00:00Nama Kanjeng Guski Pangeran Adipati Aryo Hangabeyi atau Paku Buwono XIII merupakan pewaris tata panjang yang berakar dari Kesultanan Mataram Islam.
00:11Kerajaan besar yang dulu menyatukan Tanah Jawa di bawah satu panjir kekuasaan dan kebudayaan.
00:18Lahir di Surakarta pada 29 April 1946, Paku Buwono XIII tumbuh dalam lingkaran tradisi dan tanggung jawab besar.
00:28Dalam dirinya mengalir darah Raja-Raja Mataram.
00:33Darah yang mewariskan bukan hanya gelar, tapi juga kebijaksanaan dan pengabdian.
00:58Paku Buwono XIII naik tata pada tahun 2004 setelah wafatnya kakak beliau, Paku Buwono XII.
01:22Masa awal pemerintahannya sempat diwarnai kisah perebutan legitimasi, namun perlahan beliau meneguhkan dirinya sebagai simbol persatuan dan penjaga nilai-nilai budaya Jawa.
01:39Selama lebih dari dua dekade memimpin, beliau dikenal sebagai sosok yang lembut, sederhana, dan tekun melestarikan tradisi keraton di tengah arus modernisasi.
01:53Berbeda dengan Yogyakarta, di mana Sultan juga menjabat sebagai gubernur daerah istimewa, peran Raja di Surakarta bersifat kultural.
02:05Kota Solo sendiri secara administratif dipimpin oleh wali kota.
02:09Meski begitu, masyarakat tetap memandang Paku Buwono XIII sebagai simbol moral dan spiritual.
02:18Dalam berbagai upacara adat seperti sekatan, tinggalan Jumenangan, hingga kirap usaka malam satu suruh, beliau selalu hadir sebagai pusat tata nilai dan tradisi.
02:31Di balik gelar dan kebesaran keraton, beliau juga mencerminkan kesederhanaan.
02:36Ia terbiasa menyambut tamu tanpa jarak, berbincang dengan siapapun yang datang dengan hati terbuka.
02:47Dari masyarakat kecil hingga pejabat negara, semua dihormati dalam satu ruang yang sama, ruang kemanusiaan.
02:54Ketika beliau berpulang pada Minggu 2 November 2025 di Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Kabupaten Soekarjo, Jawa Tengah,
03:13Masyarakat tak hanya kehilangan seorang raja, tetapi mereka kehilangan sosok penuntun, panutan yang selama ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.
03:28Pemakaman dilakukan di kompleks makam Raja-Raja Emogiri, Yogyakarta.
03:40Tempat ini bukan sekedar area pemakaman,
03:42melainkan simbol ikatan sejarah antara dua dinasti besar,
03:47Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
03:50Keduanya sama-sama keturunan Mataram Islam,
03:55kerajaan besar yang dahulu berpusat di kota gede.
04:00Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755,
04:04Mataram terpecah menjadi dua,
04:06Yogyakarta di bawah Sultan Hamengkubwona I dan Surakarta di bawah Pakubwona III.
04:13Namun meski terpisah oleh kekuasaan,
04:16keduanya tetap bersaudara dalam darah dan budaya.
04:20Imo Giri menjadi saksi persaudaraan dua dinasti besar,
04:28Yogyakarta dan Surakarta.
04:32Meski terpisah oleh perjanjian Giyanti tahun 1755,
04:37keduanya bersatu kembali di tanah ini.
04:40Dalam kelendingan, dalam doa, dalam darah yang sama.
04:46Karena sejatinya, Mataram tak pernah benar-benar terbelah.
04:50Ia hanya menempuh dua jalan menuju takdir yang sama.
04:59Bagi masyarakat Jawa, kematian seorang raja bukanlah akhir.
05:05Melainkan perjalanan menuju keabadian.
05:07Seorang raja akan selalu hidup dalam doa, dalam cerita,
05:13dan dalam kebajikan yang ia tinggalkan.
05:15Selamat menikmati.
05:23Terima kasih.