- 5 bulan yang lalu
- #menkeu
- #menterikeuangan
- #kombis
KOMPAS.TV - Kompas Bisnis mengupas tuntas gebrakan awal Menteri Keuangan yang baru, yang langsung menarik dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia.
Langkah ini menuai sorotan dan pertanyaan besar, apa dampaknya bagi perekonomian nasional? Kali ini Kompas Bisnis berbincang dengan ekonom dan peneliti Universitas Gadjah Mada, Sekar Utami Setiastuti.
Sahabat KompasTV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube KompasTV, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.
Jangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia, yuk subscribe channel youtube KompasTV. Aktifkan juga lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV.
Sahabat KompasTV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv
#menkeu #menterikeuangan #kombis
Baca Juga [FULL] DPR Hingga BNPB Tanggapi soal Banjir Parah yang Terjadi di Bali, Apa Faktornya? di https://www.kompas.tv/regional/617058/full-dpr-hingga-bnpb-tanggapi-soal-banjir-parah-yang-terjadi-di-bali-apa-faktornya
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/617059/full-ekonom-feb-tanggapi-gebrakan-menkeu-baru-guyur-bank-bumn-rp200-triliun-apa-dampaknya
Langkah ini menuai sorotan dan pertanyaan besar, apa dampaknya bagi perekonomian nasional? Kali ini Kompas Bisnis berbincang dengan ekonom dan peneliti Universitas Gadjah Mada, Sekar Utami Setiastuti.
Sahabat KompasTV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube KompasTV, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.
Jangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia, yuk subscribe channel youtube KompasTV. Aktifkan juga lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV.
Sahabat KompasTV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv
#menkeu #menterikeuangan #kombis
Baca Juga [FULL] DPR Hingga BNPB Tanggapi soal Banjir Parah yang Terjadi di Bali, Apa Faktornya? di https://www.kompas.tv/regional/617058/full-dpr-hingga-bnpb-tanggapi-soal-banjir-parah-yang-terjadi-di-bali-apa-faktornya
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/617059/full-ekonom-feb-tanggapi-gebrakan-menkeu-baru-guyur-bank-bumn-rp200-triliun-apa-dampaknya
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa akan memindahkan dana pemerintah
00:05senilai 200 triliun rupiah yang ada di Bank Indonesia ke sistem perbankan.
00:15Rapat kerja Kementerian Keuangan dengan Komisi 11 DPR RI berlangsung rabu siang 10 September 2025.
00:21Dalam rapat ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bilang
00:24bakal memindahkan dana pemerintah senilai 200 triliun rupiah dari Bank Indonesia ke sistem perbankan.
00:30Purbaya mengklaim langkah ini sebagai cara mendorong pertumbuhan ekonomi dan hidupkan kembali aliran kredit.
00:36Bisa berperan di situ dengan memindahkan sebagian uang yang selama ini ada di Bank Sentral,
00:42kebanyakan ada 430 triliun, saya pindahin ke sistem perbankan,
00:4820 triliun akan nyempa di sistem supaya uangnya bisa tumbuh dan ekonomi bisa jalan lagi.
00:52Jadi nanti bukan, saya juga sudah berbicara dengan Deputi Senior Bank Indonesia
00:57untuk tidak menyerap uang itu sehingga uangnya bisa dipakai untuk sistem perbankan.
01:03Taruh di bank saja dalam bentuk di rekening pemerintah di bank.
01:08Jadi saya tidak ada apa-apa jaminan uang saja,
01:11tapi kan bank akan mendiamkan uang itu, itu ada cost-nya.
01:16Dia akan terpaksa mencari return yang lebih tinggi dari cost-nya.
01:19Di situlah mulai pertumbuhan kredit tumbuh.
01:23Jadi saya memaksa mereka mekanisme berjalan dengan memberi senjata ke mereka.
01:28Jadi memaksa perbankan berpikir lebih keras untuk bekerja,
01:33supaya dapat return yang tinggi.
01:36Sementara Ketua Komisi 11 DPR RI Muhammad Nisbahun minta MENQ baru
01:39bisa meredam keresan publik pasca aksi demonstrasi beberapa panggangan terakhir ini.
01:44Ini mencerminkan kondisi ekonomi real masyarakat soal biaya hidup dan keadilan fiskal.
01:48Selain ekonomi, desain besarnya itu akan seberapa framework Bapak?
01:53Mewujudkan itu.
01:55Bagaimana kita keluar dari zona defisit ketika Pak Presiden dalam pidatonya,
02:02itu bukan sebuah retorik Bapak.
02:04Tapi itu sebuah keinginan seorang kepala negara
02:10untuk membuat APBN itu zero defisit.
02:15Mungkinkah?
02:18Ketika pertanyaan itu,
02:20mungkinkah siapa yang akan menjawab probability ini?
02:26Ya para pembantu Presiden.
02:27Sebelumnya, perubayaan sebagai Menteri Keuangan yang menggantikan Sri Mulyani sangat percaya diri.
02:33Ekonomi dalam negeri akan cerah dalam waktu singkat, yaitu 3 bulan.
02:36Kita kawal bersama, bahwa ekonomi cerah bukan soal utak atik angka,
02:41tetapi kondisi akaranting yang tidak kering,
02:44apalagi pemerintah gagal mengendalikan masalah beras.
02:47Vicky Kuen, Tim Liputan, Kompas TV, Jakarta.
02:53Akan berdampak apa uang 200 triliun rupiah yang ditarik Kementerian Keuangan dari Bank Indonesia?
02:59Kompas Bisnis tanya ke ekonomi dan peneliti Universitas Gajah Mada,
03:02Sekar Utami Setiaustuti.
03:04Selamat pagi, Bu Soekar.
03:06Terima kasih sudah menggabung di Dialog Kompas Bisnis pada pagi hari ini.
03:12Bu Soekar, kalau kita melihat perbedaan karakter,
03:15Men-Q lama dan baru ini menjaga fiskal.
03:20Konservatif salah satunya versus risk taker.
03:23Apa plus minusnya buat APBN dan ekonomi kalau menurut Anda?
03:27Baik, terima kasih pertanyaannya Mas.
03:29Jadi, kalau kita lihat Bu SMI selama masa jabatannya memiliki fiskal stance yang relatif hati-hati ya.
03:37Jadi kalau kita lihat, beliau selalu menjaga defisit yang realistis,
03:42Kemudian fokus pada program prioritas, menjaga stabilitas fiskal,
03:46Dan juga melakukan reformasi pada sisi penerimaan.
03:50Saya lihat Pak Purbaya sepertinya lebih ingin mengambil stance yang lebih ekspansif
03:58Atau lebih aktif dalam penggunaan instrumen fiskalnya.
04:02Terutama yang disampaikan adalah untuk mendorong pertumbuhan dan daya beli.
04:06Nah, pertanyaannya adalah apakah stance konservatif itu buruk?
04:10Sebenarnya it's not necessarily bad ya.
04:12Karena kondisi atau kita lihat ya stance yang konservatif itu diperlukan untuk menjaga fundamental dan kredibilitas fiskal.
04:22Jadi ada beberapa kelebihan stance yang konservatif misalnya adalah menjaga kepercayaan pasar.
04:28Ya, supaya resiko premi utang itu rendah.
04:30Kemudian supaya rupiah lebih stabil.
04:33Kemudian juga kalau kita lihat kestabilan makro, inflasi lebih terjaga dan tidak ada lonjakan defisit yang kemudian misalnya bisa memicu krisis fiskal.
04:42Nah, yang penting adalah ruang fiskal jangka panjang nih Mas.
04:45Ya, karena kalau misalnya nanti ada krisis lagi, negara kita masih punya ruang untuk stimulus gitu.
04:51Kita masuk ke kondisi pandemi di mana kondisi fiskal kita waktu itu sangat kuat ya.
04:57Perbankan dan fiskalnya itu kuat gitu.
04:59Jadi kita punya debt to GDP ratio yang cukup rendah ya waktu itu ya.
05:03Jadi kalau kemudian kita masuk kondisi pandemi, defisit terpaksa dilebarkan waktu itu ya, kita masih punya space untuk itu.
05:12Kalau misalnya kita nggak punya space untuk itu, otomatis beban generasi mendatang itu menjadi cukup berat ya.
05:17Karena kemudian ada lonjakan utang dan juga mungkin bisa eksplosif dalam jangka panjang.
05:22Oke Mbak, berarti Anda mau bilang kalau misalkan tidak ada kejadian luar biasa, ini sesuatu yang positif ya dilakukan oleh Menkyo yang baru?
05:29Harus hati-hati juga ya, karena kita harus lihat juga efeknya ke perbankan dan inflasi ya.
05:33Oke, Mbak ini ketika uang 200 triliun rupiah ini digelontorkan ke sistem, pertanyaannya siapa sebenarnya yang diuntungkan?
05:42Oke, pertama digelontorkan kemana ya?
05:47Kalau Bank BUMN ya maka kemudian Bank Himbara gitu kan, yang otomatis langsung menerima dana likuiditas sebesar 200 triliun ya yang direncanakan.
05:58Jadi modalnya lebih kuat, kemudian lebih lewasa menyalurkan kredit.
06:01Kalau kita lihat perbankannya juga neracanya jadi lebih besar dan likuid gitu.
06:05Kemudian juga disalurkan kemana? Misalnya disalurkan ke korporasi besar, maka kredit itu kemudian misalnya akan masuk ke industri legislasi, infrastruktur, energi.
06:16Itu akan mendapatkan pembiayaan yang mungkin relatif lebih murah.
06:20Nah pertanyaannya adalah apakah kemudian ada perluasan penyaluran kredit ke UMKM?
06:26Ini penting ya, karena dalam prakteknya Bank itu lebih sering memilih untuk menyalurkan dana ke debitur yang besar karena resikonya rendah.
06:35Nah BI sendiri sebenarnya sudah ada kebijakan yang namanya RPIM, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial, untuk memperkuat inklusi keuangan.
06:44Tapi sebenarnya efektivitasnya masih cukup terbatas juga nih mas.
06:47Karena pertama menyalurkan kredit ke UMKM itu resikonya lebih tinggi.
06:52Kedua ini yang paling penting nih, kalau ada pelemahan pertumbuhan kredit UMKM yang kemudiannya didorong oleh sisi demennya ya.
07:00Terutama kalau kita lihat daya beli masyarakat masih rendah, misalnya masih ada sikap kehati-hatian karena ketidakpastian ekonomi saat ini.
07:08Maka ya loan demennya akan rendah gitu.
07:11Dan dari sisi UMKM itu mungkin juga nanti nggak akan terlalu efektif ya untuk mendorong inklusi keuangan gitu.
07:19Oke, oke.
07:20Dan juga kalau kita melihat Mbak Tadi Anda sudah mengatakan bahwa di tengah kondisi yang saat ini,
07:25benarkah likuiditas atau suntikan 200 triliun ini bisa nantinya merangsang sektor real?
07:32Oke, ini jawabannya bisa dan tidak nih mas.
07:36Kita lihat dulu misalnya dari, kalau kita lihat oke, ada loan supply dan loan demand kan ya.
07:43Loan supply itu keterusiaan dana untuk dipinjamkan yang otomatis akan meningkat drastis kalau kemudian ada suntikan dana ke bank ataupun ke bank BUMN gitu.
07:52Nah, tapi kredit itu hanya akan mengalir kalau ada loan demand kan ya dari usaha dan kemudian dari masyarakat gitu.
07:59Nah, kalau demandnya itu rendah maka kemudian ya itu tadi likuiditas yang berlebihan itu maka akan diparkir di instrumen yang aman seperti SBN, SBN atau SRBI gitu.
08:10Jadi sebenarnya pertama bisa meningkatkan aktivitas ekonomi kalau pertama mengalir ke sektor atau investasi yang produktif.
08:17Kemudian dana tersebut digunakan untuk capital deepening, jadi meningkatkan modal per worker gitu ya, sehingga produktifitas meningkat.
08:26Dan kemudian diarahkan ke sektor-sektor yang mendorong transformasi struktural, misalnya modern agriculture misalnya gitu ya, atau energi terbarukan, atau manufaktur, atau ekonomi digital.
08:36Permanfaatnya adalah itu tidak akan berdampak kalau itu tadi misalnya digunakan untuk konsumsi, atau misalnya hanya disalurkan ke korporasi besar.
08:46Jadi ada resiko dan side efeknya juga nih mas ya.
08:49Pertama juga kalau kita lihat misalnya bank ini nanti jadi kurang selektif nggak menyalurkan kreditnya gitu.
08:55Jadi kan ada resiko kredit yang muncul dari situ.
08:58Kemudian juga pasti ada biaya fiskalnya ya, karena kan 200 riliun ini dari kas negara.
09:02Kalau itu tidak efektif, ini adalah kayak lost opportunity ya, kesempatan yang hilang untuk membiayai hal-hal yang penting.
09:10Misalnya pendidikan, kesehatan, atau inovasi, research and development misalnya itu.
09:16Itu ada sesuatu hal yang kemudian nanti dikorbankan.
09:20Nah saya, penting nih mas, kayaknya kalau kita lihat pertumbuhan jangka panjang, 8% itu easy to communicate ya.
09:26It's signal foundation.
09:28Tapi kalau kita lihat langkah yang diambil oleh pemerintah, MBG, KDMP, itu ya.
09:33Itu sebenarnya masih kurang ya, karena fokusnya ke capital di pening.
09:37Sedangkan yang kita lihat, membutuhkan jangka panjang itu, pertumbuhan itu membutuhkan misalnya kenaikan total faktor productivity,
09:46inovasi, dan R&D yang kuat, reformasi institusi, transport, kemudian integrasi ke rantai global gitu.
09:54Jadi ya, masih debatable sih, apakah efeknya positif, jangka pendek, jangka panjang.
10:01Oke, Mbak tadi Anda sudah sedikit menyinggung, bahwa diantara uang yang ditarik adalah saldo anggaran lebih atau sal.
10:08Ini tiba-tiba ada shock atau kejadian luar biasa, apa antisipasi yang harus dilakukan pemerintah?
10:13Tapi sebelum Anda menjawab, kita saksikan pesan jadah berikut.
10:16Terima kasih masih di Kompas Bisnis, bersama saya Mario Sarong, dan narasumber saya ekonom dan peneliti Universitas Gajah Mada, Sekar Utami Setia Astuti.
10:27Mbak Sekar saya lanjutkan, bahwa diantara uang yang ditarik adalah saldo anggaran lebih atau sal.
10:32Kalau tiba-tiba, misalkan ada shock dan kita tidak memiliki cadangan lagi, satu sisi mau nerbitin utang, utang yield, ini ternyata kadung tinggi misalnya.
10:44KRN Pasar sudah mencium kegawatan itu, apa sebenarnya antisipasinya?
10:51Oke, ini pertanyaan yang bagus banget ya, Mas Yaai.
10:53Jadi, bagaimana jika terjadi shock?
10:56Kita kan sebenarnya sudah kembali lagi ke kondisi yang normal ya.
11:01Nah, shock ini nanti penting karena misalnya terjadi shock dan tidak ada cadangan, maka pertama adalah defisit fiskal harus dilebarkan dan itu secara drastis ya.
11:10Seperti yang kita lihat waktu pandemi 2020.
11:13Jadi, utang itu akan meningkat secara tajam.
11:15Dulu waktu tahun 2020, debt to GDP ratio kita, utang kita terhadap GDP itu relatif rendah gitu.
11:22Nah, kemudian otomatis nanti biaya utang akan naik.
11:24Ruang belanja itu semakin terbatas.
11:26Kemudian, yang pasti adalah ada pemotongan belanja.
11:29Jadi, program-program yang penting seperti kalau sekarang ada MBG, ada KDMP itu ya, itu harus tertunda.
11:36Jadi, yang tetap jalan adalah pengeluaran yang sifatnya atau belanja yang sifatnya rutin gitu kan.
11:42Nah, ini juga nanti kemudian otomatis ya.
11:45Kalau kita tidak punya cadangan fiskal yang cukup, fiskal buffernya tidak cukup, maka stimulus itu pasti akan dikurangi.
11:52Jadi, kalau kita lihat belajar dari pandemi, kalau misalnya kemudian tidak ada, misalnya tidak ada burden sharing dengan BI, kita akan berpaksa untuk menambah hutang dengan bunga yang amat sangat tinggi.
12:03Karena kemudian fiskal space kita terbatas, maka resisinya akan jauh lebih dalam gitu ya.
12:09Nah, kalau kita lihat sekarang apa yang harus dilakukan kalau pemerintah itu terlalu ekspansi pertanyaan gitu, maka di shock berikutnya kita akan kehilangan fleksibilitas fiskal.
12:19Satu.
12:20Yang kedua, tadi utangnya melonjak dengan cepat ya.
12:23Kemudian yang jelas pasti pasar itu akan kehilangan kepercayaan dan ekonominya itu akan menjadi lebih rapuh gitu.
12:29Jadi, kalau saya lihat, the expansionary stance itu harus diimbangi dengan penciptaan buffer.
12:36Jadi, jangan hanya kemudian dilihat dari sisi belanjanya aja, tapi gimana caranya kemudian kita memperkuat penerimaan gitu.
12:44Jadi, nggak bisa hanya satu sisi aja ya mas, karena APBN ini kan ada kemudian penerimaan dan belanja gitu.
12:50Oke, tapi sebenarnya apa dampak penarikan uang ini bagi Bank Indonesia sebenarnya mas Eka?
12:54Oke, kalau saya lihat sih, pertama dari posisi neraca Bank Indonesia ya, karena misalnya 200 triliun dipindahkan ke Bank BUMN, maka pertama simpanan pemerintah di BI berkurang.
13:05Kemudian cadangan perbankan di BI akan naik gitu ya.
13:07Jadi, kalau dari kita lihat neracanya, sisi pacify itu bergeser dari government deposit ke bank reserve gitu.
13:14Pertama, dampak pada likuiditas perbankan akan besar.
13:16Nah, dari sisi BI ini berarti ada excess liquidity.
13:19Kalau tidak diantisipasi, maka kemudian akan bisa menengkan suku bunga pasar uang jangka pendek.
13:27Kemudian, yang paling penting adalah dampak terhadap mandat BI sebenarnya mas ya.
13:31Jadi, misalnya kemudian kalau dana di Bank BUMN itu bisa mengalir, mengalir ya, if ya, mengalir ke kredit misalnya konsumsi gitu kan,
13:39maka pertama akan menambah tekanan inflasi.
13:41Not that we don't, not that it's bad ya, karena kalau kita lihat inflasi sekarang kan judulung terkendali dan judulung rendah gitu ya.
13:50Tapi, ini harus diperhitungkan.
13:52Nah, yang kedua adalah ini mas, stabilitas sistem keuangan.
13:56Karena salah satu mandat BI itu kan juga stabilisasi sistem keuangan ya, lewat macro financial policy.
14:02Nah, kalau likuiditasnya longgar, kemudian Bank BUMN itu menyalurkan kredit lebih banyak, perlu dipastikan bahwa kualitas kreditnya tidak menurun.
14:12Begitu, karena kalau kemudian kualitas kredit menurun, kemudian juga tadi disalurkan ke sektor-sektor yang kurang produktif,
14:21maka kan sebenarnya defeats the purpose of mendorong pertumbuhan gitu kan.
14:24Tapi, memperburuk stabilitas sistem keuangan gitu.
14:27Nah, satu yang juga sih kayaknya kan banyak terkait independensi itu ya.
14:32Nah, itu juga nanti kita harus lihat juga nih, karena sebenarnya independensi Bank Indonesia itu kalau kita lihat yang menurut saya ya,
14:38bukan sesuatu hal yang binary 0-1.
14:42Itu independensinya berkurang mungkin, iya ya.
14:45Nah, itu juga nanti bisa mempengaruhi kredibilitas BI di mata investor gitu.
14:50Oke, dan juga yang jadi pertanyaan masyarakat, baik itu di media sosial, media mainstream, ataupun dalam obrolan,
14:57dengan apa yang dilakukan oleh MENQ baru ini, apakah ada risiko hyperinflasi sebenarnya?
15:03Karena uang beredar itu bertambah.
15:06Baik, menurut saya kita jangan terlalu khawatir dengan itu ya,
15:12karena saya paham dan saya tahu teman-teman Bank Indonesia juga memahami dengan baik gitu ya,
15:19bahwa penciptaan uang untuk kemudian membiayai program-program pemerintah,
15:24dimanapun negara di dunia, itu akan end up with hyperinflation ya.
15:28Jadi saya berpikiran bahwa BI tidak akan serakles itu, pemerintah juga nggak akan serakles itu mas.
15:36Jadi kalau kita lihat risiko hyperinflation, penciptaan uang, itu kemungkinan masih kecil.
15:42Tapi ini juga harus dipahami ya, yang namanya hyperinflation karena penciptaan uang itu terjadi dalam jangka panjang.
15:50Kalau misalnya kemudian dalam jangka pendek untuk misalnya tadi ya,
15:53itu adalah respon untuk krisis yang amat sangat besar seperti pandemi,
15:57that's actually fine gitu ya, tapi kemudian harus ada aturan kapan kemudian itu di ease off gitu.
16:02Jadi bottom line kalau menurut saya risiko hyperinflation masih cukup rendah,
16:08tapi kita juga harus hati-hati, kayaknya kita juga perlu kemudian melihat ya,
16:14semoga independensi bang Indonesia tidak semakin lama semakin menurun gitu.
16:18Oke, terima kasih ekonomi dan peneliti Universitas Gajah Mada,
16:22Sekarutami Setia Astuti, apa yang disampaikan ini semoga bisa menjadi solusi mitigasi juga
16:30buat pemerintah bagaimana caranya mengambil kebijakan termasuk juga menangani resiko-resiko yang
16:36seperti yang Anda bilang tadi, muncul ada kejadian-kejadian yang tidak terduga yang bisa muncul ke depan harinya.
16:42Sekali lagi, terima kasih Mbak Sekar atas apa yang disampaikan.
16:46Sehat-sehat selalu.
Komentar