00:00Polemik seputar keaslian ijazah Jokowi tidak lagi semata persoalan dokumen akademik kasus ini menjadi ujian integritas lembaga pendidikan.
00:08UGM sebagai almamater Jokowi ikut terseret dalam pusaran yang berpotensi mengancam kredibilitasnya sebagai institusi pendidikan.
00:16Jika dugaan ini, jugaan ijazah palsu terbukti.
00:20Tapi bagaimana kalau tidak, saya masih bersama Prof. Kuncoro, Guru Besar Psikologi UGM yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar UGM tahun 2018-2021 dan alumni UGM Rismon Siani Park yang terus-menerus mempertanyakan keaslian ijazah Pak Jokowi.
00:39Saya ingin melihat dari dua alumni UGM ini.
00:44Prof. Kuncoro meyakini bahwa Pak Jokowi pernah kuliah, lulus dan memiliki uji ijazahnya yang asli.
00:52Dr. Rismon itu terus mempertanyakan keaslian ijazah Pak Jokowi.
00:58Pertanyaan saya adalah, Dr. Rismon, apa yang sebenarnya Anda cari?
01:06Sekali lagi saya katakan kita harus ke depan, harus memiliki pemimpin yang tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan klasik semacam ini.
01:16Kalau Anda misalnya tidak happy atau tidak puas dengan penjelasan rektorat, pihak rektorat UGM,
01:23tidakkah apa yang menjadi penjelasan Prof. Kuncoro itu bisa memberikan ruang kepercayaan pada Anda?
01:30Karena memang tidak ada penjelasan tentang itu dari UGM sejauh ini.
01:35Seperti saya katakan tadi, by data, tidak ada lembar pengesahan penguji di UGM.
01:42Ada yang mengatakan bilang, hilang katanya.
01:45Ada yang mengatakan, oh itu ada di belakang.
01:47Tidak ada di belakang.
01:48UGM pun bingung pada saat 15 April 2025.
01:52Jadi ketika tidak ada lembar pengesahan penguji,
01:54bagaimana UGM menjelaskan bahwa Jokowi Dodo lulus dari UGM.
01:59Apakah UGM se-universitas sekelas itu yang tidak ada setelah?
02:04Memang benar dibilang Prof. Kuncoro.
02:05Ada yang namanya ujian skripsi.
02:07Tetapi ada tahapan lain, yaitu revisi.
02:11Kalau revisi tidak dilakukan pun tidak akan lulus.
02:13Karena apa?
02:14Setelah ujian skripsi dilakukan revisi sesuai dengan keinginan penguji,
02:19baru ditanda tangani lembar pengesahan penguji.
02:22Oleh karena itu, saya setuju dengan statement Prof. Sofene Pendi meskipun sudah ditari.
02:26Bahwa skripsi itu belum pernah diuji.
02:30Dan skripsi itu menurut keterangan Prof. Sofene Pendi merupakan contek jiplakan dari pidato Prof. Sunardi.
02:37Dr. Rismon, Anda dan dua alumni yang lain, Anda seperti ingin sekali
02:42atau terus-menerus memiliki keinginan untuk membongkar soal ijazah Pak Jokowi.
02:49Anda tahu nggak bahwa Anda nggak memberikan trust sedikit pun dengan penjelasan Prof. Kuncoro?
02:55Karena saya baik data.
02:58Lembar pengesahan, bukan hanya itu saja yang saya teliti.
03:00Lembar pengesahan penguji, bukan itu saja.
03:03Lembar pengesahan pembimbing pun,
03:06itu jauh lebih, teknologinya jauh di atas 1985.
03:11Dan itu teknologi, itu sudah Microsoft Word tahun 92 ke atas.
03:17Saya kira itu dengan Sinambela,
03:20Yosua sudah dibantah pendapat Anda itu, Mas Rismon.
03:26Jadi di luar sana dengan Yosua, Sinambela itu sudah menjelaskan tentang,
03:33saya tidak menguasai tentang teknologi itu,
03:36karena itu bidang-bidang saya.
03:37Tetapi saya membaca tulisan Anda,
03:40perdebatan Anda atau jawaban-jawaban oleh Yosua Sinambela,
03:44itu sudah apa, kalau menurut saya sudah jelas.
03:47Kemudian yang kedua yang kadang-kadang saya bertanya-tanya,
03:50masalah pendidikan di Indonesia ini sangat banyak.
03:55Kenapa yang diuli itu hanya Jokowi?
03:57Sementara kita masih bisa melihat,
04:00ada seorang menteri yang mendapatkan gelar dokter hanya berapa waktu,
04:05tidak dipilih, gitu loh ya.
04:08Itu di saat ini.
04:09Itu membuat Anda bertanya bahwa ada apa gerakan alumni UGM ini,
04:16tiga orang alumni UGM ini hanya khusus terfokus pada Pak Jokowi?
04:21Ya karena Pak Jokowi...
04:21Kalau kami sayang pada Pak Rismon, Mas Rismon ya,
04:25Bang Rismon, saya sayang pada Pak Rismon.
04:27Saya susu-susu khawatir Bang Rismon itu kalau dimanfaatkan,
04:31bahwa politik itu butuh panggung, gitu loh.
04:33Dan kondisi yang seperti ini kok kelihatannya semakin mengulik, betul.
04:38Anda punya sukses, Anda telah menciptakan post-truth di Indonesia seperti ini.
04:44Karena banyak dukungan.
04:46Drun Emprit mengatakan bahwa Anda menang dalam hal data.
04:50Dalam percakapan di media sosial, maksudnya.
04:52Dalam percakapan di media sosial, gitu loh.
04:54Tetapi ketika masalah kebenaran itu nanti dulu, gitu loh.
04:57Ini memang kayaknya sekarang tadi, yang saya khawatir,
04:59kalau ini saya sayang betul menunjukkan pada Bang Rismon.
05:02Jangan-jangan nanti dimanfaatkan malah oleh kepentingan mereka,
05:05karena ada panggung-panggung politik itu.
05:07Anda mengerasa bahwa Bung Rismon ini justru bisa dimanfaatkan oleh orang untuk apa?
05:14Ya tadi untuk agar bisa duduk di panggung politik tertentu,
05:17biar dia masih tetap dikenal.
05:19Siapa maksudnya?
05:19Bisa jadi Pak Jokowi sendiri yang memanfaatkan.
05:22Jadi Anda justru ingin mengingatkan Dr. Rismon dan kawan-kawan,
05:26jangan justru dijadikan alat untuk terus membuat nama seseorang.
05:29Bisa jadi, karena itu adalah panggung yang membuat Pak Jokowi itu semakin dikenal.
05:34Barangkali kalau isi ini terkenal, mungkin nama Pak Jokowi sudah mulai tenggelam.
05:39Tapi dengan danya ini, dia selalu teraskan muncul terus.
05:43Oke, silahkan dijawab Dr. Rismon.
05:44Saya nggak percaya itu statementnya Profesor Kunchoro ya.
05:48Karena hal ini berkepanjangan sebenarnya dari pihak UGM sendiri.
05:52Nggak pernah menjawab apapun.
05:54Tidak pernah menjawab apapun dan menghindar.
05:57Di gelar perkara khusus, Baris Krim, kenapa UGM tidak hadir menghadapi kami?
06:02Face to face, menjelaskan semuanya.
06:04Dan itu selesai.
06:05Dan saya sebagai peneliti siap salah.
06:06Saya bukan orang UGM, jadi saya hanya dibukul jenis sebagai orang UGM.
06:11Tapi saya bukan orang rektorat.
06:13Sehingga saya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi.
06:17Kenapa tidak menjawab, kenapa tidak ini.
06:19Mereka pasti punya alasan tertentu yang saya juga tidak tahu.
06:23Artinya bisa boleh nggak kalau misalnya ada anggapan untuk menghentikan ini harusnya pihak rektorat juga menjelaskan.
06:31Sehingga ini tidak berkepanjangan.
06:33Atau misalnya Pak Jokowi.
06:35Sekarang pertanyaan saya.
06:36Berapa kali yang namanya Bu Ova, kemudian Grekan, itu sudah menjelaskan.
06:43Artinya Prof. Kuncoro ingin mengatakan bahwa
06:46Doktor Rismon Sianipar dan teman-teman,
06:49Anda sudah punya mindset bahwa ini pasti ijazah palsu.
06:53Tidak, tidak.
06:53Apapun penjelasannya, Anda nggak akan happy.
06:55Tidak, tidak.
06:56Karena memang tidak pernah ada penjelasan.
06:59Pengumuman dari Prof. Ova Emilia meyakini.
07:04Mana datanya?
07:07Setidaknya ada di gelar di situ data baru statementnya memastikan.
07:13Oke.
07:13Saya selalu, saya sudah mendengar penjelasan ini dari teman-teman yang menggugat ijazah Pak Jokowi.
07:20Anda selalu meminta, dilibatkan kami.
07:24Kami akan, kenapa kami tidak dibiarkan ikut mendengarkan.
07:28Gelar pada kami.
07:29Emang Anda siapa yang bisa mendapat privilege untuk supaya rektorat, polisi,
07:35ngasih ke Anda.
07:37Siapa Anda gitu loh.
07:38Saya warga negara.
07:40Pembayar panjang.
07:42Saya juga Siti Vitas Akademika, UGM.
07:46Menurut Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, saya punya hak.
07:50Apakah benar ijazah Pak Jokowi itu dipakai untuk capres itu?
07:53Dan dalam kertas suaranya, pada saat saya pilih sendiri Pak Jokowi,
07:58saya memilih Pak Jokowi tahun 2014.
08:00Di situ insinyur Jokowi Dodo.
08:02Itu hak saya sebagai warga, warga negara.
08:06Mungkin jutaan juga ingin memastikan.
08:08Apakah ijazah itu benar-benar ada sesuai dengan proses akademik yang dilaluinya?
08:13Ya, itu kan sudah tidak presiden lagi.
08:15Apalagi, apalagi yang mau Anda gugat.
08:17Tapi tetap saja, itu pernah dipakai.
08:22Ijazah itu pernah dipakai untuk mendapatkan dua kali presiden.
08:25Itu harus menjadi domen publik.
08:28Ini bukan jawaban saya, Pak Rektor ya.
08:33Tapi cuma saya memperkerjaan saja.
08:36Apakah kira-kira dalam hati rektorat itu adalah melindungi,
08:40melindungi data mahasiswanya.
08:46Kalau misalnya yang publik itu bukan pada rektorat,
08:49tapi mintanya pada Jokowi.
08:51Karena yang berat itu Jokowi.
08:52Tetapi rektorat itu melindungi.
08:56Ya, jangan tanya pada rektorat.
08:58Mintalah pada Jokowi itu membuka.
09:01Kalau minta pada universitas,
09:02saya kan melindungi sewarga.
09:04Karena itu seperti yang tadi Prof. Kuncoro mengatakan,
09:07itu bagian dari data pribadi.
09:10Bukan dari data pribadi,
09:13mahasiswanya.
09:14Bukan pribadi Bu Ova sebagai rektor.
09:17Tapi dia melindungi data pribadi mahasiswanya kan berat.
09:21Yang bernama Insinyur Jokowi Dodo.
09:24Meskipun yang bersangkutan sudah menjadi presiden,
09:27dan ia menjadi...
09:28Kalau dia mau minta datanya itu,
09:30mintalah pada Jokowi.
09:31Dan Anda memberikan juga seharusnya,
09:34merasa bahwa Pak Jokowi kasih lihat saja ijazahnya.
09:37Itu hanya Jokowi.
09:38Bukan saya berbicara dengan itu.
09:40Itu hanya Jokowi.
09:42Jadi jangan ditanyakan itu pada UGM.
09:44UGM berat untuk melindungi.
09:46Kalau kamu mengatakan hak ini,
09:49itu hak pada Jokowi.
09:50Tapi kalau universitas berat melindungi,
09:53itu anggota saya.
09:54Apakah saya bisa menjadi kompas TV ini?
09:56Saya mau minta data penjenengan?
09:58Tidak boleh.
09:59Yang boleh, tidak boleh.
10:00Kalau aku minta data penjenengan,
10:01Mbak Rosi akan harus pada Mbak Rosi.
10:03Jadi ketika Dr. Rismon mengatakan bahwa
10:05tidak ada penjelasan dari UGM,
10:07sehingga mereka merasa bahwa ada yang disembunyikan.
10:08Kenapa harus menonton UGM?
10:10Dilindungi atau disembunyikan?
10:12Loh, dilindungi atau disembunyikan sama saja.
10:14Kalau itu menurut saya bukan masalah.
10:16Karena apa?
10:17Setiap dia berhak untuk melindungi warganya.
10:20Profesor Kucoro,
10:23skripsi itu domen publik atau domen privasi?
10:26Sekarang saya bertanya kembali lagi,
10:28skripsi siapa?
10:29Skripsi semua mahasiswa yang ada di UGM.
10:31Yang ada di situ, skripsi dengan ijazah itu hal yang berbeda.
10:38Skripsi itu bisa dipaca publik.
10:41Tapi kalau ijazah, tidak.
10:44Nah, sekarang pertanyaannya,
10:45di mana skripsi Joko Widodo 1?
10:47Loh kan ada sekarang di...
10:48Tidak ada, Prof.
10:49Ini saya punya datanya kok.
10:50Di mana?
10:51EtD?
10:52Ini tadi saya...
10:53Dari mana ada?
10:54Dari mana ada?
10:55Saya datang beberapa kali ke Perpustakaan Fakultas Kota Nundu GM.
11:00Coba Profesor Kucoro datang...
11:02Loh, saya tidak punya datanya dari sini.
11:03Iya, ETD, ETD.
11:05ETD itu apa?
11:06Electronic Thesis and Dissertation.
11:08Nah, sekarang bahan-bahan sudah dimasukkan di elektronik itu semuanya.
11:11Gitu loh.
11:12Dan sekarang di dalam rangka komputerisasi semuanya,
11:15semua data dimasukkan di elektronik itu.
11:17Kemudian semua orang bisa mencari melalui ETD itu.
11:20Tidak harus secara fisik.
11:22Malah itu kalau misalnya fisiknya harus ada,
11:24itu ketinggalan zaman.
11:25Nah, dari ETD Joko Widodo yang Profesor Kucoro lihat di ETD itu,
11:31ada nggak lembar pengesahan pengujinya?
11:34Katanya Profesor Kucoro sudah memiliki data skripsi Joko Widodo elektronik.
11:38Saya punya, tetapi tidak untuk dilihat.
11:40Saya belum melihat, tetapi data itu lengkap.
11:43Iya, saya tanyakan ada tidak lembar pengesahan pengujinya?
11:45Iya, seharusnya ada.
11:47Kalau tidak ada, seperti dasar-satunya tadi.
11:48Tadi katanya Profesor sudah melihatnya.
11:51Sudah melihatnya, tapi tidak harus melihat.
11:52Itu detail semuanya.
11:54Itu kan cuma tiga halaman pertama, lembar pengesahan penguji.
11:57Yang saya lihat ini ada kira-kira 20-30 halaman,
12:01bukan hanya persoalan ijazah.
12:03Ada tidak lembar pengesahan pengujinya?
12:05Saya tidak melihat.
12:06Saya tidak belum melihat.
12:06Tadi katanya melihat.
12:08Loh, siapa yang melihat?
12:09Tadi melihat.
12:09Saya punya data, data saya itu mulai dari dia pengumuman diterima di UGM,
12:17sampai dengan yang namanya ijazah di belakang.
12:20Tidak mungkin kemudian saya itu membaca satu-satu,
12:23karena sekali lagi saya tidak punya kompetensi untuk itu.
12:26Tadi kan Profesor Kucoro mengatakan sudah melihat skripsi Joko Widodo ETD,
12:32melihat atau membaca Prof, ada tidak lembar pengesahan pengujinya?
12:36Di situ nama penguji, tanda tangannya, terus teman-teman.
12:38Jadi ketika Prof punya datanya, itu ada tanda tangannya atau tidak?
12:41Bisa jadi.
12:42Tapi apakah di situ saya ada datanya?
12:45Saya tidak sedetail itu.
12:47Jadi punya datanya, tapi tidak melihat sedetail itu.
12:50Iya, sedetail itu.
12:51Dan kenapa? Saya tidak punya kompetensi.
12:53Loh, enggak. Hanya sekedar, Dr. Rizmon ini hanya sekedar ini.
12:57Bukannya kan, katanya punya datanya.
12:59Kalau punya datanya seperti itu, ada enggak pengesahan, tanda tangan pengesahannya?
13:04Itu saja sebenarnya pertanyaan, Dr. Rizmon.
13:06Seharusnya ada.
13:08Bukan seharusnya ada.
13:09Loh, karena sekali lagi, ini adalah sebuah aturan di universitas.
13:13I know, begini Prof, pertanyaannya Dr. Rizmon ini sederhana.
13:16Ketika Prof Kucoro mengatakan, saya punya datanya.
13:20Pertanyaannya simple.
13:21Ketika punya datanya, itu ada lembar pengesahannya, enggak ijazahannya?
13:24Saya tidak tahu.
13:26Saya tidak tahu.
13:28Tetapi itu hanya saya melihat ada apa, judul dan sebagainya.
13:32Kalau itu sudah, karena sudah cukup.
13:34Tapi Anda tidak tahu ada lembar pengesahan.
13:37Kalau saya ditanyakan, saya sudah pernah melihat juga versi ETD dari skripsi Joko Widodo
13:42dan tidak ada juga lembar pengesahan pengusaha.
13:45Saya memastikan itu.
13:46Karena saya lihat, saya akses langsung di Perpustakan Fakultas Kota Nanugem.
13:51Tidak ada di versi ETD, lembar pengesahan penguji.
13:54Oke.
13:55Artinya, soal ijazah ini akan terus berlangsung.
13:59Ini tidak saja tentang kampus bernama UGM.
14:02Tapi ini juga tentang nama seseorang yang ingin terus-menerus dipersoalkan di ranah politik.
Komentar