KOMPAS.TV - Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia turun langsung ke Kabupaten Aceh Tamiang untuk melihat lebih dekat masifnya kerusakan yang melumat rumah, fasilitas umum, hingga sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dipo juga mendengarkan cerita para korban yang masih berusaha pulih di tengah kondisi yang serba kekurangan dan minimnya bantuan. Lalu bagaimana kondisi nyata para korban pascabencana? Seberapa luas kerusakan yang sesungguhnya terjadi di Aceh Tamiang?
Dalam perjalanan menuju Kuala Simpang, Dipo terhenti karena terdapat sebuah rumah di Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang yang terseret derasnya arus hingga berpindah ke tengah jalan. Tak jauh dari sana, Dipo juga bertemu dengan Leho, lansia yang terjebak di rumah panggung karena genangan lumpur dan air di depan rumahnya tak kunjung surut. Bagaimana keduanya bertahan di tengah keterbatasan?
Sesampainya di Kecamatan Kuala Simpang, Dipo melihat kondisi Desa Kota Lintang Bawah yang mana sejumlah bangunan rata dengan tanah, kayu gelondongan berserakan, dan lumpur menutup wilayah desa. Di sini Dipo bertemu dengan Yus, seorang penyandang disabilitas yang berjuang mencari bantuan usai rumahnya rusak berat. Bagaimana Yus bertahan hidup dengan keterbatasan fisik saat bencana melumpuhkan akses dam rumah miliknya?
Di tengah kondisi memprihatinkan, Dipo bertemu pasangan lansia, Terusli dan Temintan, yang bertahan hidup di bawah atap rapuh sebuah toko, sementara sang suami tak mampu berjalan akibat sakit. Mampukah bantuan yang datang benar-benar menjangkau para penyintas yang berada dalam situasi paling rentan seperti mereka?
Selengkapnya saksikan dalam Program Dipo Investigasi episode Asa untuk Sumatera di KompasTV.
#banjir #aceh #sumatera
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/636333/full-perjuangan-korban-banjir-aceh-lansia-dan-disabilitas-bertahan-di-keterbatasan-dipo
Dalam perjalanan menuju Kuala Simpang, Dipo terhenti karena terdapat sebuah rumah di Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang yang terseret derasnya arus hingga berpindah ke tengah jalan. Tak jauh dari sana, Dipo juga bertemu dengan Leho, lansia yang terjebak di rumah panggung karena genangan lumpur dan air di depan rumahnya tak kunjung surut. Bagaimana keduanya bertahan di tengah keterbatasan?
Sesampainya di Kecamatan Kuala Simpang, Dipo melihat kondisi Desa Kota Lintang Bawah yang mana sejumlah bangunan rata dengan tanah, kayu gelondongan berserakan, dan lumpur menutup wilayah desa. Di sini Dipo bertemu dengan Yus, seorang penyandang disabilitas yang berjuang mencari bantuan usai rumahnya rusak berat. Bagaimana Yus bertahan hidup dengan keterbatasan fisik saat bencana melumpuhkan akses dam rumah miliknya?
Di tengah kondisi memprihatinkan, Dipo bertemu pasangan lansia, Terusli dan Temintan, yang bertahan hidup di bawah atap rapuh sebuah toko, sementara sang suami tak mampu berjalan akibat sakit. Mampukah bantuan yang datang benar-benar menjangkau para penyintas yang berada dalam situasi paling rentan seperti mereka?
Selengkapnya saksikan dalam Program Dipo Investigasi episode Asa untuk Sumatera di KompasTV.
#banjir #aceh #sumatera
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/636333/full-perjuangan-korban-banjir-aceh-lansia-dan-disabilitas-bertahan-di-keterbatasan-dipo
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Terima kasih telah menonton
00:30Terima kasih telah menonton
01:00Pulau Sumatera, pulau yang terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah, kini hancur luluh lantah
01:19Jutaan orang di tiga provinsi harus tabah menghadapi bencana, banjir, bandang, dan tanah longsor
01:27Tidak sedikit diantara mereka yang meregang nyawa hingga hilang entah dimana
01:33Kini canda dan tawa seolah hilang, tangis dan luka menyelimuti Pulau Sumatera
01:38Lalu sudah seberapa peka pemerintah dalam menyelamatkan nyawa rakyatnya
01:42Inilah episode khusus, episode ke-52 DIPO INVESTIGASI
01:47Saya di Pengeruh Bahagia
01:48Saya akan menelusuri dan mencari bukti secara langsung dari Pulau Sumatera, Provinsi Aceh
01:52Dengan kondisi seperti ini Bapak biasanya jalan kaki berapa jauh?
02:18Kalau sini Pak sekitar 1 kg ada Pak?
02:21Kondisi Pak Yus yang harus berjalan setiap hari mencari bantuan
02:26Dan kondisi itu tidak mudah ya
02:31Kami minta tolong sama tim SAR pun, tim SAR tidak berani nolong entah apa, pokok tidak adalah penolongannya
02:38Sebelum saya menginjakan kaki di Pulau Sumatera
02:51Saya melihat satu hal yang cukup memilukan bahwa ada rumah yang bahkan akibat banjir bandau bergeser dan berada di tengah jalan
03:00Makanan, minuman bu? Air bersih mungkin? Cukup?
03:09Ini air apa bu?
03:12Ini air sumber
03:13Boleh saya lihat bu? Saya lihat ya
03:15Air sumber
03:16Maaf ya
03:17Ini...
03:18Ini diminum juga bu?
03:20Ini bahkan ada mobil-mobil bermuatan besar
03:34Sekitar 2 meter lebih ya
03:37Dan ini tersangkut bisa dibayangkan betapa besarnya banjir bandeng yang kala itu terjadi
03:43Tepatnya di Kecamatan Kuala Simpang yang kemudian terdampak paling parah yang tidak kalah mengenaskan adalah kondisi dari rumah warga
03:56Kondisi Bapak sehat Pak?
04:02Kondisi Bapak kan kurang sehat
04:09Kondisi Bapak mana bisa?
04:10Kondisi Bapak jatuh
04:19Saya kira pemerintah sudah berbuat yang terbaik
04:22Iya kita monitor terus saya kira situasi yang membaik
04:25Saya kira kondisi yang sekarang ini sudah cukup
04:28Karena tanggap berwarna itu sekitar 2 miliar, Pak, satu tahun, sangat tidak cukup.
04:38Apakah Bapak berharap dan menginginkan bahwa status bencana di Aceh Tamiang ini dinaikkan menjadi bencana nasional?
04:46Kami sangat berharapkan bisa dinaikkan statusnya untuk menjadi bencana nasional.
04:58Terima kasih telah menonton!
05:28Selanjutnya saya menginjakan kaki di Pulau Sumatera, saya akan coba memotret seperti apa kondisi.
05:49Di Provinsi Aceh yang porak-poranda, saya sedang menyisiri jalan lintas Sumatera Utara menuju ke Aceh.
05:59Lokasi saya sudah berada di Kabupaten Aceh Tamiang, tempatnya di Kecamatan Kejuruan Muda.
06:06Saya melihat satu hal yang cukup memilukan bahwa ada rumah yang bahkan akibat banjir bandau bergeser dan berada di tengah jalan.
06:15Saya akan coba mendekat saudara.
06:16Bagaimana kabar Pak?
06:18Bapak rumahnya mana Pak?
06:23Terendam Pak.
06:25Terendam Pak, orang-orang terendam.
06:27Terendam dua yang sampai atas, Seng.
06:31Ibu rumahnya yang?
06:33Ibu rumahnya ini.
06:34Oh, ini ibu sama bapak.
06:36semua warga-warga disini ya gimana kita bilang ya
06:49ini rumahnya bahkan pindah ke tengah jalan karena bergeser akibat banjir bandang
07:11oke saya izin lihat rumahnya dulu ya Bu ya saya tunjukkan saudara ini rumah yang bisa dilihat ya
07:21bagian dalamnya ini rumah yang biasa ditempatkan warga dan berpindah ke tengah jalan akibat banjir
07:27bandang yang terjadi oke bisa dilihat ya ini jalan dua jalur dan satu jalur ditutupi oleh rumah yang
07:37bawah bergeser mungkin bisa ditunjukkan ibu yang punya rumah ini awal rumah ibu itu dimana Bu
07:52bisa enggak ceritanya bisa bergeser ke tengah jalan itu seperti apa Bu enggak tahu enggak nampak ya
07:59Bapak kami masih diungsikan ternyata kesini udah di jalan Oh ibu sudah mengungsi karena banjirnya
08:05saat aku ya udah apa jadi kami fungsi ke sana orang yang bilang-bilang gedeopung udah geser
08:14katanya yang cuman lagi awak nggak bisa nengok kan boleh saya kesana bu ke tempat titik rumah ibu
08:20seharusnya berada dimana persisnya bu
08:22di mana Bu ini ya yang ada pohon-pohon ini Oh lahan kosong ini adalah rumah ibu ya dia newa aku
08:36disini Pak dan karena banjir bandang bahkan rumah ibu pindah ke tengah jalan mungkin ada yang ibu
08:41sampaikanmu minyak rumah ibu kan saat ini tengah jalan apa yang ingin bu sampaikan saya mau minta
08:47tolong dibantu saya entah geser itu pun tadi bantulah saya Pak semoga suara ibu didengar Bu ya dan
08:56rumah ibu segera kembali dapat kembali ke tempatnya semua maksudnya baik makasih ya Bu ya
09:01tunjukkan saudara ini rumah opung yang tadi saya wawancarai dan memang harus betul-betul bersebelahan
09:09dengan kendaraan yang melintas bahkan kendaraan-kendaraan besar karena berada di tengah jalan
09:16saya akan coba naik saudara atau melihat kondisi nenek
09:44Assalamualaikum Bu
09:50izin Bu ya setelah bencana Ibu tinggal di sini
10:00ibu naik kelopeng tapi Ibu naik turun rumah ini ke panggung ini naik lewat sini boleh
10:10berarti kami tolong gini Oh ibu-ibu bawa ya kalau nggak bisa
10:16kami tolong gini kami naikkan makanan minuman bu air bersih mungkin cukup ini air apa bu
10:25ini air sumur boleh saya lihat bu saya lihat ya apa ya ini ini dipakai buat apa bu
10:34ini diminum juga bu
10:38ini air sumur ya saudara yang digunakan untuk membersihkan diri
10:45termasuk juga diminum ya iyalah kok enggak ada masalah gimana minum
11:01minum ini air sumur ya saudara yang digunakan untuk membersihkan diri termasuk juga diminum bu
11:09ya ya kalau nggak ada masalah gimana minum
11:11minum
11:12minum
11:13minum apa
11:16bisa dilihat ya kebersihannya memang tentu tidak bersih bu ya tapi memang tidak ada tidak ada pilihan lainnya
11:27minum
11:29minum
11:37kemudian setelah aksesnya bisa masuk Bu ya bantuan segera datang supaya ibu juga bisa makan minum dengan layak
11:44ya Bu ya Alhamdulillah minum ya Allah ya bu sehat-sehat selalu ya hati-hati selalu makasih ibu ya
11:51setelah tidak hanya rumah yang bergeser ke tengah jalan tapi saya akan tunjukkan ini bahkan
12:12ada mobil-mobil bermuatan besar tentu beratnya tonan saudara dan bisa dilihat saya akan tunjukkan
12:21penguatan sebesar ini bisa tersangkut di pagar yang mungkin kurang lebih tingginya
12:30sekitar dua meter lebih ya dan ini tersangkut tidak hanya satu tapi juga ada beberapa
12:36kendaraan berat lainnya yang juga tersangkut bahkan menimpa truk di bawahnya saudara saya akan
12:46lebih dekat bisa dilihat ya Hai kendaraan bermuatan besar seperti ini saja bisa terangkut
12:55banjir bandang yang terjadi di Aceh Tamiang bisa dibayangkan betapa besarnya banjir bandang yang kala
13:03itu terjadi bisa digambarkan bahwa kendaraan-kendaraan ini bahkan belum tersentuh oleh aparat karena tidak
13:12garis polisi sama sekali bahkan ketika situasinya ataupun posisinya berbahaya seperti ini saya coba
13:19masuk kedalam bisa ditunjukkan ya ini kendaraan besar yang tadi juga saya gambarkan dari samping dan
13:30tampak lainnya Oke sementara di bagian dalam bisa dilihat kondisinya Pak izin ya Pak ya kondisinya
13:46tumpang tinggi seperti ini Bapak pemilik tempat ini Pak dengan Bapak siapa Pak Zulkifri Dipo dari
13:55Kuala Simpang saya melintas di jalan ini dan melihat truk-truk ini sampai tumpang tinggi seperti
14:04ini ceritanya sepertinya Bapak itulah ketika banjir tanggal 27-27 kemarin karena air masih sedikit
14:09itu Pak ya kami masih di sini sebenarnya masih Bapak di sini ya saya di sini tinggal sini Oke tiba-tiba
14:16udah agak sore agak naik sikit jadi kami nggak yakin bosnya itu enggak naik lagi langsunglah kami pergi ke
14:23galen sana kau mobil tidur di mobil tiba-tiba bangun pagi udah segini ada Pak Oke di tenggi turun
14:30lagi kami naik ke bukit sana ke bukit di belakang galen sana besok tiba-tiba udah kayak gini Pak
14:35semuanya Bapak balik lagi ke sini sudah seperti ini seperti ini boleh kita lihat apa ya ke dalam
14:40tadi saya lihat di luar ada dua apa dua kendaraan berat ini biasanya digunakan untuk mengangkut apa
14:46CPO ya oke dan di sini juga ada satu lagi Oh bahkan ada dua ya gengaknya yang terus angkut oke
14:53kalau dari informasi yang beredar berarti banjirnya setinggi apa Pak di sini Pak lewat sini Pak
15:00kalau itu galon sana tuh udah nampak cuma merahnya aja tuh galon atau apa rumah-rumah masyarakat kita
15:07tinggi lebih dari ini ya Pak oke enak seng kena semua ya Pak ya ini bagian bawahnya ya bisa bahkan
15:17bisa melihat bagian bawahnya tentu ini tidak cukup aman tapi saya akan tunjukkan saudara ini salah satu
15:24truk tanki lagi ya yang berada di atas truk lainnya Oke
15:31Pak Zul izin Pak tapi sejauh ini kan kalau kita lihat apa ya ini kan cukup berbahaya Pak ya kita tidak
15:44tahu tentu kita tidak harapan tapi bisa saja mungkin bergeser dan lain sebagainya sudah ada bantuan
15:51dari aparat-aparat belum ada sama sudah ada yang datang ke sini belum ada sama sekali belum
15:56ya ini nyenggol sedikit bisa jatuh terus tuh Pak betul makanya kita hati-hati juga di dalam gudang
16:02nih bersih-bersihkan nih dan akses pintu masuk ini tertutup dua truk tanki ini apa ya ini kalau goyang
16:09sedikit jatuh nih Pak nih nyokong itu nya aja tuh nyokong apa yang berdepan ya berdepan
16:15tentu aja sikit Oke ya semoga bantuan dari pemerintah cepat sampai lapa kemarin itu aja
16:22karena masyarakat pun banyak yang enggak ada bangga keras rumah mahal mahal mahal
16:26segera tidak hanya di pusat perkotaan
16:56keempatan Aceh Tamiang tepatnya di kecamatan Kuala Simpang yang kemudian terdampak paling parah
17:01dari banjir bandang yang terjadi pada akhir November lalu saya akan tunjukkan bahwa yang tidak kalah
17:07mengenaskan adalah kondisi dari rumah warga yang kemudian berada di pinggir dari sungai Tamiang saya
17:17yang ada di atas jembatan Tamiang ini adalah geretan rumah warga yang bisa dikatakan beberapa diantaranya
17:29hilang dan hancur tersapu oleh banjir bandang kita akan coba turunnya saudara untuk melihat secara langsung
17:38seperti apa kondisi dari warga yang nampaknya masih bertahan pasca banjir bandang terjadi akhir November
17:47lalu untuk kemudian tinggal di rumah mereka ini adalah salah satu akses untuk menuju ke rumah warga
17:55yang terdapat banjir bandang dan kondisinya berlumpur persis di bantaran Sungai Tamiang
18:01ini bisa dilihat ya ini salah satu area yang terdampak paling parah lumpurnya ini mungkin
18:15hampir seperti seorang dewasa saudara
18:19bisa dilihat kehancurannya mungkin ya ini tiang listrik lalu lantah juga tersapu
18:30banjir bandung termasuk juga perubahan warga yang hancur
18:32ini situasi di bawah ya di bawah dari jembatan Tamiang yang begitu banyak perumahan warga disini
18:49hancur bisa ditunjukkan ya sebelah sana hancur Bapak izin boleh ngobrol sebentar Pak Bapak membawa
18:57di atas ini dari mana Pak saya dari atas titik tadi Pak ada orang yang ngasih Pak ada yang ngasih
19:03ada yang ngasih Pak Bapak jalan sendiri jalan sendiri Pak mohon maaf ya Pak ya dengan kondisi
19:08seperti ini Pak rumah bapak hilang Pak hanya hilang titiknya dimana Pak saya paling ujung Pak paling
19:18ujung ini Bapak mau kemana saya balik ke sana Pak boleh saya ikut mungkin Pak Bapak mau balik
19:23sekarang atau nanti sekarang boleh saya ikut oke 25 orang kami datasi Pak kalau nggak makan mungkin
19:36ada tiga hari nggak makan kami Pak dengan minum-minum pun kami dengan air-air sungai tadi kami rebus
19:41gelap hujan-hujan Pak dengan keadaan hujan tidak bertenda dalam hujan-hujan kami bertahan hidup
19:46lagi
19:52terima kasih telah menonton
19:55setiap
19:56ketika
19:57setiap
19:58setiap
20:00setiap
20:02setiap
20:04setiap
20:07setiap
20:10setiap
20:14Terima kasih.
20:44Dengan kondisi seperti ini, Bapak biasanya jalan kaki berapa jauh?
20:48Kalau sini Pak, sekitar 1 kilo ada Pak.
20:501 kilo Bapak pulang pergi?
20:52Iya Pak.
20:53Pak izin, boleh saya bantu mungkin Pak ya?
20:55Supaya lebih berasnya mau saya bawa juga Pak?
20:58Biar gini nggak bawa.
20:58Tidak apa-apa, oke.
21:03Perlu bantuan Pak?
21:04Udah Pak, nggak mau.
21:04Oke.
21:05Saya tunjukkan ya saudara, ini kondisi Pak Yus yang harus berjalan setiap hari, mencari bantuan.
21:14Dan kondisi tentu tidak mudah ya.
21:22Ini masih konturnya lumpur ya.
21:24Ada beberapa sih memang ya Pak yang sudah dibuat untuk jalan kaki, tapi mayoritas masih seperti ini.
21:36Bertahan beberapa tapi mayoritas hancur.
21:38Kita melewati ini Pak, kayu-kayu kayak gini.
21:50Melewati ini Pak.
21:52Sejauh ini mohon maaf Pak.
21:53Masih aman Pak.
21:54Alhamdulillah Pak.
21:55Alhamdulillah ya.
21:59Tiati ya Pak ya.
22:00Enggak Pak.
22:00Ini kayu dan lumpur, saudara.
22:14Ini kayu dan lumpur, saudara.
22:16Sudah mulai masuk ke area rumah warga yang hancur.
22:38Bahkan Pak Yus juga harus tentu sangat berhati-hati ya.
22:41Ini mungkin kayu disusun oleh warga sendiri Pak.
22:43Iya, memang udah tersusun gini nih Pak.
22:45Oh ini sudah dari sana kayak gini.
22:46Udah, udah.
22:47Tadi dikenakan gitu Pak.
22:50Oke.
22:51Tiati ya Pak ya.
22:52Ini ada satu pohon besar yang tumbang akibat banjir bandang.
23:04Di sana Pak.
23:05Di dalam masih lebih banyak Pak.
23:06Di dalam masih lebih banyak Pak.
23:07Lebih banyak lagi Pak.
23:08Oke.
23:12Dan ini memang tidak dekat ya Pak ya.
23:14Sudah jalannya hancur, lokasinya juga jauh.
23:17Satu-satunya akses dari jembatan tadi.
23:22Satu-satunya akses dari jembatan ini.
23:52Ini mencuci baju Bu ya?
23:54Iya, mencuci baju.
23:55Pakai air bekas banjir Bu?
23:56Iya, pakai air bekas banjir.
23:58Pakai lumpur ya?
23:59Air lumpur.
24:01Bisa bersih tapi?
24:03Ini, ini Pak.
24:05Air bersih belum ada?
24:06Belum sampai sini?
24:07Belum ada air kecil.
24:09Air minum makan.
24:09Tidak ada akses ya?
24:14Iya Pak.
24:15Oh ini punya Pak Ayus?
24:19Iya, untuk saya seri makan Pak.
24:21Sebelumnya Pak Ayus kerjanya?
24:22Sebelumnya saya kan, ya ini Pak.
24:24Bawa-bawa beca saya.
24:26Ini ya becanya ya?
24:27Iya Pak.
24:27Bawa-bawa.
24:29Barang-barang.
24:31Sehari, selalu naf, dapat berapa Pak?
24:3450, 100, tidak tentu Pak.
24:3650 ribu sampai 100 ribu.
24:37Itu tergantung, rejeki Pak ya.
24:40Dan sekarang beca Bapak rusak?
24:42Rusak Pak, nggak tahu lagi saya udah mau kemana.
24:47Rumahnya sudah terlihat Pak?
24:48Rumah saya nggak terlihat Pak, karena rumah saya di belakang Pak.
24:51Rumah Bapak sudah tidak terlihat?
24:52Terlihat Pak, di belakang kanan.
24:54Nah, kami di situ Pak.
24:56Saya di situ lah Pak, selama ini.
24:58Saya tunjukkan saudara itu rumah, atau rumah tetangga ya Pak ya?
25:00Rumah tetangga.
25:01Yang digunakan oleh Pak Ayus untuk tinggal sementara waktu.
25:04Banjir, Pak.
25:05Ini dari banjir besar itu.
25:07Rumah Bapak di belakang ya?
25:08Di belakang sana Pak.
25:09Oke.
25:09Nggak bisa kita lalui Pak.
25:10Nggak bisa ya?
25:11Nggak bisa Pak.
25:22Oke.
25:33Istirahat dulu Pak.
25:34Istirahat dulu Pak.
25:34Ini ya Pak, saya begini Pak.
25:37Nah, saya selama banjir saya di sini.
25:39Nah, ini rumah saya di belakang sana Pak.
25:42Sudah nggak ada lagi Pak di belakang sana.
25:44Saya selama banjir, dari pertama air naik saya di sini lah Pak.
25:47Oh, sebentar.
25:49Bapak dari pertama banjir bahkan di sini?
25:51Di sini Pak.
25:52Nggak keluar saya Pak.
25:53Karena memang jauh sekali ya?
25:54Terjebak Pak, karena airnya ini dari depan non-penuh Pak.
25:59Oke.
25:59Nah, jadi kami nggak bisa sempat keluar gitu.
26:01Sudah sempat keluar ya Pak?
26:02Tinggal di lantai dua itu ya Pak?
26:05Tidak di lantai dua itu Pak.
26:06Tapi karena ini di bantaran sungai Tamiang, saat itu banjir bandangnya seperti apa?
26:10Banjir bandangnya Pak memang dari tahun 2006-2006 sampai ini memang lebih besar ini Pak.
26:17Jauh lebih besar ya?
26:18Jauh lebih besar ini.
26:20Bapak melihat derasnya air?
26:22Derasnya lebih ngeri dari yang dulunya Pak.
26:26Kalau itu kan lantai dua Pak, tingginya segimana Pak?
26:29Sejengka lagi tuh Pak.
26:29Tenggelam tuh.
26:30Sedikit lagi tenggelam tuh Pak.
26:31Sejengka lagi tenggelam tuh Pak.
26:33Bisa ditunjukkan itu rumahnya?
26:34Ada batasnya tuh.
26:35Ada batasnya ya?
26:36Oke, itu yang batas coklat ya?
26:37Iya, batasnya coklat.
26:38Itu adalah batas air itu Pak.
26:40Berapa hari Bapak tinggal bertahan di atap situ Pak?
26:43Tahan di situ kami sekitar lima hari Pak.
26:46Lima hari dengan kondisi?
26:47Dengan kondisi di bawah air.
26:49Banjir lima hari itu?
26:50Iya.
26:51Bertahan di situ.
26:53Makan cuma ada, nggak ada makan ya Pak.
26:55Cuman ada beras, nasi, nasi kita ya Pak.
26:58Dengan nggak ada apa-apa.
27:00Nggak ada apa lagi ya?
27:0125 orang kami di atas itu Pak.
27:0325 orang?
27:0425 orang.
27:05Nggak makan berapa hari?
27:07Kalau nggak makan mungkin ada tiga hari nggak makan ya Pak.
27:10Tiga hari nggak makan?
27:10Iya.
27:11Dengan minum pun dengan air sungai tadi kami rebus.
27:14Untuk bertahan hidup tadi.
27:17Kami minta tolong sama Tim Sar pun.
27:19Tim Sar nggak ada yang bisa takut, nggak tahu lah.
27:22Nggak ada darah Pak.
27:23Artinya Bapak waktu terjebak dengan yang lainnya berharap ada Tim Sar tapi tidak ada.
27:27Tidak ada Pak.
27:28Tidak ada, Pak.
27:28Tidak berani nolong.
27:31Tidak ada penolongan kami.
27:33Karena airnya terlalu besar, 1.
27:36Geras dan tinggi.
27:37Dan tinggi.
27:38Malam hari gelap guli nggak Pak?
27:39Gelap Pak.
27:41Ujian-gelap, hujan-hujan Pak dengan keadaan hujan tidak bertenda.
27:47Dalam hujan-hujan kami bertahan hidup.
27:50Alhamdulillah tadi keluar saya dapat ini.
27:53Oh tapi biasanya Bapak kalau keluar selalu dapat?
27:56Nggak juga Pak.
27:57Nggak juga.
27:57Nggak juga Pak.
27:58Karena di luar itu terlalu lama ya Pak.
28:01Apalagi saya dengan kondisi kini, manum saya berubut-bubut.
28:03Bapak berebutan berarti?
28:05Kalau yang lain berubut-bubut Pak.
28:06Kalau saya tadi memang ada orang yang berhenti ngasih gitu Pak.
28:11Nah karena saya dengan kondisi saya gini, saya udah di tengah pinggir jalan tadi.
28:15Nah, kasih Pak.
28:17Berarti Bapak mungkin seringkali sudah jauh-jauh keluar pulang tidak membawa apa-apa.
28:24Hanya membawa lelah dan keringat mungkin Pak.
28:28Dan dipastikan sampai dengan saat ini belum ada yang ke sini Pak.
28:31Belum ada Pak.
28:32Belum ada sama sekali.
28:33Belum ada Pak.
28:34Dari perangkat desa sampai orang pemda semua belum ada Pak.
28:40Hampir dua minggu ini belum ada sama sekali.
28:42Untuk saat ini mungkin nomoran Bapak ini yang baru sampai ke ujung sini.
28:47Mungkin Bapak karena ikut saya tadi, Bapak lah baru sampai sini.
28:49Sebelumnya belum ada Pak.
28:50Tendak-tendak sementara apa?
28:54Cuman itulah kami minta, kami minta supaya pemerintah bukalah sejalan dulu.
28:58Biar kami bisa, bisa macam mana caranya kami.
29:02Bisa pulak-balik, ambil Belanda ya kan.
29:04Cuman ini pendalan ini jalan aja nih Pak.
29:06Supaya kami bisa ilir mudik, ilir mudik, luar masuk, luar masuk ya kan.
29:13Jadi kami ini nggak ada kelaparan nih selesai.
29:15Kalau kayak gini semanal kami, luar pun nggak bisa ya kan.
29:18Sampai naik ya Pak.
29:20Pokok kayu, ya kan kayu-kayu, ya kan numpul-numpul.
29:25Biasa juga demi ini tadi.
29:27Demi sesuap lah sih lho Pak.
29:28Kalau nggak nggak.
29:29Bagaimana Pak?
29:29Bagaimana dia?
29:30Saya lho Pak, masih warga tetangga kita ini masih peduli.
29:33Peduli Pak, saya bisa makan.
29:35Kami meminta jalan itu harus diperbaikilah.
29:39Jadi masalah nanti kita cari makanan ini kan, kita bisa berusaha gimana.
29:44Cuman kalau jalan gini rusak Pak, gimana kita mau keluar Pak?
29:47Sedangkan saya yang kayak gini pun berusaha, harus bisa keluar Pak.
29:50Biarpun dengan saya kadang jatuh.
29:52Pernah jatuh juga Pak?
29:54Pernah terjatuh?
29:55Ada juga Pak jatuh Pak.
29:57Untuk pun saya dapat sepatu nih Pak.
29:58Kalau nggak mungkin koyak-koyak laki saya Pak.
30:09Kalau lemah, nggak dapat cari-cari.
30:11Kalau nggak bisa, kalau tolak gigi tuh jatuh.
30:22Cukup banyak ya, membutuhkan sembako semuanya.
30:36Ada mati, bukan mati banjir, mati keleparan.
30:38Setelah itu kami membuat dapur.
30:44Dan dapur yang bisa kami jangkau sampai hari ini adalah 39 titik yang memproduksi 400 ribu porsi setiap harinya di tiga provinsi.
30:55Dan sudah saya telah tiba di kecamatan Wala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang yang menjadi pusat perekonomian setidaknya di Kabupaten Aceh Tamiang.
31:08Dan untuk jalan ini memang sudah bisa dilalui ya.
31:13Sudah bisa dilalui oleh kendaraan mobil atau pemotor karena seperti yang sudah disampaikan oleh pemerintah sebelumnya,
31:19bahwa akses jalan untuk menuju ke Aceh Tamiang ini memang sudah dapat diakses.
31:25Tetapi kalau kita lihat situasinya, di sebelah kanan dan juga di sebelah kiri,
31:31keseluruhan pasca bencana ini masih begitu banyak pekerjaan rumah yang tentu harus dilakukan oleh kapal dan juga pemerintah untuk membantu para warga.
31:44Pusat perekonomian di Aceh Tamiang bisa dikatakan lumpuh untuk sementara waktu.
31:49Ini bisa dilihat ya, toko-toko juga tutup.
31:53Ini mobil-mobil yang masih berada di depan toko dan tentu terkena banjir bandang.
32:01Kalau tadi jalan yang masih agak di bagian depan itu sudah kering,
32:19tapi di sini dapat dilihat masih ada lumpur yang kemudian menutup di jalan yang berada di pusat
32:30dari Kecamatan Kuala Simpang.
32:38Pak, izin Pak. Dari Kompas TV, Pak.
32:40Iya, Pak.
32:41Sudah ada bantuan untuk saat ini, Bapak?
32:43Dari kampung ada, tadi beras tiga mo, tidak ada orang.
32:49Berarti kalau karena ini aksesnya sudah terbuka,
32:52masyarakat yang keluar kembali itu berbagi gitu, Pak?
32:55Iya.
32:56Tapi kok dari pemerintah mungkin?
32:58Belum tahu, Pak.
32:59Ini kami buat posko darurat.
33:00Loh, di Kuala Simpang ini nggak ada posko?
33:02Ada di Pak Ebedi, Pak.
33:03Kalau di sini?
33:04Di sini, ya kami buat posko darurat aja lah, Pak.
33:07Itu posko korban banjir?
33:08Saya lihat, Pak, ya?
33:09Iya.
33:09Oke, ini posko darurat yang dibuat.
33:12Warga permisi, Ibu-Ibu.
33:14Oke.
33:15Semuanya mengungsi di sini atau gimana?
33:18Nunggu bantuan.
33:19Nunggu bantuan.
33:20Nunggu bantuan?
33:21Emang belum ada, Bu?
33:22Sampai saat ini sudah ada bantuan dari pemerintah?
33:25Belum?
33:26Belum ada, Pak.
33:27Belum ada.
33:28Ini ke Menteri, Buah.
33:29Itu dari Relawan?
33:30Iya, Pak.
33:31Isinya?
33:32Nasi.
33:32Nasi sama mie.
33:34Ini bantuan juga?
33:36Oke.
33:37Tapi ini dibagi-bagi mungkin, Bu, ya?
33:39Iya, tadi berputar nggak, pemakanan.
33:40Ada yang dapat, Engkau.
33:42Coba bisa ditunjukkan nasi dengan mie, ya?
33:44Iya, nasi.
33:44Iya, nasi.
33:45Iya, nasi sama mie.
33:46Iya, nasi sama mie.
33:46Iya, nasi sama mie.
33:47Selain makanan, yang dibutuhkan apa, Pak?
33:50Wabat obatan.
33:51Air.
33:51Air.
33:52Yang pertama itu, Bang.
33:53Air bersih?
33:54Air bersih, belum ada.
33:56Belum ada, tapi tidak mencukupi.
33:57Wabat obatan belum ada?
33:58Belum ada.
33:59Kondisi, mohon maaf, ada yang sakit atau seperti apa?
34:02Banyak.
34:02Banyak yang sakit.
34:03Banyak yang sakit?
34:04Namun, meninggal banyak.
34:05Tapi belum ada tekor di ini, Pak.
34:10Masih ada orang hilang?
34:13Masih apa, Bu? Saya izin ke situ, ya?
34:15Iya, Pak.
34:17Oke, ini ternyata selain pusat perekonomian, ya?
34:26Di Kuala Simpang, pusat kota, tapi juga ada perumahan warga, ya?
34:31Perumahan warga.
34:34Oke, ini perumahan warga di situ?
34:36Iya.
34:37Bentar ya, Bang, ya?
34:39Kita lewat.
34:39Banyak yang tidak dikebumikan sampai tiga hari, empat hari.
35:04Dan seperti yang tadi kami sebutkan bahwa ini adalah pusat perekonomian di Kabupaten Aceh Tamiang.
35:21Toko-toko tutup dan beberapa pemilik toko ini nampaknya mencoba untuk membersihkan lumpur.
35:27Pak, boleh bicara sebentar, Pak?
35:30Boleh, boleh.
35:31Bapak pemilik toko ini, Pak?
35:33Iya.
35:35Ada yang bisa diselamatkan di dalam?
35:37Iya, ada yang boleh.
35:38Iya, ada tingkat dua ke atas, loh.
35:40Tidak terendam.
35:41Bawah tidak ada can.
35:42Bawah habis semua?
35:43Dua meter setengah, gitu.
35:45Ini menjual alat-alat apa, Pak?
35:46Eh?
35:47Alat-alat apa ini?
35:48Sepeda motor.
35:49Sepeda motor?
35:49Sepeda part.
35:50Banyak yang rusak, ya?
35:52Banyak yang rusak, Pak.
35:53Kemarin banjirnya setinggi apa, Pak?
35:55Itulah, dua meter setengah.
35:56Itu mereknya itu kan, ya?
35:58Tinggal Honda Jaya ada.
35:59Garis di bawah Honda Jaya itu, ya, Pak?
36:01Menjual segala alat seleda motor, kan?
36:04Ngelam.
36:04Oke.
36:05Sudah berapa tahun, Pak?
36:07Jualan di sini?
36:07Di sini?
36:08Ini sudah 30 tahun, ada.
36:1030 tahun?
36:11Dari dulu di sini, Pak?
36:12Iya.
36:13Pernah terjadi bencana seperti ini, Pak?
36:152006, kan?
36:15Rendah.
36:16Sekali 30 cm saja.
36:18Sanya 30 cm, gue guna.
36:19Nah, ini yang nggak nyangka, kita?
36:22Tidak nyangka.
36:24Kalau tadi di depan, banyak keluarga juga yang kemudian meminta bantuan.
36:29Dari orang-orang yang lewat, begitupun halnya di sini bisa ditunjukkan.
36:32Ada sekumpulan warga yang juga meminta bantuan, karena nampaknya mereka masih sangat membutuhkan bantuan,
36:39masih sangat kekurang bantuan, khususnya adalah makanan, air bersih, termasuk juga obat-obatan.
36:45Saya akan coba berbincang dengan bapak ibu yang ada di sini, Pak.
36:49Ibu, Assalamualaikum.
36:51Assalamualaikum.
36:52Dengan bapak siapa, Pak?
36:53Ya.
36:54Dengan bapak siapa?
36:55Dengan Pak Ausli.
36:57Kondisi bapak sehat, Pak?
36:59Kalau bapak kan kurang sehat, Kakak.
37:01Kakinya sehat.
37:02Baik aja, Pak.
37:03Sehat, Alhamdulillah.
37:04Sehat, Bapak.
37:05Tapi tidak bisa jalan.
37:07Bayang.
37:08Bayang.
37:09Bayang.
37:09Bapak, jangan lupa bapak, bukan becah, ya kan?
37:12Oh, enggak baik inilah bapak pecahnya.
37:14Nilamatkan semakinnya waktu terkena air banjir, ya kan?
37:17Bagi ke sana di ujung-ujung bantuan itulah.
37:20Habis ujung-ujung bantuan itu, dadah-dadah bapak, tidak kemarin.
37:23Sebenarnya, bapak rumahnya di mana, Pak?
37:25Sini, Kota Lintang, sini.
37:26Di bawah?
37:27Kota Lintang, Gang Jawa.
37:29Kota Lintang, Gang Jawa.
37:30Nah, kota Lintang atas.
37:32Sekarang bapak tinggal di sini?
37:34Iya.
37:35Kasurnya ini?
37:37Iya.
37:38Sama ibu?
37:38Iya.
37:38Rumah bapak dan ibu sudah tidak bisa ditempati lagi?
37:41Udah nggak bisa nunggu apa, anak?
37:43Ini?
37:44Belum bisa.
37:45Belum bisa dimasukin lagi.
37:47Belum bisa dimasukin, kalau dikentak di mana?
37:49Di rumah habis semua.
37:50Di rumah habis semua.
37:52Ini dapat bantu batuan, ini untuk makan.
37:54Ini ini, ini.
37:55Ini baru dikirin, karena ada bantu pendak, Pak.
37:58Nggak ada, Pak.
37:59Tidak bisa diambil.
38:00Baju pun ada.
38:01Makan, minum.
38:02Makan ada, tunggu orang kasih.
38:04Nunggu orang kasih?
38:05Iya.
38:06Mohonlah, saya tanya, Pak, ya.
38:07Iya.
38:07Ini tempat tidur rumah sakit, Pak?
38:10Iya.
38:10Bapak dapat atau seperti apa?
38:12Dapat.
38:13Dari?
38:14Dapat, itu tak siapa punya.
38:15Bapak nggak bisa tidur dan duduk.
38:17Ini yang maha ibu.
38:18Tapi nggak ada kasurnya, ya?
38:19Nggak ada, Pak.
38:21Gimana?
38:22Itu, apa namanya, nggak ada yang mau tidur terlantar.
38:26Terlantar bekas gotong orang sakit.
38:30Bekas gotong orang sakit, terlantar, akhirnya bapak pakai?
38:32Iya.
38:33Tapi sudah ada bantuan, Bu, Pak, dari pemerintah saat ini mungkin?
38:36Ada air di dunia.
38:37Air aja, lah.
38:39Pak, ini kan hanya beratapan seng, ya, Pak, ya?
38:42Iya, iya.
38:44Kita berharap cuacanya bagus terus.
38:46Tapi kalau hujan gimana?
38:47Iya, itu duduk pasti, gitu, Pak.
38:49Nah, cara hujan kan, sana duduk pasti, kayak kan?
38:53Supaya dengar kena angin.
38:54Duduk aja lah, ada beca.
38:55Kalau gitu, tutup, kan?
38:56Kalau hujan, duduk di beca, Bu?
38:58Iya.
38:58Kalau di sini kan air masuk, kalau angin.
39:01Kalau malam, listriknya sudah nyala?
39:04Belum.
39:05Belum sama sekali?
39:07Belum.
39:07Tosok, masih tosok.
39:08Air masih belum, eh belumnya itu kan.
39:12Berarti bapak ibu tidur di sini dengan kondisi listrik mati gelap gulitan?
39:16Iya.
39:17Ada lampu dari warga mungkin?
39:19Ah, enggak ada lah.
39:21Ada lampu, kadang-kadang lampu-lampu.
39:23Apa, mobil aja lah, cahaya mobilnya.
39:25Ada yang ingin bapak sampaikan mungkin, Pak?
39:28Untuk pemerintah mungkin?
39:29Bajuannya, bajuannya, bajuannya bisa selatu.
39:33Selatu, baik.
39:34Kalau belum cepat, Pak, ya.
39:35Kalau lemah, enggak siapa cari, enggak ada.
39:38Bisa, kita, kita, kita.
39:39Nah, kan, kalau bantu-bantu kan, benar-benar.
39:42Bukan, benar-benar.
39:43Bapak mana bisa.
39:44Bapak mana bisa.
39:45Tolak dikit, enggak jatuh.
39:46Nenekmu enggak bisa.
39:47Bisa sakit, kan, lemah.
39:50Moga kondisi semakin membaik, ya, Pak, Bu.
39:52Terima kasih, saya selalu, Pak, Bu.
39:54Ini sebermi, ini.
39:56Sudah sebermi.
39:58Ini dicuci.
39:59Mandi itu?
39:59Iya, lah.
40:00Makan yang belum cina.
40:01Mandi di sini?
40:02Iya.
40:03Saya mau, Pak, ini punya sarin untuk, apa, masak nasi.
40:08Minum?
40:09Di saat ada di sarin itu, Pak.
40:11Oke.
40:12Ya, cuma terukai di sini, Pak.
40:13Rumahnya di mana, Bu?
40:15Kota lintang-mintang.
40:16Kota lintang-mintang.
40:17Masak marah juga, Pak.
40:18Hancur semua, Pak.
40:19Hancur semua, Pak.
40:19Hancur semua, Pak.
40:20Hancur semua, Pak.
40:21Bantu itu masuk aja, Pak, ya, Pak.
40:22Masak-masak, Pak.
40:23Masak-masak, Pak.
40:24Masak-masak, Pak.
40:24Belum ada, ya.
40:25Kita coba sendiri, Pak.
40:27Beras pun nggak ada lagi di sini, Pak.
40:28Iya, iya.
40:29Iya, iya.
40:29Iya, iya.
40:29Iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya, iya.
40:30Mandi, mandi, mandi.
40:33Mandi, cuci, piring, semua di sini, ya.
40:34Maka kami sangat berharapkan, agar bencana banjir hitam yang ini bisa dinaikkan statusnya untuk menjadi bencana nasional, Pak.
40:55Ketika kita cukup masif, responsif, ya, di beberapa tempat memang masih tantangan.
41:10Dengan penyumlahan dari tiga provinsi, estimasi yang diperlukan dana adalah sekian, Pak Presiden, 51,82 triliun.
41:19Bencana ini menjadi bencana nasional, karena berat sekali, kalau daerah nggak mampu menangani kebencanaan.
41:26Kalau kami, pemerintah daerah, tidak mampu membersihkannya, dengan itu kami meminta pemerintah pusat, pemerintah Aceh membantu kami.
41:34Dengan kondisi kami yang sangat terbatas, maka kami mohon ulur rentangan dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah provinsi Aceh.
41:43Setelah saya berada di Kecamatan Paybedi, Kabupaten Aceh, Tamiang, yang menjadi lokasi dari dapur umum berada,
41:56ini adalah situasi malam, sangat minim penerangan, tapi saya akan tunjukkan, karena lokasi dari dapur umum ini terpaut cukup jauh dengan pusat kota di Kabupaten Aceh, Tamiang.
42:08Saya mendapatkan informasi, meskipun bisa ditunjukkan, ini sudah ada dapur umum yang kemudian disiagakan.
42:14Tapi saya tadi sudah konfirmasi kepada Wakil Bupati Aceh, Tamiang, bahwa belum ada posko khusus untuk mengungsi.
42:25Saya akan tanyakan hal ini langsung kepada Wakil Bupati Aceh, Tamiang, Pak Ismail, yang juga sudah berada di area posko dapur umum ini.
42:38Saya sudah bersama dengan Pak Ismail.
42:40Pak Ismail, izin Pak di PokokopasTV, Pak.
42:43Ya, terima kasih, Pak.
42:45Sebelumnya saya turut prihatin, Pak, atas bencana yang terjadi di Kabupaten Aceh, Tamiang, Bapak juga menjadi korban.
42:52Ya, betul, Pak.
42:53Kondisi rumah Bapak saat ini?
42:55Waduhannya sampai saat ini tidak bisa digunakan.
42:58Yang selamat cuma asbest, Pak.
42:59Sementara dalamnya abis, porak-poranda, baju semua, perapur itu tidak bisa digunakan lagi.
43:04Pak, saya izin tanyakan, Pak.
43:06Tentu saya mengerti bahwa Bapak dalam kondisi yang sulit, Bapak adalah korban,
43:10tapi Bapak juga harus tetap tegar untuk menyelamatkan warga Bapak.
43:14Tapi bantuan secara masif saya belum melihat, Pak.
43:18Dan belum ada pos pengungsian, betul demikian?
43:21Memang benar, semenjak kejadian itu, memang kita akui pada saat banjir pertama itu, kita akses susah, Pak.
43:32Mungkin dikarenakan dengan itu, bantuan-bantuan agak lambat.
43:36Dikarenakan dua hari sebelum banjir besar itu, sinyal handphone sudah mati total.
43:43Kita tidak bisa komunikasi.
43:45Destrik juga demikian.
43:47Dan ketika banjir, hubungan darat, transportasi putus total, Pak.
43:52Dari arah Medan ke Tamiang juga tidak bisa.
43:56Juga dari arah Langsa ke Tamiang juga tidak bisa, Pak.
43:58Saya tadi melihat secara langsung situasi di Jembatan Kembar, Pak, Jembatan Tamiang.
44:04Dan daerah sekitar banyak sekali warga yang membangun akhirnya posko darurat secara mandiri.
44:10Saya juga melihat begitu banyak warga yang kelaparan, kehausan, dan butuh obat-obatan.
44:15Yang jadi polemik ataupun yang jadi kendala, apakah karena statusnya hanya tangkap darurat, bukan bencana nasional?
44:22Ya sampai sekarang masih tangkap darurat, Pak.
44:25Dan belum bencana nasional.
44:27Apakah itu mempengaruhi proses penyaluran bantuan di sini?
44:30Sangat mempengaruhi.
44:31Walaupun banyak bantuan dari pusat masuk.
44:34Tetapi kan itu tidak mencukupi, Pak.
44:36Nah, bantuan yang masuk saat ini hanya beruntung sembako, obat-obatan, air bersih, gitu.
44:42Sementara itu, infrastruktur kita semua rusak, Pak.
44:46Infrastruktur pemerintahan semua 100% habis.
44:48Sampai sekarang juga, PLN belum hidup, kemudian, jangankan masyarakat, kami sebagai tim aja di sini,
44:58yang untuk mendistribusikan, kami sangat kewalahan, karena BBM yang tidak ada.
45:02Karena ada beberapa SPB di Aceh Tamiang yang masih tutup, Pak.
45:05Betul. Karena rusak apa ya?
45:07Karena rusak.
45:08Apakah kesulitan untuk kemudian menangani bencana di Aceh Tamiang ini juga terkendala persoalan anggaran?
45:17Mengenai anggaran ini memang kami sangat sulit.
45:20Karena di APBD itu, APBD kita bukan menganggarkan dana tangkap darurat, itu sekitar 2 miliar, Pak.
45:27Hanya 2 miliar?
45:28Tahun, ya. 2 miliar satu tahun.
45:29Satu tahun?
45:30Satu tahun cuma 2 miliar, Pak.
45:32Dan itu tidak cukup?
45:33Dan kalau kayak gini keadaan, bukan tidak cukup, Pak.
45:37Jauh, sangat tidak cukup.
45:39Sangat jauh dari kecukupan itu, Pak.
45:41Apakah Bapak berharap dan menginginkan bahwa status bencana di Aceh Tamiang ini dinaikkan, termasuk di Provinsi Aceh, menjadi bencana nasional?
45:52Semestinya, ya banjir Tamiang ini kan sudah sama seperti tsunami ini, Pak.
45:56Sudah sama seperti tsunami?
45:57Sudah sama seperti tsunami.
45:59Bapak kan sudah melihat tadi, rumah hanyut, mobil berjungkir balik, masyarakat kita bagaikan, apa itu ya, udah berkubang, kayak gitu.
46:09Pengungsi di mana-mana, anak-anak sakit di mana-mana, pemukiman warga habis.
46:15Bahkan yang sudah pasti, satu pemukiman habis total.
46:19Bukan kami menyerah, Pak, ya.
46:21Bukan kami menyerah.
46:22Untuk membangun kembali infrastruktur, baik infrastruktur jalan, jembatan, dikatakan jalan jembatan terputus dua, Pak.
46:32Kalau kami menggunakan pakai APBD, itu jauh, Pak.
46:36Maka kami sangat berharapkan, agar bencana banjir di Tamiang ini bisa dinaikkan statusnya untuk menjadi bencana nasional, Pak.
46:46Harapan, termasuk permintaan itu, bukan berarti Bapak menyerah, bukan berarti Bapak merasa tidak mampu, tapi memang kenyataannya sangat sulit.
46:56Kekurangan itu ada di setiap lini Aceh Tamiang.
46:58Kami akan berupaya sama upaya semaksimal mungkin, untuk berupaya agar untuk Tamiang ini kondusif kembali.
47:08Nah, tapi kembali ke awal tadi, jika menggunakan uang APBD, jauh dari kemungkinan.
Komentar