang makin sedikit
16:20negara-negara yang
16:21berani
16:22menyuarakan
16:23kepentingan
16:24Palestina yang
16:25sama dengan
16:25Indonesia bahwa
16:26Palestina harus
16:27merdeka dengan
16:28cara to state
16:28solution
16:29dan semacamnya
16:30rasanya makin
16:31dikit.
16:32Saya sendiri pun juga
16:33maaf saya
16:33nggak bisa
16:34menjawab pertanyaan
16:35ini.
16:36Oke,
16:37tampaknya juga
16:38akan jadi challenge
16:39dan Eropa
16:40ada peluang nggak
16:40untuk berubah pikiran
16:41menurut Anda?
16:44Tergantung dari
16:45nanti bagaimana
16:46retaliasi dari
16:47Presiden Trump
16:47terutama juga
16:48nanti terkait
16:49Greenland ya.
16:50Karena so far
16:51mereka berani
16:53berkata lain
16:54tapi nggak tahu
16:55dalam jangka panjang
Komentar

Dianjurkan