- 6 bulan yang lalu
- #adearmando
- #roysuryo
- #gibran
- #jokowi
JAKARTA, KOMPAS.TV - Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ade Armando blak-blakan menyampaikan analisa pihak di balik gugatan ijazah Presiden ke-7 RI, Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Ade mengatakan ada sejumlah pihak yang diduga terlibat.
"Pertama-tama adalah pasti yang anti keluarga Jokowi adalah PDIP," ujar Ade Armando.
Lebih lanjut, Ade menambahkan selain PDIP ada kelompok 212 hingga kelompok Anies Baswedan.
Baca Juga Saling Bantah! Subhan Palal Yakin Gugat Ijazah Gibran Pakai Data: Bukan Omon-Omon! - BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/618479/saling-bantah-subhan-palal-yakin-gugat-ijazah-gibran-pakai-data-bukan-omon-omon-bola-liar
#adearmando #roysuryo #gibran #jokowi
Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Lintang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/618480/blak-blakan-ade-armando-ungkap-pihak-di-balik-gugatan-ijazah-jokowi-gibran-bola-liar
Ade mengatakan ada sejumlah pihak yang diduga terlibat.
"Pertama-tama adalah pasti yang anti keluarga Jokowi adalah PDIP," ujar Ade Armando.
Lebih lanjut, Ade menambahkan selain PDIP ada kelompok 212 hingga kelompok Anies Baswedan.
Baca Juga Saling Bantah! Subhan Palal Yakin Gugat Ijazah Gibran Pakai Data: Bukan Omon-Omon! - BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/618479/saling-bantah-subhan-palal-yakin-gugat-ijazah-gibran-pakai-data-bukan-omon-omon-bola-liar
#adearmando #roysuryo #gibran #jokowi
Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Lintang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/618480/blak-blakan-ade-armando-ungkap-pihak-di-balik-gugatan-ijazah-jokowi-gibran-bola-liar
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Intro
00:00Anda kembali di Pulau Liar Bang Ade, tadi sempat terputus Anda sempat mengatakan bahwa upaya ataupun
00:08mempermasalahkan ijazah Jokowi dan Gibran jangan-jangan upaya untuk menjatuhkan Gibran.
00:16Anda tadi bilang begitu.
00:17Iya, iya, iya. Itu salah satu analisis ya.
00:19Jadi kan begini, kalau ditanya kenapanya kita bisa punya beragam analisis ya.
00:25Tapi salah satu yang kuat pengemuka di antara, paling tidak di kalangan kami nih ya.
00:30Ketika saya mengatakan kalangan kami, ini adalah kalangan yang pro pada Jokowi ya.
00:34Itu kan ada pertanyaan, kenapa bertahun-tahun masalah ini terus berulang?
00:39Atau misalnya begini, saya selalu bertanya sama Bung Roy.
00:42Bung Roy, Anda itu punya apa sih sampai Anda mengatakan bahwa ijazah Pak Jokowi itu palsu?
00:48Punya bukti?
00:48Iya, karena ijazah itu sendiri tidak pernah ditunjukkan oleh Pak Jokowi kepada Roy Suryo.
00:54Atau kepada masyarakat, kecuali barangnya kepada polisi, kepada masyarakat, dan seterusnya.
01:01Nah kan nggak bisa kita ambil kesimpulan bahwa hanya karena seseorang tidak mau menunjukkan ijazahnya,
01:07kesimpulannya ijazahnya pasti palsu.
01:09Itu loncatan logika yang menurut saya luar biasa aneh ya.
01:14Jadi kita sendiri tidak ada yang lihat sebetulnya ijazah Pak Jokowi itu seperti apa,
01:20tapi itu dianalisis, ditunjukkan sampai ada sebuah buku.
01:23Sudah jadi buku ilmiah loh itu, 700 alaman itu.
01:26Sebuah buku yang berusaha menjelaskan dari berbagai perspektif tentang mengapa itu dikatakan palsu.
01:32Buat saya, sampai sekarang saya tidak paham kenapa itu dikatakan palsu.
01:37Nah begitu juga dengan Mas Subhan, mengatakan bahwa ijazahnya,
01:41apa sih tadi ijazahnya Gibran itu dipertanyakan lah ya.
01:44Di mana bagian dipertanyakannya, nah ini muncul tidak hanya sendiri-sendiri,
01:51ada beberapa hal lain yang juga muncul soal rencana pemakzulan Gibran.
01:57Kemudian apalagi yang ramai, ada sejumlah hal menyangkut ijazah palsunya Pak Jokowi sendiri.
02:03Ini berulang-ulang muncul ya, sehingga kami menduga bahwa ini apakah benar masing-masing orang ini berjalan sendiri-sendiri.
02:12Misalnya begini, Roy mengajukan gugatannya, Rizmon mengajukan gugatannya.
02:18Mereka tidak punya hubungan, tapi kebetulan kemudian sama-sama setuju pada sebuah topik yang sama.
02:23Kemudian datang lagi Pak Subhan, kemudian datang lagi Bestor atau siapa.
02:29Nah ini semua memang sendiri-sendiri atau ada sesuatu yang mengikat mereka.
02:35Jawabannya lagi-lagi bisa sendiri-sendiri, walaupun saya meragukan masa sih semua itu sendiri-sendiri.
02:42Jadi ada siapa?
02:43Atau bersama-sama.
02:44Nah yang bersama-sama ini pun kemudian kita bisa mengatakan siapa sih yang sebenarnya berkepentingan untuk menjatuhkan Gibran.
02:50Pertama-tama adalah, pasti yang anti dengan keluarga Jokowi adalah PDIP.
02:56Tuh, nunggu lagi kan.
02:58Ini baru analisa nih.
03:00Ada orang besar di belakang kami.
03:02Padahal yang sudah jelas itu mbak, ada orang kurus di belakang dia.
03:10Orang sedang membuat analisis, jangan dipotong-potong.
03:14Gak apa, kalau analisanya gak masuk akal ya potong aja ngapain.
03:18Kasian masyarakat dengar analisis yang gak mutu.
03:20Gak semua orang pintar kok.
03:22Menariknya analisis Bung Ade itu kan.
03:26Kalau menunjuk PDI dia bisa.
03:28Tapi mengatakan bahwa apakah dia didukung yang lain, dia gak bisa juga.
03:33Saya jelas-jelas mengatakan, saya itu pendukung Jokowi.
03:38Saya kurang jelas apa untuk mengatakan keberpihakan saya.
03:42Saya gak tahu keberpihakan Roy Suryo, itu kepada siapa.
03:46Mungkin juga gak ada.
03:47Tapi kembali ke jawaban saya.
03:49Itu kan sama dengan mengatakan begini.
03:51Tapi kembali dulu ke jawaban.
03:52Bung Ade, kan sama dengan mengatakan begini.
03:54Kalau Bung Roy tidak pernah melihat ijazahnya,
03:58maka tidak bisa diklaim oleh Bung Roy bahwa ijazah itu palsu.
04:02Itu sama dengan, karena PDI merasa terluka dengan Pak Jokowi,
04:08tidak serta-merta mereka yang berada di belakang mereka.
04:11Itu sama.
04:12Saya lagi mengatakan.
04:14Itu sama derajatnya.
04:16Oleh karena itu kalau Bung...
04:17Yang saya mau katakan begini,
04:19kalau Bung Ade gak bisa menyatakan atau bisa menyatakan yang pertama,
04:24tidak bisa menyatakan yang kedua,
04:26yang pertama juga tidak bisa dinyatakan.
04:28Bro, bro, ijazah Pak Jokowi itu bukan aurat.
04:34Harus dibuka.
04:35Bukan aurat ya.
04:36Beliau ini menggugat bahwa Pak Jokowi itu ijazahnya palsu.
04:42Mana ada orang yang susah-susah tarik ijazah.
04:43Kemudian karena itu dia berbohong.
04:46Karena dia berbohong sebenarnya,
04:48proses dia menjadi seorang presiden itu seharusnya dinyatakan tidak sah.
04:53Anda juga begitu kan?
04:54Pak Gibran itu tidak sah seharusnya menjadi wapres.
04:57Sekarang dinyatakan, gak sah sekarang.
04:59Iya, Anda menyampaikan.
05:01Saya cuma mengatakan,
05:03kalau Anda, Anda kan bertanya pada saya,
05:05menurut Anda, wahai Ade Armando,
05:08kira-kira yang berada di belakang ini siapa?
05:09Saya menyebut beberapa kemungkinan.
05:13Belum tentu benar.
05:15Anda bisa bahkan mengatakan,
05:17gila ini argumennya sangat tidak masuk akal.
05:19Gak apa-apa.
05:20Tapi saya mau bilang satu,
05:21yang bisa disebut sebagai,
05:23yang banyak disebut sebagai kemungkinan di belakang ini semua,
05:26kalau betul ini semua adalah sesuatu yang saling berhubungan adalah satu,
05:30kemungkinan PDIP.
05:31Kedua,
05:32kelompok yang disebut sebagai kelompok 212,
05:35itu terkait sama Anies Baswedan.
05:38Dua Saplen dong.
05:39Oke,
05:39satu-satu.
05:40Satu-satu.
05:41Lanjut, lanjut.
05:42Iya kan?
05:43Tertanya harus dua-satu.
05:44Dua Saplen.
05:44Langan dia lanjut.
05:45Ketiga adalah kelompok Merhoi Suryo,
05:47yang orang menyebut bahwa,
05:50jangan-jangan di sini adalah Partai Demokrat.
05:52Wah.
05:53Kemudian disebut pula,
05:54ada yang mengatakan bahwa,
05:56di belakang ini ada sebuah kekuatan besar,
05:58misalnya negara Amerika Serikat.
06:00Kemudian ada pula yang mengatakan bahwa,
06:04ini teman-teman,
06:05Anda pernah dengar istilah SJW,
06:08Social Justice Warriors ini,
06:10lagi bergerak untuk menunjukkan bahwa,
06:13kami peduli pada demokrasi.
06:14Sekarang,
06:15kembali Anda tanya,
06:17lalu menurut Anda yang mana?
06:19Saya nggak bisa jawab.
06:21Tapi yang jelas begini.
06:22Analisis kok nggak bisa analisis.
06:24Yang benar begini.
06:26Kalau Roy Suryo ingin mengatakan bahwa,
06:29ijazah Jokowi itu palsu,
06:31jelas kami argumen,
06:34bukti,
06:35yang bisa dipakai,
06:36untuk mengatakan bahwa,
06:37ijazah Pak Jokowi palsu.
06:40Buang ijazah Pak Jokowi itu,
06:42tidak pernah dipertunjukkan kok katanya.
06:47Bang Le,
06:48Presiden ketujuh,
06:51Republik Indonesia Jokowi itu sendiri,
06:53mengatakan bahwa,
06:54ini ada yang backup,
06:55sehingga bertahan sekian lama.
06:57Kenapa sih kita menyebut Presiden ketujuh?
06:59Kenapa kita nggak menyebut,
07:01mantan Presiden?
07:02Bekas Presiden.
07:03Ya boleh lah, kenapa?
07:04Iya makanya saya mau tanya,
07:05kenapa mantan Presiden gitu ya?
07:07Kenapa Presiden ketujuh?
07:10Iya,
07:10selalu masih kuasa.
07:11Nah yang kedua kan pertanyaannya,
07:12apa benar ada di belakang,
07:15ya,
07:16apa,
07:16kekuatan besar gitu.
07:17Di Republik ini,
07:18kekuatan besarnya itu ada pada Pak Prabowo.
07:21Iya.
07:22Salah satu.
07:23Siapa lagi yang lebih kuat dari Pak Prabowo?
07:25Dia Presiden Republik Indonesia.
07:28Maksudnya?
07:29Sebuah kekuatan,
07:29apa,
07:30apa namanya,
07:31kekuatan,
07:32kekuasaan ada di tangan beliau.
07:35Jadi kalau Pak Prabowo,
07:37Pak Jokowi mengatakan,
07:38ada kekuatan besar,
07:40mestinya analisa pertamanya itu,
07:42yang memiliki kekuasaan besar di Republik ini siapa?
07:44Pak Prabowo.
07:46Apakah dengan sendiri Pak Prabowo,
07:48berada di belakang kasus ini?
07:50Lagi-lagi kita nggak tahu kan,
07:52kalau berdasarkan kekuatan besar.
07:53Sebab kalau disebut dengan PDI,
07:55itu jangkar ketiga, keempat.
07:59Pertama, mereka nggak punya kekuasaan.
08:01Bahkan ketika mereka mau,
08:03apa namanya itu,
08:04menyelamatkan sekjen mereka aja,
08:06mereka nggak bisa.
08:08Gimana mereka menggerakkan Bung Roy,
08:10yang kita tahu misalnya,
08:11nggak ada hubungannya sama sekali.
08:13Dengan PDI Perjuangan.
08:14Bahkan ketika Bung Roy dulu berkuasa,
08:17PDI adalah oposisi.
08:18Terhadap demokrat kan.
08:20Seringkali justru,
08:21PDI dengan Bung Roy ini,
08:22berdebat, berlawanan.
08:25Jadi, di mana titik temunya?
08:26Kalau disebut misalnya 2-1-2,
08:29makin nggak kena.
08:31Kenapa?
08:33PDI Perjuangan dengan 2-1-2,
08:36di mana ketemunya?
08:38Kan penjelasan itu semua harus diperlihatkan dong.
08:42Titik temunya,
08:44setidaknya ada irisan yang memungkinkan mereka,
08:46kita lihat ada bertemu.
08:47Pak SBE dengan Pak Ibu Mega,
08:50kita tahu.
08:50Ada juga.
08:52Bahkan belum pernah bertemu ya,
08:55secara khusus di antara keduanya.
08:56Baik yang nyata-nyata maupun yang bisik-bisik.
08:59Nggak pernah kita dengar ketemu.
09:01Jadi, kalau disebut dengan pertanyaan itu,
09:04dari mana kekuatan besarnya PDI Perjuangan?
09:07Makanya bukan dia di level pertamanya,
09:09di level pertamanya itu adalah Pak Prabowo,
09:11sebagai orang paling kuat.
09:13Saya mau bilang gini,
09:17saya tidak pernah bilang bahwa PDIP bekerja sama dengan 2-1-2.
09:22Tidak sekalipun saya mengatakan itu.
09:24Yang saya katakan,
09:26kalau sekarang orang berusaha mencari jawaban tentang,
09:29kalau ada sesuatu yang di belakang Anda semua.
09:30Iya, saya mengembangkan analisa Anda.
09:33Saya mengembangkan analisa itu.
09:35Kalau ada bisa beberapa.
09:36Sebab saya kan mengatakan,
09:36Bisa lebih dari 5.
09:37BDI sebagai partai,
09:40kan masih giliran saya.
09:42BDI sebagai partai,
09:44ya kan,
09:45dilihat level keempat, kelima dalam kekuatan itu.
09:48Jadi kalau Pak Jokowi dan Bung Ade mengatakan ada kekuatan besar,
09:53asumsinya itu gabungan kekuatan.
09:55Jokowi dan saya itu gak ada hubungan.
09:57Yang melibihi kekuatan yang real gitu loh.
09:58Nah gabungan kekuatan itu,
09:59saya rangkum dari apa Bung Ade tadi sebutkan.
10:02Ada 2-1-2,
10:04ada PDI Perjuangan,
10:05ada Demokrat,
10:06ada siapa lagi nih?
10:07Iya.
10:08Nah itu kalau digabungkan tuh,
10:09itu yang saya mengatakan.
10:11Yang jelas.
10:12Jadi,
10:12Bung Ade mengeluarkan analisis.
10:14Saya sambung analisisnya,
10:16ditolak lagi Bung Ade.
10:17Bung Ade kan lucu juga.
10:19Yang jelas ada binatang.
10:21Jadi yang ada binatang.
10:22Yang dimaksud,
10:23yang dimaksud Bang Ade itu menggabungkan kekuatan ini tergabung,
10:27atau satu-satu.
10:28Ini yang menarik.
10:29Itu kan makanya saya mulai dengan pernyataan,
10:31apakah orang-orang ini adalah istilah di barat itu,
10:35analisis or what?
10:36Gini lah.
10:37Lone world orang yang sendiri-sendiri.
10:40Atau Roy Suryo itu ada yang membacking.
10:42Nah ini ada yang membiayai misalnya.
10:44Kalau menurut Bang Ade ada gak yang backingin?
10:46Mungkin sekali.
10:47Mungkin sekali.
10:47Mungkin sekali.
10:48Yang jelas,
10:48yang jelas ada binatang besar di Balai Ade Armando.
10:52Binatangnya namanya Gajah.
10:54Gajah itu PSI.
10:56Gajah itu gak punya ijazah.
10:58Nah itu.
10:59Kalau Roy Suryo di belakangnya ada panji.
11:01Bukan.
11:02Karena menganalisa mengukur diri yang sendiri.
11:04Oke, baik.
11:05Saya ke Mas Agung.
11:07Di belakang Roy Suryo itu ada panji.
11:09Saya coba banget ya.
11:10Oke, saya ke Mas Agung.
11:12Mas Agung.
11:12Orang sudah gak bisa ngapil.
11:14Oke, saya dulu.
11:14Mas Agung.
11:15Kata Presiden Jokowi ada yang backup katanya.
11:17Sementara saya kutip tadi kata Bang Reh.
11:20Ya orang paling kuat kalau mau backup ya Prabowo Subianto sebagai Presiden.
11:23Ya pertama kalau misalnya kita membaca judul ini ya.
11:26Serangan ijazah Jokowi, Gibran.
11:28Ini kan personal.
11:29Kemudian reshawal kabinet itu institusional.
11:32Hak prerogatif Presiden.
11:33Kemudian Prabowo Jokowi retak.
11:35Tanda tanya.
11:36Ini agak melompat sebenarnya.
11:38Kenapa?
11:38Karena hak prerogatif itu bukan hanya menyasar Solo.
11:41Tapi juga Toko Umar.
11:42Dan tidak menutup kemungkinan kalau CKS gak bisa bekerja.
11:45Juga akan di reshuffle ke depan.
11:47Itu satu.
11:47Yang kedua.
11:49Kalau ditanya siapa yang bermain di sini.
11:51Ya saya sering kali menyampaikan ada tiga.
11:54Ya orang-orang yang tidak atau kecewa dengan Pilpres 2024 hasilnya seperti itu.
11:59Yang kedua ada punya kepentingan di 2029.
12:03Yang ketiga.
12:04Ada punya kepentingan 2029?
12:06Ya pasti.
12:07Karena ini kan saling berkelindan keduanya.
12:10Yang ketiga yang kemudian kecewa dengan kinerja Presiden Jokowi.
12:15Dua priode.
12:16Dan saya di sini tidak sepakat sama Bang Re.
12:19Kalau misalkan kita kenapa harus memanggil dia Presiden ke-7.
12:24Atau Presiden ke-1, Presiden ke-2.
12:26Buat saya itu penting.
12:27Konstruksi kita berbangsa harus menghormati jasa-jasa para Presiden kita.
12:31Sekecil apapun itu.
12:33Ya karena kalau nggak seperti itu bangsa ini nggak akan pernah besar.
12:36Itu kan sama dengan menyebutkan kalau saya sebut mantan Presiden.
12:40Mantan Presiden nggak masalah.
12:41Tapi jangan bermasalah kan orang menyebut Presiden ke-7.
12:44Enggak.
12:44Saya bertanya kenapa sih kita menyebut Presiden ke-7.
12:48Itu kan pilihan.
12:49Mengapa kita tidak menyebut mantan Presiden?
12:51Tapi pilihan kita harus lebih berkualitas Bang.
12:53Kita harus menghargai seluruh Presiden-Presiden kita.
12:55Kualitas itu yang saya kesoalkan.
12:57Bahwa seolah-olah kalau kita mengatakan Presiden ke-7 lebih berkualitas dari mantan Presiden.
13:03Bukan.
13:03Presiden pertama pun saya sebut Presiden ke-1.
13:05Presiden ke-2.
13:06Presiden ke-3.
13:07Iya.
13:07Cara kita berbangsa harus berkualitas.
13:09Republik Indonesia seolah-olah lebih berkualitas dari kalimat mantan Presiden.
13:14Ya kurang pas.
13:15Ini bernegara, berbangsa.
13:17Harus kita hormati jasa-jasa para Presiden.
13:20Seperti itu.
13:20Itulah pertanyaannya.
13:21Kalau saya sebut mantan Presiden.
13:24Apakah dia sendirinya merendahkan yang bersangkutan?
13:26Tidak.
13:27Tapi konotasinya.
13:28Konotasinya mantan itu lebih cenderung, peoratif Bang.
13:31Negatif.
13:32Apakah itu semua?
13:33Kalau begitu.
13:34Presiden pertama, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5.
13:37Ini kalau kecenderungannya itu tidak berkualitas.
13:40Bukan.
13:40Mantan itu konotasinya peoratif Bang.
13:42Negatif.
13:43Kurang baik.
13:43Dari mana?
13:45Mantan itu bagus.
13:47Kadang-kadang kita bisa balik ke mantan kok.
13:49Enggak.
13:50Saya ingin kita bawa konstruksi berbangsa-bernegara.
13:53Jadi.
13:54Kasih bekasnya.
13:55Kasih balik lagi.
13:56Bunga Adek adalah.
13:58Bekas Presiden.
13:58Masih suakit.
14:00Apa namanya.
14:01Alumni ke-70 dari sekolahnya.
14:03Jadi kita tidak bisa sebut.
14:05Bunga Adek adalah mantan sekolah Anu.
14:08Sebab itu seolah-olah merendahkan Bunga Adek.
14:10Kita ngomong berbangsa-bernegara Bang.
14:12Bukan ngomong personal-personal lagi.
14:14Jadi.
14:14Kalimat mantan ini harus dicocokkan kembangsaan negara pula.
14:18Itu harus naik kelas terus.
14:18Seperti itu.
14:19Untuk Presiden, Wakil Presiden.
14:20Untuk Menteri juga harus seperti itu Bang.
14:22Oke.
14:22Supaya tertip demokrasi kita jalan.
14:24Itu aja posisi.
14:25Oh jadi balik ke pertanyaan yang tadi itu kira-kira.
14:27Jadi tiga aktor itu.
14:28Ya kalau gitu panggilnya mantan kora ke-11.
14:31Tiga aktor itu yang saya sebutkan.
14:33Ini sangat mudah.
14:34Dan tidak menutup kemungkinan.
14:36Dalam konteks ini.
14:37Saya mengkritik Pak Jokowi juga.
14:40Bisa jadi.
14:41Ya struktur yang dia katakan orang besar.
14:43Ada orang yang backup.
14:44Itu juga kurang pas.
14:46Karena kan ini semua berkumpul.
14:48Bisa jadi person by person.
14:50Yang punya kepentingan tadi.
14:512024, 2029.
14:54Kemudian yang kecewa dengan pemerintahan Pak Jokowi.
14:56Jadi saya ingin mempurnakan analisis Pak Jokowi.
14:58Bahwa ini bukan kekuatan besar saja.
15:01Ini bukan ada yang backup.
15:02Tapi person by person yang punya kepentingan yang sama.
15:05Jadi maksud Anda Pak Jokowi harus menyebutkan saja siapa yang dia maksud?
15:08Persis.
15:09Nah supaya apa?
15:09Supaya kita tidak gaduh.
15:10Supaya jelas ini arahnya kemana.
15:12Karena person by person dalam era seperti sekarang.
15:15Teknologi.
15:16Kemudian ada kemalaikan informasi yang dahsyat.
15:19Sangat mungkin yang tidak terhubung tadi.
15:20Jadi satu.
15:21Jadi punya kepentingan.
15:22Pak Subhan, Bang Roy, yang lain.
15:25Bersama.
15:25Karena memang selama ini melihat ada masalah di masa lalu yang belum selesai.
15:29Dan itu membuat kita lebih dewasa, lebih bijak melihat semua ini.
15:32Ada masalah ijajah, yaudah kita kawal.
15:34Gimana ujungnya?
15:35Gak ada masalah juga kita kawal.
15:36Maksudnya kita objektif saja.
15:38Supaya apa?
15:38Supaya kualitas kita berbangsa dan bernegara lebih baik seperti ini.
15:41Nanti saya sambung lagi ke sana Mas Agung.
15:42Saya ke Bang Rifai.
15:43Bang Rifai, carut marut gugatan dan pelaporan terkait ijazah ini.
15:47Apakah ini hukum jadi alat politik jadinya?
15:50Oke.
15:50Jadi memang saya ikuti ini kan sejak tahun 2022.
15:55Pertama kali IJSA Pak Jokowi dipersoalkan oleh teman-teman TPUA.
16:00Bambang Tri.
16:01Jadi Bambang Tri yang mengugat tapi menguasakan keadaan teman-teman TPUA.
16:04Masuk tahun 2022.
16:07Di tingkat PN sudah diputus.
16:08Dijantakan tidak dapat diterima.
16:10Masuk ke tingkat banding.
16:12Yang menjadi menarik saat itu adalah kok tidak kasah sih?
16:15Rata-rata setiap perkara sampai finalnya.
16:17Ini berhenti.
16:18Lalu saya sempat mendiskusikan.
16:20Ini kenapa?
16:21Loh, pas berhenti ternyata pelpres sudah selesai.
16:24Sehingga waktu itu kita lihat, oh ini tidak murni nih.
16:27Karena biasanya orang full sampai mahkamah agung.
16:30Itu analisis ya.
16:30Kembali lagi analisis.
16:32Kok selesai pelpres dia berhenti.
16:34Pak Jokowi turun.
16:36Kita sudah bubar.
16:37Kuasa sudah berakhir.
16:39Tahu-tahu akhir tahun 2024.
16:40Akhir tahun kemarin.
16:41Masuk laporan baru.
16:42Ijazah di Baris Krim.
16:44Muncul lagi kok TPU lagi gitu kan.
16:46Oke.
16:47Kita ikuti.
16:48Tidak lama muncul.
16:50Kugutan-kugutan berikutnya.
16:51Digugat lagi di PN Surakarta.
16:53Masuk lagi gugatan di PN Sleman gitu ya.
16:57Sekarang juga masuk lagi gugatan class action.
17:00Oleh Bang Slafik lagi di Surakarta.
17:02Dan terakhir dari Bang Suban.
17:04Di PN Jakbus ya.
17:06Nah kita melihat kok ini.
17:09Upaya-upaya hukum ini kok.
17:11Apa namanya.
17:12Semakin kesini semakin besar gitu ya.
17:15Masif ya.
17:17Sekarang pun dasarnya itu aja.
17:18Tidak ada sesuatu yang baru.
17:20Nah terakhir-terakhir.
17:21Sebenarnya di dalam perjalanan.
17:22Bang Le sudah ikut-ikut bicara maksud-maksud juga.
17:26Tapi saya pikir masih belum ada gerakannya.
17:27Waktu itu bergabung sama tim.
17:30Mantan general ya.
17:31Bergabung masih oke.
17:33Tapi masuk lagi gugatan Bang Suban.
17:35Dan bicara juga makzul.
17:36Akhirnya kita bisa melihat.
17:38Bahwa prediksi kami.
17:40Dari beberapa tahun yang lalu.
17:41Kita lihat akhirnya bahwa.
17:43Seolah-olah ini hak masyarakat yang ingin menguji.
17:46Apa namanya.
17:47Birokrasi kita gitu ya.
17:48Ternyata ujung-ujungnya lebih ke arah politik.
17:51Jadi itulah.
17:52Kenapa.
17:53Dan semakin waktu.
17:54Apa sih?
17:54Sering waktu semakin terbukti.
17:56Dan yang menarik kedua disini.
17:58Saya cukup apresiasi Pak Jokowi ya.
18:00Terlalu pas ini klien saya.
18:01Beliau tidak reaktif loh.
18:03Sebagai.
18:04Apa namanya.
18:05Mantan presiden.
18:06Atau presiden ketujuh.
18:07Oke.
18:07Boleh dibilang.
18:08Baru pertama kali loh.
18:09Ada presiden digugat begitu gencar ya.
18:12Mohon maaf loh.
18:12Pak Soeharto aja gak begitu-begitunya.
18:14Iya.
18:14Pak Soeharto gak salah loh.
18:15Secara masif.
18:15Gugat sana-gugat sini.
18:17Dan beliau mengikuti saja.
18:17Sabar aja.
18:18Oke.
18:19Semua diikuti satu persatu.
18:21Dijawab satu persatu.
18:22Karena memang satu.
18:23Dia yakin betul.
18:25Apa yang diperolehnya selama ini adalah.
18:27Barang yang sah.
18:28Benar.
18:28Oke.
18:29Lalu kedua.
18:29Dia juga menurut saya sudah menghitung juga.
18:31Arah politik ini kemana.
18:33Dan juga sudah.
18:34Oke.
18:34Pertusan politik sudah beliau sudah.
18:36Pakarnya lah.
18:36Kami hanya menangin secara hukum.
18:38Dan kami juga confident.
18:39Oke.
18:39Mas Roy.
18:39Ini gak.
18:40Ya.
18:40Komentar sedikit yang bugatannya Bang Subban tadi.
18:42Oh iya.
18:42Sudah diterima di pengadilan.
18:44Diterimanya baru sekedar pendaftaran.
18:45Apa.
18:46Bahwa nanti kan nanti ada eksepsi.
18:48Ada putusan setelah.
18:49Ada putusan akhir.
18:49Nanti kita lihat dalam perjalanannya.
18:52Mas Roy ini gak cuma masalah hukum.
18:53Gak murni hukum.
18:54Ada sub-politik disitu.
18:57Kalau mantan presiden atau presiden ketujuh.
18:59Katakanlah kalaupun presiden ke-6.
19:01Katakanlah kalau presiden ke-5 itu punya masalah.
19:04Ya pasti digugat.
19:05Oke.
19:06Introspeksi diri dong.
19:07Gitu.
19:07Kenapa dia banyak digugat.
19:09Ya pasti punya masalah banyak.
19:10Gitu aja.
19:11Kalau enggak kan pas presiden ke-6.
19:13Saya mau mengatakan begini.
19:14Mbak.
19:14Sekali pun agak ngelih kelesu ya.
19:15Apapun nanti putusannya.
19:17Ujungnya ya politik.
19:19Taruh misalnya.
19:21Bisa dibuktikan bahwa ijazah itu palsu.
19:23Ya kan.
19:23Khususnya yang berkaitan dengan ijazahnya Gibran.
19:25Udah palsu lah itu.
19:26Dengan sendirinya ya.
19:27Langkah politik terjadi.
19:29Bagaimana seorang presiden ternyata ijazahnya palsu.
19:34Oke.
19:35Itu dengan sendirinya politik.
19:37Cuma untuk mendasarkan diri.
19:39Melakukan gerakan politik itu.
19:41Harus ada dulu dasar hukumnya.
19:43Oke.
19:44Inilah Mbak.
19:45Tapi yang menarik itu Mbak.
19:46Jadi sedih.
19:47Jadi kalau udah berkaitan dengan presiden.
19:49Wakil presiden.
19:49Coba kita berpikir secara jernih nih teman-teman mahasiswa semua nih.
19:52Mirsa.
19:52Tahun 2023-2022 Mas Bambang Tri menuduh ijazah Pak Jokowi itu ijazah yang palsu SD.
20:00Palsu SMB.
20:01Palsu SMA palsu.
20:02Oke.
20:03Tahun 2023-2024.
20:08TPUA dan Bang Roy bilang ijazah S1 yang palsu.
20:10Oke.
20:10Sekarang 2025 dia bilang lagi anaknya palsu.
20:13Oh iya.
20:14Jelas kalau gitu.
20:14Segitu-gitunya gitu.
20:15Ada seseorang ijazah SPSM-BSEM-S1 palsu.
20:19Bungri Pai.
20:19Bungri Pai.
20:20Secara komonsensi.
20:21Kalau gini loh.
20:22Kalau anda gelisah Bungri Pai.
20:25Gelisah soal kok ayah dituntut soal ijazah palsu.
20:30Anak dituntut soal ijazah palsu.
20:32Mestinya menginjam Bung Agung tadi ya.
20:34Kita berpikir demi kepentingan bangsa yang lebih besar.
20:37Kok anak ayah berkuasa.
20:39Anak juga ikut berkuasa pada waktu yang pun bersamaan.
20:42Nah.
20:43Kenapa?
20:43Itu problem berbangsa mernegara.
20:45Kenapa?
20:46Dan.
20:46Kalau itu dipertanyakan bagaimana proses pertama itu.
20:49Kalau ada gelisah ya.
20:50Kalau itu jangan dibikin dengan foto-foto.
20:51Mestinya yang kita gelisahkan itu.
20:53Kok bisa dinasti politik merajalin.
20:56Gimana dinasti politik di situ?
20:58Loh gajah.
20:58Oke.
20:58Sudah tidak berbuah.
21:00Itu.
21:00Itu pertanyaannya.
21:02Itu proses politik.
21:03Bang.
21:03Ini sepakat transformasi harus kita jaga.
21:05Takai harus kita berantai.
21:06Betul.
21:07Tapi konstruksinya adalah begini.
21:08Dan sudah jelas.
21:08Seorang itu bisa menjadi pencabat dengan dua cara.
21:12Diangkat dan dipilih.
21:13Iya.
21:14Oke.
21:14Kalau diangkat kita tolak kita lawan.
21:16Itu bukan lagi dinasti.
21:17Tapi kalau dipilih rakyat.
21:18Sorry bang.
21:18Itu lagi bukan.
21:19Itu hak konsepensi setiap warga negara.
21:21Setiap warga negara bersahap memilih dan dipilih.
21:23Dinasti itu.
21:23Apa salahnya gue yang bisa diangkat ya.
21:25Sudah diarahkan kerajaan.
21:27Kalau diangkat itu negara kerajaan.
21:29Dinasti itu dalam proses yang kita sebut.
21:30Dulu kita akan ribut informasi karena dulu batu itu diangkat oleh Pak Harto sebagai menteri.
21:34Makanya itu menjadi kakaian.
21:35Itulah sebabnya kita lawan dahulu.
21:37Betul.
21:37Maka sekarang dua kita lawan.
21:39Oke.
21:40Baik.
21:41Kita lawan.
21:42Apa mau bilang?
21:43Apa mau bilang?
21:45Seluruh anak pejabat tidak boleh berkarir.
21:46Baik diangkat bahwa dipilih.
21:48Enggak.
21:48Mengangkat itu.
21:49Manusia mengambat.
21:50Mengangkat hak.
21:51Itulah.
21:52Makanya kita menyebut tadi kata.
21:54Pada waktu yang bersamaan.
21:57Jadi kalau sekiranya.
21:59Presiden ada jedanya dengan anaknya 5 tahun.
22:02Gak apa-apa.
22:02Tidak ada masalah.
22:03Tinggal dibuat hukumnya kalau begitu.
22:05Oke.
22:05Tapi yang jelas gini.
22:07Saya jelas gini.
22:08Di mana saya merasa tidak lain.
22:10Saya akan menarik.
22:12Saya akan menarik.
22:13Seperti yang sebutkan oleh Bung Agung.
22:17Itu gak boleh menjaga.
22:17Ayo kita berpikir besar.
22:19Pemgir Republik ini.
22:20Kalau akhirnya besar.
22:21Pemgir Republik ini.
22:22Pak S.G.
22:23Sudah.
22:23Saya.
22:24Oke.
22:24Pemgir Republik ini.
22:25Pemgir Republik ini.
22:26Pemgir Republik ini.
22:27Pemgir Republik ini.
22:28Pemgir Republik ini.
22:28Pemgir Republik ini.
22:28Pemgir Republik ini.
22:30Pemgir Republik ini juga membutuhkan spekulasi.
22:31Apa betul ada isu bersih-bersih orang Jokowi di pemerintahan.
22:34Bola Liar.
22:35Sekarang kembali.
22:35Pemgir Republik ini.
22:43Pemgir Republik ini.
Komentar