Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dana asing yang keluar dari Saham Indonesia kian deras, hampir mendekati Rp 100 triliun dari Januari hingga Oktober.

Seberapa besar risikonya jika asing terus melakukan aksi jual tanpa henti, kita bahas bersama CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo.

Praska menilai imbas pengumuman MSCI menjadi terdampak IHSG. Sektor tekanan dominan terjadi di sektor-sektor energi dan juga di sektor keuangan ya.

Baca Juga IHSG Hari Ini 26 Oktober 2026 Melemah, Cermati Level 5.424 di https://www.kompas.tv/ekonomi/697986/ihsg-hari-ini-26-oktober-2026-melemah-cermati-level-5-424

Produser: Theo Reza

#ihsg #danaasing #pasarsaham

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/698833/full-analis-bicara-soal-dana-asing-keluar-dari-pasar-saham-indonesia-hampir-rp-100-t
Transkrip
00:10Intro
00:20Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara bersama saya Yan Rahman.
00:23Saudara untuk pengembangan usaha saham JAR dan PGUN diagunkan ke bank.
00:28Kita lihat bagaimana kinerjanya setelah dijaminkan.
00:35Saham Johnlin Agro Raya alias JAR ini sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang 2026 pada 17 September di level 4.190,
00:46namun turun tajam 14,09% keesokan harinya pada 18 September di level 3.600.
00:53Bahkan trennya terus turun hingga kemarin 29 Oktober menyentuh level 2.240 atau tertekan 46,54%.
01:12Sementara saham PGUN yang juga diagunkan ini tampak, Saudara, volatilitasnya juga cukup tinggi.
01:19Pada 17 September PGUN masih berada di level 10.050, selama 3 hari turun 11,44% di harga 8
01:29.900 dan sempat jatuh 31,84% ke harga 6.850 pada 16 Oktober.
01:36Namun ini mampu bangkit hingga akhirnya kemarin 29 Oktober berada di angka 8.025, namun belum mampu kembali ke level
01:47di tanggal 17 September lalu.
01:54Saudara kinerja pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan indeks harga saham gabungan atau IHSG tercatat turun 41% sejak
02:02awal tahun atau secara year to date.
02:05IHSG kini berada di level 5.098 jauh di bawah posisi pada awal tahun.
02:11Tekanan ini terjadi di tengah maraknya aksi jual saham oleh investor asing.
02:15Sentimen negatif juga menyusul sorotan MSCI terhadap transparansi dan juga kualitas pasar modal Indonesia dan penurunan tajam IHSG menjadi sinyal
02:24besarnya tantangan yang dihadapi otoritas bursa untuk memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar saham domestik.
02:39Aksi jual bersih saham oleh investor asing di pasar modal Indonesia ini masih berlanjut, saudara.
02:45Berdasarkan data RTI bisnis pada 29 Oktober 2026, investor asing ini mencatatkan net sell sebesar Rp1,08 triliun.
02:54Dalam kurun waktu satu bulan, total dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai Rp16,5 triliun.
03:03Sementara itu, sejak awal Januari hingga 29 Oktober 2026, akumulasi net sell asing telah menembus Rp97,78 triliun.
03:13Salah satu sentimen yang membebani pasar adalah sorotan MSCI terhadap pasar modal Indonesia, mulai dari transparansi kepemilikan saham, akurasi data
03:24free float, hingga kemudahan investor asing dalam bertransaksi.
03:33Saudara dana asing yang keluar dari saham Indonesia Kiandras hampir mendekati Rp100 triliun dari Januari hingga Oktober ini.
03:41Seberapa besar risikonya jika asing terus melakukan aksi jual tanpa henti?
03:45Kita bahas bersama Praska Putrantio, CEO Advisor Profi Navisindo.
03:49Mas Praska, selamat pagi.
03:52Selamat pagi, Mas Yana.
03:54Mas Praska, ini kita pantau ada aksi jual asing, investor asing yang hampir mendekati Rp100 triliun dari periode Januari hingga
04:04Oktober ini.
04:05Ini menurut Anda fenomena ini menunjukkan apakah faktor kepercayaan atau ada juga faktor aksi ambil untung dan juga kita tahu
04:14sendiri bahwa ada sentimen dari MSCI terhadap pasar modal kita?
04:20Ya, Pak. Jadi kalau kita lihat, kita memang pergerakan ISP yang cukup terekankan ya.
04:25Jadi kalau dari gerai COVID sampai per tanggal 29 tahun kemarin itu mencapai minus 41 persen ya.
04:32Yang mana, baik-baik saja sektor, kita semua juga gerai-gerai berada di zona man, gerai-gerai berada di sana
04:37satu bulan akhir,
04:38sampai periode secara otom semua mengalami pertahanan.
04:41Dan yang paling terpekan di sepanjang minggu itu adalah di sektor energi, teknologi, dan infrastruktur seperti itu.
04:47Dan tidak menutup juga bahwa saham-saham perubahan besar ya.
04:51Kita bicara dari Big Bank, dari Imbara, dan juga Bank BBCA diantaranya.
04:56Itu juga mengalami tekanan yang cukup ke dalam.
04:58Kalau saya memang secara sentimen kan terus saja yang paling dominan ini kalau saya tanpa itu terutama dari masalah daun
05:04beli kita ya.
05:05secara kelompok yang dari MSCI, di mana MSCI itu berpotensi mendown beli kita dari masjid ke Flomviat.
05:13Jadi itu di awal Januari, kemudian berlanjut sebelum diplikasi di November,
05:18ke mana akhirnya disampaikan bahwa kita berpotensi turun sampai ke stand-alone market ya.
05:24Jauh dibawah Flomviat seperti itu.
05:26Nah ini yang membuat arus dan investasi secara akumulasi itu jauh dibawah,
05:32atau lebih dari 100 triliun ya.
05:35Kalau kita bicara maklumat, itu ya Rp166 triliun.
05:38Tapi kalau di maklumat total itu sekitar Rp97 triliun.
05:41Nah, karena ini tentu kalau saya benar-benar berdiri di sektor-sektor energi dan juga di sektor keuangan,
05:48terutama di PEC seperti itu.
05:50Dan juga selain dari masalah MSCI,
05:52kalau kita elaborate lagi, ada hal yang mempengaruhi diantaranya adalah
05:57melonjakan kembali harga menang mentah yang ditujuk oleh konflik di Timur Tengah.
06:01Nah, jadi di awal tahun di sekitar Februari itu konflik antara
06:05kira-kira Amerika Serikat di Satu Hamus ya,
06:08mengicu reka-rekaan minyak,
06:09kemudian menicu kenaikan inflasi,
06:11dan juga dikatinat.
06:13Sekarang dikecil lagi konflik juga di Timur Tengah yang akhirnya membuat harga minyak.
06:18Kalau saya pantau di sini minyak WTI dan brand itu sama-sama konsisten data 100 ya.
06:22Nah, hal ini membuat juga yield obligasi global ya,
06:27tidak hanya pada Indonesia,
06:28semua kembali meningkat.
06:31Masalah kekhawatiran fiskal di negara maju,
06:33menempel ke kenaikan harga komoditas yang berdampak terinflasi,
06:36dan itu memang terparah akhirnya nilai rupiah kita terus tertekan,
06:41dan sekarang menurut saya di OTIM high ya,
06:4318.100 lewat seperti itu,
06:45dan itu konsisten beberapa hari di atas 18.100,
06:49yang akhirnya memicu kekhawatiran investor asing juga menurut saya,
06:53sehingga menambah asing jual di pasar.
06:55Seperti itu, Pak.
06:57Oke, kita bahas nanti Mas Praska terkait dengan bagaimana dampak langsungnya
07:02terkait dengan net sale asing yang begitu besar ini terhadap rupiah,
07:05namun kita bahas kembali,
07:07terkait sebetulnya kalau kita melihat data,
07:09Mas Praska,
07:11net sale asing,
07:12all market ini sebesar 97,78 triliun,
07:15sementara di regular market 126,20 triliun rupiah secara year-to-date.
07:20Melihat angka-angka ini, Mas Praska,
07:22sebetulnya seberapa mengkhawatirkan sih angka net sale ini
07:24jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya?
07:29Ya, baik, jadi kalau saya pantau memang angka ini yang paling besar ya
07:33di pemerintah saya, di data yang saya miliki,
07:35karena kalau dari tahun-tahun sebelumnya,
07:37ini dana asing jendur masih ada akumulasi,
07:41kemudian memang ada net sale,
07:43tapi ini yang menurut saya cukup terbesar
07:44dan dalam kondisi saya tarik kurang lebih 5 tahun terakhir,
07:48ini sekarang dana asing itu sudah jauh lebih rendah
07:51dibandingkan posisi 5 tahun terakhir.
07:53Dan tidak hanya itu,
07:55berdampak juga pada performance di HSG ya.
07:57Mas Jan, di sini saya melihat,
07:59di HSG itu ternyata dalam 10 tahun terakhir,
08:01secara itu sudah negatif juga ya,
08:03kalau kita bicara secara return,
08:05secara indeks saja,
08:06jadi minus di kisaran lebih dari 5 persen ya,
08:105-10 persen,
08:11bahkan di MSCI Indonesia itu juga,
08:13cukup dalam sekali sampai ke minus 40 persen,
08:16seperti itu dalam 10 tahun terakhir.
08:18Nah, hal ini yang menurut saya juga berpengaruh juga,
08:22yang mana notabene dipengaruh oleh,
08:24karena nasibuan di kasur asing,
08:25yang muncul oleh masalah MSCI,
08:27dan juga masalah pelemahan rupiah.
08:30Oke, selain juga masalah MSCI,
08:34ini Mas Praska,
08:35sebetulnya menurut Anda,
08:36seberapa besar sih faktor eksternal,
08:38tadi Anda sempat menyebutkan,
08:39ada juga harga minyak dunia,
08:40yang turut mempengaruhi,
08:41sebetulnya faktor eksternal,
08:43yang mempengaruhi tekanan jual itu,
08:44apa saja sih,
08:46kalau saya lihat data,
08:47begitu ya,
08:47ada ketidakpastian suku bunga de-fet,
08:49dan juga penguatan dolar,
08:51kemudian,
08:51apa saja,
08:52kemudian persoalan fundamental ekonomi domestik,
08:54yang mempengaruhi,
08:55sikap investor,
08:56menurut Anda?
08:58Ya, menurut saya,
08:59tentu saja,
08:59investor ini,
09:00masih menyarankan kembali,
09:01masalah fiskal di kita ya,
09:04pertama,
09:05di tengah,
09:06kelemahan rupiah ya,
09:08yang sekarang,
09:08mulai kembali tembus,
09:09di atas Rp11.100,
09:10ini kan,
09:11memicu kekhawatiran,
09:12bahwa apakah,
09:14kita,
09:15fiskal itu,
09:15cukup mampu ya,
09:17melewati tekanan financial ini,
09:19seperti itu,
09:19dan juga,
09:19di sini juga terlihat bahwa,
09:22dalam surat utama kemarin,
09:23juga cukup,
09:24peminatnya sepi ya,
09:25agak sedikit,
09:26dan juga,
09:26permintaan kembali,
09:27cukup besar-besar,
09:28seperti itu,
09:29itu yang,
09:30menerai,
09:30terutama mendorong,
09:32tiba hasil obligasi,
09:33terutama 10 tahun,
09:33sekarang berada di kisah 7,5,
09:35sampai 7,6,
09:36berada di 7,7,
09:38nah,
09:38ini di luar dari kondisi COVID,
09:40hal ini,
09:41tentu sudah,
09:42kalau saya lihat,
09:42data sudah mencapai,
09:43tertinggi dalam,
09:445 tahun terakhir ya,
09:45secara deal,
09:45SBA 10 tahun terakhir,
09:47nah,
09:47ini yang melinggulkan,
09:48keawatan juga,
09:49bagaimana,
09:49dengan fiskal Indonesia,
09:51di tengah,
09:51kita masih cukup,
09:52cukup banyak program,
09:53yang harus,
09:54di,
09:55apa,
09:55di biaya,
09:55ya,
09:55termasuk di antaranya,
09:56ada IBG,
09:57ada POPIS,
09:57ada beberapa program-program,
09:59pemerintah lain,
09:59yang,
10:00lebih,
10:00ingin menjangkau masyarakat,
10:02secara luas,
10:03seperti itu,
10:03nah,
10:03ini menjadi tantangan juga,
10:05bagi pemerintah,
10:05dengan,
10:06volatilitas,
10:07menerbuka,
10:07kemudian.
10:08Oke,
10:09tadi,
10:09pertanyaan saya,
10:10terkait dengan eksternal,
10:12Mas Plaska,
10:13terkait dengan,
10:14sikap,
10:14The Fed,
10:16tidakpastian suku bunga The Fed,
10:17dan juga ada yield,
10:18obligasi dari Amerika Serikat,
10:19apakah ini juga,
10:20sedikit banyak,
10:21mempengaruhi,
10:22terkait dengan,
10:23keluarnya,
10:24asing,
10:24dari pasar modal Indonesia?
10:27Dari,
10:28faktor eksternal,
10:29tentu saja,
10:30masalah The Fed,
10:31ada,
10:31tapi,
10:32saya rasa,
10:33tidak terlalu,
10:34signifikan,
10:35saya tidak indominan,
10:36kenapa,
10:36karena,
10:37begini,
10:37kita itu,
10:38sebenarnya,
10:38loncengkan harga minyak,
10:39memencul,
10:40naik,
10:41potensi naikkan inflasi global,
10:42seperti itu.
10:44Nah,
10:44ditambah lagi,
10:44inflasi Amerika Serikat,
10:46kan,
10:46cat konsumsi ini,
10:46masih terus berada di atas,
10:4710%,
10:48dan,
10:48itu,
10:48terus saja,
10:50meningkatkan,
10:50ekspektasi,
10:51naikkan,
10:51fat rate selanjutnya,
10:53terutama,
10:53di,
10:54FOMC meeting,
10:55di bulan Desember nanti.
10:56Tapi,
10:57menurut saya,
10:58yang sebenarnya,
10:59menjadi konsen utama,
11:00adalah,
11:00impact-nya kita,
11:01terutama,
11:02di tengah,
11:03kurs rupiah,
11:03yang semakin mengonjak,
11:05all time high ini,
11:0618.150an lah,
11:08kurang lebih,
11:09kalau saya pantau,
11:09beberapa rapat,
11:10di gambar terakhir.
11:11Nah,
11:12ini yang menurut saya,
11:13menjadi,
11:14semacam alarm ya,
11:15bagaimana dengan,
11:16ketahanan ekonomi kita,
11:17di tengah,
11:18menekanan,
11:19nilai tukar yang melemah,
11:20kedua,
11:21harga minyak juga,
11:22tinggi,
11:23seperti itu.
11:23Dan,
11:24tambah lagi,
11:24kita tadi ada,
11:26harus ada program,
11:27yang dijalankan,
11:28secara program-program pemerintah.
11:29Nah,
11:29ini yang,
11:30yang mengujakan,
11:30banyak spending,
11:31dari pemerintah,
11:32kurang lebih seperti itu.
11:33Nah,
11:34karena kalau saya lihat di sini,
11:36pergerakan indeks kita itu,
11:37sebenarnya,
11:39hampir mencapai,
11:41kita kan sudah tiga kali ya,
11:42indeks kita sejak tahun 97,
11:44kurang lebih hampir 30 tahun terakhir,
11:46minus itu di atas 30%,
11:47seperti tahun 97,
11:49minus 36,
11:50tahun 99,
11:51minus,
11:51tahun 2020,
11:52minus 38,
11:53dan,
11:53sampai mortgage saat itu,
11:54minus 50,
11:55dan sekarang,
11:56kita kembali lagi,
11:57agak terburuk ke minus 41%,
11:58itu di tahun 2026 berjalan ini.
12:00Nah,
12:01hal ini tentu,
12:01agak berbeda dengan,
12:02tahun-tahun sebelumnya,
12:03terutama tahun 2028,
12:05secara global,
12:06sentimen ya,
12:06yang mengaruh kita,
12:07kalau sekarang,
12:08menurut saya,
12:08ini dipengaruhi internal,
12:10yang mana memang,
12:12pemicu awalnya adalah di MSCI,
12:14seperti itu.
12:14Oke,
12:15berarti harus ada perbaikan secara internal,
12:17terkait juga dengan konsumen MSCI,
12:19tapi,
12:19apakah juga ada faktor lain,
12:21Mas Pasca,
12:22ini salah satunya terkait dengan investor asing,
12:24apakah mungkin sedang melakukan,
12:26portfolio rebalancing,
12:27karena banyak juga negara lain,
12:29yang tampaknya menawarkan prospek,
12:31yang lebih menarik,
12:32kita sebut saja Vietnam.
12:33Namun kita bahas,
12:34susah jadah,
12:35Mas Pasca,
12:35tetaplah bersama kami,
12:36di Kompas Bisnis.
13:03Kita kembali bahas,
13:05soal derasnya,
13:06asing dari Pasarsa Indonesia,
13:09bersama Pasca Purantio,
13:10CEO Advisor Profi Navisindo.
13:11Mas Pasca,
13:12tadi pertanyaan saya terkait dengan,
13:14apakah mungkin,
13:15saat-saat ini,
13:16investor asing,
13:17tengah melakukan portfolio rebalancing,
13:19ke negara-negara lain,
13:20yang menawarkan prospek pertumbuhan,
13:22yang lebih menarik.
13:22Kita sebut saja,
13:23yang ramai,
13:24jadi perbicaraan adalah Vietnam.
13:27Ya, baik.
13:28Jadi,
13:29kalau kita lihat,
13:30memang,
13:30apakah ada peluang,
13:31investor asing itu,
13:33melakukan rebalancing?
13:34Bisa dikatakan demikian,
13:37namun,
13:37secara negara spesifik,
13:38dari kami,
13:39belum bisa mendetail,
13:40hanya saja,
13:41secara tendensi,
13:43terdapat peralian dana,
13:44terutama dari pasar modal,
13:46diantara dari pasar saham,
13:48dan juga dari pasar obligasi,
13:50atau tanah,
13:51dari pasar SBN pun juga,
13:52di sini,
13:53dan investor asing,
13:54sedikit ya,
13:54mengalami,
13:57penurunan,
13:58apa,
13:59pemilikan asing ya,
14:00meskipun tidak,
14:01tidak dominan,
14:02tapi secara trend,
14:03yang menarik adalah,
14:04dana asing itu,
14:05secara year-to-year justru,
14:06meningkat ke pemilikannya,
14:08dan tenor yang mereka,
14:09soal rupa,
14:10memiliki di bawah,
14:11tahun anginya,
14:12sebenarnya,
14:13meskipun di pasar saham itu,
14:14mereka keluar,
14:15tapi,
14:16tidak,
14:17sepenuhnya,
14:18mereka out,
14:19apa,
14:19dari pasar SBN keluar,
14:20saham keluar,
14:21semua memiliki,
14:22tapi mereka ada,
14:22switch ke pasar SBN.
14:24Mas Paskar,
14:25apakah,
14:26apakah ini artinya,
14:27bagi investor asing,
14:28SBN,
14:29ini lebih menarik,
14:30saat ini,
14:30dibandingkan pasar saham?
14:33Ya,
14:34secara,
14:34ibar asing,
14:35tentu saja,
14:36SBN ini,
14:36saat ini,
14:37SBN menjadi salah satu,
14:38yang cukup kreatif ya,
14:39karena,
14:40dari,
14:41apa namanya,
14:42ASRBI kemarin,
14:43dan juga SBN,
14:44memang,
14:44meskipun secara yield,
14:45yang didiman agak tinggi,
14:46tapi itu sudah mencerminkan,
14:48refleksi terhadap,
14:48kondisi market,
14:49atau,
14:49resiko nilai kita,
14:50yang meningkat,
14:51menurut saya seperti itu,
14:52dan itu,
14:53kelihatan juga,
14:53dari arus dana asing,
14:55yang tidak,
14:55mengalami tekanan jual,
14:57yang cukup signifikan,
14:58itu,
14:58berarti,
14:58Mas Yad.
14:59Oke,
15:00kita kembali ke IASG,
15:02Mas Praskar,
15:02kalau kita,
15:04menakar begitu ya,
15:05apakah IASG,
15:06masih memiliki daya tahan,
15:07jika aksi jual asing,
15:09terus berlangsung,
15:09dalam beberapa bulan ke depan,
15:11misalnya,
15:11atau hingga akhir tahun ini?
15:14Ya,
15:14jadi,
15:15kalau,
15:15dari pandangan kami ya,
15:17kami melihat bahwa,
15:18IASG itu,
15:19tampaknya,
15:20untuk bisa rebound,
15:21yaitu,
15:21kalau asing sebesuah,
15:22untuk berat ya,
15:23bahkan,
15:24kita,
15:24best case kami,
15:26untuk IASG,
15:27hanya akan kembali,
15:28di lepon,
15:286.400,
15:29untuk bicara,
15:31reboundnya,
15:31tapi,
15:31kalau benar-benar ini,
15:32kan,
15:32cuma tinggal 2 bulan lagi,
15:33dan secara perubah,
15:34di IASG itu,
15:35di bulan November,
15:36juga,
15:37biasanya,
15:37tidak terlalu cukup bagus,
15:38karena perubah,
15:39hanya sekitar,
15:40berlagi 40 persenan,
15:41dan di Desember,
15:42juga sekarang,
15:42tidak menjamin,
15:43bahwa,
15:43menjadi dino dressing,
15:44dengan perubah,
15:45hanya sekitar 60 persen,
15:46nah,
15:47ini yang,
15:47menurut kami,
15:48dengan tekanan jual,
15:49investor asing,
15:50visu MSG yang masih menggantung,
15:51perlu mereview lagi,
15:52ya kan,
15:53dan sementara,
15:54buyback,
15:55buyback,
15:55dari para emiten,
15:56kan,
15:56saya melihat,
15:57tampaknya,
15:58tidak terlalu,
15:58cukup membantu ya,
16:00karena,
16:00IASG sempat kemarin bawah,
16:02kali nampak,
16:02akhirnya turun lagi sekarang,
16:04dan hari ini,
16:04pagi-pagi juga turun lagi,
16:05nah,
16:05ini yang membuat,
16:06menurut saya,
16:07IASG cukup berat,
16:09untuk bisa,
16:09sampai di atas level 7 ribu,
16:11oke,
16:12oke,
16:13baik,
16:13Mas Plaskar,
16:13kalau kita melihat,
16:14tadi seperti ada sebutkan,
16:15ketika ada usulan dari MSCI,
16:17terkait dengan,
16:19menurunkan Indonesia,
16:20ataupun pasar sah Indonesia,
16:21ke stand-alone market,
16:23pasar,
16:23merespon negatif,
16:25begitu,
16:25dengan penurunannya,
16:26sangat tajam,
16:27kemudian,
16:27pada sepekan,
16:28kemudian,
16:29ada rebound di sini,
16:30yang ditenggarai,
16:31dilakukan oleh investor domestik,
16:33termasuk,
16:33tadi ada buyback,
16:34sejumlah emiten,
16:35menurut Anda,
16:36sejauh mana si investor domestik,
16:37mampu menjadi penopang pasar,
16:39ketika investor asing,
16:40terus melakukan net sell?
16:42Ya,
16:43baik,
16:43jadi,
16:43ini yang menarik,
16:45tentu saja,
16:45memang,
16:46jika dilakukan secara,
16:47maksudkan,
16:48ini mungkin akan membangun,
16:49karena,
16:49kenapa?
16:50karena,
16:51sebenarnya,
16:51investor asing kan,
16:52kepemilikannya tidak dominan,
16:53ya,
16:53di pasar,
16:54pasar saham kita,
16:55masih dominan,
16:55investor lokal,
16:56lain saja,
16:57mungkin secara arus,
16:59dominan di kita,
17:00jadinya,
17:00lebih kepada pasifan,
17:01ya,
17:02nah,
17:02jika seandainya pasifan,
17:03terus mau keluar,
17:04ini tentu saja,
17:04untuk jangka pendek,
17:05kita masih cukup berat,
17:06kenapa?
17:07Karena,
17:07secara arus,
17:09apa,
17:09buy power kita,
17:10untuk bisa,
17:12menahan itu,
17:14potensinya masih,
17:15cukup kalah,
17:15menurut saya,
17:16dibanding as dana asing yang keluar,
17:17tambah lagi,
17:18investor lokal,
17:19saya dikatakan,
17:20pada saat yang jadi rebound,
17:21ada tendensi melakukan profit,
17:22teknik jangka pendek,
17:23nah,
17:23ini yang kembali,
17:23akhirnya bisa menekan,
17:25IISG kembali,
17:26pada saat asing juga ikut,
17:27terus melakukan asing jual,
17:30kurang lebih seperti itu,
17:30mas ya.
17:31Oke,
17:31mas Plaskar,
17:32kita pantau bagaimana,
17:32pasar saham pada pagi ini,
17:35sudah lewat pukul 9,
17:36saya pantau ini,
17:37saat ini,
17:38level IISG berada di 5.088,
17:40ini minus 10 poin,
17:42atau 0,21 persen,
17:45begitu,
17:45kalau Anda melihat,
17:46ini ada tren penurunan,
17:48menjadi pekan merah,
17:48ini selama pekan ini,
17:50dari,
17:51Senin,
17:51Selasa,
17:52ini Rabu sempat hijau,
17:53kemudian,
17:54Kamis merah,
17:55hari ini juga dibuka dengan merah,
17:57proyeksi Anda,
17:58paling tidak selama sepekan ke depan ini,
18:02apakah tren yang sama akan terjadi?
18:06Ya,
18:06baik,
18:06kalau untuk pekan depan,
18:08saya perkirakan,
18:09IISG ada peluang untuk technical rebound ya,
18:11technical rebound lebih kepada,
18:13karena,
18:14speculative buy ya,
18:16di harga-harga,
18:16saat ini,
18:17mencucing ketekan ya,
18:18dengan range,
18:19kisaran itu,
18:19berada di,
18:20maksimal di level,
18:225.460-an ya,
18:23untuk residen di pekan depan,
18:25seperti itu,
18:26tapi,
18:27untuk perkirakannya,
18:28saya mau perkirakan,
18:28maksimal jika volokal,
18:29apalagi kalau rupiah,
18:30masih tetap berada di atas,
18:3111.150-an,
18:33atau 18.900,
18:34jadi,
18:34residen di yang menurut saya,
18:36investor masih melihat,
18:37sebagai suatu resiko,
18:38karena,
18:38CBS kita,
18:40dari default swap,
18:415 tahun kita tuh,
18:42saat ini,
18:42menonjak kembali,
18:43di atas 100 basis point.
18:45oke,
18:45oke,
18:46kita,
18:47beralih ke,
18:47tadi Anda sempat,
18:48membahas terkait dengan,
18:49kaitannya dengan rupiah,
18:50begitu,
18:51apakah aksi jual,
18:52saham investor asing ini,
18:53memiliki hubungan langsung,
18:54dengan pelemahan nilai tukar rupiah,
18:55bisa dijelaskan lebih,
18:56detil lagi,
18:57Mas Plaskar?
18:58ya,
18:59dengan rupiah sendiri,
19:00menurut saya,
19:01ini memang,
19:02kaitannya secara tidak langsung,
19:04menurut saya yang dominan ya,
19:07dari kekanan,
19:07ada minyak mentah,
19:08yang melonjak tinggi,
19:10dan,
19:11apa namanya,
19:12membuat,
19:14potensi,
19:15untuk,
19:16subsidi,
19:17BBM itu,
19:17bisa meningkat kembali ya,
19:19jika,
19:19utama yang BBM subsidi ya,
19:21jika ada minyak,
19:21terus bertahan di atas,
19:23100 dolar,
19:24sebenarnya,
19:24utama minyak DTI,
19:26seperti itu,
19:26karena minyak yang Renko,
19:27sudah di atas 110,
19:28nah,
19:30kekhawatiran terhadap,
19:31tekanan fiskal tersebut,
19:32itulah yang menurut saya,
19:33pertama kali,
19:34membuat,
19:35rupiah melemah,
19:36nah,
19:36ditambah lagi,
19:37ekspektasi terhadap,
19:38kenaikan inflasi,
19:39jadi,
19:40dengan peningkatan harga,
19:42apa,
19:42bahan bakar,
19:43dan,
19:43mungkin dimungginkan,
19:44dengan BBM,
19:45sejabat,
19:45mungkin akan naik,
19:46ya,
19:46itu juga akan berdampak pada,
19:49inflasi-inflasi di,
19:50retail,
19:50seperti itu,
19:51itu yang akan,
19:52apa yang,
19:53melemahkan rupiah ke depan juga,
19:54disampun juga,
19:55menurut saya,
19:56efek dari,
19:57cuaca panas,
19:58seperti depan,
19:58ini kan juga menunjuk,
19:59inflasi tangan ke depan,
20:00ini yang menurut saya,
20:01masalah inflasi di dalam negeri,
20:03lesakanan minyak,
20:04ya kan,
20:04membuat rupiah cenderung,
20:06melemah,
20:06dan,
20:07masuk ke bunga,
20:08saat ini kan,
20:08juga kita masih WNC,
20:09bagaimana sikap,
20:10ke depan,
20:11apakah FED,
20:12naikin bunganya di Desember ini,
20:14atau tidak,
20:14seperti itu.
20:16Baik,
20:16berarti,
20:16banyak hal yang perlu diperhatikan,
20:18termasuk oleh investor retail,
20:19di sini,
20:19karena memang kaitannya besar sekali,
20:22terhadap rupiah,
20:23berarti bukan hanya,
20:24bagi mereka yang berdampak,
20:26investor di pasar saham,
20:27tetapi juga,
20:28warga secara umum,
20:30yang perlu memperhatikan,
20:31termasuk,
20:32apa saja yang menjadi concern MSCI,
20:34agar juga berusaha saham,
20:35dan investor asing,
20:36juga bisa dapat kembali masuk,
20:38ke pasar modal Indonesia.
20:39Terima kasih,
20:40Pasca Puterantio,
20:41CEO Advisor Provina Visindo,
20:43atas waktunya,
20:44dan juga Insight,
20:44yang bersama Kami,
20:45di Kompas Bisnis,
20:45sehat selalu, Mas.
20:47Terima kasih,
20:48dan sampai jumpa lagi di video.

Dianjurkan