Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
BOGOR, KOMPAS.TV - Seorang ibu tiri diduga menganiaya anak berusia 6 tahun hingga tewas di rumah kontrakan, Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Sebelum tewas, warga sempat merekam kondisi anak dengan tubuh penuh luka.

Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi bilang pelaku menganiaya korban berkali-kali karena kesal korban menolak makan.

Polisi menetapkan ibu tiri sebagai tersangka, sementara ayah kandung korban berstatus sebagai saksi.

Kesimpulan sementara, korban tewas karena pendarahan di bagian kepala akibat kekerasan benda tumpul.

Sementara kepada ayah kandung korban, tersangka mengaku korban tewas akibat terjatuh. Kasus ini masih terus didalami oleh polisi.

Apa benar hanya karena tidak mau makan, pelaku bunuh anak tiri? Kita bahas bersama Kriminolog Anak dan Perempuan, Haniva Hasna.

Baca Juga Ekshumasi Jenazah Bocah 6 Tahun di Bogor, Polisi Duga Korban Disiksa Berulang Kali oleh Ibu Tiri di https://www.kompas.tv/regional/624955/ekshumasi-jenazah-bocah-6-tahun-di-bogor-polisi-duga-korban-disiksa-berulang-kali-oleh-ibu-tiri

#penganiayaan #ibutiri #anaktewas

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/625029/full-kriminolog-anak-dan-perempuan-soroti-kasus-ibu-tiri-aniaya-anak-6-tahun-hingga-tewas

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Seorang ibu tiri diduga menganiaya anak berusia 6 tahun hingga tewas di rumah kontrakan Bojonggede, Kabupaten Bogor.
00:17Sebelum tewas, warga sempat merekam kondisi anak dengan tubuh penuh luka.
00:21Itu pada curiga, cuman kita emang lagi selidiki diam-diam, kita taunya udah meninggal, belum bukti jelas gitu.
00:30Sedangkan dia di rumah itu gak pernah dengar nangis gitu, kejar atau apa, kita gak tau kalau di dalam gitu.
00:35Dikukulin, kalau mau makan dibukul, kalau nakal dibukul katanya.
00:42Kasih Umas Polres Metro Depok, AKP Madepudi bilang, pelaku menganiaya korban berkali-kali karena kesal korban menolak makan.
00:50Polisi menetapkan ibu tiri sebagai tersangka, sementara ayah kandung korban berstatus sebagai saksi.
00:58Bunya melakukan pengkandian dengan alasan karena kesal, karena kesal terhadap anaknya dan puncaknya memang terjadi pada hari minggu tersebut
01:08hingga mengakibatkan korban pingsan dan diketahui meninggal dunia.
01:15Kesalnya karena tidak mau makan itu ya Pak Madepudi?
01:17Betul.
01:17Kesimpulan sementara korban tewas karena pendarahan di bagian kepala akibat kekerasan benda tumpul.
01:25Sementara kepada ayah kandung korban, tersangka mengaku korban tewas akibat terjatuh.
01:32Kasus ini masih terus didalami oleh polisi.
01:34Hidayatul Mulyadi, Kompas TV, Depok, Jawa Barat.
01:38Lalu apa benar hanya karena tidak mau makan pelaku membunuh anak tiri?
01:45Kita akan bahas bersama kriminolog anak dan perempuan Hanifah Hasna.
01:49Selamat petang Mbak Hanifah, terima kasih sudah berkesempatan untuk hadir di Kompas Petang.
01:55Mbak Hanifah, indikator awal seperti apa yang biasanya diabaikan oleh masyarakat sehingga hal seperti ini kerap kali terjadi?
02:05Menurut Anda?
02:07Baik, sebetulnya ada indikasi-indikasi yang bisa ditangkap oleh masyarakat ketika dia berada dalam lingkungan yang padat.
02:15Tapi masyarakat sering mengabaikan hal ini.
02:17Masyarakat lebih memilih menjadi bystander, hanya penonton saja dan mereka bingung mau melakukan apa.
02:23Ketika mereka bingung mau melakukan apa, berarti kan ada kondisi-kondisi di mana mereka itu tidak teredukasi.
02:28Ketika ada kejahatan atau kekerasan atau KDRT yang terjadi di lingkungan terdekatnya.
02:34Tapi disampaikan oleh masyarakat ketika makan selalu menangis.
02:37Berarti kan ini ada indikasi atau ada komunikasi yang ingin disampaikan oleh anak ini kepada masyarakat tetapi tidak ada yang membantu.
02:45Jadi alangkah indahnya ketika ada early warning yang bisa ditangkap oleh masyarakat ketika ada seorang anak yang mengalami luka-luka fisik.
02:54Karena luka fisik itu kan jelas, nampak jelas gitu ya mbak ya.
02:58Nah ketika luka fisik apa yang harusnya mereka bantu gitu, apa yang harus mereka respon, bagaimana RT, bagaimana RW, bagaimana kelompok-kelompok pengajian.
03:07Ini berarti kan harus ada edukasi-edukasi yang membuat mereka menjadi lebih aware terhadap lingkungan.
03:12Karena bagaimana perlindungan ya.
03:14Tapi dari kasus ini kalau kita tahu bahwa sempat ada video terkait dengan luka-luka pada korban.
03:22Siapa yang lalai di sini ketika masyarakat seharusnya berperan aktif?
03:27Bahkan Anda juga menyebutkan tadi harusnya ada peran seperti RT dan RW.
03:32Ya baik, masyarakat itu menjadi ring kedua gitu ya mbak ya.
03:37Karena ring pertama sebetulnya adalah orang tua itu sendiri.
03:40Dimana seorang ibu yang harusnya bisa melindungi anaknya ternyata dia menjadi pelaku.
03:44Yang kedua ayahnya, orang kedua di tempat itu.
03:47Nah ketika ini terjadi, berarti kan ketiadaan kedekatan, keluarga yang tidak harmonis atau kehangatannya tidak ada gitu ya.
03:56Yang membuat anak ini tidak bisa diselamatkan walaupun dia sudah menunjukkan gejala-gejala fisik yang demikian gitu.
04:04Nah kalau kita lihat sebelah kan, kenapa ibunya bisa melakukan hal ini dari hal yang kecil cuma tidak mau makan?
04:10Ini sebetulnya, kalau sudah terjadi kekerasan, hal kecil ini bukan hal kecil yang sebenarnya.
04:16Karena ada hal kecil yang menumpuk-numpuk dalam hati seseorang yang secara mental sudah rusak.
04:22Ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat membahayakan.
04:25Namanya emotional displacement.
04:27Dimana seseorang yang emosinya sudah memuncak karena ada kemarahan, frustasi, dan lain-lain.
04:32Dia akan mengungkapkan kepada seseorang yang dianggap lemah.
04:35Dalam hal ini, pribadi yang lemah itu adalah anaknya, anak tirinya gitu.
04:39Karena anak tirinya biasanya dalam kondisi tertentu dianggap sebagai seseorang yang menghalangi sesuatu gitu ya.
04:50Mungkin jadi penengah antara cinta mereka atau penghalang-penghalang tertentu yang membuat dilakukan dehumanisasi.
05:00Artinya Anda ingin menekankan bahwa faktor psikologis dari pelaku itu sendiri juga memiliki peran besar terhadap korban.
05:09Seperti itu.
05:10Lalu bagaimana kita mengetahui faktor-faktor psikologis yang bisa dikatakan sudah rentan membahayakan?
05:17Oke baik.
05:18Faktor psikologis itu sebetulnya ketika seseorang itu sudah dewasa,
05:21artinya cara berpikirnya sudah bagus, secara emosi juga bisa dikendalikan.
05:26Tapi ketika tidak bisa dikendalikan, bisa kita tarik mundur.
05:29Apakah pelaku ini memiliki trauma-trauma terjadi terkait pengasuhan?
05:34Apakah dulunya dia sering mendapatkan kekerasan?
05:37Sehingga dia sekarang dengan enteng melakukan kekerasan terhadap anak tirinya.
05:41Tapi terkait apakah dia memiliki misalnya ya gangguan mental gitu ya,
05:46ini perlu pemeriksaan lebih lanjut dari psikolog atau psikiater.
05:50Demikian Mbak Sintia.
05:51Apakah dalam kasus ini menurut Anda sendiri ada faktor pembiaran?
05:56Mungkin dalam hal ini pihak-pihak atau orang terdekat yang sempat mengetahui?
06:00Atau di mana peran dari lingkungan, peran dari negara, peran dari lembaga anak dan perempuan?
06:09Ya baik.
06:10Kalau pembiaran yang pertama adalah pembiaran dilakukan oleh orang tuanya sendiri.
06:14Karena bagaimanapun juga lingkaran terkecil adalah ibunya kemudian ayahnya.
06:18Kemudian mungkin neneknya ya, kalau mereka berdekatan gitu ya, atau lingkungan sekitar.
06:23Nah kalau terjadi pembiaran seperti ini, biasanya kejahatan atau perilaku jahat ini akan semakin subur.
06:29Atau mereka menormalisasi.
06:31Bahkan misalnya ya, daerah mereka adalah daerah anomi,
06:34di mana daerah yang melegalkan atau menormalkan kejahatan-kejahatan sebagai bentuk pendisiplinan.
06:40Kalau secara hukum, undang-undang kita sudah melindungi terkait dengan kekerasan terhadap anak.
06:45Yang hilang itu bukan hukumnya, tapi empatinya.
06:48Jadi yang harus kita lakukan adalah bagaimana mempersiapkan seorang ibu atau orang tua
06:54dalam mengaluhkan pengasuhan dan menunjukkan empatinya,
06:59sehingga dia tidak melakukan kekerasan terhadap anak.
07:01Mendisiplinkan boleh, tapi kasih sayangnya tetap harus ada.
07:04Baik, terima kasih kriminolog anak dan perempuan Mbak Hanifa Hasna sudah berbagi perspektif di Kompas Petang.
07:09Selamat sore Mbak Hanifa.
07:11Selamat sore Mbak Sintia.
07:12Selamat menikmati.
07:13Selamat menikmati.
07:15Selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan