- 7 menit yang lalu
- #kapolri
- #listyosigit
- #prabowo
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakapolri 2013-2014 Komjen (Purn) Oegroseno mempertanyakan alasan penyadapan terhadap Presiden, terlebih jika tindakan tersebut dilakukan dalam kapasitas sebagai Kapolri.
Oegroseno juga mempertanyakan kepentingan pribadi maupun manfaat yang diperoleh dari tindakan penyadapan tersebut.
Oegroseno menilai, kasus ini perlu dibuka secara terang agar publik mengetahui alasan dan kepentingan di balik dugaan penyadapan terhadap Presiden.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan adanya pesan atau kepentingan dari pihak lain yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Menurutnya, penanganan perkara harus dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu, Mantan Staf Ahli Kapolri, Muradi, mengungkapkan, dirinya mendengar proses penjemputan terhadap mantan Kapolri dan sejumlah jenderal lainnya telah berlangsung sejak Minggu dini hari.
Muradi mengaku masih berkomunikasi dengan salah satu jenderal yang terseret kasus tersebut pada Sabtu, bahkan sempat bertemu dan berbincang pada Jumat.
Namun, pada Senin dini hari, telepon seluler jenderal tersebut sudah tidak aktif.
Menurut Muradi, proses penanganan perkara kemungkinan telah berlangsung lebih jauh karena perangkat komunikasi telah diamankan.
Muradi menilai, salah satu persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian adalah loyalitas personal dalam institusi kepolisian.
Menurutnya, dalam pergantian pemerintahan, terdapat empat jabatan strategis yang semestinya segera mengalami pergantian, yakni Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan Kepala Intelijen.
Namun, menurut Muradi, pergantian tersebut tidak dilakukan secara bersamaan.
Ia menilai, mantan Kapolri memiliki waktu untuk menyesuaikan loyalitas dari pemerintahan sebelumnya ke pemerintahan yang baru. Namun, persoalan loyalitas personal justru dinilai menjadi penghambat.
Baca Juga Kompolnas Minta Pasal Sangkaan Kasus Penyadapan Prabowo Harus Jelas| SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/699787/kompolnas-minta-pasal-sangkaan-kasus-penyadapan-prabowo-harus-jelas-sapa-malam
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/K3oVmdCMp4M
#kapolri #listyosigit #prabowo
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/699789/eks-kapolri-listyo-tersangka-penyadapan-presiden-prabowo-oegroseno-buat-apa-disadap-satu-meja
Oegroseno juga mempertanyakan kepentingan pribadi maupun manfaat yang diperoleh dari tindakan penyadapan tersebut.
Oegroseno menilai, kasus ini perlu dibuka secara terang agar publik mengetahui alasan dan kepentingan di balik dugaan penyadapan terhadap Presiden.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan adanya pesan atau kepentingan dari pihak lain yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Menurutnya, penanganan perkara harus dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu, Mantan Staf Ahli Kapolri, Muradi, mengungkapkan, dirinya mendengar proses penjemputan terhadap mantan Kapolri dan sejumlah jenderal lainnya telah berlangsung sejak Minggu dini hari.
Muradi mengaku masih berkomunikasi dengan salah satu jenderal yang terseret kasus tersebut pada Sabtu, bahkan sempat bertemu dan berbincang pada Jumat.
Namun, pada Senin dini hari, telepon seluler jenderal tersebut sudah tidak aktif.
Menurut Muradi, proses penanganan perkara kemungkinan telah berlangsung lebih jauh karena perangkat komunikasi telah diamankan.
Muradi menilai, salah satu persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian adalah loyalitas personal dalam institusi kepolisian.
Menurutnya, dalam pergantian pemerintahan, terdapat empat jabatan strategis yang semestinya segera mengalami pergantian, yakni Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan Kepala Intelijen.
Namun, menurut Muradi, pergantian tersebut tidak dilakukan secara bersamaan.
Ia menilai, mantan Kapolri memiliki waktu untuk menyesuaikan loyalitas dari pemerintahan sebelumnya ke pemerintahan yang baru. Namun, persoalan loyalitas personal justru dinilai menjadi penghambat.
Baca Juga Kompolnas Minta Pasal Sangkaan Kasus Penyadapan Prabowo Harus Jelas| SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/699787/kompolnas-minta-pasal-sangkaan-kasus-penyadapan-prabowo-harus-jelas-sapa-malam
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/K3oVmdCMp4M
#kapolri #listyosigit #prabowo
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/699789/eks-kapolri-listyo-tersangka-penyadapan-presiden-prabowo-oegroseno-buat-apa-disadap-satu-meja
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:06Intro
00:09Penyidik telah menetapkan 3 orang tersangka dengan inisial LSP, ASN, dan EH
00:15Terhadap para tersangka tersebut diduga telah melakukan penyadapan tanpa prosedural
00:20Atau illegal tapping terhadap nomor telepon Presiden Republik Indonesia
00:26Dari kekembangan penyelidikan dan penyelidikan itu dapat ditarik kesimpulan sementara
00:34Bahwa terdapat tanda-tanda berindikasi-indikasi yang mengarah untuk pindahkan maka
00:42Seperti yang disebutkan di dalam pasal 191-193
00:49Ini tidak hanya penyalahgunaan kewenangan, tetapi ini adalah pelanggaran HAM yang sangat serius
00:55Dalam hak demokrasi dan juga terhadap sistem hukum nasional
00:59Terlebih penyadapan ilegal tersebut juga ditujukan kepada Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
01:06Maka ini merupakan suap tindakan makar yang tidak boleh ditolari apapun kealasan yang ada
01:12Dan harus diusuk secara untas siapa aktor-aktor yang terlibat di dalamnya
01:37Selamat malam, Kepolisian Negara Republik Indonesia menetapkan mantan Kapolri Jenderal Listio Sigit Prabowo
01:45Serta dua periura tinggi kepolisian sebagai tersangka dugaan penyadapan Presiden, Pejabat Negara, Pengusaha hingga Aktivis LSM
01:54Istana bahkan bersuara ada dugaan makar atas apa yang dilakukan oleh mantan Kapolri Jenderal Listio Sigit Prabowo
02:03Kapolri sadap Presiden, perintah siapa?
02:07Inilah satu meja The Forum malam ini bersama saya, Yogi Nugrah
02:10Sudah hadir di Studio Kompas TV malam ini untuk membahas tema yang cukup mengagetkan di awal pekan ini
02:17Komisaris Jenderal Penyawirawan Ugro Seno, Wakapolri 2013-2014, selamat malam Jenderal
02:24Selamat malam Mas
02:24Selamat selalu
02:25Apa kabar ini?
02:26Kabar baik, alam terbaik
02:27Alam maternya Pak Ugro ini makin meriah saja
02:32Terima kasih sudah hadir
02:34Duga Prof Muradi, mantan staf ahli Kapolri
02:38Penasihat ahli Kapolri
02:40Penasihat ahli Kapolri
02:41General Listio Sigit Prabowo ya, betul ya
02:44Sekaligus pengamat kepolisian dan penasihat senior di Lab 45
02:48Selamat malam semuanya sudah hadir
02:50Saya mau mulai dulu ke Prof Muradi
02:52Prof, ada yang mengatakan sebetulnya kabar munculnya baru hari Selasa
02:58Tapi penangkapan dan penjemputan paksa itu di hari Minggu, dini hari
03:02Dan kemudian sangat tertutup dan sampai dengan beberapa hari kemudian muncul ke publik
03:10Termasuk kepada General Listio
03:12Apa yang Anda tahu soal penangkapan ini?
03:16Hari Minggu atau hari Selasa sebetulnya?
03:18Ya saya mendengar memang hari Minggu
03:20Hari Minggu itu Sabtu saya masih komunikasi di salah satu general yang tiga orang itu
03:26Komunikasi dan bahkan hari Jumat saya ngopi bareng
03:28Hari Jumatnya ngopi bareng
03:30Ngopi ngopi ngopi banyak lebar soal masa depan Polri lah
03:35Kemudian hari Senin hari handphonenya sudah tidak aktif
03:40Kemudian setelah Seninnya rame ya
03:43Jadi ya saya kira memang sudah diproses lebih jauh
03:49Karena mungkin handphone dan segala sudah di amankan dan seterusnya
03:53Jadi kalau buat saya situasi hari itu agak mencekam bukan proses penyandapannya sebenarnya
03:59Di proses bagaimana kemudian keberanian internal untuk melakukan
04:03Apa
04:04Menersangakan
04:05Apa
04:06Kapolri yang 6 tahun
04:09Tanda kutip
04:10Membesarkan Kapolri
04:11Termasuk Kapolri yang terlama ya
04:13Terlama dibanding
04:14Dan masih aktif sebagai
04:15Dan masih aktif sebagai
04:16General
04:16Tempat penuh
04:17Betul itu yang saya kira sesuatu yang apa harus diapresiasi
04:21Kenapa karena itu mengindikasikan di publik bahwa internal Polri tidak tebang pilih
04:28Tidak mengelindungi dan seterusnya bahwa kemudian nanti dinamikanya akan ada apa apa namanya
04:37Respon negatif dan sebagainya saya kira Kapolri sekarang Pak Syudi jauh lebih bisa menghitung itu
04:43Dengan maksumsi bahwa
04:45Sebelum ke soal bagaimana ke depan Kapolri yang baru General Syudi
04:50Saya mau
04:51Ini dulu
04:52Sebagai mantan penasihat ahli
04:54Tentu
04:56Bisa memberikan perspektif
04:58Kalau menurut kabar reskrim Pak Syafruddin dan Menko Yusril
05:03Bahwa penyadapan dimulai sejak
05:05Sudah dimulai paling tidak sejak tahun 2025
05:08Artinya sudah berlangsung lama dan saat itu Kapolri aktif
05:11Ya artinya
05:13Apa sih sebetulnya
05:14Seorang Kapolri gitu
05:16Yang secara hubungan juga
05:19Paling tidak yang tampak di panggung depan
05:21Dengan persisnya juga baik-baik saja
05:22Tapi kemudian di ujung
05:25Kemarin diumumkan secara resmi jadi tersangka penyadapan
05:28Apa sih motifnya
05:29Apakah inisiatif sendiri rasanya agak tidak masuk akal
05:33Pasti ada juga yang membuat seorang Kapolri listyo ini melakukan ini
05:38Ya ini nanti mungkin Pak Ugro bisa milih banyak lebar soal doktrin internal ya Pak
05:43Tapi begini
05:44Saya ingin katakan begini
05:46Satu yang kemudian kritik utama saya
05:48Bukan cuma ke Pak listyo
05:50Dan Kapolri-Kapolri sebelumnya adalah
05:52Loyalitasnya kepersonal
05:54Harusnya kan kalau saya berkali-kali mengatakan bahwa
05:57Empat jabatan yang harus kemudian segera diganti
06:01Pertama adalah ketika pemerintahan baru ya
06:03Ada panglima militer
06:06Kepala kepolisian
06:07Kejaksaan
06:08Kejaksaan
06:08Dan juga kemudian kepala intelijen
06:10Dan ini empat-empatnya belum diganti
06:25Belum diganti baru Kapolri
06:37Tidak kujung kemudian merapat ke pemerintahan yang baru
06:42Ada dua alasan nih
06:43Mas yang pertama adalah
06:46Karena presidennya tidak dalam posisi terbuka
06:49Saya mau bilang loyalitas personal itu kan begini
06:53Kapolri listyo ini
06:55Yang kemudian jadi KSP
06:56Terakhir jabatan dan sudah dicopot oleh presiden
06:59Itu kan jadi Kapolri diangkat di masa presiden
07:03Sebelum Prabowo Jokowi
07:04Hampir empat tahun
07:06Kemudian sampai terakhir
07:07Dua tahun di pemerintahan
07:09Artinya ada dua
07:10Anda mau mengatakan bahwa
07:11Ada dualisme loyalitas
07:14Atau yang seharusnya kan secara normatif ya
07:17Yang namanya Kapolri ya tetap harus hormat
07:18Tunduk taat kepada presiden
07:20Bagi undang-undang
07:20Iya faktu apa harusnya begitu
07:23Tapi faktual di lapangan tidak begitu
07:25Jadi katakan misalnya
07:26Ada kesan
07:27Ada kesan misalnya bahwa
07:29Pak listyo jauh lebih
07:31Lebih apa respect
07:33Yang sebelumnya
07:35Tapi ini tadi yang terakhir pertama tadi
07:38Tadi yang pertama karena aksesnya tidak terbuka
07:40Yang kedua
07:41Memang ada
07:42Ada keep distance antara
07:46Antara katana pemerintah
07:47Dengan polisi
07:48Nah kalau ini yang terjadi sebenarnya
07:51Itu agak tsunami kecil harusnya
07:53Tapi itu tidak terjadi dalam dua tahun
07:55Justru yang kemudian terjadi adalah
07:56Mungkin aksesnya tidak seperti
07:58Karena ternyata keluhannya bukan cuma
08:00Cuma Kapolri
08:01Tapi juga kementerian yang lain
08:03Jadi dalam bahasa yang paling simple adalah
08:07Ada dua problem
08:08Problem pertama karena kemudian
08:10Biasanya pemerintahan baru itu
08:12Merangkul yang empat tadi
08:14Sumpah ulang dan segala macam
08:16Anda tidak melihat itu pada
08:17Saya tidak nangkep itu
08:18Saya ke Pak Ugro
08:19Pak Ugro
08:19Kalau melihat ya Pak
08:22Kapolri gitu Pak
08:24Dalam posisi
08:25Ada tiga
08:26Ada dua lagi perguruan tinggi
08:28Yang terlibat
08:28Ini selebihnya proses
08:30Sedang beriksa
08:31Untuk apa Pak
08:32Kalau tidak ada kekuatan yang lebih besar
08:34Kepada Presiden
08:36Dia juga dalam posisi yang tidak sedang
08:38Dirugan oleh Presiden
08:40Bahkan dalam banyak kesempatan diberi penghargaan
08:43Terkait dengan MBG
08:45Di juga pujian dalam banyak kesempatan
08:48Terus kira-kira
08:49Bapak melihat
08:50Ini sedang berpolitik
08:53Seorang Kapolri saat itu
08:54Karena disebut tahun 2025 kan Pak
08:56Atau memang punya target tertentu
08:58Ini kan
08:59Sebetulnya tidak lazim Pak
09:00Polisi yang harusnya
09:02Tegak lurus dengan Presiden
09:04Tapi melakukan itu
09:07Ya kembali lagi
09:08Kalau dari awal
09:10Pedoman hidup
09:11Dan pedoman kerja
09:12Polri itu kan
09:13Tribrata dan catur prasetya
09:15Catur prasetya
09:16Itu
09:16Tidak bisa lagi
09:18Ditawar-tawar lagi
09:20Ya kan
09:21Jadi kalau
09:24Tribrata yang
09:25Selalu saya katakan yang ketiga
09:27Yana, Anusa, Sana, Dharma
09:30Wajib menjaga
09:31Keteritibaan pribadi dari rakyat
09:32Kalau dibilang rakyat itu ya
09:35Mulai dari rakyat dimanapun
09:37Yang ada di Indonesia
09:38Mungkin sampai jabatan terdiri
09:40Presiden itu rakyat
09:41Jadi ketertibaan pribadinya
09:44Harus dijaga
09:45Tindak perlu disadap
09:47Buat apa disadap
09:49Kecuali rakyat yang
09:50Diduga melakukan
09:51Tindak pidana
09:53Berkaitan dengan
09:54Pasal 258
09:55Ayat 1
09:56Kenapa
09:57Kenapa kali ini
09:58Seperti yang disampaikan oleh
10:00Kabar Reskrim
10:01Sudah jadi tersangka
10:02Kok berani
10:03Melakukan penjarapan ke presiden
10:04Pasti ada
10:05Motivasi yang
10:06Ya
10:07Kalau dianalisa
10:09Kepentingan pribadinya apa
10:10Manfaatnya menyadap
10:12Ya kan
10:13Sebagai
10:14Dalam kapasitas
10:15Sebagai Kapolri
10:16Sebagai Kapolri ini
10:17Menyadap
10:17Dalam rangka
10:18Kapolri
10:19Menyadap ini kan
10:20Urusan penyidik
10:22Betul
10:23Bukan Kabar Reskrim juga
10:25Gitu loh
10:25Jadi
10:26Kalau dikatakan
10:28Ini tidak ada
10:29Message
10:30Pesan
10:31Dari pihak lain
10:32Kan buat apa sih
10:33Agak susah di
10:34Beri akal sehat
10:35Buat apa seperti itu
10:37Jadi
10:37Ya sekarang udah
10:38Lanjut seperti ini
10:40Mari kita buka
10:40Ada apa sebenarnya
10:42Kalau Pak Ugro
10:43Pak saya akan lanjutkan
10:44Tadi yang
10:45Jawaban Pak Ugro
10:46Kira-kira
10:46Siapa yang
10:49Memberikan perintah
10:50Kepada
10:51Seorang Listio
10:53Ya
10:54Seharusnya begitu
10:56Seorang Kapolri
10:57Kata-kata
10:58Itu kan
10:59Noyal pada presiden
11:00Sebagai kepala negara
11:01Presiden siapapun
11:02Ya mungkin
11:04Bagusnya tadi
11:05Katakan bisa
11:05Diganti
11:06Begitu presiden baru
11:07Tapi kalau
11:08Presiden
11:09Siapapun
11:10Harus yakin kalau
11:12Kapolri
11:12Panglimatian itu
11:13Ya
11:14Loyal
11:15Sampai kepala negara
11:16Saat itu siapa yang jabat
11:18Kalau yang udah selesai
11:19Jabat
11:20Pak SBY dulu
11:21Gak ada Kapolri
11:22Yang masih
11:22Jabat sebentar
11:23Terus
11:24Langsung
11:25Tetap Pak SBY
11:26Kan gak ada
11:27Nah hal-hal
11:28Sebenarnya
11:28Jangan sampai terjadi
11:29Kedepan lagi
11:29Kalau udah selesai
11:30Ya selesai
11:30Jadi
11:33Mungkin ini kan
11:34Ada kedekatan
11:35Karena dulu
11:35Mungkin pernah sama-sama
11:36Di Solo
11:37Nah itu
11:38Yang harus dilangkan
11:38Jadi begitu
11:39Masuk ke polisi ini
11:40Satu
11:41Insan
11:41Rastasewak utama
11:42Yang ditempel di kepalanya
11:44Polisi topinya
11:44Rastasewak utama
11:46Abdi utama
11:47Dari
11:48Nusat dan bangsa
11:48Mengabdian kepada
11:49Nusat dan bangsa
11:50Bukan kepada
11:51Perolangan disitu
11:52Nah ini mungkin
11:53Dalam hal ini
11:53Bapak melihat bahwa
11:54Ada loyalitas
11:55Kepada individu
11:57Ya
11:57Ketika sudah berganti
11:58Pimpinan dalam
11:59Mending presiden
11:59Berganti pun
12:00Masih seperti
12:01Kalau
12:02Kepentingan individu
12:03Mantan presiden
12:05Misalnya
12:05Itu tidak ada kaitan
12:06Dengan
12:07Ada politik
12:08Masa depan
12:09Bukan masa lalu
12:11Buat apa
12:12Ini kan berarti
12:13Ada target
12:14Seperti itu
12:14Jadi
12:15Sudahlah
12:16Kalau sekarang
12:16Sudah seperti ini
12:17Mari kita perbaiki
12:18Kedepan
12:19Jangan sampai terjadi
12:20Terjadi lagi
12:21Sampai kata-kata
12:22Kalau orang-orang
12:22Sekarang bilang
12:23Sebutan partai coklat
12:25Kita
12:26Dibilang partai coklat
12:27Dibilang partai coklat
12:28Sudahlah hilangkan itu
12:29Istilah partai coklat
12:29Mari kembalikan
12:30Polri yang utuh
12:31Artinya Pak
12:33Partai coklat itu kan
12:34Keluar dari masyarakat
12:35Karena melihat perilaku
12:37Lembaga polri selama ini
12:38Elit-elitnya Pak ya
12:39Tapi kalau mau hilang
12:41Itu kan berarti
12:41Harus ada perubahan besar
12:42Dan ditunjukkan
12:43Oleh
12:43Polri
12:44Ini harusnya
12:46Secara
12:47Apa
12:47Terpimpin mungkin
12:48Dari perintah
12:49Dari Kapolri
12:50Yang sekarang Pak Jir
12:51Jelas saja
12:51Tidak ada lagi
12:52Yang terlibat-libat
12:53Dalam persoalan-persoalan
12:55Politik seperti itu
12:56Sampai ke daerah-daerah
12:57Tidak ikut
12:59Nyumbang
12:59Dan sebagainya
13:00Udah lah
13:00Kembali polri yang utuh
13:02Yang profesional
13:02Seperti yang
13:03Diharapkan oleh
13:04Dan ini momentum
13:05Untuk memulai itu Pak ya
13:06Iya
13:06Ini kembali kepada
13:07Momentum kembali kepada
13:09Jalan yang benar itu aja
13:10Oke
13:11Benarkah penyadapan
13:12Terhadap presiden ini
13:13Memang bertujuan
13:14Untuk makar