00:00Rituan Kamil meminta polisi melakukan tes DNA untuk kepastian hukum gugatan atas hak identitas anak buntut dugaan perselingkuhan.
00:08Apa saja proses dalam tes DNA dan berapa lama hasilnya?
00:12Kita bahas bersama dengan nasib Banggoloi Situmorang, dokter spesialis forensik dan mediko-legal.
00:19Selamat siang, dokter.
00:22Selamat siang.
00:23Ya, dokter nasib. Kasus Rituan Kamil versus Selegram Rituan Kamil memasuki Bapak Akhir.
00:30Tes DNA telah dijalani keduanya kemarin. Kenapa harus ada tes DNA, dok?
00:37Ya, terima kasih. Tes DNA itu adalah untuk membuktikan identifikasi dari seseorang.
00:43Apakah DNA itu turunan dari orang tuanya atau bukan.
00:47Jadi harus bisa diplastikan dan itu bisa dilihat dari kesamaan, kecocokan.
00:56Apakah DNA yang dari turunan mereka itu sudah cocok atau sesuai dengan dari garis keturunan dari orang tuanya.
01:04Itu jadi untuk identifikasi seseorang itu kegunaan dari tes DNA.
01:11Pengecekan identitas begitu ya, dok?
01:13Ya, identifikasinya.
01:15Identifikasi. Lantas prosesnya itu membutuhkan waktu berapa lama, dok?
01:19Apakah memang hingga berminggu-minggu, begitu hingga tiga minggu?
01:23Bagaimana prosedurnya atau prosesnya bisa sampai selama itu?
01:30Itu kan sebenarnya tidak lama sebenarnya.
01:34Tapi kan hanya untuk pengambilan sampel itu yang dibutuhkan.
01:37Satu.
01:38Sampel kan diambil ada tiga.
01:42Satu sampel daripada yang mau dipertanyakan.
01:44Yang kedua adalah sampel dari si ayah.
01:50Yang ketiga adalah sampel dari si ibu.
01:52Untuk dipastikan nanti kecocokan dari DNA ketiga ini.
01:56Mana yang cocok? Apakah memang dia cocok?
01:59Maka akan dikatakan jawabannya nanti akan kecocokan.
02:02Nah, lalu setelah diambil sampel itu dan itu harus dipastikan bahwa sampel itu tidak bisa dimanipulasi.
02:08Contoh itu sampel diambil.
02:12Dan yang mengambil itu harus memang betul-betul sampel itu adalah sampel si ayah itu yang dibawakan sampai nanti kemasukan ke laboratorium.
02:21Jadi bisa jangan sampai dimanipulasi atau terganti.
02:24Itu yang kita harus dijaga.
02:28Maka penyidik harus betul-betul memastikan bahwa itu harus bisa.
02:34Yang mereka ambil sampelnya itulah sampel yang harus disampaikan ke laboratoriumnya.
02:39Memang memungkinkan ada manipulasi itu di tengah-tengah proses DNA ini dok?
02:43Semua bisa memungkinkan terjadi.
02:47Maka itu yang harus dikawal betul harus itu diikuti.
02:54Sehingga kalau penyidik, kalau ini kan ada contoh ya kasus untuk sudah ditangani oleh penyidik.
03:01Maka penyidik itu harus mengkawal ini sampai ke tingkatnya ke laboratorium yang dibutuhkan.
03:08Jangan sampai nanti sampel ini tertukar atau ada hal-hal yang lain yang bisa membuatnya menjadi bias hasilnya nantinya.
03:19Jangan sampai jadi bias begitu harus benar berhati-hati dalam pengambilan sampel.
03:23Lantas sampelnya ini apa saja dok?
03:24Apakah benar bisa mewakili dari air liur dan darah saja?
03:28Atau kita bisa mengambil dari sampel-sampel lain begitu dari sang ayah dan ibu?
03:34Ya bisa dia diambil yang penting ada intinya.
03:37Dia bisa diambil dari air liur, dari rambut, dari darah, dari badan yang memang yang lebih kuat untuk mendapatkan sampelnya.
03:48Yang lebih kuat itu adalah contohnya diambil dari air liur.
03:55Itu lebih gampang untuk mendapatkan gambaran-gambaran DNA-nya nanti.
04:00Baru bisa dicocokkan.
04:01Nah itu biasanya memang kalau tergantung, makanya dibilang sampai dia 3 minggu, ya saya kira itu tergantung kepada pengambilan sampelnya ke lamanya sesuatu.
04:13Oke bagaimana?
04:14Dari kata seperti itu.
04:16Oke dokter Nasib, saya ingin bertanya terkait dengan tingkat akurasinya nih dok.
04:20Bagaimana tingkat akurasi dari tes DNA ini dengan sampel, kalau kemarin adalah dari darah dan air liur.
04:28Itu tingkat akurasi tes DNA dengan sampel tersebut seperti apa?
04:32Apakah memang benar-benar valid begitu?
04:35Atau mungkin ada kemungkinan ada apa ya, mis, atau kesalahan-kesalahan begitu ya, mungkin bisa saja terjadi?
04:42Nah kalau dari lambut dan air liur itu akurasinya sudah tinggi, kalau saya katakan ini akurasinya sudah sampai 90 persen itu.
04:55Akurasi kalau yang ambil air liur dan darah.
05:01Oke, terakhir ya dokter, perlukah lembaga independen lain untuk membandingkan hasil tes DNA polisi begitu?
05:09Dan penjabarannya akan seperti apa nanti?
05:12Kalau pemeriksaan tes DNA itu tidak perlu, saya rasanya tidak perlu untuk lembaga yang lain.
05:25Berkompetensi atau yang, apa namanya itu ya, kompetensinya sudah di situ adalah lembaga pemeriksaan DNA yang sudah dihunjuk laboratoriumnya.
05:34Jadi tidak perlu lembaga yang lain supaya nanti akan menjadi bias dan menjadi banyak nanti ide, apa namanya itu ya,
05:41pendapat-pendapat yang bisa membuat bias kemana-mana, padahal hanya satunya lembaga ilmunya sama, satu,
05:48pemeriksaannya masih tetap satu, betoninya masih tetap satu.
05:53Oke, dokter hasilnya nanti bentuknya akan seperti apa?
05:58Apakah kita membacanya positif-negatif atau identik-tidak identik?
06:02Seperti apa bentuk hasilnya nih dok?
06:05Biasanya hasilnya itu dikatakan 90 atau berapa persen persentase daripada identik-identiknya dari antara sampel dengan identiknya dengan sampel pembandingnya.
06:18Jadi dia, apa persentasinya dibuatnya?
06:21Kalau dia contohnya, dikatakan 90% berarti dikatakan identik.
06:26Atau ada yang mengatakan 76% biasanya, maka akan dilakukan pemeriksaan kedua.
06:29Nah, itu biasanya hasilnya.
06:33Berarti bentuknya adalah presentasinya begitu ya dok ya, presentasi identik atau tidak?
06:38Iya, presentasi identik atau tidak.
06:39Baik, terakhir dok. Ini intinya sebenarnya prosesnya ini yang urgent harus dikawali di proses mananya?
06:45Apakah pengambilan sampelnya atau di uji laboratoriumnya?
06:51Di pengambilan sampel dan penghantaran sampel sampai kepada laboratoriumnya.
06:55Oke.
06:57Itu yang harus dikawal. Kalau di laboratoriumnya kan tekniknya sudah sama.
07:02Oke, kita akan nantikan nanti hasilnya ya dok terkait dengan uji DNA.
07:08Dari Rituan Kamil dan Lisa Mariana.
07:12Terima kasih dokter Nasib Mangoloi Sitomorang, dokter spesialis forensik dan medico-legal.
07:18Terima kasih dokter.
Komentar