00:00Intro
00:00Anda masih di kompas bisnis, saudara Presiden Prabowo Subianto mengizinkan warga negara asing bisa memimpin badan usaha milik negara.
00:22Hal ini dipertegas Prabowo dengan mengubah regulasi yang memperbolehkan ekspatriat menjadi pimpinan BUM.
00:28Dalam dialog bersama Chairman Forbes di Jakarta Rabu kemarin, Prabowo bilang telah menginstruksikan manajemen BPI Danantara menjalankan bisnisnya dengan standar internasional.
00:40Termasuk mencari talenta terbaik yang berasal dari luar negeri.
00:44Selain itu Prabowo juga menginstruksikan pimpinan Danantara untuk merampingkan jumlah BUMN.
00:49Ia ingin memangkas jumlah BUMN dari sekitar seribu menjadi hanya dua ratusan BUMN.
00:55Dengan pemangkasan itu diharapkan bisa meningkatkan pendapatan BUMN Indonesia.
01:00Saya telah memberikan direksi kepada Chairman Danantara untuk merasionalisasi semuanya,
01:14diperlukan dari 1,000 perusahaan terbaik untuk merasionalisasi, mungkin 200, atau 230, 240.
01:29Dan lakukan pemangkasan dengan standar internasional.
01:33Dan lakukan pemangkasan, saya telah mengubahkan regulaan.
01:37Sekarang, ekspatriat non-Indonesia bisa memimpinan SOE kami.
01:46Jadi, saya sangat senang.
01:50Era baru pengelolaan BUMN dimulai setelah ada payung hukum baru lewat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025.
01:59BUMN kini boleh dipimpin oleh warga negara asing atau WNA.
02:04Kita akan bahas masih bersama kami, Bima Yudistira, Direktur Eksekutif Stelios Mas Bima.
02:09Ini WNA ada yang jadi Direksi Garuda Indonesia nih.
02:12Ada Direktur Transformasi, Neil Raymond Nils.
02:16Kemudian Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko, Balagopal Kundu Fara.
02:21Nah, kalau kita lihat Garuda ini kan bermasalah ya, Mas, sebenarnya.
02:24Keuangannya merugi.
02:25Kemudian IPO juga kemarin ujung-ujungnya kasus gitu ya.
02:28Direksinya juga sebelumnya banyak yang terjerat korupsi.
02:31Emang dengan kemudian ada direksi dari luar negeri, dari asing, ini bisa jadi penyelamat Garuda?
02:37Sebenarnya mimpinya itu, kalau mimpi kan boleh aja ya.
02:40Ini sama seperti Tema Sek Holding.
02:43Jadi Tema Sek itu kalau kita bongkar jeroannya, itu akan dilihat bahwa direksi-direksinya memang talenta-talenta ex-direktur perusahaan multinasional global.
02:52Dulu ada mantan direksinya Alphabet misalnya, atau CEO-nya perusahaan manufaktur skala besar.
02:59Nah, itu mimpinya ke sana arahnya.
03:01Tapi kan ada prakondisi sebelum BUMN kita itu bisa sama dengan Tema Sek tadi.
03:08Apa prakondisinya?
03:09Maka bukan hanya direksi-direksinya, tapi dirutnya itu memang harus mengandalkan meritrokrasi.
03:15Kalau perlu, tapi memang dicari dulu dari dalam.
03:18Karena sebenarnya talenta kita dari dalam, maupun diaspora Indonesia di luar, itu siap mengisi pos itu sebenarnya.
03:23Sebelum masalahnya adalah WNI atau WNA.
03:26Tapi pucuk pimpinan CEO-nya itu harus meritrokrasi.
03:29Artinya meritrokrasi nggak boleh, ada titipan jabatan misalnya, atau ada komisaris rangkap jabatan, direksi juga yang misalnya punya konflik kepentingan dengan partai politik atau relawan tertentu.
03:42Itu dibersihkan dulu.
03:43Baru kita bicara nih, apakah boleh WNI atau WNA.
03:46Kalau loncat kepada WNA di pucuk direksi, direktur utama atau CEO-nya itu tidak berdasarkan pada meritrokrasi, maka yang terjadi si WNA bingung juga.
03:57Mungkin performanya di perusahaan asing sebelumnya dia bagus, tapi begitu masuk ke dalam BUMN, dia kaget pastinya.
04:04Pasti seminggu pertama kaget dulu tuh, pas rapat-rapat.
04:07Kok begini nih?
04:09Karena dia harus melapor ke pucuk CEO yang ternyata belum tentu dia meritrokrasi.
04:14Makanya yang terjadi adalah kebingungan.
04:16Nah ini coba-coba eksperimental begini, tanpa ada prakondisi tadi, ini sebenarnya nggak akan membuat BUMN kemana-mana.
04:22Oke, tapi kalau tadi Mas Bima bilang, sebenarnya banyak gitu ya talenta-talenta kita yang dari dalam negeri juga sebenarnya punya kemampuan gitu.
04:30Kemudian apa yang mungkin mendasari kemudian bisa dibuka untuk warga negara asing?
04:36Karena memang kita ngeliatnya pokoknya kalau ekspat, kalau ini lebih ahli, lebih keren gitu istilahnya kalau kita lihat dari jajaran direksi.
04:43Apa seperti apa sih sebenarnya pertimbangan yang mungkin Mas Bima lihat di belakang?
04:46Kalau saya ngeliatnya kita masih mengidap yang namanya inferiority kompleks.
04:50Jadi melihat bahwa semua yang datang dari luar, atau yang kulitnya beda warna, atau keluarga negara yang berbeda bukan WNI, itu dianggap superior, hebat.
05:02Nah ini biasanya terjadi di negara-negara memang yang pernah mengalami kolonial, di semua dalam jumlah yang sangat masif, kemudian jangka waktunya sangat panjang.
05:12Jadi kalau dilihat, pertanyaannya dibalik. Sebelum WNI atau WNA, kita cek dulu berapa banyak WNI itu yang sudah lama memimpin perusahaan-perusahaan bergensi internasional dan beroperasi di Indonesia.
05:25Karena kalau cuma dia resume ataupun CV-nya, pengalaman panjangnya di perusahaan asing, kita nggak kekurangan warga negara Indonesia yang punya talenta.
05:34Talentanya juga dididiknya dengan kuliahnya di luar negeri, atau dia memimpin perusahaan yang jumlah karyawannya lebih dari 5.000 orang.
05:43Perusahaannya skalanya masuk dalam Forbes misalnya, atau Fortune 500.
05:47Itu bukan hal yang susah dicari.
05:50Belum kita bicara diaspora yang sudah bekerja di perusahaan besar.
05:54Ada yang di Google, ada yang di Alphabet, induknya Google, kemudian di perusahaan-perusahaan energi terbarukan yang ada di luar negeri.
06:01Itu banyak yang bisa ditarik untuk pulang.
06:04Nah, ini jangan sampai terjadi misalnya begini.
06:08BUMN ini mirip kayak PSSI, mirip kayak main bola.
06:12Jadi prakondisinya belum diciptakan, tapi udah naturalisasi.
06:15Belum import dulu gitu.
06:16Udah melakukan importasi pemain-pemain dari luar.
06:19Yang terjadi apa?
06:20Ibaratnya nggak lolos lah, piala dunia lah, kira-kira gitu, kualifikasi piala dunia.
06:24Nah, ini artinya sama nih.
06:26Jadi Pak Prabowo, Danantara, Pak Rosan, itu harus punya prakondisi dulu.
06:31Sebelum BUMN ini mau diutak-atik direksinya dari siapa.
06:35Oke.
06:36Nah, inilah yang menjadi PR.
06:37Oke, tapi kalau kita lihat dari negara-negara lain gitu ya, Mas.
06:40Apakah wajar gitu orang asing dari luar negara memimpin BUMN?
06:44Kalau mungkin perusahaan swasta sering kita lihat dan wajar gitu ya.
06:47Tapi kalau memimpinnya BUMN gitu, punya negara yang dipimpin oleh orang asing, itu apakah wajar?
06:53Kemudian, kalau misalnya kita ngambil dari luar, apakah punya resiko tersendiri?
06:58Dan kelebihannya apa sebenarnya, Mas?
07:00Oke.
07:01Sebagai contoh, misalnya Sovereign Wealth Fund atau dana kelolaan,
07:04itu yang paling dekat dengan kita adalah di Singapura, Temasek.
07:08Itu banyak tadi direksi-direksi dari ex-perusahaan asing.
07:12Atau yang jauh sekalian, misalnya di Arab Saudi, Qatar, Investment Authority Fund,
07:17kemudian ada lagi di daerah Timur Tengah lainnya, itu memang betul.
07:20Jadi, Timur Tengah itu, dana kelolaannya, itu diserahkan pada ahli profesional yang datang dari mana?
07:28London, Hongkong, dari Paris.
07:30Itu bukan hal yang tabu.
07:32Yang penting kan, saudagar Timur Tengah dan negara Timur Tengah ini,
07:36sultan-sultan di Timur Tengah itu inginnya agar berapa sih bisa ngasih return atau imbal hasil per tahunnya
07:41dari dana kelolaan investasi.
07:43Jadi begitu aja, selesai.
07:44Tapi begitu kita cek lagi, tata kelolanya bagus.
07:48Artinya gimana?
07:49Mereka, orang asing yang dipilih menduduki BUMN atau dana investasi seperti Sovereign Wealth Fund itu,
07:56itu nggak boleh punya konflik kepentingan.
07:58Jadi satu tahun dia harus steril dari konflik kepentingan di industri yang sama.
08:04Artinya dibersihkan dulu nih.
08:05Background check-nya juga jelas dulu.
08:07Karena khawatir akan menjual resep atau rahasia dari BUMN itu kepada pihak-pihak luar.
08:14Yang justru merugikan kepentingan nasional.
08:16Nah inilah pentingnya di situ.
08:17Jadi sebenarnya nggak masalah kita ngambil dari luar pun,
08:20karena di luar juga sudah banyak yang sukses dengan itu.
08:23Tapi lagi-lagi pengkondisian di dalam negeri kita seperti apa.
08:25Kemudian juga background check-nya.
08:27Jangan sampai yang kita bawa asing ini malah punya kepentingan.
08:29Dan tadi Mas Bima bilang beresiko untuk mengganggu stabilitas di dalam negeri.
08:34Mas Bima, kita masih punya banyak pertanyaan tapi waktunya sudah habis.
08:37Terima kasih banyak Mas Bima, Yudhisira.
08:39Direktur Eksekutif Silas sudah bergabung bersama kami di Kompas Bisnis.
08:42Selamat pagi Mas Bima.
08:43Selamat pagi, terima kasih.
08:45Saudara, Sapa Indonesia Pagi masih akan kembali dengan informasi lainnya.
08:49Ketua Palang Merah Indonesia atau PMI Sumatera Utara Rahmat Syah
08:53yang juga ayah dari selebritas Rainsyah
08:55menjadi korban penipuan hingga rugi ratusan juta rupiah.
08:59Informasinya sesaatlah.
Komentar