- 1 tahun yang lalu
SOLO, KOMPAS.TV - Pihak Partai Keadilan Sejahtera angkat bicara soal sejumlah menteri Kabinet Presiden Prabowo yang sowan ke kediaman Presiden ke-7, Joko Widodo.
PKS mengingatkan soal "matahari kembar".
Politisi PKS, Mardani Ali Sera bilang, silaturahmi sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih yang juga mantan menteri di era Jokowi bersilaturahmi ke kediaman Jokowi baik, namun ia mengingatkan, jangan sampai ada persepsi matahari kembar.
Mardani menyebut, meskipun Prabowo tak tersinggung, jangan ada kesan matahari kembar di pemerintahan.
Sejumlah menteri Prabowo yang pernah mengisi kabinet Presiden ke-7, Joko Widodo sowan ke kediaman Jokowi di Solo.
Menteri ESDM yang juga Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, salah satunya, berkunjung Selasa lalu.
Bahlil mengaku rindu Jokowi dan diberikan nasihat soal membangun negara ke depan.
Ada pula Menko Bidang Pangan yang juga Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, Rabu lalu sowan ke kediaman Jokowi.
Zulkifli bilang, dirinya sowan sebagai salah satu menteri di era Jokowi.
Ia juga berkomentar soal pertemuan PrabowoMegawati yang ia sebut sebagai silaturahmi yang baik.
Namun, Partai Keadilan Sejahtera mengingatkan kepada sejumlah menteri Kabinet Merah Putih untuk berhati-hati setelah bersilaturahmi Lebaran kepada Jokowi, agar tak ada kesan matahari kembar.
Pengamat politik, Adi Prayitno, menilai para mantan menteri Jokowi yang juga ada di jajaran kabinet Prabowo silaturahmi ke Solo sebagai hal wajar, selama pihak Istana tak keberatan dan para menteri menegaskan pimpinannya adalah Presiden Prabowo.
Sejak hari pertama Idulfitri, sejumlah tokoh yang dekat dengan Jokowi dan berada di Kabinet Prabowo, silih berganti mendatangi kediaman Jokowi di Solo.
Para tokoh kompak bilang, pertemuan itu dalam rangka silaturahmi kepada Presiden ke-7, Joko Widodo.
Apakah silaturahmi sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih yang pernah jadi menteri kabinet era Jokowi bisa memunculkan potensi matahari kembar, yakni Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 RI Jokowi?
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/586386/matahari-kembar-di-pemerintahan-ini-respons-pks-soal-sowan-menteri-prabowo-ke-jokowi
PKS mengingatkan soal "matahari kembar".
Politisi PKS, Mardani Ali Sera bilang, silaturahmi sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih yang juga mantan menteri di era Jokowi bersilaturahmi ke kediaman Jokowi baik, namun ia mengingatkan, jangan sampai ada persepsi matahari kembar.
Mardani menyebut, meskipun Prabowo tak tersinggung, jangan ada kesan matahari kembar di pemerintahan.
Sejumlah menteri Prabowo yang pernah mengisi kabinet Presiden ke-7, Joko Widodo sowan ke kediaman Jokowi di Solo.
Menteri ESDM yang juga Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, salah satunya, berkunjung Selasa lalu.
Bahlil mengaku rindu Jokowi dan diberikan nasihat soal membangun negara ke depan.
Ada pula Menko Bidang Pangan yang juga Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, Rabu lalu sowan ke kediaman Jokowi.
Zulkifli bilang, dirinya sowan sebagai salah satu menteri di era Jokowi.
Ia juga berkomentar soal pertemuan PrabowoMegawati yang ia sebut sebagai silaturahmi yang baik.
Namun, Partai Keadilan Sejahtera mengingatkan kepada sejumlah menteri Kabinet Merah Putih untuk berhati-hati setelah bersilaturahmi Lebaran kepada Jokowi, agar tak ada kesan matahari kembar.
Pengamat politik, Adi Prayitno, menilai para mantan menteri Jokowi yang juga ada di jajaran kabinet Prabowo silaturahmi ke Solo sebagai hal wajar, selama pihak Istana tak keberatan dan para menteri menegaskan pimpinannya adalah Presiden Prabowo.
Sejak hari pertama Idulfitri, sejumlah tokoh yang dekat dengan Jokowi dan berada di Kabinet Prabowo, silih berganti mendatangi kediaman Jokowi di Solo.
Para tokoh kompak bilang, pertemuan itu dalam rangka silaturahmi kepada Presiden ke-7, Joko Widodo.
Apakah silaturahmi sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih yang pernah jadi menteri kabinet era Jokowi bisa memunculkan potensi matahari kembar, yakni Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 RI Jokowi?
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/586386/matahari-kembar-di-pemerintahan-ini-respons-pks-soal-sowan-menteri-prabowo-ke-jokowi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saya Tifa Solesa melanjutkan Kompas Petang Saudara, pihak Partai Keadilan Sejahtera angkat bicara soal sejumlah menteri kabinet Presiden Prabowo yang soan ke kediaman Presiden ke-7 Jokowi Dodo.
00:12PKS mengingatkan soal matahari kembar.
00:15Politisi PKS Mardani Alisera bilang silaturahmi sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih yang juga mantan menteri di era Jokowi bersilaturahmi ke kediaman Jokowi, baik.
00:25Namun ia mengingatkan jangan sampai ada persepsi matahari kembar.
00:30Mardani bilang meskipun Prabowo tak tersinggung, jangan ada kesan matahari kembar di pemerintahan.
00:41Mardani menyebut bagaimanapun Presiden kita Pak Prabowo dan Pak Prabowo sudah menunjukkan determinasinya, kapasitasnya, komitmennya.
00:51Dan saya pikir Pak Prabowo juga tidak tersinggung ketika ada menterinya yang ke Pak Jokowi.
00:56Namun yang jadi pesan saya cuma satu, jangan ada matahari kembar.
01:01Satu matahari saja lagi berat apalagi kalau dua.
01:04Ujar politisi PKS Mardani Alisera yang kami kutip dari kompas.com.
01:07Sejumlah Menteri Prabowo yang pernah mengisi Kabinet Presiden ketujuh Jokowi Dodo soal ke kediaman Jokowi di Solo.
01:22Menteri ESDM yang juga Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia salah satunya berkunjung salah-salah.
01:28Bahlil mengaku rindu Jokowi dan diberikan nasihat soal membangun negara ke depan.
01:33Ya, kangen sama Bapak juga, sama Ibu makan sama-sama, terus ngomong-ngomong ringan, ya perkembangan ekonomi.
01:46Ya, saya kan muridnya Bapak Presiden Jokowi, jadi waktu saya anggota Kabinet pertama, saya menjadi anggota Kabinet dan banyak dinasihati untuk bagaimana membangun negara ke depan.
02:03Ada pula Menko Bidang Pangan yang juga Ketua Umum Pan, Zulkifli Hasan, Rabu lalu, Soan ke kediaman Jokowi.
02:14Zulkifli bilang dirinya Soan sebagai salah satu menteri di era Jokowi.
02:19Ia juga berkomentar soal pertemuan Prabowo Megawati yang ia sebut sebagai silaturahmi yang baik.
02:25Lebaran itu kan, saya kan menterinya Bapak.
02:32Banyak dibimbing dulu, dua tahun dipercaya beliau sama Ibu.
02:42Masa Lebaran aja saya nggak datang gimana?
02:45Pak, kalau terkait pertemuan dengan Bu Megawati sama Pak Prabowo, tanggapannya gimana Pak sebagai ketumbat?
02:51Ya, saya baru baca tadi.
02:54Bagus, Pak.
02:55Memberi apresiasi positif atau seperti apa?
02:59Saya baru baca tadi, ya tentu silaturahmi apapun bagus ya.
03:07Namun, Partai Keadilan Sejahtera mengingatkan kepada sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih untuk berhati-hati setelah bersilaturahmi lebaran kepada Jokowi agar tak ada kesan matahari kembar.
03:18Pengamat politik Adi Prayitno menilai, para mantan Menteri Jokowi yang juga ada di jajaran Kabinet Prabowo, Silaturahmi Kesolo, sebagai hal wajar selama pihak istana tak keberatan dan para menteri menegaskan pimpinannya adalah Presiden Prabowo.
03:33Jadi, diskursus soal matahari kembar itu sebenarnya didasarkan atas dua hal itu.
03:39Di mana peran-peran Pak Jokowi, di mana signifikansi Pak Jokowi, di pemerintahan Pak Prabowo itu masih cukup terasa dan masih cukup kuat.
03:49Apalagi misalnya di berbagai kesempatan, Pak Prabowo selalu mengatakan hidup Pak Jokowi, hidup Pak Jokowi.
03:56Dan saya kira Pak Prabowo juga tidak bisa menyembunyikan bagaimana rasa kagum, rasa respect dan ungkapan terima kasihnya yang cukup luar biasa ke Pak Jokowi.
04:05Jadi wajar kalau kemudian banyak pihak yang menganggap soal adanya matahari kembar itu.
04:10Hati-hati, kalau kemudian istana dengan manufar menteri dan wakil menteri yang masih sering ke Solo dan menganggap Jokowi sebagai bos,
04:18nah kalau itu membuat istana tidak nyaman, ya bukan tidak mungkin.
04:21Ada konsekuensinya di kemudian hari, entah itu apa.
04:27Sejak hari pertama Idul Fitri, sejumlah tokoh yang dekat dengan Jokowi dan berada di Kabinet Prabowo,
04:33silih berganti, mendatangi kediaman Jokowi di Solo.
04:37Para tokoh kompak bilang pertemuan itu dalam rangka silaturahmi kepada Presiden ke-7 Jokowi Dodo.
04:45Tim Liputan Kompas TV
04:47Apakah silaturahmi sejumlah menteri kabinet merah putih yang pernah menjadi menteri kabinet era Jokowi
04:58bisa memunculkan potensi matahari kembar yakni Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 Jokowi Dodo?
05:04Kami akan bahas hal ini bersama Sekjen Partai Golkar Sarmuji dan Direktur Eksekutif Carta Politika Yunnarto Wijaya.
05:10Selamat sore semuanya, apa kabar?
05:12Selamat sore Mas Tifal.
05:14Terima kasih semua sudah bergabung bersama kami kali ini.
05:16Kami juga masih menantikan kehadiran dari politisi Partai Kadila Sejahtera Mardani Arisera
05:21yang awalnya sudah bersedia untuk bergabung bersama kami dalam diskusi kali ini.
05:25Saya mulai dari Mas Toto, kalau begitu.
05:27Dari pernyataannya Pak Mardani bilang jangan ada matahari kembar, menurut Anda sejauh mana bisa dibaca hal ini?
05:34Ini kekhawatiran yang beralasankah atau bagaimana Anda membaca itu?
05:38Kalau melihat secara objektif Mas Tifal, karena momennya sebenarnya adalah momen lebaran,
05:43sebetulnya ini peristiwa biasa saja.
05:45Silaturahmi datang dalam konteks lebaran, beda kalau ceritanya adalah ada menteri-menteri yang rutin.
05:51Misalnya seminggu sekali, sebulan sekali, datang dan menggunakan bahasa meminta arahan.
05:57Nah itu sudah salah kaprah dalam konteks tata negara.
05:59Tetapi saya bisa mengerti juga kenapa dalam konteks kemarin,
06:03ada misalnya menteri yang menggunakan bahasa yang menurut saya tidak elok secara tata negara.
06:08Misalnya Mas Tenggono mengatakan dia mantan bos saya dan masih bos saya.
06:15Itu punya konsekuensi loh secara tata negara.
06:18Karena kita betul-betul hanya boleh berbicara bahwa atasan itu hanya presiden.
06:25Bahkan seorang menteri itu tidak bisa mengatakan dalam kapasitasnya sebagai menteri,
06:29walaupun dia kader partai, bos saya sebagai menteri adalah ketum partai saya.
06:33Tidak boleh itu secara tata negara.
06:35Nah yang memang membedakan begini Mas Tifal,
06:38sebetulnya kalau kemudian ada menteri-menteri datang dekat dengan mantan-mantan presiden biasa saja.
06:43Ibu Sri Mulyani juga datang ke rumahnya Ibu Mega.
06:45Pak BGS atau Pak Basuki juga datang ke rumahnya Ibu Mega karena memang memiliki kedekatan pribadi.
06:52Tetapi kenapa sih dalam konteks Pak Jokowi dengan Pak Prabowo isu ini lebih menarik?
06:57Karena memang ada sesuatu yang berbeda.
06:59Pergantian tongkat SAK kekuasaan tidak terjadi biasa-biasa saja.
07:03Wakil presidennya Pak Prabowo itu anaknya Pak Jokowi.
07:07Polemik ini kan sudah muncul pada masa Pilpres.
07:10Dan kemudian orang bertanya-tanya, ini sebuah kesepakatan apa sih berbagi kekuasaan atau sekedar bicara keberlanjutan?
07:18Kalau berbagi kekuasaan, artinya Jokowi masih punya porsi di situ.
07:22Kan itu analisisnya.
07:23Fakta lain juga mengatakan fakta empiris.
07:26Ternyata di belahan dunia lain, apa yang terjadi pada skala yang mirip-mirip,
07:32walaupun kita nggak tahu konsekuensi akan sama atau tidak.
07:34Di Filipina, situasi yang sama itu tidak berbuah dengan baik.
07:38Kita tahu wakil presidennya akhirnya dimaksudkan karena terjadi seperti pertarungan mengambil porsi kekuasaan
07:47di antara presiden dan wakil presiden dan juga mantan presidennya.
07:50Jadi ini konsekuensi dari sebuah pembelajaran demokrasi yang kurang elok yang terjadi pada pemilu
07:57sehingga spekulasi-spekulasi ini masih muncul.
08:00Tapi saya berharap sih memang momen lebaran yang kemarin hanya berupa silaturahmi saja.
08:05Kalau gitu saya konfirmasi langsung ke Pak Mardani alaih serai yang baru saja bergabung bersama kami.
08:08Assalamualaikum Pak Mardani, apa kabar Pak?
08:11Waalaikumsalam semuanya, makasih.
08:13Saya mau konfirmasi dulu sampai Anda keluar ke pernyataan jangan sampai ada matahari kembar.
08:18Itu ada kekhawatiran apa sesungguhnya dari pertemuan itu menurut Anda Pak?
08:22Yang pertama saya setuju silaturahim dijalankan.
08:26Apalagi Idul Fitri kan.
08:31Tetapi tetap dalam ketatanegaraan presiden kita itu Pak Prabowo.
08:36Dan saya yakin para menteri juga ketika silaturahim sudah izin kepada Pak Prabowo, saya yakin itu.
08:45Tapi tetap dalam konteks ketatanegaraan perlu selalu diingatkan.
08:50Pak SBE juga berapa kali ingatkan tuh.
08:52Tidak boleh ada matahari kembar karena dampaknya akan sangat rumit dan mahal.
09:00Dan karena itu saya tetap yakin semuanya satu komando kepada Pak Prabowo tapi pengingatan juga perlu buat kita semua.
09:09Tapi ada kekhawatiran tidak kalau membaca pertemuan ini mengingat ada dari beberapa mantan menteri ini ada dua menteri yang statusnya juga ketua partai.
09:20Pak Zulhas ketemu Pak Jokowi juga, Pak Bahlil juga ketemu Pak Jokowi juga.
09:24Anda punya kekhawatiran sendiri gak sih Pak Mardani?
09:26Tidak khawatir, tapi tetap harus diingatkan.
09:32Karena bagaimanapun Pak Prabowo adalah presiden kita dan sistem presidensial kita betul-betul komando ada di tangan presiden.
09:43Oke, kalau gitu saya coba konfirmasi ke Pak Sarmuji.
09:46Pak Sarmuji, Pak Bahlil kan juga ikut bertemu Pak Jokowi langsung ke Solo.
09:49Kenapa kemudian Pak Bahlil merasa butuh meminta nasihat lagi kepada Pak Jokowi?
09:54Padahal kan juga sering ketemu Pak Prabowo, masih dalam kabinet merah putih juga.
09:59Itu ada alasan khusus gak sih sebetulnya Pak?
10:05Pak Sarmuji, mohon maaf boleh dibuka dulu audionya Pak.
10:09Oke, silahkan.
10:10Jadi gak ada sesuatu yang spesial, yang khusus gak ada.
10:14Karena ini momentumnya lebaran, sewajarnya orang yang merayakan lebaran.
10:20Kita pasti mengingat orang-orang tua kita, sahabat-sahabat kita.
10:25Dan kebetulan Pak Jokowi adalah orang tua sekaligus presiden pada waktu mereka itu menjadi menteri.
10:34Kalau orang PKS gak ada yang kesana memang waktu Pak Jokowi gak ada orang PKS jadi menteri.
10:40Andai kan temannya Pak Mardani ada yang jadi menteri, mungkin ke Pak Jokowi juga.
10:45Jadi sesuatu yang wajar sebenarnya.
10:48Tidak perlu dikhawatirkan kan.
10:50Tidak, kita memang mesti membedakan mana yang betul-betul silaturahim,
10:56mana yang betul-betul acara kemanusiaan,
10:59atau mana yang berbau politik.
11:02Kalau nanti semuanya ditarik ke dalam politik,
11:06nanti orang gak mau itu silaturahim karena takut,
11:10wah jangan-jangan nanti gak enak sama istana.
11:13Nanti ada orang meninggal nanti, wah jangan-jangan nanti dicurigai ini dan seterusnya.
11:17Jadi kita perlu menempatkan sesuatu secara proporsional,
11:22sesuatu yang wajar-wajar saja.
11:24Mana yang memang acara kemanusiaan, acara persahabatan,
11:28ulang tahun, reuni dan sebagainya,
11:31ya maknai saja sesuai dengan konteksnya.
11:33Tidak lebih dari itu.
11:34Tapi kalau keluar konteks, semuanya akan repot malahan.
11:38Kalau kemudian diingatkan, jangan sampai ada matahari kembar,
11:41sejauh mana Anda mencermati itu, Pak Sarmuji?
11:43Ya sebenarnya tanpa diingatkan pun,
11:46Menteri itu sudah tahu lah standar prosedurnya.
11:48Siapa bosnya sudah tahu.
11:50Mereka kan juga takut di resuffle juga.
11:53Memang mereka gak takut di resuffle.
11:55Udah tahu bosnya siapa.
11:57Kepatuhannya pasti tegak lurus dengan Presiden.
12:00Siapa pemegang otoritas, ya itu yang mereka patuhi.
12:03Udah otomatis itu.
12:04Saya pikir apalagi para politisi udah tahu cara mainnya.
12:08Udah tahu bosnya siapa-siapa punya kewenangan.
12:11Jadi mereka tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
12:13Persoalan ingat-ingatkan, ya silahkan saja.
12:15Namanya juga mengingatkan, gak ada salahnya.
12:18Oke.
12:18Mas Toto membaca beda pandangan, padahal sama-sama dari Kim Plus,
12:21ini gimana nih ngeliatnya?
12:22Mas Toto.
12:22Ya, saya melihatnya positif lah.
12:25Mas Sarmuji bicara dalam konteks bahwa meyakini bahwa kode etik itu akan sangat dimengerti lah.
12:32Bahkan dengan bahasa telanjang dari Mas Amhazwi mengatakan,
12:35gak usah takut lah, takut dipecat juga kok gitu.
12:37Kalau berani-berani matahari kembar, ya itu ya para menteri.
12:40Bang Mardani juga tidak salah ketika berbicara mengingatkan bahwa potensi matahari kembar ini bukan hanya Bang Mardani.
12:46SB juga mengingatkan hal tersebut.
12:48Tadi saya sudah menyebutkan konteksnya, bahwa kita harus hakui loh.
12:52Isu mengenai matahari kembar ini menjadi besar, karena ada situasi yang memang juga anomali.
12:57Kenapa?
12:58Ya, simple saja.
12:59Anaknya mantan presiden jadi wapres.
13:01Kalau kita mau bertanya dengan lebih kritis, misalnya berspekulasi,
13:05orang bisa saja bertanya,
13:07Wakil presiden Gibran Raka Buming lebih loyal kepada Pak Presiden atau bapaknya sendiri?
13:13Karena mantan presiden adalah bapaknya sendiri.
13:16Bukan tidak mungkin setiap hari bertemu, setiap minggu bertemu.
13:20Ini kan muncul spekulasi-spekulasi ini berdasarkan anomali-anomali yang dari dulu
13:27para pengamat, para peneliti, akademisi sering mengingatkan.
13:31Dan ini hanya satu hal kecil, kecil, mas Tival.
13:34Anomali sistem lain, misal ketika kita membiarkan begitu saja,
13:38menteri kita, pembantu presiden, tetap jadi pimpinan para pol.
13:43Kan akan terus-menerus orang berspekulasi dan bertanya,
13:46dia lebih loyal dan lebih manut kepada ketua umumnya atau kepada presidennya?
13:52Jadi seharusnya dari situasi ini kita belajar,
13:54yuk kita saklekan sistem presidensial kita,
13:57yuk kita saklekan demokrasi kita,
13:59jauhkan dari dinasti,
14:01jauhkan dari hal-hal yang kita anggap oke,
14:04aturannya diperbolehkan atau diubah-ubah,
14:06tapi akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan dan polemik seperti ini.
14:10Kalau itu kita sepakat dan kita mau luruskan,
14:13nggak ada kebahasan seperti ini.
14:14Matahari kembar tidak akan terjadi karena sistem yang kita sepakati.
14:18Dualitas loyalitas dari menteri juga tidak akan terjadi
14:21kalau kita sepakati bahwa menteri yang sudah jadi pembantu presiden,
14:26nggak perlu lagi jadi pimpinan partai,
14:28sehingga kemudian harus terbagi waktunya.
14:30Ini adalah masalah sistem.
14:31Oke, sehingga kalau menurut Anda, Pak Mardani,
14:35sampai batas mana kedekatan mantan menterinya Pak Jokowi
14:39dan juga yang saat ini menjadi menterinya Pak Prabowo,
14:41dianggap aman-aman saja sehingga ya masalah matahari kembar ini tidak terjadi?
14:46Akan sangat bisa kita lihat dari kebijakannya.
14:50Kalau kebijakannya nurut kepada Pak Prabowo,
14:53pasti komandonya satu.
14:55Tapi kalau ternyata ada punya titipan-titipan lain,
15:00nah masyarakat bisa menilai.
15:02Tapi kalau kita melihat Pak Prabowo juga sangat menghormati Pak Jokowi.
15:06Dan buat saya itu budaya yang baik,
15:09bahwa tiap presiden itu ada zamannya.
15:12Kalau dalam bahasa Arab itu,
15:14setiap tahapan itu ada orangnya.
15:18Zaman Pak Jokowi sudah selesai,
15:2010 tahun beliau membangun,
15:22sekarang zamannya Pak Prabowo.
15:24Tapi Pak Prabowo tidak meninggalkan Pak Jokowi.
15:27Tapi tetap diingatkan dalam sistem presidensialisme kita,
15:32tidak boleh ada matahari kembar.
15:34Tapi kalau Anda sampai mengingatkan,
15:36saya butuh penegasan lagi,
15:37mengingatkan jangan sampai ada matahari kembar ini Pak Mardhani,
15:40apakah Anda menangkap ada ketidakwajaran dalam tanda kutip
15:42dalam komunikasi di internal kabinet?
15:45Kalau sekarang sih tidak ada.
15:49Gimana? Mohon maaf diulang.
15:51Kalau sekarang tidak ada,
15:52harmoni semuanya, Pak Prabowo kalau rapat luar biasa,
15:56Pak Bahlil kalau hadir di hambalang luar biasa,
15:59Pak Zulhas dari PKS semuanya,
16:02semuanya baik dan semuanya terkoordinir dengan rapi.
16:06Oke, kalau saya konfirmasi ke Pak Sarmuji,
16:08berarti di internal pemerintahan di kabinet sejauh ini,
16:11semua satu arah, satu komando mengikuti arah dari Pak Prabowo?
16:13Ya, sejauh yang saya pahami, saya ketahui,
16:18semuanya menjabarkan visi-visi presidennya.
16:21Tidak ada yang, apa namanya,
16:23di luar koordinasi presiden,
16:26tidak ada perintah lain yang kemudian dijalankan oleh menteri,
16:30yang dijalankan oleh menteri adalah semata-mata perintah presiden,
16:33dan memenuhi apa yang diinginkan oleh presiden.
16:37Jadi, politik meskipun,
16:40bagi saya politik itu bukan sesuatu yang dikatakan,
16:43tapi yang dikerjakan,
16:44tetapi indikasi-indikasi yang dikerjakan pun,
16:48tidak ada yang menampakkan tanda-tanda bahwa
16:50ada koordinasi lain di luar koordinasi presiden.
16:54Baik, Pak Sarmuji, Pak Mardani, Mas Toto,
16:57terima kasih banyak sudah berdiskusi bersama kami kali ini.
16:59Saat selalu semuanya. Assalamualaikum. Selamat sore.
Komentar