Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama


JAKARTA, KOMPAS.TV - Setelah Istana mengungkap adanya dugaan makar dalam penyadapan Presiden Prabowo yang dilakukan oleh mantan Kapolri Jenderal Listyo, sejumlah parpol koalisi mendesak polisi harus mengusut siapa dalang dan motif di balik penyadapan ini.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, mendorong pengusutan dalang penyadapan yang dilakukan Jenderal Listyo cs diusut tuntas.

Tak hanya dalang, polisi juga harus mengungkap motif penyadapan. Golkar pun mengaku kaget jika penyadapan Presiden dilakukan oleh orang kepercayaannya sendiri. Sementara, anggota Komisi III DPR dari Fraksi Demokrat, Benny K. Harman, menilai peran tiga jenderal polisi dalam kasus itu membuktikan adanya persekongkolan yang dibuat kelompok tertentu.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyebut Presiden Prabowo mengaku prihatin ketika tahu dirinya disadap oleh anak buahnya sendiri, mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Informasi penyadapan ini diterima Prabowo berdasarkan laporan Kapolri baru, Jenderal Suyudi Ario Seto.

Sekjen Partai Gerindra, Sugiono, memastikan akan berkonsolidasi dengan partai politik koalisi lainnya untuk membahas kasus penyadapan Presiden ini dan adanya temuan dugaan makar yang dilakukan mantan Kapolri Jenderal Listyo.

Polisi masih menyidik Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan dua tersangka lainnya untuk mendalami motif penyadapan dan temuan dugaan makar seperti yang diungkap oleh Istana. Hingga saat ini, 10 orang saksi dan 3 ahli sudah diperiksa polisi untuk mendalami kasus penyadapan Presiden ini.

Akankah Partai Solidaritas Indonesia diajak dalam konsolidasi kasus penyadapan ini? Kita bahas dengan sejumlah narasumber.

Ada Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia; Guru Besar Ilmu Politik UIN, Burhanuddin Muhtadi; dan Andi Azwan, Ketua Umum Militan Gibran 08 Nusantara.

Baca Juga POV Hadiri Sidang Kesaksian Jokowi, Penjagaan Ketat hingga Dinamika Sidang Ijazah Terdakwa Roy-Tifa di https://www.kompas.tv/video/700012/pov-hadiri-sidang-kesaksian-jokowi-penjagaan-ketat-hingga-dinamika-sidang-ijazah-terdakwa-roy-tifa

#penyadapan #presidenprabowo #politik #konsolidasi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/700018/soal-konsolidasi-bahas-penyadapan-psi-diajak-begini-respons-andi-azwan-ahmad-doli-pakar-politik
Transkrip
00:00Ini perbuatan mengarah keperbuatan makar, ini juga mengarah keperbuatan yang membahayakan keselamatan kepentingan negara,
00:08termasuk membahayakan keselamatan pimpinan negara.
00:12Motifnya apa, untuk kepentingan apa dan kepentingan siapa?
00:17Setelah Istara mengungkap ada dugaan makar dalam penyadapan Presiden Prabowo yang dilakukan oleh Pantan Kapolri Generalistio,
00:25sejumlah parpol koalisi mendesak polisi harus mengusut siapa dalang dan motif dibalik penyadapan ini.
00:33Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, mendorong pengusutan dalang penyadapan yang dilakukan Generalistio CS diusut tuntas.
00:42Tak hanya dalang, polisi juga harus mengungkap motif penyadapan.
00:47Golkar pun mengaku kaget jika penyadapan Presiden dilakukan oleh orang kepercayaannya sendiri.
00:53Selama ini sebetulnya kita hormati pimpinan sebuah institusi yang menjaga keamanan negara kita.
01:03Ini yang membuat kita kaget juga sebetulnya.
01:06Motifnya apa, kemudian juga atas kepentingan apa, atau bahkan kepentingan siapa.
01:15Dan nanti akan pasti terungkap, walaupun kemudian tiga pertanyaan dijawab, pasti akan ketahuan akan melibatkan siapa saja itu.
01:23Sementara, anggota Komisi 3 DPR dari Fraksi Demokrat, Benika Harman, menilai peran tiga general polisi dalam kasus itu membuktikan adanya
01:33persekongkolan yang dibuat kelompok tertentu.
01:36Yang terlibat, jadi kalau melibatkan sejumlah jeneral, itu sudah indikasi kuat bahwa ini adalah konspirasi.
01:48So, bayangkan sejumlah jeneral melakukan penyelidikan.
01:52Jadi ini adalah persekongkolan politik dengan kekuatan tertentu.
01:58Nah, kekuatan tertentu ini harus diselidiki oleh Mabes Polri.
02:03Ya kan, bagaimana menyelidikinya, ya tanya hasil laporan itu dilaporkan kepada siapa.
02:10Menteri Sekretaris Negara Prasio Hadi menyebut, Presiden Prabowo mengaku prihatin ketika tahu dirinya disadap oleh anak buahnya sendiri mantan Kapolri,
02:20Jendral Listio Sigit.
02:22Informasi penyerapan ini diterima Prabowo berdasarkan laporan Kapolri baru, Jendral Suyudi Aryuseto.
02:30Proses di kepolisian, kemudian Bapak Kapolri melapor kepada Bapak Presiden.
02:39Sangat prihatin, seorang kepala negara saja ada institusi yang itu berada di bawah Presiden,
02:49dan kemudian melakukan upaya sedemikian.
02:52Tentunya itu kan sangat memperhatinkan dan sekali lagi sangat mengkhawatirkan untuk kepentingan kita semua.
03:01Sekjen Partai Grindra, Sugiono memastikan akan berkonsolidasi dengan partai politik koalisi lainnya
03:07untuk membahas kasus penyedapan Presiden ini dan adanya temuan dugaan makar yang dilakukan mantan Kapolri, Jendral Listio Sigit.
03:39Polisi masih menyidik Jendral Listio Sigit Prabowo dan dua tersangka lain
03:44untuk mendalami motif penyedapan dan temuan dugaan makar seperti yang diungkap oleh istana.
03:49Hingga saat ini, 10 orang saksi dan 3 ahli sudah diperiksa polisi untuk mendalami kasus penyedapan Presiden ini.
03:57Tim Liputan, Kompas TV
04:13Terima kasih.
04:37Terima kasih.
04:40Sudah bergabung bersama kami melalui sambungan Zoom.
04:42Saya akan langsung ke Bang Doli dulu.
04:45Selamat sore.
04:46Terima kasih.
04:47Bang Doli, ini kan Pak Sugiono mengatakan akan melakukan konsolidasi koalisi ini.
04:52Kapan sebenarnya akan dilakukan?
04:54Dan apa yang akan dibahas serta disoroti dalam pertemuan ini?
04:59Ya, saya tidak tahu atau belum tahu ya kapan itu akan dilakukan dan apa kemudian akan dibahas secara khusus ya.
05:10Tetapi menurut saya, saya kira ini harus menjadi pembicaraan yang sangat serius ya oleh pemerintah terutama ya.
05:18Dan terus kemudian kepada elit-elit politik bahwa peristiwa ini menjadi peristiwa yang mustahil luar biasa.
05:25Mungkin dalam sejarah Indonesia, dalam kehidupan berbangsa negara kita, ini situasi yang belum pernah terjadi dan ini sebetulnya bukan hanya
05:33soal menyadap soal Presiden ya.
05:36Ini kan Presiden itu bukan hanya sekedar kepala pemerintahan, tapi juga kepala negara, simbol negara kita gitu ya.
05:43Jadi, kalau kemudian institusi tertinggi saja bisa jebol gitu, ini sebetulnya juga mengancam keamanan dan kedauatan negara kita.
05:52Ini menyangkut soal maruah dan martabat kita loh.
05:54Ketika seorang Presiden kita terusik ya, terganggu dan kemudian aktivitasnya disadap yang kita tidak atau belum tahu kepentingannya apa ya.
06:04Bang, tapi gini Bang, ketika ini berkaitan dengan penyadapan terhadap kepala negara.
06:10Tapi kan sebelumnya ini ada koalisi besar, termasuk PSI juga di situ yang melakukan, yang mendukung Presiden Prabowo.
06:18Apakah nanti ketika ada konsolidasi, PSI akan diajak untuk mengikuti konsolidasi tersebut?
06:25Ya, saya kira siapa saja yang merasa punya kepentingan untuk menjaga kepentingan bangsa negara Indonesia, apalagi untuk menjaga Presiden.
06:33Saya kira siapa saja yang ingin terlibat dengan itu, ya kalau diundang ya datang saja.
06:40Nah ini kan inisiatifnya dari Geridra ya, dilontorkan oleh Pak Tugiono sebagai sekjen.
06:45Jadi saya kira tunggu saja nanti siapa yang diundang ya.
06:48Saya kira Golkar dalam hal ini juga punya kepentingan untuk hadir dalam konteks tadi itu.
06:53Menjaga Presiden, menjaga negara, dan menjaga rakyat Indonesia.
06:56Oke, Bang Andi bagaimana Anda melihat kasus ketika kasus penyadapan ini begitu besar disorot dan juga dijadikan perbincangan publik?
07:07Pak Jokowi merespon terkait hal ini?
07:10Ya, kalau kita melihat ya memang cukup mengagetkan bahwa hal ini terjadi penyadapan seperti ini ya, yang dilakukan oleh petinggi
07:17Polri.
07:17Ya, kalau kita melihatnya Pak Jokowi tidak merespon apapun untuk bicara itu ya.
07:23Tapi tahu dong, pasti tahu ya.
07:24Ya, kalau berita-berita itu pasti kan beliau juga tahu ya.
07:27Baik dari media masa, mungkin juga ada diinfokan dari tempat yang lain, pasti beliau juga tahu untuk itu.
07:31Tapi kalau kita melihat yang sekarang ini berkembang ini kan sangat luar biasa ini.
07:36Sedikit itu ada agak fitnah-fitnahnya juga gitu kan.
07:39Bahwasannya itu langsung menuju bahwa itu adalah diperintah oleh Pak Jokowi.
07:42Yang sepengetahuan saya, dulu Pak Jokowi juga pernah disadap ya.
07:47Tapi buat beliau itu juga, ya begitu lah model Pak Jokowi kan tenang-tenang saja, ya santai-santai saja.
07:52Karena beliau tidak ada permasalahan untuk itu gitu, apa mesti takut disadap.
07:58Kalau dulu beliau berkata seperti itu.
08:01Tapi yang kalau kita lihat ini, ya apapun yang telah terjadi ya, ya kita apresiasi kepada kepolisian.
08:09Karena biar bagaimanapun bahwa presiden ini ada simbol negara untuk itu.
08:13Tapi gini Bang Andi, ini kan PSI juga sempat memposting Pak Jokowi lagi minum kopi nih.
08:20Anda lihat nggak?
08:23Kemudian captionnya adalah kira-kira aroma apa yang diundus Pak Jokowi.
08:27Ini nggak lama berselang ketika kasus penyadapan ini mencuat di publik.
08:31Apa sih pesan yang mau disampaikan Pak Jokowi sebenarnya?
08:34Tidak ada pesan untuk disampaikan untuk itu.
08:37Soal aroma-aroma apa gitu?
08:38Ya itu kan orang persepsi, persepsi orang ya, asumsi orang-orang seperti itu ya.
08:44Tidak ada hal yang istimewa lah mengenai aroma.
08:47Oke, jadi nggak ada ya, nggak ada kaitannya ya.
08:49Tidak ada kaitan.
08:50Prof Burhan, jika memang ada dugaan keterlibatan orang dalam-dalam pemerintahan.
08:57Apakah aktor tersebut masih berada di lingkaran kekuasaan terkait soal penyadapan ini, Prof?
09:06Begini ya, Sintia ya, kita bicara dari sisi normatif dulu.
09:10Jangankan kepada Presiden, kepada orang biasa,
09:15kalau tidak tersangkut hukum, kemudian ada proses illegal tapping,
09:19itu sudah luar biasa.
09:21Apalagi terhadap Presiden.
09:23Jadi, apapun alasannya, apalagi dilakukan oleh anak buah,
09:32itu jelas secara normatif tidak benar.
09:34Itu dengan asumsi apa yang disampaikan oleh kabar reskrim,
09:38itu benar adanya bahwa benar-benar terjadi proses penyadapan.
09:42Itu dulu satu.
09:43Yang kedua, memang tidak bisa dipisahkan posisi Pak Listio dengan kedekatan dengan Pak Jokowi.
09:54Meskipun, meskipun ya, belum ada bukti yang meyakinkan bahwa ada perintah dari Pak Jokowi.
10:00Saya setuju dengan Bung Andi tadi ya.
10:02Tetapi, tentu ada pertanyaan yang muncul,
10:06karena bagaimanapun Pak Listio dilantik sebagai Kapolri zaman Pak Prabowo,
10:12bukan karena Pak Listio-nya,
10:13tetapi karena beliau proksi dari Pak Jokowi.
10:16Dan ada banyak sekali,
10:18orang-orang yang dianggap punya kedekatan dengan Pak Jokowi,
10:23yang dipilih sebagai anggota kabinet Pak Prabowo.
10:26Jadi, ini ibarat seperti unit team,
10:29kalau kita mengacu pada pengalaman Filipin ya,
10:31ada dua aliansi besar,
10:33Pak Prabowo dengan Pak Jokowi yang bersatu.
10:36Yang sepertinya,
10:37nah saya lebih tertarik untuk baca implikasi politik sekaligus
10:40termasuk konsolidasi, Pak.
10:43Jadi, ada indikasi
10:45dua figur yang sebelumnya membentuk unit team ini
10:49dalam kasus Pilpres 2024,
10:51itu mulai merenggang.
10:53Makanya,
10:54sampai ada proses yang disebut sebagai penyadapan.
10:57Kalau tidak ada
11:00perenggangan hubungan,
11:01tidak mungkin kan ada penyadapan.
11:04Nah, tentu polisi punya hutang kepada kita publik
11:07untuk menyediki secara tuntas
11:10apa motifnya,
11:11siapa yang terkait,
11:12supaya tidak menimbulkan dusta di antara kita.
11:16Oke.
11:17Prof, artinya ketika Anda menyebut
11:20ada
11:22sikap yang merenggang
11:24sehingga ada proses penyadapan ini,
11:26kemudian tak lama berselang
11:28akan ada dilakukan konsolidasi.
11:30Apakah PSI sendiri akan bergabung di sini
11:33dan pembahasan apa yang akan dibahas
11:36dalam konsolidasi ini, Prof?
11:37Tapi dijawabnya usai jeda,
11:38tetap bersama kami di Kompas Petang.
11:49Ada statement dari Prof Burhani
11:52yang tadi cukup menggelitik sebenarnya
11:54kalau disebutkan penyadapan ini
11:58sebelumnya karena ada
11:59dua hubungan yang merenggang gitu.
12:03Prof, mungkin bisa dijelaskan
12:04dengan bahasa awam.
12:06Ini maksudnya seperti apa?
12:07Kan kalau kita dengar
12:10keterangan dari Bares Krim,
12:12itu proses penyadapan
12:13berlangsung tahun 2025
12:14sampai tahun 2026.
12:17Nah, kalau kita kaitkan
12:19sejak awal kedua tokoh ini dilantik,
12:23Presiden Prabowo dan Wapres Gibran,
12:26itu kan ada beberapa insiden.
12:28Insiden yang pertama adalah
12:30Mas Wapres tiba-tiba bikin
12:32lapor Mas Wapres.
12:35Kemudian bikin bantuan Wapres.
12:39Biasanya yang kita kenalkan
12:40Bantuan Presiden.
12:42Dan akhirnya kita melihat
12:45posisi Mas Gibran sebagai Wapres
12:48itu seperti termarginalkan
12:51dalam tata kelola pemerintahan.
12:54Di saat yang sama,
12:55Pak Prabowo yang menjual
12:58narasi keberlanjutan,
13:00itu sepertinya punya agenda sendiri.
13:02Agenda berkaitan dengan MBK,
13:06berkaitan dengan KDMP,
13:07yang kemudian dibaca
13:09oleh pendukung Pak Jokowi
13:11bahwa narasi keberlanjutan itu
13:14tidak dieksekusi dengan sangat baik
13:18di masa sekarang.
13:19Misalnya IKN seperti terkesan
13:21berjalan di tempat dan seterusnya.
13:23Artinya figur yang merenggang ini
13:25antara Pak Prabowo dengan Wapresnya
13:28atau Pak Prabowo dengan Pak Jokowi nih, Prof?
13:31Saya kira tidak bisa dipisahkan begitu.
13:35Nah yang menarik buat saya adalah
13:372025 itu kapan?
13:39Apakah setelah kerusuhan Agustus akhir
13:422025 atau tidak?
13:44Karena setelah kerusuhan Agustus 2025
13:47kan ada banyak vaksi di sekitar Presiden juga
13:50yang memang sikapnya lebih antagonistik
13:54terhadap keluarga Pak Jokowi kan.
13:56Yang mungkin, mungkin saja
13:58itu memicu proses penyadapan
14:00untuk kontraintelijen
14:03terkait dengan apa yang mau dilakukan
14:05oleh kelompok tadi.
14:07Terutama kalau misalnya terjadi
14:11halangan yang bersifat tetap
14:13terhadap Presiden.
14:13Tapi gini, Prof.
14:15Kalau memang posisi Wapres ini
14:18termarginalkan
14:19apakah ini artinya
14:20ketika nanti akan ada konsolidasi
14:22PSI sebagai salah satu partai
14:24yang memang mendukung
14:27Gibran gitu
14:28akan ikut dalam konsolidasi ini?
14:31Ya, ini don't get me wrong ya
14:34posisi saya tetap secara normatif
14:36mengatakan penyadapan itu salah besar.
14:39Tapi saya ingin membaca konteksnya dulu.
14:42Nah, kalau konteksnya
14:43seperti yang tadi saya sebut itu benar
14:45ya kemungkinan PSI
14:47tidak diajak
14:48dalam proses konsolidasi
14:50pasca penyadapan.
14:51Apalagi nih,
14:52kalau kita baca pernyataan
14:54Prof. Yusril
14:56malam
14:57ketika statement
14:59berkaitan dengan penyadapan
15:00disampaikan oleh kabar restri.
15:02Itu pakai ancaman penyadapan
15:05di luar aturan.
15:06jadi sangat soft.
15:07Oke.
15:08Tetapi keesokannya
15:09Prof. Yusril maupun
15:11Prastil Hadi
15:12sebagai menseknya
15:13sama-sama menyatakan
15:15penyadapan
15:15yang mengarah
15:17kepada makar.
15:18Jadi ada peningkatan
15:19status ancaman
15:20berkait dengan mereka
15:21yang dianggap penyadap.
15:23Jadi kesan saya
15:23ada dua nih
15:24Cynthia.
15:26Satu,
15:27ada kesan terjadi
15:28proses eskalasi.
15:29Oke.
15:30Kalau terjadi proses eskalasi
15:31PSI gak bakal diajak.
15:33Oke.
15:33Tapi kalau terjadi deal
15:34ada proses deeskalasi
15:36mungkin PSI kembali diajak
15:38meskipun
15:39luka sudah terlanjur.
15:40Oke.
15:41Bang Doli,
15:41kalau dari
15:42internal koalisi
15:44pasti udah ada
15:45bahas-bahasan dong
15:46terkait dengan penyadapan ini.
15:47Apakah otak
15:49dari penyadapan ini
15:50menurut perspektif
15:51partai
15:52itu masih
15:53di lingkar listanah
15:55atau seperti apa
15:56dugaannya?
15:58Saya tidak
16:00mengetahui
16:01atau belum dapat
16:02informasi
16:02karena selama ini kan
16:03komunikasi
16:04yang dibangun
16:06antar partai politik itu
16:07diwakili oleh
16:08Ketua Umum kami ya.
16:09Nah setahu saya
16:10belum ada pertemuan khusus
16:12sebetulnya
16:13antar partai politik
16:14di koalisi
16:14menyangkut soal ini ya.
16:16Tapi
16:17menurut saya
16:18saya kira
16:20pandangan semua
16:21partai politik
16:22hampir sama
16:23dan saya kira juga
16:24kita semualah ya
16:25rakyat Indonesia
16:27hampir sama
16:27ini tindakan yang
16:28tidak boleh
16:29tidak bisa dibenarkan.
16:31Karena sekali lagi
16:32saya katakan
16:32ini adalah
16:33sudah mengancam
16:35kedaulatan
16:36negara kita.
16:37Ya apalagi
16:38ya kita ini kan juga
16:39mendengar informasi
16:41yang resmi-resmi ya.
16:43Terakhir kan
16:43pemerintah mengatakan
16:44ini sudah mengarah ke
16:46dapat dirugah
16:47ada tindakan masalah.
16:48Ya.
16:49Jadi ini bahaya
16:49sekali menurut saya.
16:50Bahaya sekali
16:51dan oleh karena itu
16:53kita percayakan saja
16:54sebetulnya
16:54kepada pihak
16:55kepolisian.
16:56Ya kita
16:57kita yakin
16:58dan percaya
17:00betul tadi
17:01saya kira
17:01saya kira
17:01apa yang disampaikan
17:02oleh Pak
17:03Pak
17:03Perumahan
17:04ini hutang
17:05kepolisian ya
17:06ini momentum
17:07sekaligus
17:08untuk juga
17:08sekaligus
17:13memperbaiki
17:14citra polisi
17:15yang memang
17:15sudah
17:15tercoreng
17:17karena memang
17:17mantan
17:18yang ikut
17:19terlibat.
17:20Tapi ketika
17:20nanti akan
17:21ada konsolidasi
17:22Bang
17:23apa yang
17:23akan dibahas
17:24di sini
17:25apakah
17:25akan
17:29memisahkan
17:29siapa-siapa saja
17:30yang menjadi
17:31pihak
17:31dugaan
17:32ikut terlibat
17:33dalam penyadapan
17:34atau bagaimana?
17:35Ya saya kira
17:36pertemuan itu
17:37akan mendorong
17:38pemerintah
17:39khususnya
17:40ke pihak
17:40kepolisian
17:41untuk mengusut
17:41tuntas
17:42setuntas-tuntasnya
17:43ya tadi yang
17:44seperti saya
17:44sudah pernah sampaikan
17:45ini harus dicari
17:46motifnya apa
17:48apakah memang
17:49tadi sudah diduga
17:50ada makar
17:51apakah betul
17:52memang motifnya
17:53ada
17:55diduga
17:56melakukan makar
17:57dan kemudian
17:58siapa yang
17:59kemudian menjadi
18:00dalang dari
18:01perbuatan makar ini
18:02ya kepentingannya
18:03untuk apa
18:04gitu ya
18:05karena ini
18:06ini bahaya sekali loh
18:07ini kalau tidak
18:07dintaskan
18:08saya kira ini akan
18:09jadi presiden buruk
18:10dalam kehidupan
18:10berbangsa
18:11dan menegara kita
18:12gitu
18:13kalau dari dugaan
18:14Golkar sendiri
18:15jadi siapa pihak-pihak
18:15yang bisa dikatakan
18:18berperan besar
18:19dalam penyadapan ini
18:21ya kita kan
18:23bukan
18:23pihak yang berwajib
18:25gitu ya
18:25kita partai politik
18:27makanya kita serahkan
18:28saja nanti
18:28kepada polisi
18:29tapi begini ya
18:30satu yang ngecatatan
18:31sudah lah
18:32saya kira ini kan
18:33seperti
18:33apa ya
18:34kita nih
18:35seolah-olah
18:36masuk dalam fase
18:37power struggle
18:39gitu loh
18:40adu-adu kuat
18:41terus gitu
18:42sekarang ini
18:43masyarakat
18:44masyarakat kita ini
18:45juga dalam situasi
18:46yang tidak baik-baik saja
18:47udahlah
18:48jangan main-main
18:49jangan main kekuatan
18:50adu kekuatan
18:50begitu gitu ya
18:51kasihan rakyat
18:52gitu ya
18:53jadi kita
18:54kita bantulah
18:55presiden kita itu
18:56jangan ganggu-ganggu
18:57adu-adu kuat kekuatan
18:58adu-adu kekuatan
18:59gitu ya
19:00supaya program
19:01dan
19:02apa tanggung jawabnya
19:03untuk menjalankan
19:04program pemerintah
19:06menjelaskan
19:06masalah masyarakat
19:07bisa selesai
19:07kira-kira gitu
19:08oke
19:09Bang Andi
19:11kalau dilihat
19:12dari situasi
19:13saat ini
19:13apa yang Anda
19:14lihat ketika
19:15ada narasi-narasi
19:16yang menyinggung
19:17nama Pak Jokowi
19:18kemudian
19:19apa dampaknya
19:20nanti bagi
19:20posisi
19:21Gibran sendiri
19:22sebagai Wapres
19:23ya
19:23kalau kita lihat ya
19:24segala sesuatunya
19:25yang berhubungan
19:26dengan Pak Jokowi
19:27atau dikatakan
19:28dengan Solo itu
19:29pasti akan menarik
19:30perhatian publik
19:32apapun itu
19:33gitu kan
19:33selalu
19:34juga dikait-kaitkan
19:35dengan Pak Jokowi
19:37kalau kita melihatnya
19:39karena Pak Listio
19:40memang sangat
19:41bisa dikatakan
19:41kalau kita bicara
19:42Pak Listio
19:43dekat itu
19:44tapi kan Pak Jokowi
19:45sudah step down
19:46tahun 2024
19:47ini kejadian
19:482025
19:49pasca
19:50yang namanya
19:51big demo itu
19:52yang Agustus itu
19:542025
19:54saya setuju
19:56apa yang dikatakan
19:57dari Prof. Burhan
19:58tadi
19:58apakah ada
19:59faksi-faksi
20:00di lingkaran
20:01istana itu sendiri
20:02yang memperubutkan
20:04porsi-porsi
20:05kekuasaan itu
20:07kemudian
20:08dicarikan
20:09kambing hitamnya
20:10misalnya
20:10kan bisa saja
20:11terjadi seperti itu
20:12tapi dari
20:13kita melihatnya ini
20:15secara jernih saja
20:16kita serahkan
20:18kepada pihak kepolisian
20:19apa yang dikatakan
20:20seperti dengan
20:20Bung Doli
20:21bila perlu
20:22dibuka saja
20:24sekalian
20:25apa saja yang ada
20:26apa saja yang
20:27menjadi hasil
20:29sadapan
20:29terima kasih
20:29Bang Andi Aswan
20:30terima kasih juga
20:31Prof. Burhan
20:32Bang Doli
20:33sudah berbagi perspektif
20:34di Kompas Petang
20:35sore hari ini
20:35selamat sore
20:36selamat sore
20:39selamat sore
20:40selamat menikmati

Dianjurkan