Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - 14 tahun sudah KompasTV hadir untuk Anda, mengabarkan informasi faktual dan sebenar-benarnya langsung dari lokasi.

KompasTV juga berkomitmen untuk jujur, menjaga independensi, serta kepercayaan masyarakat.

Salah satunya seperti saat aksi unjuk rasa yang ramai beberapa waktu lalu, ketika jurnalis KompasTV melaporkan informasi aktual dari lapangan. Kini, kami hadirkan cerita mereka untuk Anda.

Selamat HUT ke-14, KompasTV! Semoga terus konsisten menyajikan berita yang faktual, jujur, dan independen.

#hut14kompastv #harmoni #media #independen

Baca Juga Polisi Tahan Direktur Lokataru, Yusril Ihza Mahendra Kunjungi Delpedro| KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/nasional/616562/polisi-tahan-direktur-lokataru-yusril-ihza-mahendra-kunjungi-delpedro-kompas-petang



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/616566/kisah-jurnalis-di-hut-ke-14-kompastv-tantangan-kawal-demokrasi-menyuarakan-suara-rakyat
Transkrip
00:00Saudara 14 tahun sudah, Kompas TV hadir untuk Anda.
00:04Mengabarkan informasi faktual yang sebenarnya, yang langsung dari lokasi.
00:09Kompas TV juga berkomitmen jujur menjaga independensi dan kepercayaan masyarakat.
00:13Salah satunya seperti saat aksi unjuk rasa yang ramai beberapa waktu lalu.
00:17Jurnalis Kompas TV melaporkan informasi aktual.
00:21Kami hadirkan cerita mereka untuk Anda, Saudara.
00:23Saudara, saya akan datangi secara langsung Bako Brimob di kawasan Kuitang, Jakarta Pusat.
00:30Untuk melihat situasi apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang sesungguhnya ingin disuarakan.
00:36Bisa diinsasin serau.
00:53Akhirnya, kami juga agak kesulitan di sini.
00:59Ini di depan gedung DPRD Provinsi Jawa Barat.
01:02Di sini masih terlihat pihak kepolisian yang melakukan bersih-bersih.
01:08Dan memang karena barusan di lokasi kami melaporkan ini adalah tempat di mana gas air mata ditembakkan.
01:15Sehingga ini membuat saya cukup kesulitan dalam melakukan reportase dan juga berbicara di sini.
01:22Karena aroma pedas dari gas air mata ini masih cukup pekat.
01:28Ini sampai membuat saya cukup kesulitan dan mata juga cukup perih.
01:43Untuk akses jalan kami lihat tetap beroperasi seperti biasa.
01:48Karena kalau Anda lihat di belakang saya...
01:49Pemirsa Kompas TV di tengah situasi unjuk rasa yang begitu ramai tentunya Jurnalist Kompas TV hadir untuk mengabarkan.
02:01Tapi saya juga pengen denger nih cerita juga dari salah satu Jurnalist Kompas TV.
02:06Ya ini Zevanya Situmoyang.
02:07Halo Zevanya.
02:08Halo Kak Wokta, Saudara Kompas TV.
02:11Zevanya cerita dong pengalamannya.
02:13Kemarin kan unjuk rasa rame banget.
02:15Bahkan juga berujung ada yang kericuhan juga.
02:18Nah itu gimana waktu itu pengalamannya?
02:21Pengalaman pertama yang cukup menegangkan pastinya.
02:24Karena pertama kali saya ngeliput demo juga di tahun ini.
02:27Dan tentu seneng juga ngelihat bagaimana masyarakat itu sangat semangat ya.
02:34Dari mahasiswa, dari berbagai instansi.
02:36Itu sama-sama mau menyuarakan apa yang menjadi keresahan mereka untuk pemerintah.
02:41Tentu hal yang panjang, tugas yang panjang.
02:44Kadang kita shift dari pagi, pulang gak bisa malam.
02:48Tapi capek rasanya.
02:50Tapi meskipun begitu karena semangat dari teman-teman juga sama.
02:53Jadi tetap ada energi sih untuk mengabarkan kepada pemirsa yang nonton semua di rumah.
02:58Zevanya waktu itu pernah nemu kendala gak sih selama proses meliput?
03:03Terutama di tanggal 25 sampai 31 Agustus.
03:05Ya kebetulan aku mulai ngeliput dari tanggal 25-nya banget.
03:09Dan di situ memang kericuhan pertama kali terjadi kan.
03:12Itu masih siang hari tapi udah ricuh suasananya.
03:16Tembakan gas air mata juga ada.
03:18Itu sih paling kendala yang dirasain adalah ketika ada gas air mata.
03:22Kita pasti kocar-kacir kesana-sini, kepisah sama campers.
03:26Itu momen panik juga karena kita gak tau tim kita dimana, kita gak tau kondisinya gimana.
03:31Belum lagi dari kantor, kita harus live, harus mengabarkan kepada yang nonton di rumah seperti apa.
03:36Tapi di satu sisi juga kondisi lagi deg-degan, tegang, menghirup gas air mata juga agak sesek gitu ya.
03:42Tapi ya mau gak mau kita tetap harus punya energi untuk bisa kasih informasi yang tepat dan aktual, terpercaya juga tentunya.
03:49Polisi melepaskan.
03:52Tembakan gas air mata, saudara.
03:59Mohon, Kem.
04:00Kalau gak salah ada tembakan gas air mata lagi deket gue.
04:03Kesitu, asapnya muncul.
04:04Oh udah, abis gue di situ.
04:05Abis dalam arti gue gak bisa, gak bisa gomong-gomong mungkin ketarik ya.
04:09Udah nyangkut kali ya.
04:11Udah nyangkut di tenggorokan sama hidung gue.
04:13Ya udah, kalau gas air mata itu kan kalau misalnya belum masih ketahan nih.
04:17Masih ketahan di mata hidung sama tenggorokan mungkin masih bisa diantisipasi.
04:21Tapi kalau udah nyangkut, ya udah.
04:23Kalau boleh dijelasin tuh, itu momentum gue inget mati lah ya.
04:27Serius.
04:27Karena apa?
04:28Karena ketika gue dibantu evakuasi sama Mbak Veron dan Arief.
04:33Itu tuh gue gak bisa nafas sekali.
04:35Gue tuh gak bisa nafas sama sekali.
04:37Ya bayangin aja, orang gak bisa nafas sama sekali.
04:41Dipaksa ya, Don Tana Putin untuk lari.
04:43Di situ tuh gue mikir, ini nih penyebab dari begitu banyak korban jiwa yang lahir karena tembakan gas air mata.
04:49Gue gak tau saat itu tuh gas air matanya beda banget sama yang dipati.
04:53Kapolri untuk menginvestigasi secara mendalam gitu ya.
05:02Life aku rada jadi kayak konsentrasi aku terbagi antara Meller sama Material Life Report.
05:08Karena itu bener-bener Meller yang belum pernah aku alami sebelumnya.
05:12Bener-bener, aduh Mellernya tuh parah.
05:14Biasa tuh saat ada satu peristiwa besar, kita tuh betul-betul ada di depan peristiwa itu untuk melaporkan.
05:21Kita betul-betul tahu apa sih sebetulnya yang lagi terjadi gitu loh.
05:25Kami akan tunjukkan yang ini adalah gambar terkini.
05:28Aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Provinsi Jawa Barat.
05:33Dan itu sekaligus menunjukkan sih apa sih namanya di layar bagaimana sebetulnya kondisi di lapangan saat itu.
05:51Itu yang menarik untuk jadi seorang jurnalis ya.
05:57Kita harus membedakan antara memihak dan tidak memihak.
06:06Tapi beruntungnya Kompas TV itu sangat ingin mendapatkan gambar terbaik.
06:13Tapi itu sebetulnya prioritas utama kita untuk layar.
06:17Tapi prioritas yang lebih utama lagi daripada prioritas utama kita adalah keselamatan.
06:22Jadi saat kemudian sudah mulai ricuh-ricuh yang udah mulai ada lempar-lempar segala macem.
06:28Kita ambil gambar dulu nih kalau masih aman, abis itu jauh.
06:31Paling enggak kalau campersku tuh selalu ngajak fit, ayo fit, titik aman.
06:34Jangan sampai kita ntar kayak ketimpu atau apa.
06:37Ya berada di tempat yang agak jauh dari demonstran, agak jauh juga dari polisi.
06:45Tapi di situ tempatnya aman gitu lah.
06:49Jadi buat gambar bagus, buat kita melarikan diri juga aman gitu.
06:53Gitu sih.
06:54Kalau sukanya ya pengalaman sih.
07:00Bagi saya itu pengalaman.
07:02Pengalaman berharga sih bagi saya.
07:04Bisa meliput langsung ke lapangan, segala macem.
07:08Ya kalau dukanya ya kita sama dengan demonstran kayak kena gas air mata.
07:14Kayak kita ikut lari-lari.
07:16Kayak ikut takut kelempar juga.
07:19Itu sama.
07:21Enggak mungkin demo udah berhari-hari gitu ya.
07:23Tidak ada perubahan apa-apa.
07:24Itu harusnya ada perubahan yang bisa diberikan kepada masyarakat.
07:28Supaya apa yang jadi perjuangan tidak sia-sia.
07:30Semoga 17 plus 8 tuntutan rakyat bisa terrealisasi.
07:39Kita butuh kerja nyata, bukan omon-omon.
07:42Kalau buat unju raksa, buat pendemo ya.
07:49Harapan saya sih tetap bersuara.
07:53Soal 17 plus 8 tuntutan rakyat itu.
07:58Tetap berada di jalur demo yang benar.
08:04Dan contohnya kayak tidak merusak fasilitas gitu.
08:09Saling jaga, jangan sampai ada kericuhan yang akhirnya menimbulkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.
08:17Jangan sampai akhirnya ada korban yang berjatuhan.
08:19Jangan sampai akhirnya.
Komentar

Dianjurkan