Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Wakapolri 2013-2014 Komjen (Purn) Oegroseno menilai seorang Kapolri harus memiliki loyalitas kepada Presiden sebagai kepala negara, terlepas dari siapa yang menjabat.

Menurut Oegroseno pergantian pemerintahan semestinya menjadi momentum untuk memastikan loyalitas pimpinan institusi negara tetap berada pada Presiden yang sedang menjabat.

Ia mengingatkan, kedekatan personal maupun hubungan pada masa pemerintahan sebelumnya tidak boleh memengaruhi tugas dan pengabdian seorang pejabat negara.

Oegroseno menegaskan, anggota Polri seharusnya mengabdikan diri kepada negara dan bangsa, bukan kepada perorangan.

Karena itu, ia mengingatkan agar kedekatan personal dengan pejabat pada pemerintahan sebelumnya tidak menjadi dasar loyalitas setelah terjadi pergantian kepemimpinan.

Oegroseno juga mempertanyakan kepentingan di balik kemungkinan adanya loyalitas kepada individu mantan presiden, yang menurutnya tidak seharusnya berkaitan dengan agenda politik masa depan.

Lebih lanjut, Oegroseno meminta Polri melakukan pembenahan agar tidak kembali muncul stigma "Partai Cokelat" atau parcok di tengah masyarakat.

Menurutnya, kepercayaan publik terhadap kepolisian harus dipulihkan melalui perubahan nyata dari internal institusi.

Oegroseno berharap kepolisian kembali menjadi institusi yang utuh dan tidak terlibat dalam persoalan politik maupun kepentingan kelompok tertentu.

Oegroseno menilai, pembenahan Polri harus dilakukan secara menyeluruh dan ditunjukkan melalui tindakan nyata.

Ia meminta kepolisian tidak lagi terlibat dalam persoalan politik, termasuk di tingkat daerah.

Baca Juga Eks Kapolri Listyo Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo, Oegroseno: Buat Apa Disadap? | SATU MEJA di https://www.kompas.tv/talkshow/699789/eks-kapolri-listyo-tersangka-penyadapan-presiden-prabowo-oegroseno-buat-apa-disadap-satu-meja

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/K3oVmdCMp4M

#kapolri #listyosigit #prabowo





Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/699791/oegroseno-kapolri-harus-loyal-kepada-presiden-bukan-mantan-presiden-satu-meja
Transkrip
00:00Saya ke Pak Ugro, Pak Ugro, kalau melihat ya Pak, Kapolri gitu Pak, dalam posisi ada dua lagi perguruan tinggi
00:10yang terlibat, ini selebihnya proses sedang beriksa.
00:14Untuk apa Pak, kalau tidak ada kekuatan yang lebih besar kepada Presiden?
00:18Dia juga dalam posisi yang tidak sedang dirugan oleh Presiden, bahkan dalam banyak kesempatan diberi penghargaan terkait dengan MBG,
00:27juga pujian dalam banyak kesempatan, kira-kira Bapak melihat ini sedang berpolitik seorang Kapolri saat itu, karena disebut tahun 2025
00:38kan Pak,
00:39atau memang punya target tertentu, ini kan sebetulnya tidak lazim Pak, polisi yang harusnya tegak lurus dengan Presiden, tapi melakukan
00:47itu.
00:49Kembali lagi kalau dari awal, pendoman hidup dan pendoman kerja Polri itu kan tribrata dan catur prasut.
00:58Itu tidak bisa lagi ditawar-tawar lagi, ya kan? Jadi kalau tribrata yang selalu saya katakan yang ketiga,
01:09Yana Anusa Sana Dharma, wajib menjaga ketertiban pribadi dari rakyat.
01:16Kalau dibilang rakyat itu ya, mulai dari rakyat dimanapun yang ada di Indonesia,
01:20mungkin sampai jabatan terdiri Presiden itu rakyat.
01:24Jadi ketertiban pribadinya harus dijaga, tidak perlu disadap, buat apa disadap?
01:31Kecuali rakyat yang diduga melakukan tindak pidana berkaitan dengan pasal 258 ayat 1.
01:38Kenapa kali ini seperti yang disampaikan oleh Kabar Reskrim, sudah jadi tersangka kok berani melakukan penjarapan ke Presiden?
01:47Pasti ada motivasi yang...
01:49Ya, kalau dianalisa kepentingan pribadinya apa manfaatnya menyadap.
01:55Sebagai dalam kapasitas sebagai Kapolri?
01:58Sebagai Kapolri ini menyadap.
02:00Dalam rangka Pak Kapolri menyadap ini kan urusan penyidik.
02:05Bukan Kabar Reskrim juga, gitu loh.
02:08Jadi kalau dikatakan ini tidak ada mesej pesan dari pihak lain, kan buat apa sih?
02:15Agak susah diberikan akal sehat.
02:18Iseng nyadap buat apa seperti itu.
02:19Jadi ya sekarang sudah lanjut seperti ini, mari kita buka ada apa sebenarnya.
02:24Kalau Pak Ugro, Pak saya akan lanjutkan tadi yang jawaban Pak Ugro.
02:28Kira-kira siapa yang memberikan perintah kepada seorang Listio?
02:35Ya seharusnya begitu seorang Kapolri lah katakan gitu.
02:40Itu kan loyal pada Presiden sebagai Kepala Negara.
02:43Presiden siapapun lah.
02:45Ya mungkin bagusnya tadi katakan bisa diganti begitu Presiden baru.
02:49Tapi kalau Presiden siapapun harus yakin kalau Kapolri Panglimatian itu ya loyal sampai Kepala Negara saat itu siapa yang jabat.
03:00Kalau yang sudah selesai jabat, Pak SBY dulu enggak ada Kapolri yang masih jabat sebentar terus langsung tetap Pak SBY
03:08kan enggak ada.
03:09Nah hal-hal seperti ini jangan sampai terjadi ke depan lagi.
03:11Kalau sudah selesai ya selesai.
03:13Jadi mungkin ini kan ada kedekatan karena dulu mungkin pernah sama-sama di Solo dan sebagainya.
03:19Nah itu enggak harus dilangkan.
03:21Jadi begitu masuk ke polisi ini, satu insan rastrasewak utama yang ditempel di kepalanya polisi topinya itu kan.
03:27Rastrasewak utama.
03:28Abdi utama dari Nusa dan bangsa.
03:31Mengabdian kepada Nusa dan bangsa bukan kepada perolahan di situ.
03:34Nah ini mungkin.
03:35Dalam hal ini Bapak melihat bahwa ada loyalitas kepada individu.
03:39Ya.
03:40Maka ketika sudah berganti pimpinan dalam ini presiden berganti pun masih seperti.
03:44Kalau kepentingan individu mantan presiden misalnya.
03:47Ya.
03:48Itu tidak ada kaitan dengan ada politik masa depan.
03:51Bukan masa lalu loh.
03:53Polisi masa depan.
03:55Ini kan berarti ada target seperti itu.
03:57Jadi sudah lah kalau sekarang sudah seperti ini ya mari kita perbaiki ke depan.
04:01Jangan sampai terjadi-terjadi lagi sampai kata-kata kalau orang-orang sekarang bilang sebutkan Partai Coklat.
04:07Kita bisa dibilang Partai Coklat.
04:10Udahlah hilangkan itu istilah Partai Coklat.
04:12Mari kembalikan Polri yang utuh yang dulu.
04:14Artinya Pak Partai Coklat itu kan keluar dari masyarakat karena melihat perilaku lembaga polis selama ini.
04:21Elit-elitnya Pak ya.
04:22Tapi kalau mau hilang itu kan berarti harus ada perubahan besar dan ditunjukkan oleh Keternal Polri.
04:26Ini harusnya secara terpimpin mungkin dari perintah dari Kapolri yang sekarang Pak Coklat jelas saja.
04:34Tidak ada lagi yang terlibat-terlibat dalam persoalan-persoalan politik seperti itu sampai ke daerah-daerah.
04:39Tidak ikut nyumbang dan sebagainya.
04:42Udahlah kembali Polri yang utuh yang profesional seperti yang diharapkan oleh.
04:46Dan ini momentum yang untuk memulai itu Pak ya?
04:48Iya ini kembali kepada momentum kembali kepada jalan yang benar itu aja.
04:53Oke. Benarkah penyadapan terhadap Presiden ini memang bertujuan untuk makar?
04:57Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan