00:00Mas Roy, kalau ini dari teman-teman ada dua orang yang sudah datang ke Pak Jokowi, Mas Roy akan datang juga?
00:06Yang gak apa-apa, dua orang yang sudah datang kan jelas juga.
00:08Dan ini Alhamdulillah saya salut kepada Bang Damahera Lubis yang sejalan dengan statement terakhir yang saya terima statement dari Bang Egi itu semalam.
00:19Semalam sekitar jam setengah 11 malam, beliau ditelepon oleh Rasman Nasution dalam sebuah acara live.
00:25Dan kemudian dia mengatakan, saya datang tapi tidak ada minta maaf ya, sekali lagi tidak ada minta maaf.
00:31Nah saya khawatir tadi, siapa tahu Bang Dail beda, ternyata sama.
00:35Yaudah, kalau sama berarti kita tetap kompak ya, ke delapan bahkan ke dua belas ini kompak.
00:41Perkara soal Justice Collaboration atau GC itu silahkan saja dan itu juga digaung-gaungkan terus oleh,
00:50semalam itu ada lawyer dari sebelah yang juga mengatakan, oh itu sudah diurus kira-kira dua minggu yang lalu.
00:57Tapi Alhamdulillah Bang Dail tadi kan mengatakan, gak ada itu sudah diurus dua minggu yang lalu.
01:02Berarti kan di sini kan siapa yang bohong gitu.
01:04Tapi yang jelas, saya tetap mendoakan Bang Egi Sucana dan Bang Dail tetap sebagai pejuang ya, jangan jadi pecundang.
01:12Bang Damai, pertemuan itu artinya Anda tetap strik dengan apa yang Anda tuduhkan, ijasa Pak Jokowi itu asli atau palsu dengan pertemuan itu?
01:25Musah jeda tapi ya, dijawabnya ya, tetap bersama kami di Kompas Petang.
01:29Langsung saja Bang Damai, Anda kembali mengkonfirmasi bahwa bertemu Pak Jokowi, Anda tidak meminta maaf.
01:36Dan Anda juga tidak membawa dokumen apapun untuk menginformasikan apapun ke Pak Jokowi.
01:46Jadi Anda tetap yakin ijasa Pak Jokowi palsu atau sekarang sudah berubah keyakinan Anda?
01:52Saya tidak mau sampai ke situ.
01:54Kenapa? Kan kasus ini bermula dari situ.
01:57Masih naik, masih berjalan, berbicara proses.
02:00Yang di sana juga di Mabes dihentikan karena identik.
02:04Nah, dalam undang-undang itu bisa saja ketika ditemukan.
02:08Jadi Anda sedikit goyah nih, palsu atau aslinya?
02:11Ya, saya tidak mau sampai ke situ.
02:13Goyah apa tidak, saya tidak mau.
02:15Karena apa? Saya kan orang hukum.
02:17Segera sesuatu kan harus inkrah.
02:19Nah, ini sementara kan teman-teman juga, Pak.
02:21Bermasalah, termasuk saya tersangka.
02:23Nah, boleh tidak saya sampaikan, Pak?
02:24Ya.
02:25Alasan saya minta dilepas daripada tersangka, 15 DCMR saya sudah masukkan.
02:3415 Desember surat ini, saya ini, Egi, menggunakan penolakan, menggunakan pendapat pakar, kalau tidak salah Pak Muzakir, saya ada.
02:44Ya.
02:45Bahwa saya tidak dilaporkan.
02:47Betul.
02:48Ya, saya belum pernah diadukan ke Kongres Advokat.
02:53Sementara saya buka.
02:54Oke, saat bertemu dengan Pak Jokowi, apa saja yang diperbincangkan?
02:59Perbincangkan soal ijazah, kah?
03:01Soal penyakit, Bang Egi.
03:04Sampai-sampai tertarik juga, Pak Jokowi sebetulnya, gitu kan.
03:08Satu setengah jam ya pertemuan ya?
03:09Bukan di KL, maksudnya.
03:11Bukan, Bang Egi, Penang.
03:13Bang Egi merupakan penyakit dia.
03:15Selain itu?
03:16Selain itu, Bang Egi menyampaikan, diantaranya adalah,
03:21kita sebagai manusia harus tahu diri dan tahu batas waktu.
03:25Oke.
03:27Ada keterkaitan tidak dengan pembicaraan soal ijazah?
03:31Nah, jadi begini.
03:33Durasi juga nih, Bang.
03:35Tentunya ada dong.
03:35Berarti kadang bilang, menyatakan,
03:37saya ke sini nggak mau minta maaf, terus terang.
03:39Oke, iya.
03:40Berarti ada hubungannya.
03:42Pak Jokowi langsung ngomong, understanding lah.
03:45Ah, betul Pak Jokowi.
03:46Berarti standing untuk tetap.
03:48Nggak tahu, Pak Jokowi yang ngomong understanding,
03:50kalau pembahana kita ini sama-sama paham.
03:52Kalau mau dibilang, dikatakan,
03:55oh, Bang Egi DHL pengen lepas,
03:5815 Desember saya minta,
04:01tertulis,
04:03tanda terima ada di Keluar Pukara.
04:05Bang Egi juga.
04:06Cuma versinya beda.
04:07Tapi Anda kalau dilepaskan tersangkaan Anda,
04:11Anda akan berubah sikap soal ijazah atau tidak?
04:17Jadi yang ke depan jangan ditanyakan dulu.
04:19Oke, saya tanya ke Mas Roy.
04:24Gimana Mas Roy?
04:26Oke deh, kita kalau dari awal,
04:28kita kan tahu Mas Roy itu ada di kasus ini,
04:31juga karena Bang Egi meminta Anda untuk sebagai ahli.
04:34Karena meminta salah resmi, dengan surat, sebagai ahli.
04:35Betul.
04:36Nah, sekarang di klasternya Bang Egi dan teman-teman,
04:40sudah bertemu dengan Pak Jokowi.
04:42Nggak apa-apa kan.
04:42Gimana dengan Mas Roy?
04:43Pertemuannya bahkan, ini Bang Egi Sujana menulis ya,
04:46ini tulisannya Egi, berpegang tukuh kepada surat Toha ayat 424,
04:49Allah perintahkan Nabi Musa dan Haru mendatangi Fir'aun.
04:53Jadi dianggap mereka itu mendatangi Fir'aun.
04:56Itu sudah kita konfirmasikan.
04:57Dan ada standingnya, persis.
05:00Tidak mau minta maaf dalam pertemuan,
05:02dan karena sampai detik ini,
05:03saya, Bes, menyatakan bahwa Jokowi tetap tidak ada ijazah.
05:07Yaudah, kalau gitu, kami tetap satu perahu,
05:11kami tetap satu, apa namanya, sikap.
05:13Anda tidak merasa ditinggalkan ketika ada dua orang ketemu Pak Jokowi?
05:16Oh enggak, enggak. Jadi bagus.
05:17Jadi permainannya itu bisa pendek,
05:19bisa juga permainannya panjang.
05:20Diinformasikan tidak ketika Bang Egi dan Bang Damai mau ketemu Pak Jokowi?
05:24Enggak.
05:24Diajak enggak?
05:25Memang enggak.
05:26Karena kan kebetulan memang juga,
05:27lawyernya juga beda.
05:29Tapi diajak?
05:30Enggak, enggak.
05:31Diinformasikan enggak.
05:32Teman-teman yang satu TPU aja.
05:34Jadi artinya, mau permainannya pendek,
05:36mau permainannya panjang.
05:38Bang Yaakob, Bang Yaakob.
Komentar