Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Tiga bulan berlalu, tetapi kabut asap pekat masih menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Langit menguning, jarak pandang terbatas, dan udara tidak sehat menjadi bagian dari keseharian warga.

Di tengah kondisi tersebut, warga harus tetap bertahan. Sumiati, seorang pedagang kerupuk keliling, tetap menyusuri Jalan Yos Sudarso untuk mencari nafkah.

Asap yang mengganggu pernapasan tidak membuatnya berhenti bekerja. Kebutuhan hidup memaksa Sumiati terus bertahan di tengah kondisi udara yang kian tidak bersahabat.

#karhutla #pedagang #kabutasap #kalimantan

Baca Juga Pantauan Udara Kabut Asap Tutupi Jalan Raya di Palangka Raya | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/695959/pantauan-udara-kabut-asap-tutupi-jalan-raya-di-palangka-raya-kompas-petang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695973/kualitas-udara-bahaya-akibat-asap-karhutla-pedagang-tetap-keliling-cari-nafkah-kompas-petang
Transkrip
00:10Tiga bulan berlalu, namun kabut asap pekat masih menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
00:18Langit menguning, jarak pandang terbatas, dan udara yang tidak sehat menjadi bagian dari keseharian warga.
00:27Di tengah kondisi ini warga harus tetap bertahan.
00:31Sumiyati salah satunya.
00:33Pedagang kerupuk keliling ini tetap menyusuri jalan Yosudarso untuk mencari nafkah.
00:39Asap yang mengganggu pernafasan tidak membuatnya bisa berhenti bekerja.
00:44Kebutuhan hidup memaksa Sumiyati tetap bertahan di tengah udara yang kian tidak bersahabat.
00:52Alhamdulillah payo Jepang ada 25 buting, 25 bungkus kayak itu.
00:58Habis Jepang, namun kabut asap ini bisa 10 buting, namun laku.
01:03Daripada turun, anak ada turun kayak apa?
01:06Kalau yang begawi kayak ini apa?
01:08Sunyi, selalu kabut-kabut ini sunyi banal.
01:11Begawi ini bilang, eh, daripada.
01:14Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan