Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penuding ijazah palsu Jokowi, Rismon Sianipar mengatakan punya data-data yang bisa menunjukkan kepalsuan itu.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Guru Besar UGM 2018-2021, Prof. Koentjoro khawatir justru Rismon, Roy Suryo dkk dimanfaatkan sebagai panggung politik pihak-pihak tertentu.

"Saya susah khawatir Bang Rismon itu kalau dimanfaatkan. Bahwa politik itu butuh panggung, gitu loh. Dan kondisi yang seperti ini kok kelihatannya semakin mengulik, betul. Anda telah menciptakan post-truth di Indonesia seperti ini, karena banyak dukungan. Drone Emprit mengatakan bahwa Anda menang dalam hal data, dalam percakapan di media sosial maksudnya. Jangan-jangan nanti dimanfaatkan malah oleh kepentingan mereka karena ada panggung-panggung politik," ungkap Prof. Koentjoro.

"Anda merasa bahwa Bang Rismon ini justru bisa dimanfaatkan oleh orang untuk apa?," tanya Rosi.

Ya tadi untuk agar bisa duduk di panggung politik tertentu, biar dia masih tetap dikenal," lanjut Prof. Koentjoro.

Siapa maksudnya?



Selengkapnya saksikan di kanal youtube KompasTV: https://youtu.be/2hbrmnz8ZBU


#jokowi #ijazah #ugm





Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/608854/eks-guru-besar-ugm-khawatir-isu-ijazah-palsu-jokowi-dimanfaatkan-sebagai-panggung-politik-rosi
Transkrip
00:00Polemik seputar keaslian ijazah Jokowi tidak lagi semata persoalan dokumen akademik kasus ini menjadi ujian integritas lembaga pendidikan.
00:08UGM sebagai almamater Jokowi ikut terseret dalam pusaran yang berpotensi mengancam kredibilitasnya sebagai institusi pendidikan.
00:16Jika dugaan ini, jugaan ijazah palsu terbukti.
00:20Tapi bagaimana kalau tidak, saya masih bersama Prof. Kuncoro, Guru Besar Psikologi UGM yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar UGM tahun 2018-2021 dan alumni UGM Rismon Siani Park yang terus-menerus mempertanyakan keaslian ijazah Pak Jokowi.
00:39Saya ingin melihat dari dua alumni UGM ini.
00:44Prof. Kuncoro meyakini bahwa Pak Jokowi pernah kuliah, lulus dan memiliki uji ijazahnya yang asli.
00:52Dr. Rismon itu terus mempertanyakan keaslian ijazah Pak Jokowi.
00:58Pertanyaan saya adalah, Dr. Rismon, apa yang sebenarnya Anda cari?
01:06Sekali lagi saya katakan kita harus ke depan, harus memiliki pemimpin yang tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan klasik semacam ini.
01:16Kalau Anda misalnya tidak happy atau tidak puas dengan penjelasan rektorat, pihak rektorat UGM,
01:23tidakkah apa yang menjadi penjelasan Prof. Kuncoro itu bisa memberikan ruang kepercayaan pada Anda?
01:30Karena memang tidak ada penjelasan tentang itu dari UGM sejauh ini.
01:35Seperti saya katakan tadi, by data, tidak ada lembar pengesahan penguji di UGM.
01:42Ada yang mengatakan bilang, hilang katanya.
01:45Ada yang mengatakan, oh itu ada di belakang.
01:47Tidak ada di belakang.
01:48UGM pun bingung pada saat 15 April 2025.
01:52Jadi ketika tidak ada lembar pengesahan penguji,
01:54bagaimana UGM menjelaskan bahwa Jokowi Dodo lulus dari UGM.
01:59Apakah UGM se-universitas sekelas itu yang tidak ada setelah?
02:04Memang benar dibilang Prof. Kuncoro.
02:05Ada yang namanya ujian skripsi.
02:07Tetapi ada tahapan lain, yaitu revisi.
02:11Kalau revisi tidak dilakukan pun tidak akan lulus.
02:13Karena apa?
02:14Setelah ujian skripsi dilakukan revisi sesuai dengan keinginan penguji,
02:19baru ditanda tangani lembar pengesahan penguji.
02:22Oleh karena itu, saya setuju dengan statement Prof. Sofene Pendi meskipun sudah ditari.
02:26Bahwa skripsi itu belum pernah diuji.
02:30Dan skripsi itu menurut keterangan Prof. Sofene Pendi merupakan contek jiplakan dari pidato Prof. Sunardi.
02:37Dr. Rismon, Anda dan dua alumni yang lain, Anda seperti ingin sekali
02:42atau terus-menerus memiliki keinginan untuk membongkar soal ijazah Pak Jokowi.
02:49Anda tahu nggak bahwa Anda nggak memberikan trust sedikit pun dengan penjelasan Prof. Kuncoro?
02:55Karena saya baik data.
02:58Lembar pengesahan, bukan hanya itu saja yang saya teliti.
03:00Lembar pengesahan penguji, bukan itu saja.
03:03Lembar pengesahan pembimbing pun,
03:06itu jauh lebih, teknologinya jauh di atas 1985.
03:11Dan itu teknologi, itu sudah Microsoft Word tahun 92 ke atas.
03:17Saya kira itu dengan Sinambela,
03:20Yosua sudah dibantah pendapat Anda itu, Mas Rismon.
03:26Jadi di luar sana dengan Yosua, Sinambela itu sudah menjelaskan tentang,
03:33saya tidak menguasai tentang teknologi itu,
03:36karena itu bidang-bidang saya.
03:37Tetapi saya membaca tulisan Anda,
03:40perdebatan Anda atau jawaban-jawaban oleh Yosua Sinambela,
03:44itu sudah apa, kalau menurut saya sudah jelas.
03:47Kemudian yang kedua yang kadang-kadang saya bertanya-tanya,
03:50masalah pendidikan di Indonesia ini sangat banyak.
03:55Kenapa yang diuli itu hanya Jokowi?
03:57Sementara kita masih bisa melihat,
04:00ada seorang menteri yang mendapatkan gelar dokter hanya berapa waktu,
04:05tidak dipilih, gitu loh ya.
04:08Itu di saat ini.
04:09Itu membuat Anda bertanya bahwa ada apa gerakan alumni UGM ini,
04:16tiga orang alumni UGM ini hanya khusus terfokus pada Pak Jokowi?
04:21Ya karena Pak Jokowi...
04:21Kalau kami sayang pada Pak Rismon, Mas Rismon ya,
04:25Bang Rismon, saya sayang pada Pak Rismon.
04:27Saya susu-susu khawatir Bang Rismon itu kalau dimanfaatkan,
04:31bahwa politik itu butuh panggung, gitu loh.
04:33Dan kondisi yang seperti ini kok kelihatannya semakin mengulik, betul.
04:38Anda punya sukses, Anda telah menciptakan post-truth di Indonesia seperti ini.
04:44Karena banyak dukungan.
04:46Drun Emprit mengatakan bahwa Anda menang dalam hal data.
04:50Dalam percakapan di media sosial, maksudnya.
04:52Dalam percakapan di media sosial, gitu loh.
04:54Tetapi ketika masalah kebenaran itu nanti dulu, gitu loh.
04:57Ini memang kayaknya sekarang tadi, yang saya khawatir,
04:59kalau ini saya sayang betul menunjukkan pada Bang Rismon.
05:02Jangan-jangan nanti dimanfaatkan malah oleh kepentingan mereka,
05:05karena ada panggung-panggung politik itu.
05:07Anda mengerasa bahwa Bung Rismon ini justru bisa dimanfaatkan oleh orang untuk apa?
05:14Ya tadi untuk agar bisa duduk di panggung politik tertentu,
05:17biar dia masih tetap dikenal.
05:19Siapa maksudnya?
05:19Bisa jadi Pak Jokowi sendiri yang memanfaatkan.
05:22Jadi Anda justru ingin mengingatkan Dr. Rismon dan kawan-kawan,
05:26jangan justru dijadikan alat untuk terus membuat nama seseorang.
05:29Bisa jadi, karena itu adalah panggung yang membuat Pak Jokowi itu semakin dikenal.
05:34Barangkali kalau isi ini terkenal, mungkin nama Pak Jokowi sudah mulai tenggelam.
05:39Tapi dengan danya ini, dia selalu teraskan muncul terus.
05:43Oke, silahkan dijawab Dr. Rismon.
05:44Saya nggak percaya itu statementnya Profesor Kunchoro ya.
05:48Karena hal ini berkepanjangan sebenarnya dari pihak UGM sendiri.
05:52Nggak pernah menjawab apapun.
05:54Tidak pernah menjawab apapun dan menghindar.
05:57Di gelar perkara khusus, Baris Krim, kenapa UGM tidak hadir menghadapi kami?
06:02Face to face, menjelaskan semuanya.
06:04Dan itu selesai.
06:05Dan saya sebagai peneliti siap salah.
06:06Saya bukan orang UGM, jadi saya hanya dibukul jenis sebagai orang UGM.
06:11Tapi saya bukan orang rektorat.
06:13Sehingga saya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi.
06:17Kenapa tidak menjawab, kenapa tidak ini.
06:19Mereka pasti punya alasan tertentu yang saya juga tidak tahu.
06:23Artinya bisa boleh nggak kalau misalnya ada anggapan untuk menghentikan ini harusnya pihak rektorat juga menjelaskan.
06:31Sehingga ini tidak berkepanjangan.
06:33Atau misalnya Pak Jokowi.
06:35Sekarang pertanyaan saya.
06:36Berapa kali yang namanya Bu Ova, kemudian Grekan, itu sudah menjelaskan.
06:43Artinya Prof. Kuncoro ingin mengatakan bahwa
06:46Doktor Rismon Sianipar dan teman-teman,
06:49Anda sudah punya mindset bahwa ini pasti ijazah palsu.
06:53Tidak, tidak.
06:53Apapun penjelasannya, Anda nggak akan happy.
06:55Tidak, tidak.
06:56Karena memang tidak pernah ada penjelasan.
06:59Pengumuman dari Prof. Ova Emilia meyakini.
07:04Mana datanya?
07:07Setidaknya ada di gelar di situ data baru statementnya memastikan.
07:13Oke.
07:13Saya selalu, saya sudah mendengar penjelasan ini dari teman-teman yang menggugat ijazah Pak Jokowi.
07:20Anda selalu meminta, dilibatkan kami.
07:24Kami akan, kenapa kami tidak dibiarkan ikut mendengarkan.
07:28Gelar pada kami.
07:29Emang Anda siapa yang bisa mendapat privilege untuk supaya rektorat, polisi,
07:35ngasih ke Anda.
07:37Siapa Anda gitu loh.
07:38Saya warga negara.
07:40Pembayar panjang.
07:42Saya juga Siti Vitas Akademika, UGM.
07:46Menurut Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, saya punya hak.
07:50Apakah benar ijazah Pak Jokowi itu dipakai untuk capres itu?
07:53Dan dalam kertas suaranya, pada saat saya pilih sendiri Pak Jokowi,
07:58saya memilih Pak Jokowi tahun 2014.
08:00Di situ insinyur Jokowi Dodo.
08:02Itu hak saya sebagai warga, warga negara.
08:06Mungkin jutaan juga ingin memastikan.
08:08Apakah ijazah itu benar-benar ada sesuai dengan proses akademik yang dilaluinya?
08:13Ya, itu kan sudah tidak presiden lagi.
08:15Apalagi, apalagi yang mau Anda gugat.
08:17Tapi tetap saja, itu pernah dipakai.
08:22Ijazah itu pernah dipakai untuk mendapatkan dua kali presiden.
08:25Itu harus menjadi domen publik.
08:28Ini bukan jawaban saya, Pak Rektor ya.
08:33Tapi cuma saya memperkerjaan saja.
08:36Apakah kira-kira dalam hati rektorat itu adalah melindungi,
08:40melindungi data mahasiswanya.
08:46Kalau misalnya yang publik itu bukan pada rektorat,
08:49tapi mintanya pada Jokowi.
08:51Karena yang berat itu Jokowi.
08:52Tetapi rektorat itu melindungi.
08:56Ya, jangan tanya pada rektorat.
08:58Mintalah pada Jokowi itu membuka.
09:01Kalau minta pada universitas,
09:02saya kan melindungi sewarga.
09:04Karena itu seperti yang tadi Prof. Kuncoro mengatakan,
09:07itu bagian dari data pribadi.
09:10Bukan dari data pribadi,
09:13mahasiswanya.
09:14Bukan pribadi Bu Ova sebagai rektor.
09:17Tapi dia melindungi data pribadi mahasiswanya kan berat.
09:21Yang bernama Insinyur Jokowi Dodo.
09:24Meskipun yang bersangkutan sudah menjadi presiden,
09:27dan ia menjadi...
09:28Kalau dia mau minta datanya itu,
09:30mintalah pada Jokowi.
09:31Dan Anda memberikan juga seharusnya,
09:34merasa bahwa Pak Jokowi kasih lihat saja ijazahnya.
09:37Itu hanya Jokowi.
09:38Bukan saya berbicara dengan itu.
09:40Itu hanya Jokowi.
09:42Jadi jangan ditanyakan itu pada UGM.
09:44UGM berat untuk melindungi.
09:46Kalau kamu mengatakan hak ini,
09:49itu hak pada Jokowi.
09:50Tapi kalau universitas berat melindungi,
09:53itu anggota saya.
09:54Apakah saya bisa menjadi kompas TV ini?
09:56Saya mau minta data penjenengan?
09:58Tidak boleh.
09:59Yang boleh, tidak boleh.
10:00Kalau aku minta data penjenengan,
10:01Mbak Rosi akan harus pada Mbak Rosi.
10:03Jadi ketika Dr. Rismon mengatakan bahwa
10:05tidak ada penjelasan dari UGM,
10:07sehingga mereka merasa bahwa ada yang disembunyikan.
10:08Kenapa harus menonton UGM?
10:10Dilindungi atau disembunyikan?
10:12Loh, dilindungi atau disembunyikan sama saja.
10:14Kalau itu menurut saya bukan masalah.
10:16Karena apa?
10:17Setiap dia berhak untuk melindungi warganya.
10:20Profesor Kucoro,
10:23skripsi itu domen publik atau domen privasi?
10:26Sekarang saya bertanya kembali lagi,
10:28skripsi siapa?
10:29Skripsi semua mahasiswa yang ada di UGM.
10:31Yang ada di situ, skripsi dengan ijazah itu hal yang berbeda.
10:38Skripsi itu bisa dipaca publik.
10:41Tapi kalau ijazah, tidak.
10:44Nah, sekarang pertanyaannya,
10:45di mana skripsi Joko Widodo 1?
10:47Loh kan ada sekarang di...
10:48Tidak ada, Prof.
10:49Ini saya punya datanya kok.
10:50Di mana?
10:51EtD?
10:52Ini tadi saya...
10:53Dari mana ada?
10:54Dari mana ada?
10:55Saya datang beberapa kali ke Perpustakaan Fakultas Kota Nundu GM.
11:00Coba Profesor Kucoro datang...
11:02Loh, saya tidak punya datanya dari sini.
11:03Iya, ETD, ETD.
11:05ETD itu apa?
11:06Electronic Thesis and Dissertation.
11:08Nah, sekarang bahan-bahan sudah dimasukkan di elektronik itu semuanya.
11:11Gitu loh.
11:12Dan sekarang di dalam rangka komputerisasi semuanya,
11:15semua data dimasukkan di elektronik itu.
11:17Kemudian semua orang bisa mencari melalui ETD itu.
11:20Tidak harus secara fisik.
11:22Malah itu kalau misalnya fisiknya harus ada,
11:24itu ketinggalan zaman.
11:25Nah, dari ETD Joko Widodo yang Profesor Kucoro lihat di ETD itu,
11:31ada nggak lembar pengesahan pengujinya?
11:34Katanya Profesor Kucoro sudah memiliki data skripsi Joko Widodo elektronik.
11:38Saya punya, tetapi tidak untuk dilihat.
11:40Saya belum melihat, tetapi data itu lengkap.
11:43Iya, saya tanyakan ada tidak lembar pengesahan pengujinya?
11:45Iya, seharusnya ada.
11:47Kalau tidak ada, seperti dasar-satunya tadi.
11:48Tadi katanya Profesor sudah melihatnya.
11:51Sudah melihatnya, tapi tidak harus melihat.
11:52Itu detail semuanya.
11:54Itu kan cuma tiga halaman pertama, lembar pengesahan penguji.
11:57Yang saya lihat ini ada kira-kira 20-30 halaman,
12:01bukan hanya persoalan ijazah.
12:03Ada tidak lembar pengesahan pengujinya?
12:05Saya tidak melihat.
12:06Saya tidak belum melihat.
12:06Tadi katanya melihat.
12:08Loh, siapa yang melihat?
12:09Tadi melihat.
12:09Saya punya data, data saya itu mulai dari dia pengumuman diterima di UGM,
12:17sampai dengan yang namanya ijazah di belakang.
12:20Tidak mungkin kemudian saya itu membaca satu-satu,
12:23karena sekali lagi saya tidak punya kompetensi untuk itu.
12:26Tadi kan Profesor Kucoro mengatakan sudah melihat skripsi Joko Widodo ETD,
12:32melihat atau membaca Prof, ada tidak lembar pengesahan pengujinya?
12:36Di situ nama penguji, tanda tangannya, terus teman-teman.
12:38Jadi ketika Prof punya datanya, itu ada tanda tangannya atau tidak?
12:41Bisa jadi.
12:42Tapi apakah di situ saya ada datanya?
12:45Saya tidak sedetail itu.
12:47Jadi punya datanya, tapi tidak melihat sedetail itu.
12:50Iya, sedetail itu.
12:51Dan kenapa? Saya tidak punya kompetensi.
12:53Loh, enggak. Hanya sekedar, Dr. Rizmon ini hanya sekedar ini.
12:57Bukannya kan, katanya punya datanya.
12:59Kalau punya datanya seperti itu, ada enggak pengesahan, tanda tangan pengesahannya?
13:04Itu saja sebenarnya pertanyaan, Dr. Rizmon.
13:06Seharusnya ada.
13:08Bukan seharusnya ada.
13:09Loh, karena sekali lagi, ini adalah sebuah aturan di universitas.
13:13I know, begini Prof, pertanyaannya Dr. Rizmon ini sederhana.
13:16Ketika Prof Kucoro mengatakan, saya punya datanya.
13:20Pertanyaannya simple.
13:21Ketika punya datanya, itu ada lembar pengesahannya, enggak ijazahannya?
13:24Saya tidak tahu.
13:26Saya tidak tahu.
13:28Tetapi itu hanya saya melihat ada apa, judul dan sebagainya.
13:32Kalau itu sudah, karena sudah cukup.
13:34Tapi Anda tidak tahu ada lembar pengesahan.
13:37Kalau saya ditanyakan, saya sudah pernah melihat juga versi ETD dari skripsi Joko Widodo
13:42dan tidak ada juga lembar pengesahan pengusaha.
13:45Saya memastikan itu.
13:46Karena saya lihat, saya akses langsung di Perpustakan Fakultas Kota Nanugem.
13:51Tidak ada di versi ETD, lembar pengesahan penguji.
13:54Oke.
13:55Artinya, soal ijazah ini akan terus berlangsung.
13:59Ini tidak saja tentang kampus bernama UGM.
14:02Tapi ini juga tentang nama seseorang yang ingin terus-menerus dipersoalkan di ranah politik.
Komentar

Dianjurkan