00:00Seorang ibu tiri diduga menganiaya anak berusia 6 tahun hingga tewas di rumah kontrakan Bojonggede, Kabupaten Bogor.
00:17Sebelum tewas, warga sempat merekam kondisi anak dengan tubuh penuh luka.
00:21Itu pada curiga, cuman kita emang lagi selidiki diam-diam, kita taunya udah meninggal, belum bukti jelas gitu.
00:30Sedangkan dia di rumah itu gak pernah dengar nangis gitu, kejar atau apa, kita gak tau kalau di dalam gitu.
00:35Dikukulin, kalau mau makan dibukul, kalau nakal dibukul katanya.
00:42Kasih Umas Polres Metro Depok, AKP Madepudi bilang, pelaku menganiaya korban berkali-kali karena kesal korban menolak makan.
00:50Polisi menetapkan ibu tiri sebagai tersangka, sementara ayah kandung korban berstatus sebagai saksi.
00:58Bunya melakukan pengkandian dengan alasan karena kesal, karena kesal terhadap anaknya dan puncaknya memang terjadi pada hari minggu tersebut
01:08hingga mengakibatkan korban pingsan dan diketahui meninggal dunia.
01:15Kesalnya karena tidak mau makan itu ya Pak Madepudi?
01:17Betul.
01:17Kesimpulan sementara korban tewas karena pendarahan di bagian kepala akibat kekerasan benda tumpul.
01:25Sementara kepada ayah kandung korban, tersangka mengaku korban tewas akibat terjatuh.
01:32Kasus ini masih terus didalami oleh polisi.
01:34Hidayatul Mulyadi, Kompas TV, Depok, Jawa Barat.
01:38Lalu apa benar hanya karena tidak mau makan pelaku membunuh anak tiri?
01:45Kita akan bahas bersama kriminolog anak dan perempuan Hanifah Hasna.
01:49Selamat petang Mbak Hanifah, terima kasih sudah berkesempatan untuk hadir di Kompas Petang.
01:55Mbak Hanifah, indikator awal seperti apa yang biasanya diabaikan oleh masyarakat sehingga hal seperti ini kerap kali terjadi?
02:05Menurut Anda?
02:07Baik, sebetulnya ada indikasi-indikasi yang bisa ditangkap oleh masyarakat ketika dia berada dalam lingkungan yang padat.
02:15Tapi masyarakat sering mengabaikan hal ini.
02:17Masyarakat lebih memilih menjadi bystander, hanya penonton saja dan mereka bingung mau melakukan apa.
02:23Ketika mereka bingung mau melakukan apa, berarti kan ada kondisi-kondisi di mana mereka itu tidak teredukasi.
02:28Ketika ada kejahatan atau kekerasan atau KDRT yang terjadi di lingkungan terdekatnya.
02:34Tapi disampaikan oleh masyarakat ketika makan selalu menangis.
02:37Berarti kan ini ada indikasi atau ada komunikasi yang ingin disampaikan oleh anak ini kepada masyarakat tetapi tidak ada yang membantu.
02:45Jadi alangkah indahnya ketika ada early warning yang bisa ditangkap oleh masyarakat ketika ada seorang anak yang mengalami luka-luka fisik.
02:54Karena luka fisik itu kan jelas, nampak jelas gitu ya mbak ya.
02:58Nah ketika luka fisik apa yang harusnya mereka bantu gitu, apa yang harus mereka respon, bagaimana RT, bagaimana RW, bagaimana kelompok-kelompok pengajian.
03:07Ini berarti kan harus ada edukasi-edukasi yang membuat mereka menjadi lebih aware terhadap lingkungan.
03:12Karena bagaimana perlindungan ya.
03:14Tapi dari kasus ini kalau kita tahu bahwa sempat ada video terkait dengan luka-luka pada korban.
03:22Siapa yang lalai di sini ketika masyarakat seharusnya berperan aktif?
03:27Bahkan Anda juga menyebutkan tadi harusnya ada peran seperti RT dan RW.
03:32Ya baik, masyarakat itu menjadi ring kedua gitu ya mbak ya.
03:37Karena ring pertama sebetulnya adalah orang tua itu sendiri.
03:40Dimana seorang ibu yang harusnya bisa melindungi anaknya ternyata dia menjadi pelaku.
03:44Yang kedua ayahnya, orang kedua di tempat itu.
03:47Nah ketika ini terjadi, berarti kan ketiadaan kedekatan, keluarga yang tidak harmonis atau kehangatannya tidak ada gitu ya.
03:56Yang membuat anak ini tidak bisa diselamatkan walaupun dia sudah menunjukkan gejala-gejala fisik yang demikian gitu.
04:04Nah kalau kita lihat sebelah kan, kenapa ibunya bisa melakukan hal ini dari hal yang kecil cuma tidak mau makan?
04:10Ini sebetulnya, kalau sudah terjadi kekerasan, hal kecil ini bukan hal kecil yang sebenarnya.
04:16Karena ada hal kecil yang menumpuk-numpuk dalam hati seseorang yang secara mental sudah rusak.
04:22Ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat membahayakan.
04:25Namanya emotional displacement.
04:27Dimana seseorang yang emosinya sudah memuncak karena ada kemarahan, frustasi, dan lain-lain.
04:32Dia akan mengungkapkan kepada seseorang yang dianggap lemah.
04:35Dalam hal ini, pribadi yang lemah itu adalah anaknya, anak tirinya gitu.
04:39Karena anak tirinya biasanya dalam kondisi tertentu dianggap sebagai seseorang yang menghalangi sesuatu gitu ya.
04:50Mungkin jadi penengah antara cinta mereka atau penghalang-penghalang tertentu yang membuat dilakukan dehumanisasi.
05:00Artinya Anda ingin menekankan bahwa faktor psikologis dari pelaku itu sendiri juga memiliki peran besar terhadap korban.
05:09Seperti itu.
05:10Lalu bagaimana kita mengetahui faktor-faktor psikologis yang bisa dikatakan sudah rentan membahayakan?
05:17Oke baik.
05:18Faktor psikologis itu sebetulnya ketika seseorang itu sudah dewasa,
05:21artinya cara berpikirnya sudah bagus, secara emosi juga bisa dikendalikan.
05:26Tapi ketika tidak bisa dikendalikan, bisa kita tarik mundur.
05:29Apakah pelaku ini memiliki trauma-trauma terjadi terkait pengasuhan?
05:34Apakah dulunya dia sering mendapatkan kekerasan?
05:37Sehingga dia sekarang dengan enteng melakukan kekerasan terhadap anak tirinya.
05:41Tapi terkait apakah dia memiliki misalnya ya gangguan mental gitu ya,
05:46ini perlu pemeriksaan lebih lanjut dari psikolog atau psikiater.
05:50Demikian Mbak Sintia.
05:51Apakah dalam kasus ini menurut Anda sendiri ada faktor pembiaran?
05:56Mungkin dalam hal ini pihak-pihak atau orang terdekat yang sempat mengetahui?
06:00Atau di mana peran dari lingkungan, peran dari negara, peran dari lembaga anak dan perempuan?
06:09Ya baik.
06:10Kalau pembiaran yang pertama adalah pembiaran dilakukan oleh orang tuanya sendiri.
06:14Karena bagaimanapun juga lingkaran terkecil adalah ibunya kemudian ayahnya.
06:18Kemudian mungkin neneknya ya, kalau mereka berdekatan gitu ya, atau lingkungan sekitar.
06:23Nah kalau terjadi pembiaran seperti ini, biasanya kejahatan atau perilaku jahat ini akan semakin subur.
06:29Atau mereka menormalisasi.
06:31Bahkan misalnya ya, daerah mereka adalah daerah anomi,
06:34di mana daerah yang melegalkan atau menormalkan kejahatan-kejahatan sebagai bentuk pendisiplinan.
06:40Kalau secara hukum, undang-undang kita sudah melindungi terkait dengan kekerasan terhadap anak.
06:45Yang hilang itu bukan hukumnya, tapi empatinya.
06:48Jadi yang harus kita lakukan adalah bagaimana mempersiapkan seorang ibu atau orang tua
06:54dalam mengaluhkan pengasuhan dan menunjukkan empatinya,
06:59sehingga dia tidak melakukan kekerasan terhadap anak.
07:01Mendisiplinkan boleh, tapi kasih sayangnya tetap harus ada.
07:04Baik, terima kasih kriminolog anak dan perempuan Mbak Hanifa Hasna sudah berbagi perspektif di Kompas Petang.
07:09Selamat sore Mbak Hanifa.
07:11Selamat sore Mbak Sintia.
07:12Selamat menikmati.
07:13Selamat menikmati.
07:15Selamat menikmati.
Komentar