00:00Terima kasih Anda masih menyaksikan Kompas Petang, Saudara.
00:05Indonesia resmi bergabung dengan Dewan Perdamaian untuk Gaza yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
00:13Penandatanganan fakta ini dilakukan di sela rangkaian World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss pada Kamis siang waktu setempat.
00:30Selain Indonesia, Saudara, turut hadir Kepala Negara dari Turki, Arab Saudi, Mesir, Jordania, Pakistan, Qatar, dan juga Uni Emirat Arab.
00:40Kedelapan negara ini menandatangani fakta yang menandakan resminya pembentukan Dewan Perdamaian Gaza.
00:46Di momen ini, Presiden Prabowo Subianto duduk di samping Presiden AS Donald Trump.
00:50Keikut sertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza menandakan komitmen negara menjaga proses transisi Gaza tetap mengarah pada solusi dua negara.
01:02Presiden Prabowo Subianto menilai Dewan Perdamaian Gaza yang baru dibentuk dapat memperlebar jalan menuju perdamaian di Gaza.
01:25Indonesia akan menggunakan keanggotaannya di dalam badan yang diketuai oleh Presiden AS Donald Trump ini
01:32untuk menyuarakan penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, dan juga akses kemanusiaan,
01:38serta pemulihan tata kelola sipil Palestina.
01:42Menurut Prabowo, penderitaan warga Gaza pun kini berangsur berkurang seiring dengan semakin banyaknya dukungan demi demilitarisasi di Gaza.
01:55Ini kesempatan bersejarah, ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza.
02:03Yang jelas, penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, sangat berkurang.
02:08Sangat berkurang.
02:10Bantuan-bantuan kemanusiaan begitu deras, begitu besar sudah masuk.
02:16Saya sangat berharap dan Indonesia siap ikut serta.
02:22Nah, siapa yang ingin perdamaian di situ, siapa yang ingin bantu rakyat Gaza, rakyat Palestina?
02:29Ya, ya.
02:31Oke, terima kasih.
02:36Sementara itu, saudara, dalam pidatonya di World Economic Forum, Prabowo membanggakan beberapa pencapaian programnya.
02:42Salah satunya adalah Badan Pengelola Investasi Danantara.
02:46Prabowo menyatakan berkat Danantara, dirinya bisa berdiri setara dengan pemimpin dunia di World Economic Forum.
02:53Selain itu, saudara, Prabowo juga memaparkan capaian program MBG dan program sekolah rakyat.
02:59Di forum ini, saudara, Prabowo juga menyebut Indonesia sebagai negara yang terbuka dengan berbagai peluang.
03:06Terima kasih.
03:36Lalu, apakah langkah Indonesia bergabung dengan Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ini tepat?
03:50Dan apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia dalam Dewan Perdamaian tersebut?
03:55Kita bahas bersama dengan praktisi hubungan internasional, Dina Praptor Harjo dan juga anggota Komisi 1 dari fraksi PKB, Samsu Rizal yang telah bergabung bersama kami di Kompas Petang.
04:05Selamat sore semuanya.
04:08Selamat sore, Pak.
04:09Ya, kita sambil, oke.
04:12Bang Samsu juga sudah bergabung.
04:13Selamat sore, Bang Samsu.
04:14Sekarang saya jelas?
04:16Ya.
04:17Oke.
04:18Terima kasih, Bang Ijau, sudah bergabung.
04:19Saya ke Mbak Dina dulu nih.
04:21Sebagai pengamat atau praktisi hubungan internasional, Anda melihatnya seperti apa?
04:26Pertanyaannya sederhana.
04:27Apakah keputusan yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto ini sejalan dengan semangat Indonesia untuk perdamaian di Gaza?
04:34Kalau menurut saya ada satu pertanyaan fundamental yang muncul di kepala saya, ini sebenarnya motifnya untuk perdamaian atau karena kita takut ditekan oleh Presiden Trump?
04:48Atau justru Trump sudah melakukan pekanan terhadap Indonesia yang demikian besar secara ekonomi atau karena urusan tarif sehingga kita mengambil keputusan dengan begitu tergesa-gesa ya kesan saya.
04:59Dan buat masyarakat sutil di luar sana, kami-kami merasa tidak ada proses yang transparan apa dasarnya kita langsung mengiakan dan apakah ada konsultasi sebelumnya terkait pengambilan keputusan kita langsung join ke Board of Peace?
05:15Karena kita sudah punya catatan kan sebelum kejadian ini, apalagi Trump kemudian menyuarakan bahwa nantinya beliau akan memimpin seumur hidup Board of Peace ini, kemudian juga pengambilan keputusan di tangan beliau dengan hak setol tunggal.
05:30Jadi di mana kita posisinya ini sekarang bebas aktif atau aktif yang sebebas-bebasnya, jadi tidak nampak lagi daftar kita aktif tetapi yang penting aktif saja lah kita bebas dengan melakukan apapun alasannya kemudian.
05:48Tahan sampai di situ dulu Mbak Dina, karena saya ingin tanya dulu ke Komisi 1 sebagai mitra yang mengurus hubungan luar negeri ini sebenarnya tadi Mbak Dina meng-highlight soal transparansi, kemudian ini apakah betul-betulkan kita ingin mengedepankan perdamaian Gaza atau jangan-jangan kita takut dengan tekanan Trump? Silakan, Bang Ijal.
06:06Ya, Assalamualaikum Wr. Wb. Jadi Mbak Dina dan semua yang nonton, yang dengar, sebenarnya Mbak Dina ini menyampaikan kegelisahan kita semua, kegelisahan rakyat Indonesia.
06:19Ini kita ikut di Board of Peace ini, kita takut sama Donald Trump dan Amerika, atau memang karena kepentingan strategis nasional.
06:26Kalau kita runut ke belakang, kalau kita coba cari, apa sih sebenarnya yang membuat kita bisa aktif dalam forum-forum seperti ini?
06:33Tujuannya satu, bagaimana Palestina bisa merdeka. Tapi dalam perkembangannya, kita kemudian melihat bahwa tidak mungkin kita punya tujuan semuanya tercapai tanpa ada win-win solution.
06:45Maka muncullah win-win solution ini, itu adalah two-state solution. Dan itu kita terima sebagai bagian dari proses negosiasi aktual.
06:54Tetapi jangan lupa bahwa tujuan kita itu adalah merdeka. Kalau Palestina merdeka harus melalui perang, kasarnya ya.
07:02Kalau kita bilang, ayo ikut perang. Tapi kalau harus melalui perdamaian, lebih bagus lagi.
07:07Nah konteks inilah yang penting, menjadi frame kita untuk melihat bagaimana kebijakan Presiden kita.
07:13Bahwa ternyata keinginan kita untuk menjadikan Palestina sebagai sebuah negara merdeka ini,
07:18mesti ada pengorbanan-pengorbanan lain.
07:20Salah satunya itu adalah two-state solution, kemudian kita juga ikut dalam forum bentukannya Presiden Trump ini,
07:29yang kalau saya sendiri secara pribadi menganggap bahwa Presiden Trump ini seakan-akan betul-betul menegaskan untuk menjadi polisi dunia.
07:37Yang, walaupun kemudian diklaim sebagai salah satu lembaga internasional yang juga berada dalam koordinasi dengan PBB,
07:45tapi ingat bahwa board office ini bukan lembaga in charge di PBB.
07:51Sehingga penting untuk kita menegaskan posisi kita bahwa apapun yang kita lakukan di board office ini,
07:57solusinya adalah Palestina Merdeka.
08:00Oke, solusinya adalah untuk Palestina Merdeka ya, Bang Ical ya.
08:03No problem.
08:04Karena logikanya seperti ini, Bang Ical.
08:08Iya, Pak.
08:09Oke, maaf saya potong.
08:10Karena logikanya seperti ini, kan kita ketahui bersama begitu.
08:14Kalau Amerika...
08:15Sebentar, karena kalau kita lihat Amerika Serikat sendiri kan ini teman sejatinya Israel,
08:23bisa dikatakan seperti itu.
08:24Nah, dari Komisi Sablu sendiri, bagaimana akhirnya menjelaskan ke publik begitu?
08:30Apalagi tadi soal transparansi dan apakah ini juga sudah dibahas begitu?
08:36Ya, kita bahas itu tidak dalam konteks yang spesifik soal ini.
08:40Tetapi konteksnya adalah bagaimana memberikan kepercayaan kepada Presiden Prabowo
08:45untuk melangsungkan langkah-langkah strategis diplomasi.
08:48Tetapi konteksnya adalah, goalsnya adalah,
08:51Palestina Merdeka.
08:52Ini yang saya ulang lagi, bahwa kalaupun dalam konteks Palestina Merdeka kemudian
08:56harus ada negara lain yang ikut Merdeka,
08:59monggo, silahkan, tidak masalah.
09:02Tapi will-wine solusinya itu adalah,
09:04ada jaminan bahwa Palestina Merdeka.
09:07Sehingga kalaupun kemudian Israel juga diakui sebagai sebuah negara Merdeka,
09:11tidak masalah.
09:12Nah, itu konteksnya.
09:13Itu adalah salah satu langkah progresif kita di Indonesia ini,
09:17yang sebelumnya, itu tidak ada toleransi.
09:20Palestina Merdeka tanpa embel-embel.
09:22Tapi kalau kemudian mesti ada diikuti dengan embel-embel yang lain,
09:25tidak masalah.
09:26Karena itu adalah bagian dari solusi konkret.
09:28Saya ke Mbak Dina.
09:29Mbak Dina, tangkapannya.
09:32Ini kita berarti diajak untuk melakukan refleksi
09:34antara proses dengan outcome.
09:38Outcome itu kan belum tentu kelihatan ujungnya ya.
09:41Mau dalam waktu sebulan lagi, setahun lagi, lima tahun lagi,
09:45Palestina Merdeka.
09:46Tapi yang kita bicarakan sekarang ini kan prosesnya ya.
09:49Menuju ke sana, melihat bahwa sistem yang dibangun oleh Board of Peace
09:53dan itu sudah diumumkan oleh Trump di berbagai tempat,
09:56dan ada kecenderungan Trump ini sangat impulsif.
09:59Jadi bahkan transparansi dari Trump sendiri tentang cara kerja,
10:03pengambilan keputusan di Board of Peace,
10:06itu dia belum fully announced kan,
10:07belum betul-betul menyampaikan ke publik.
10:11Dan kalau kita lihat lagi,
10:12kembali ke diskusi kita beberapa waktu lalu
10:14soal resolusi 2803 dari Dewan Kamanan PBB
10:18yang memberi mandat kepada Trump untuk membentuk Board of Peace.
10:22Dan kita lihat di situ,
10:24satu kritik besarnya adalah
10:26Palestina tidak ada di sana.
10:28Nah, mungkin satu sisi positif yang saya bisa ambil
10:31dari keputusan kita masuk ke Board of Peace itu adalah
10:34harusnya Indonesia di situ bisa tegak berdiri
10:37menyuarakan keperluan Palestina.
10:39Karena Palestina belum diajak,
10:41tidak diajak,
10:42bahkan kemarin pada saat Board of Peace ini diumumkan di Davos,
10:47di World Economic Forum,
10:49si Palestinian Authority perginya ke Rusia,
10:52berjumpa dengan Putin.
10:53itu kan satu hal yang menunjukkan bahwa
10:56memang yang dibicarakan ini siapa sih
10:59kalau itu state solution,
11:00tetapi Palestinanya sendiri tidak ada di dalam gambar,
11:03harus ada yang mewakili dan tegak berdiri.
11:05Nah, itu yang saya pertanyakan tadi,
11:07apakah bisa Indonesia tegak berdiri di situ?
11:10Apa yang harus kita siapkan?
11:11Karena kalau kita cuman berharap ada outcome,
11:15tapi prosesnya kita nasikan gitu,
11:18terserah aja lah Presiden,
11:19kan kita juga harus bantu menjaga Presiden ya.
11:22Pastinya itu,
11:23jalan yang benar atau tidak.
11:25Nah, ini yang menjadi catatan dari Mbak Dina ya,
11:28Board of Peace,
11:29tapi Palestina tidak ada di sana.
11:31Saya ke Bang Ijal,
11:32Bang Ijal,
11:32jadi apa yang bisa Indonesia lakukan
11:34dengan kondisi seperti ini?
11:36Sudah bergabung dengan Board of Peace,
11:38tapi lagi-lagi tujuannya yaitu
11:40mengutamakan perdamaian di Gaza.
11:44Ya, dalam konteks kenegaraan ini,
11:47kita mesti memberikan kepercayaan penuh
11:48kepada Presiden Prabowo dan Kementerian Luar Negeri
11:51dengan pihak lainnya yang mengikuti langsung.
11:55Jadi kita catatannya di Komisi 1 itu,
11:57termasuk dari fraksi PKB itu adalah
11:59bagaimana Kementerian Luar Negeri
12:01dan Presiden Republik Indonesia itu pertama
12:03adalah memastikan road to Palestine free.
12:06Yang kedua adalah bagaimana
12:09proses ini dijelaskan kepada publik Indonesia.
12:12Tentu dengan metodologi,
12:14tentu dengan tahapan-tahapan
12:15bahwa Presiden harus mengambil keputusan cepat,
12:18silahkan,
12:18tapi setelah itu
12:19mesti dijelaskan kepada publik
12:20kenapa Presiden melakukan langkah-langkah ini misalnya.
12:23Pak Menlu sudah menjelaskan sebagian,
12:25tetapi tidak semua publik bisa menerima dengan baik
12:28bahwa ternyata kita
12:30mendur selangkah ini untuk maju lebih cepat.
12:33Nah, ini yang penting
12:34karena selain dalam konteks hubungan internasional,
12:38kita juga mesti menjaga
12:39opini publik yang favorabel
12:41untuk Indonesia.
12:43Karena kita ingin warga negara Indonesia itu
12:45tetap memberikan support penuh kepada Presiden,
12:48tetap nyaman untuk bekerja
12:49karena mereka percaya bahwa
12:50Presiden kita itu juga
12:51membawa suara kita.
12:53Dan ini yang penting untuk dijelaskan ke publik.
12:55Baik, kita nantikan ya
12:57pernyataan lebih clear lagi,
12:58lebih detail lagi
12:59terkait dengan resminya Indonesia
13:01bergabung dengan Dewan Perdamaian
13:02yang dibentuk oleh Trump.
13:03Terima kasih Bang Samsu Rizal,
13:06fraksi PKB dari Komisi 1DPR
13:08dan juga Mbak Dina Praptor Harja
13:09telah bergabung bersama kami di Kompas Petang.
13:11Salam sehat semuanya.
Komentar