00:00Informasi terkini terkait dampak karhutlah kita tanyakan langsung pada Jurnalus Kompas TV Kurnia Tarigan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
00:07Kurnia, untuk saat ini bagaimana kondisi kabut asap yang terjadi di kota Palangkaraya dan bagaimana juga aktivitas warga akibat terdampak
00:15karhutlah?
00:17Ya, selamat siang, R. Juno dan Saudara.
00:21Hingga kini kejadian kebakaran hutan di Palangkaraya masih terus terjadi.
00:26Jadi, sejak tiga bulan yang lalu, upaya pemadaman memang terus dilakukan oleh Satgas Karhutlah, namun minimnya sumber air membuat upaya
00:39pemadaman tidak bisa berjalan dengan maksimal.
00:41Upaya pemadaman hanya bisa dilakukan di permukaan lahan gambut, sementara bara api dalam lapisan gambut terus menyala dan siap membakar
00:52kembali di saat angin bertiup kencang.
00:55Hingga kini melalui data BPPD Kota Palangkaraya, tercatat luas lahan yang sudah terbakar sebanyak 1.379 hektare, dengan 782 kali
01:08kejadian.
01:09Tentu saja kebakaran hutan dan lahan ini berdampak buruk bagi kesehatan, hingga saat ini kabut asap masih terus menyelimuti Palangkaraya.
01:19Bahkan dampaknya sangat buruk bagi kesehatan, informasi yang boleh kami terima dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya,
01:28sejak Juni hingga September, tercatat kasus ISPA sudah mencapai lebih daripada 10.000.
01:37Angka tersebut sudah cukup tinggi di saat lebih dari 2 bulan.
01:44Warga Palangkaraya dipaksa harus menghirup kabut asap.
01:49Sementara itu aktivitas warga lainnya, termasuk proses pembelajaran siswa yang sudah lebih dari 1 bulan, harus menjalani proses pembelajaran jarak
02:01jauh dari rumah.
02:02Juno, untuk saat ini bagaimana juga proses tadi yang Anda sampaikan pembelajaran jarak jauh atau daring bagi para murid,
02:11dan hingga kapan, dan bagaimana juga proses yang berjalan hingga saat ini?
02:17Ya baik, Juno, dapat kami informasikan bahwasannya dalam beberapa waktu yang lalu,
02:22memang kami sempat berbincang dengan wali kota Palangkaraya terkait dengan perpanjangan proses pembelajaran jarak jauh.
02:32Hal ini sudah lagi bukan instruksi, namun diharapkan untuk semua sekolah memperhatikan kondisi.
02:40Apabila dalam kurun waktu 3 hari berturut-turut,
02:43kabut, asap, dan indeks kualitas udara di Palangkaraya membaik,
02:49dipersilakan bagi sekolah untuk boleh menyelenggarakan pembelajaran langsung secara offline atau berada di lingkungan sekolah.
02:59Mengingat, menurut data BMKG yang kami catat,
03:03sejak pukul 8 hingga pukul 9 tadi pagi,
03:08kami mempercatat indeks kualitas udara di Palangkaraya mencapai 423 mikrogram per meter kubik.
03:17Namun, sejak pukul 9 pagi tadi,
03:20ada peningkatan yang cukup gratis.
03:24Saat ini indeks kualitas udara di Palangkaraya sudah mencapai 619 mikrogram per meter kubik.
03:31Masuk dalam kategori berbahaya.
03:34Tentu apabila kondisi seperti ini dipaksakan bagi siswa sekolah,
03:39maka jumlah kasus ISPA atau jumlah kasus penderita ISPA akan meningkat, you know.
03:46Ya, Anda sampaikan tadi bahwa kualitas udara saat dulu dan juga sudah mencapai 619 mikrogram per meter kubik.
03:55Untuk saat ini seperti apa juga kaitannya dengan perkantoran ataupun pusat bisnis?
04:00Tentu ini juga berdampak akibat karhut lalu.
04:03Seperti apa antisipasinya oleh pemerintah setempat?
04:07Ya, you know.
04:08Pemerintah hanya memberikan timbawan kepada warga untuk tetap memperhatikan kesehatan
04:15dengan menggunakan masker saat akan beraktifitas,
04:20baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
04:23Mengingat kondisi kabut asap,
04:25kendatipun kita atau warga Palangkaraya berada di dalam ruangan,
04:30asap tetap masuk, mengepul di dalam ruangan.
04:34Sehingga kondisi-kondisi seperti ini membuat aktivitas menjadi terganggu.
04:41Kondisi pekerjaan atau aktivitas baik di dalam dan di luar ruangan
04:46tentu saja membuat tidak nyaman bagi warga Palangkaraya, you know.
04:52Baik, kabut.
04:54Asap ini telah terjadi selama tiga bulan
04:56dan berdasarkan Dinas Kesehatan ada 10.000 kasus lebih terkait dengan ISPA
05:02dan ini tentu berdampak bagi masyarakat,
05:04terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan juga kaum belansia.
05:08Terima kasih atas lapor Anda jurnalis Kompasivi, Kurnia Tarigan
05:11dari Palangkaraya, Kalimantan, Tengah.