- 2 hours ago
- #agendaawani
Sejauh mana pihak yang bertanggungjawab terhadap pembakaran hutan boleh dibawa ke muka pengadilan? #AgendaAWANI malam ini bersama Jikalahari menelusuri pengalaman Riau dalam mengambil tindakan undang-undang terhadap pelaku pembakaran hutan, serta cabaran menuntut akauntabiliti dalam isu jerebu rentas sempadan.
Category
🗞
NewsTranscript
00:14Terima kasih kerana menonton!
00:30Keraca yang dijangkakan berterusan panas dan kebakaran yang masih menyala ataupun dilakukan di beberapa daerah di Riau, di Kalimantan dan
00:43juga Sumatera tidak mampu untuk melenyapkan asap dalam masa yang terdekat ini.
00:50Jadi Malaysia dan juga negara-negara serantau seperti Singapura menggesa ASEAN menyemak semula perjanjian ASEAN mengenai pencemaran jerubu rentas padan
01:01ataupun AATHP kerana jerubu dari kebakaran di Indonesia terus menjejaskan cuaca ataupun kualiti udara di rantau ini lebih daripada sebulan
01:13yang lalu.
01:14Beberapa perjanjian AATHP yang berkuat kuasa pada 2003 tidak mempertukkan denda atau sekatan dan pertikaian hanya diselesaikan melalui rundingan.
01:27Singapura sahaja mengambil langkah lebih tegas dengan meluluskan akta pencemaran jerubu rentas padan namun tidak ada pendakwaan terbuka setakat ini.
01:37Jadi dari pakar-pakar undang-undang dan juga pakar-pakar iklim antarabangsa menegaskan penguasaan rentas padan kekal sukar dan usaha
01:47pencegahan perlu dipertingkatkan dan itu sebenarnya yang sedang dilakukan oleh negara kita dan juga negara jiran Indonesia.
01:54Jadi untuk berbicara perkara ini bagaimana situasi jerubu asap ini dapat dikawal dan dapat dinoktahkan, saya bersama saudara Okto Yugo
02:06Sitio, Penyelaras Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau ataupun Jikalahari, sudah pun bersedia di Pekan Baharu.
02:14Selamat petang Okto, Assalamualaikum, apa khabar?
02:19Selamat sore, Bu Nasi Kahar, khabar?
02:22Terima kasih.
02:52Bagaimana kebakaran hutan dan juga pembakaran untuk tujuan-tujuan perkebunan berlaku di Indonesia khususnya di kawasan yang menjadi tumpuan Jikalahari
03:06di kawasan Riau dan juga Sumatera?
03:08Mungkin ada kemaskini ataupun update-nya Okto?
03:13Pertama, polusi asap sampai level berbahaya itu juga sama, itu terjadi di Pekan Baharu, di Riau dan tentunya di Sumatera
03:24keseluruhan, kemudian di Kalimantan itu yang paling parah ya, yang kami tahu.
03:29Tapi kalau di Riau, saya pikir mungkin mirip seperti yang terjadi di Kuala Lumpur juga.
03:36Dan untuk sekarang ini, untuk kebakaran itu masih berlangsung di Sumatera Selatan, di Jambi, kemudian di Kalimantan itu yang paling
03:48parah.
03:48Dan tiga hari terakhir, ternyata polusi asap ini sudah menyatu, Bung Kahara.
03:56Yang asap dari Kalimantan, dari Sumatera itu di udara Indonesia itu sudah jadi satu, dan juga sudah masuk ke wilayah
04:05Jakarta.
04:05Jadi, itu situasi asapnya. Ketika hujan turun, itu tidak bisa serta-merta menghilangkan asapnya. Jadi, masih kembali lagi asapnya.
04:18Ya, kalau kita ingin mendapatkan perincian dari saudara Okto, apa sebenarnya yang menyebabkan kebakaran hutan dan juga kebakaran di kawasan
04:28kebun ataupun di Indonesia dipanggil lahan itu ya?
04:31Adakah ia satu amalan biasa ataupun ia disengajakan oleh pihak-pihak tertentu dari pengamatan saudara Okto?
04:41Ya, pertama, kenapa kebakarannya terus berulang? Sebenarnya, tiap tahun ini terjadi kebakaran.
04:46Betul.
04:47Sekalanya yang mungkin 2026 ini lebih besar dan juga menimbulkan polusi asap.
04:53Nah, kenapa terjadi kebakaran? Kerana memang sebagian wilayah kawasan hutan di Indonesia, khususnya di Riau,
05:01itu sudah dalam kondisi yang kritis, hutan dan gambut kita.
05:06Karena dialih fungsikan untuk perkebunan-perkebunan skala besar, apakah itu perkebunan sawit,
05:14dan juga di Riau itu ada perkebunan untuk bahan kertas, akasia dan ekaliptus.
05:21Itu juga jumlahnya jutaan hektare.
05:22Nah, mengalih fungsikan hutan alam dan gambut yang alami kemudian kepada industri ekstraktif,
05:31perusahaan-perusahaan sawit dan akasia tadi, itu mengakibatkan wilayah landscape-nya itu menjadi rusak.
05:39Karena mereka untuk membangun kebun-kebun besar itu mengeringkan gambut.
05:45Pertama, dia menebang hutan alam yang ada, karena dia mau ganti dengan tanaman sawit dan akasia.
05:51Dia juga keringkan gambut, karena sawit akasia tidak bisa tumbuh di gambut alami yang basah.
05:59Jadi, dia bikin kanal-kanal yang sangat besar dan panjang puluhan kilometer.
06:04Itu yang berdampak terus bungkahar.
06:08Jadi, kebakarannya karena persoalan yang gambut yang sudah dikeringkan.
06:14Pengeringan pembuatan kanal di perusahaan yang ratusan ribu hektare luasnya itu,
06:20itu berakibat juga kepada kebun-kebun masyarakat di sekitar areal kerja perusahaan.
06:26ikut kering, karena kan lahan gambut ini sifatnya landscape ya.
06:31Dia tidak terputus, terbatas-batas pada administrasi batas perusahaan.
06:36Sehingga ketika terjadi kemarau panjang seperti hari ini,
06:40Godzilla, El Nino, semua kebun-kebun masyarakat pun ikut menjadi kering
06:45karena airnya sudah tersedot mengalir ke kanal-kanal perusahaan yang besar itu.
06:50Jadi, apa sebenarnya tindakan kerajaan ataupun pihak berkuasa Indonesia dalam hal ini?
06:58Kerana ia sudah menjadi satu event ataupun acara tahunan ya.
07:05Sama ada ia berskala kecil seperti yang tidak berlaku pada tahun lalu
07:09ataupun berskala besar pada tahun ini.
07:12dan pastinya yang paling terkesan adalah penduduk tempatan
07:16ataupun penduduk setempat yang tinggal di kawasan tersebut.
07:19Sama ada di Sumatera, di Riau ataupun di Kalimantan.
07:22Dan jika ada peraliran udara ataupun tiupan angin
07:28yang membawanya ke negara jiran seperti Malaysia, Singapura ataupun Filipina.
07:33Pada ketika ini misalnya, pastinya ia meliputi semua hampir negara-negara
07:38di sekitar Asia Tenggara ini.
07:41Jadi, pastinya kita sudah belajar daripada episod beberapa tahun lalu
07:46yang agak parah juga ya.
07:47Pada 2007, kalau kita imbas lagi pada 2012
07:51dan sebelum itu saya ingat lagi pada 2005 begitulah.
07:572017 pun teruk juga.
07:59Jadi, adakah semuanya tidak mengajar pihak pemerintah
08:02terutamanya pihak pemerintah tempatan dan juga pihak pemerintah pusat
08:07untuk mengawal dan juga mengetatkan undang-undang
08:10kepada pihak industri ataupun pihak pengusaha
08:13untuk memastikan ladang-ladang ataupun pekebunan mereka ini
08:17dijaga dan perlu ada prosedurnya, pembakarannya bagaimana.
08:21Kerana di Malaysia itu tidak boleh dilakukan lagi.
08:24Kerana sudah ada undang-undangnya sejak satu dekad lalu.
08:28Memang kami tidak boleh mengamalkan pembakaran
08:30sama ada untuk pekebun kecil
08:32ataupun di kalangan usahawan korporat yang besar.
08:36pandangan Saudara Okto.
08:38Ya, sebenarnya ketika Karhutlah besar 2015,
08:43jadi 2015 itu yang suku besar,
08:46itu banyak perbaikan khususnya di undang-undang
08:51dan peraturan-peraturan.
08:53Dan waktu itu ada penegasan tentang merevisi gambut
08:58yang lebih dari 3 meter itu harus dilindungi.
09:012015.
09:03Jadi perusahaan-perusahaan waktu itu dipaksa ketika di wilayahnya
09:09gambutnya lebih dalam dari 3 meter
09:11untuk tidak mengelola itu.
09:14Itu sempat berjalan, tetapi ada perlawanan-perlawanan
09:18oleh perusahaan yang merasa terganggu
09:21karena luas lahannya berkurang dan seterusnya,
09:23sehingga aturan ini kemudian tidak lagi berlaku di 2019,
09:29direvisi.
09:30Sehingga gambut-gambut dalam itu tetap beroperasi.
09:35Dan kemudian sebenarnya kan gambut-gambut yang bekas terbakar,
09:40yang rusak, ini juga dulu 2016 juga pemerintahan Jokowi
09:46waktu itu membentuk badan restorasi gambut
09:49yang tugasnya memastikan perusahaan dan juga wilayah di luar perusahaan
09:54untuk direstorasi gambutnya.
09:57Dengan membuat sekat kanal, kemudian menanam ulang dengan tanaman yang asli hutan,
10:04tetapi sejak pemerintahan yang baru, Presiden Prabowo,
10:11badan ini dibubar, sehingga tugas-tugas yang memantau
10:16untuk melakukan perbaikan gambut yang rusak itu,
10:19itu kemudian tidak pasti siapa yang mengkoordinir.
10:25Walaupun ada Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup,
10:28tapi tentu tidak se-akurat ataupun tidak sekuat waktu ada BFG.
10:34Nah ini juga menjadi persoalan.
10:36Nah, baru minggu lalu, seperti menyadari kesalahan,
10:42kemudian Presiden Prabowo itu membentuk kembali badan pengelola gambut ini.
10:47Tapi tentu sekarang sudah terjadi kebakaran besar,
10:51yang ini kemudian kita tidak tahu mau seperti apa pekerjaannya
10:56ketika badan ini dibentuk di tengah kebakaran.
11:00Jadi persoalannya adalah pencegahan dan pemulihan gambutnya itu gagal.
11:05di tahun-tahun ini, sehingga kebakaran itu kembali terjadi besar.
11:11Dan satu lagi, anggaran-anggaran untuk daerah-daerah ini diperkecil,
11:17termasuk anggaran-anggaran badan penanggulangan bencana di Indonesia itu juga
11:23jauh lebih kecil, dipotong.
11:25ini juga yang kemudian mengakibatkan pejagaan-pejagaan di daerah itu juga
11:31semakin tidak ada kegiatannya, tidak ada anggaran.
11:35Itu yang kemudian menjadi satu menyebabkan harutlah 2026 ini semakin teruk, semakin parah.
11:57Kalau di Malaysia ini, kami diwawarkan ataupun diberitahu oleh pihak media Indonesia
12:02bahawa sebilangan industri ataupun pengusaha ladang-ladang sawit besar di Indonesia
12:09sama ada di wilayah Riau ataupun di wilayah Sumatera ataupun di Kalimantan itu
12:14dimiliki oleh pengusaha asing sama ada dari negara tetangga seperti Singapura
12:20ataupun Malaysia.
12:21Tetapi pastinya, ada undang-undang yang sudah pun dimaktubkan
12:26ataupun dikuatkuasakan di Indonesia.
12:29Dari pengalaman kabut asap yang parah pada 2016 yang lalu
12:35dan beberapa tahun kebelakangan ini
12:37adakah di kalangan pengusaha-pengusaha besar ini
12:40didakwa jika mereka melakukan kesalahan memulakan
12:44ataupun mencetuskan percemaran asap yang besar ini
12:47dibawa ke pihak pengadilan dari pemerhatian saudara Okto?
12:52Ya, sebenarnya tentu undang-undang di Indonesia itu berlaku untuk
12:58baik itu perusahaan yang ada di Indonesia
13:01asli Indonesia atau investornya dari luar negeri
13:07bahkan yang berkantor di luar negeri
13:09itu perlakuannya harusnya sama dan bisa diberlakukan sama.
13:14Nah, jikalah hari di Riau khususnya
13:18khusus Riau itu punya pengalaman 2015-2020
13:22itu ada 14 perusahaan yang sudah dibawa ke pengadilan
13:27dan hampir seluruhnya dinyatakan bersalah
13:32paling banyak sebabnya adalah mereka tidak siap
13:36akan pencegahan, sarana-persarana, mesin, alat
13:41kemudian personil untuk memadam api itu tidak ada
13:46sehingga mereka dihukum denda dan juga
13:51petingginya ada yang dipenjara sampai tiga tahun.
13:55Nah, tetapi sejak 2020 ketika pemerintahan Jokowi
14:02pemerintah dan DPR mengesahkan undang-undang cipta kerja
14:06itu ada peralihan di mana pasal yang digunakan
14:12untuk menyeret perusahaan ke pengadilan
14:17itu digeser menjadi sanksi administratif
14:21jadi perusahaan-perusahaan yang punya persoalan sama
14:25terlibat karutlah baik itu sengaja atau lalai
14:29karena tidak siap menjaga
14:31itu sekarang trennya sejak 2020
14:34lebih ke sanksi administratif
14:37yang itu kami sebagai masyarakat sipil
14:42tidak bisa mengetahui, tidak bisa kontrol
14:45apa sanksi yang diberikan
14:47dan seperti apa pelaksanaannya
14:49nah ini sejak undang-undang cipta kerja 2020
14:52hingga sekarang
14:54belum ada lagi perusahaan yang kemudian
14:57diseret ke pengadilan
15:00adakah dengan pelaksanaan undang-undang cipta kerja
15:05dan perkara 613-3 ini
15:07tidak ada keperkesanannya
15:09ataupun tidak membawa apa-apa
15:12maksud pelaksanaan undang-undang
15:15kepada pesalah-pesalah
15:17terutamanya di kalangan pengusaha-pengusaha besar ini
15:21berbanding sebelum 2020
15:23ya tentu
15:25kalau dari sisi kami
15:28masyarakat sipil
15:29memang ada kepentingan perusahaan
15:32terhadap disahkannya undang-undang cipta kerja itu
15:34karena kalau misalnya
15:36saya cerita ke Bung Kahar ya
15:38saat pembentukan
15:40undang-undang cipta kerja
15:42sebenarnya kan ini undang-undang kemudahan investasi
15:45nah
15:46kementerian koordinator perekonomian Indonesia
15:50itu membentuk
15:51satuan tugas
15:53penyusun undang-undang cipta kerja ini
15:56nah di dalam satuan tugas ini
15:58itu selain unsur
16:00pemerintah
16:02juga ada unsur asosiasi
16:05perusahaan
16:06misalnya
16:06ada asosiasi perusahaan hutan
16:09kemudian asosiasi perusahaan
16:11perkebunan
16:12yang mereka kemudian
16:14masuk dalam tim penyusun undang-undang ini
16:16sebelum itu dibawa
16:18ke DPR
16:19nah saya pikir
16:21ya kalau kita mau mengkaitkan itu
16:23bisa berkait
16:24tapi
16:26dengan 5 tahun
16:27atau 6 tahun
16:28perjalanan undang-undang cipta kerja itu
16:30menurut kami
16:32sah atau
16:34terlihat bahwa
16:35perusahaan memang betul-betul diuntungkan
16:38salah satunya pertanggung jawaban terhadap
16:40ketika terjadi kebakaran
16:43seperti saat ini
16:44apa tindakan
16:45ataupun reaksi
16:47badan sivil
16:48seperti
16:48jika lahari
16:49melihat
16:50tidak ada keberkesanan
16:52pada hukuman
16:52dengan
16:53undang-undang cipta kerja
16:54dan juga perkara 613 ini
16:56dan ketidaksamaan
16:58keadilan
16:59dinyatakan
17:00ataupun dilaksanakan
17:01daripada
17:03pandangan
17:03badan sivil
17:04terhadap individu
17:06dan juga masyarakat
17:07dengan
17:08koperasi-koperasi
17:10ataupun syarikat-syarikat besar
17:12yang memiliki
17:13industri sawit
17:14di Indonesia
17:16nah dulu itu kan
17:18masyarakat sipil
17:19pernah
17:19mengugat
17:20undang-undang cipta kerja ini
17:22dan pernah dibatalkan
17:24oleh
17:24mahkamah agung
17:25tapi kemudian
17:27pemerintah
17:28menerbitkan
17:29peraturan
17:30pengganti undang-undang
17:32sehingga
17:32peraturan ini
17:34berlaku kembali
17:35nah
17:35sebenarnya bagi kami
17:38walaupun undang-undang cipta kerja ini
17:41ada gitu ya
17:43tetapi
17:44sebenarnya
17:45pasal
17:45yang digunakan
17:47untuk memidanakan
17:48perusahaan
17:49untuk menyeret
17:50ke pengadilan
17:51itu masih ada
17:51sebenarnya masih ada
17:53dan kami
17:542025
17:552026
17:56jika lah hari
17:57masih melaporkan
17:57misalnya
17:58tahun lalu
17:59kita melaporkan
18:005 perusahaan
18:01kemudian
18:01tahun
18:022026
18:03ini kami juga melaporkan
18:045 perusahaan
18:05ke barai skrim
18:07jadi kita tetap
18:08mencoba peluang itu
18:09nah
18:10tapi memang
18:10di awal tahun
18:122026 ini
18:13ada undang-undang
18:16lagi
18:16kemudian
18:17yang lebih
18:19menegaskan
18:19ketika
18:21ada pasal
18:22yang berkaitan
18:23dengan
18:23pidana dan
18:24administratif
18:25maka
18:27harus
18:27mendahulukan
18:29sanksi administratif
18:30jadi ini memang
18:31kembali lagi
18:32memperlemah
18:33laporan-laporan
18:35masyarakat
18:35untuk
18:36tujuan pidana
18:37gitu ya
18:38nah di sisi yang lain
18:40ya
18:40bagi
18:42masyarakat
18:43perorangan
18:44itu
18:45pidananya
18:45tetap berlaku
18:46karena
18:47mudah kan
18:49mudah menangkapnya
18:51dan
18:51betul
18:51mudah
18:52untuk
18:53disangsinya
18:56Pak Kto
18:57berkaitan dengan
18:58pampasan
18:59ataupun
19:00hak dari aspek
19:02melindungi
19:02orang awam
19:03masyarakat
19:04civil
19:05ataupun
19:05petani-petani
19:07orang-orang
19:07kebanyakan
19:08orang-orang
19:08kampung
19:09yang terkesan
19:10akibat kabut
19:10asap ini
19:11dari
19:12pembacaan
19:13dan juga
19:13laporan
19:14Okto
19:14di Blogspot
19:15mengatakan
19:15ramai yang terkesan
19:17terutamanya
19:18di kalangan
19:18warga emas
19:20anak-anak kecil
19:21mereka yang
19:22mempunyai
19:23penyakit-penyakit
19:24berkaitan dengan
19:24paru-paru
19:25terkesan
19:25dan begitu
19:26juga ada yang
19:27tercedera
19:28ataupun
19:29terkorban
19:30ketika melakukan
19:31operasi-operasi
19:32pemadaman
19:32dan sebagainya
19:33kerana
19:34kabut asap
19:35untuk tahun
19:362026 ini
19:37agak parah
19:37agak serius
19:38berlaku di
19:39hampir
19:39semua kawasan-kawasan
19:41industri
19:41perhutanan
19:42dan juga
19:43perkebunan sawit
19:44terutamanya
19:45di Kalimantan
19:46Riau
19:46dan juga
19:47di Sumatera
19:48jadi
19:48adakah
19:49mereka
19:51rakyat
19:52dilindungi
19:52kerana
19:54misalnya
19:54kenyataan daripada
19:55Menteri Singapura
19:56dan juga
19:56beberapa
19:57pihak di
19:58Malaysia ini
19:59kita cuba
20:00menegakkan keadilan
20:01melalui
20:01undang-undang yang ada
20:03di negara kita
20:03seperti Malaysia
20:04dan juga
20:05Singapura
20:05untuk membawa
20:06ataupun mengheret
20:07syarikat-syarikat besar
20:09yang ada
20:11kata-syarikat besar
20:14kata-syarikat besar
20:15kata-syarikat besar
20:39mereka
20:40mereka ada
20:40masalah-masalah
20:41dan menuntut
20:42keadilan
20:43di mahkamah
20:43di Indonesia
20:47ya
20:47pertama
20:48kalau
20:49situasinya dulu ya
20:50sebelum
20:51keundang-undangnya
20:51memang
20:53sejauh ini
20:56pertolongan
20:57dari
20:57pemerintah
20:58baik itu
20:59pusat
20:59maupun daerah
21:00itu
21:00masih minim
21:01sekali
21:02minimum ya
21:03nah
21:04paling
21:05mereka hanya
21:06di pagi hari
21:07di jalan
21:08mereka
21:09membagikan
21:09masker gitu ya
21:10di orang yang
21:12di perjalanan
21:13tapi setelah itu
21:13tidak ada
21:15kemudian
21:15yang kedua
21:16ya mungkin
21:17wali kota
21:18bupati
21:19kemudian
21:20meliburkan
21:22siswa
21:24tapi
21:25itu
21:25sebenarnya menimbulkan
21:26persoalan yang lain
21:27karena
21:28hak belajarnya
21:29menjadi berkurang
21:29selain itu
21:31masih sangat minim
21:32dan
21:32kita juga
21:33sebenarnya
21:34sangat kecewa
21:35salah satunya
21:37terhadap
21:38pemerintahan pusat
21:39karena
21:39menganggap
21:41situasi
21:42jerubu yang
21:43parah ini
21:44dianggap
21:44normal-normal
21:45saja
21:45jadi
21:47pernyataan-pernyataan
21:49pemerintah pusat itu
21:50seringkali
21:51menganggap
21:52ini biasa
21:53misalnya
21:54kepala BNPB
21:55yang baru dipecat
21:56kemarin
21:56menganggap
21:57masyarakat di Kalimantan
21:58itu beraktivitas
21:59normal
21:59yang terbaru
22:01dua hari lalu
22:02ini yang
22:03juga sangat
22:04dikecam oleh
22:05netizen Indonesia
22:06itu pernyataan
22:07Menteri Kesehatan
22:09Indonesia
22:10saat dia bilang
22:12bahwa
22:13asap ini
22:14belum bisa diatasi
22:15dan
22:15meminta masyarakat
22:17untuk beradaptasi
22:18terhadap
22:20polisi asap
22:21itu
22:21menurut saya
22:23itu sangat
22:23tidak pantas
22:25tidak boleh
22:27kita beradaptasi
22:28karena ini racun
22:29dan ini seharusnya
22:30bisa diatasi
22:32itu situasinya
22:33masih minim
22:34nah
22:34terkait
22:35peraturan
22:37sebenarnya
22:37Indonesia juga
22:38punya peraturan
22:39pemerintah
22:40tentang
22:40kebencanaan
22:42jadi ketika
22:43ada bencana
22:44seperti dampak-dampak
22:46karutlah ini
22:47sebenarnya harus ada
22:48pertolongan-pertolongan
22:49misalnya
22:51membangunkan
22:53rumah-rumah
22:54evakuasi
22:55yang aman
22:56seperti
22:57ruangan
22:58yang kemudian
22:59berita
23:00kaum rentan
23:01itu bisa
23:03dikumpulkan
23:04dievakuasi
23:05seperti
23:05kalau banjir
23:06atau apa
23:07gitu ya
23:07yang
23:07ruangan itu
23:09ada
23:10pembersih udara
23:11dan seterusnya
23:12tapi ini juga
23:13masih sangat
23:15belum ada
23:16kalau di pekan baru
23:17juga
23:17masih sangat
23:18minim sekali
23:19dan
23:20perlindungan
23:22terhadap
23:22masyarakat ini
23:23sebenarnya ya
23:24saya pikir
23:25menjadi
23:28catatan
23:29yang paling
23:29kurang juga
23:30di pemerintahan
23:31nah saya ingin
23:32cerita sedikit
23:33tahun 2016
23:34dulu
23:36koordinator
23:37Jikalahari ya
23:37sebelum saya
23:38dengan koordinator
23:40Walhi
23:41kemudian
23:41ada tokoh
23:42masyarakat Riau
23:44Almarhum
23:45Datu Al-Azhar
23:46dari Lam Riau
23:47dulu
23:47kemudian
23:48dari Seniman
23:49ada 4 orang
23:50itu
23:51mewakili
23:51masyarakat Riau
23:54menggugat
23:56kebijakan
23:57ya
23:58penanganan asap
24:00tahun 2015
24:00waktu itu
24:01kita gugat
24:022016
24:02sebenarnya
24:03sudah pernah kita
24:04menggugat
24:04dan waktu itu
24:05sebenarnya
24:06pemerintah
24:07pusat dan daerah
24:08atas gugatan kami
24:09itu berjanji
24:10untuk
24:12melakukan
24:12antisipasi
24:13dan penanganan
24:14seperti
24:15ketika
24:16ISPU sudah
24:17sampai 400
24:18atau level
24:19berbahaya
24:19itu
24:20harus membangun
24:21rumah-rumah aman
24:22itu
24:23nah ini yang juga
24:24jikalah hari tagi
24:25sampai
24:25karena sampai hari ini
24:26itu belum
24:27dilakukan oleh
24:29pemerintah
24:30baik pusat
24:30dan daerah
24:31jadi
24:31sebenarnya
24:32memang
24:34salah satu persoalan
24:35adalah
24:36kacamata
24:37perlihatan
24:38pemerintah pusat
24:40dan pemerintah
24:40ini seolah-olah
24:42bencana ini
24:42masih seperti
24:43biasa
24:43padahal
24:44masyarakat sudah
24:45sangat
24:46kasihan
24:47dan menderita
24:48belum lagi
24:50kita berbincang
24:52ataupun bercerita
24:53tentang kerugian
24:54dan sudut
24:55kehidupan
24:56kalau di
24:57Malaysia dan
24:58Singapura ini
24:58ada
24:59sekolah-sekolah
25:01dan juga
25:01universitinya
25:02ditutup
25:02hampir sudah
25:03dua minggu
25:04ada yang
25:05terpaksa
25:06menunda
25:07perperiksaan
25:07besar
25:08kerana kita
25:09ada di
25:09hujung tahun
25:10banyak
25:11perperiksaan
25:11besar
25:11sedang dilalui
25:12oleh
25:13anak-anak
25:14pelajar kita
25:15yang pastinya
25:16terkesan
25:17jika mereka
25:17belajar di rumah
25:18mungkin kurang
25:19tumpuan diberikan
25:21oleh ibu bapa
25:21ataupun
25:22ada sudut peranti
25:23dan juga
25:24akses kepada
25:25internet itu
25:26mungkin agak
25:26ada
25:27keterbatasan
25:28jadi pastinya
25:29belum lagi
25:30kita cerita
25:31tentang ekonomi
25:31tentang perwisataan
25:33tidak ramai
25:34pelancong-pelancong asing
25:35akan datang
25:36ketika
25:36kabut asap ini
25:38di
25:38di kawasan-kawasan
25:39tumpuan wisata
25:40ataupun pelancong
25:41di Malaysia
25:41dan juga Singapura
25:42terima kasih
25:43mungkin itu
25:44topik yang lain
25:44juga
25:45mungkin
25:45ada lagi
25:46perincian
25:47yang boleh
25:47Okto
25:48bincangkan
25:49ataupun
25:49kongsikan
25:50dengan kami
25:51di Malaysia
25:52ini
25:52tetapi kami
25:53amat
25:53menghargai
25:54berterima kasih
25:55kepada
25:56Okto
25:56Yugo
25:57Sotio
25:57atas
25:58perkongsian
25:59yang amat
26:00bermakna
26:01pada malam ini
26:02kita bercerita
26:04tentang
26:04jerubu
26:05dan juga
26:06kabut asap
26:06bagi masyarakat
26:07Indonesia
26:08akibat daripada
26:09kebakaran hutan
26:10dan juga
26:11kebun
26:11di Indonesia
26:13yang melanda
26:13rantau
26:14Asia Tenggara ini
26:15jadi itu saja
26:16untuk saya
26:17Nazri Kaha
26:17malam ini
26:18Assalamualaikum
26:29selamat menikmati
Comments