00:04Dua daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Rakatau.
00:08Apakah ini merupakan gunung api baru atau ada proses lain setelah erupsi dari Anak Gunung Rakatau?
00:16Untuk mengetahui hal tersebut, kita perlu data pemantauan dan penjelasan dari para ahli.
00:22Dua bentukan menyerupai daratan atau gumuk baru terdeteksi di sekitar Gunung Anak Rakatau yang berada di Selat Sunda, Lampung.
00:33Berdasarkan pemantauan citra satelit sentinel, dua bentukan tersebut berada di sisi barat laut dan tenggara Gunung Anak Rakatau.
00:43Bentukan di sisi barat laut berjarak sekitar 760 meter dari garis pantai Anak Rakatau,
00:50sedangkan bentukan di sisi tenggara berjarak sekitar 495 meter.
00:57Kemunculan dua bentukan ini menjadi perhatian karena terjadi setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Rakatau pada awal September 2025.
01:08Untuk memahami bagaimana bentukan tersebut bisa muncul, kita perlu melihat aktivitas Gunung Anak Rakatau sebelumnya.
01:15Berdasarkan laporan Badan Geologi, Gunung Anak Rakatau mengalami erupsi kontinu sekitar 25 jam,
01:22mulai 4 September 2026, pukul 23.07 WIB, hingga 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.
01:35Dalam periode tersebut, lava mengalir ke arah barat laut, barat, dan barat daya.
01:41Setelah erupsi kontinu tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Rakatau masih berlanjut.
01:48Tercatat terjadi beberapa erupsi skombolian, yaitu letusan yang ditandai lontaran material vulkanik secara berkala.
01:56Sementara itu, berdasarkan citra satelit, tubuh Gunung Anak Rakatau sendiri juga mengalami perubahan luas.
02:03Tapi, ada yang perlu diperhatikan.
02:06Luas tambahan sekitar 32,8 hektare yang disebut dalam laporan,
02:10merupakan pertambahan luas tubuh Gunung Anak Rakatau,
02:14bukan berarti dua gumuk baru tersebut masing-masing atau secara keseluruhan memiliki luas 32,8 hektare.
02:23Nah, disinilah bagian yang sering menimbulkan salah persepsi.
02:27Ketika melihat ada daeratan baru yang muncul di sekitar gunung api,
02:31kita mungkin langsung berpikir, berarti ada gunung api baru?
02:36Belum pasti.
02:37Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono,
02:42dua bentukan tersebut di Daserta Merta dapat disebut sebagai Gunung Api Baru atau Cucuk Rakatau.
02:48Bentukan itu lebih tepat dipahami sebagai akumulasi material vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Rakatau.
02:55Material tersebut dapat berupa abu, batuan, maupun lava yang kemudian terendapkan di sekitar gunung api.
03:03Dengan kata lain, kemunculan daeratan baru ini masih berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Rakatau.
03:10Pertanyaannya kemudian, bagaimana material vulkanik yang berada di laut bisa membentuk daeratan?
03:16Salah satu faktor penting adalah kondisi dasar laut di sekitar kawasan tersebut.
03:21Wilayah Anak Rakatau berada di dalam kawasan kaldera Krakatau Purba yang memiliki bagian dasar laut yang relatif dangkal.
03:29Ketika material hasil erupsi tersebut keluar dan menumpuk di area tersebut, material vulkanik dapat mengalami akumulasi hingga membentuk bentukan yang
03:39terlihat seperti daeratan.
03:40Selain material dari erupsi, kondisi laut juga ikut mempengaruhi proses tersebut.
03:46Arus, gelombang, dan proses erosi dapat memindahkan maupun mengikis material vulkanik yang baru terbentuk.
03:53Jadi, bentuk daeratan yang kita lihat saat ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
03:59Itu merupakan hasil interaksi antara aktivitas vulkanik dan proses laut.
04:05Badan Geologi memberikan penjelasan mengenai kemungkinan proses terbentuknya dua gumuk ini.
04:11Tapi ada satu catatan penting, penjelasan tersebut masih berupa interpretasi awal dan membutuhkan verifikasi dari lakon.
04:20Apa, gumuk seperti pulau begitu ya, itu adanya di barat laut dan tenggara Gunung Api Anak-Rakatau.
04:28Nah, ini kami interpretasikan juga berkaitan dengan erupsi menerus yang terjadi di 4-6 September.
04:36Nah, magma yang bersifat encer, yang terjadi pada saat erupsi menerus itu, keluar ke permukaan itu,
04:46ini kami interpretasikan melalui jalur bukaan, ini memanjang dari barat laut ke tenggara.
04:54Nah, sehingga itu material erupsinya itu membentuk daeratan di lokasi lain yang kita kelihatannya kelihatan seperti dua pulau tadi ya.
05:03Nah, tetapi ini tentunya masih dugaan, masih interpretasi, sehingga memang masih memerlukan konfirmasi.
05:12Nah, konfirmasi ini akan kami lakukan dengan pengecekan langsung ke lapangan dan juga membandingkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi
05:19menerus.
05:20Begitu ya, teman-teman.
05:21Sehingga untuk saat ini belum bisa dikatakan ada cucu anak raka tau begitu ya.
05:27Sekali lagi, ini masih membutuhkan verifikasi lapangan.
05:30Penjelasan tersebut disampaikan badan geologi berdasarkan interpretasi awal terhadap data citra satelit.
05:36Namun, karena kondisi sebenarnya di lapangan belum seluruhnya terverifikasi,
05:42proses pembentukan dua gumuk tersebut masih terus dikaji.
05:46Jadi, apakah dua daratan ini bisa disebut gunung api baru?
05:51Belum.
05:52Dan istilah cucu krak tau juga belum merupakan istilah ilmiah yang menetapkan dua gumuk tersebut adalah gunung api baru.
06:01Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono,
06:05sebuah bentukan baru tidak otomatis dapat disebut sebagai gunung api independen hanya karena muncul setelah erupsi.
06:13Perlu dilihat karakteristik dan sumber aktivitas vulkaniknya.
06:17Dalam kasus dua bentukan baru di sekitar anak raka tau,
06:21material yang membentuknya masih dikaitkan dengan aktivitas gunung anak raka tau.
06:27Karena itu, menyebutnya sebagai cucu krak tau lebih tepat dipahami sebagai istilah populer yang muncul
06:33untuk menggambarkan kemunculan daratan baru tersebut,
06:36bukan sebagai klasifikasi gunung api yang telah ditetapkan secara ilmiah.
06:41Kemunculan daratan baru bukan berarti bentuknya akan selalu seperti yang terlihat sekarang.
06:46Material vulkanik yang baru terendapkan masih relatif muda dan belum tentu stabil.
06:52Gelombang dan arus laut dapat mengikis material tersebut.
06:56Dalam kondisi tertentu, material yang tidak stabil juga dapat mengalami longsoran atau runtuhan ke laut.
07:04Karena itu, bentuk maupun luas daratan tersebut masih dapat berubah.
07:09Bahkan apabila pasokan material vulkanik berhenti sementara,
07:14proses erosi lebih dominan,
07:17bentukan yang sekarang terlihat dapat menyusut atau bahkan hilang.
07:20Sebaliknya, jika aktivitas vulkanik kembali memasok material dalam jumlah besar,
07:27kawasan tersebut juga dapat mengalami pertumbuhan.
07:30Meski terlihat seperti daratan baru,
07:32kawasan ini tidak otomatis berarti dapat dibatangi.
07:37Justru karena material yang masih muda dan aktivitas vulkanik dari anak prakatau masih dipantau,
07:44maka masyarakat dimohon untuk tetap mengikuti arahan dan rekomendasi dari para pihak berwenang.
07:51Badan geologi juga mengingatkan mengenai potensi bahaya di sekitar kawasan tersebut.
07:56Bahaya dapat berasal dari aktivitas erupsi seperti lontaran material pijar,
08:03aliran lava, awan panas, maupun gas vulkanik.
08:07Selain itu, material baru yang berada di laut juga memiliki potensi mengalami erosi,
08:14longsoran, atau runtuhan.
08:15Karena itu, kawasan di sekitar anak prakatau tetap memiliki batas aman yang harus diperhatikan.
08:23Rekomendasi yang disampaikan antara lain tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi,
08:30serta menjaga jarak setidaknya 1 km dari 2 gumuk baru tersebut.
08:35Perkembangan aktivitas gunung anak prakatau juga terus dipantau.
08:39Pada 21 September 2026, badan geologi menurunkan tingkat aktivitas gunung anak prakatau dari level 3 atau siaga menjadi level 2
08:50atau waspada.
08:50Penurunan status ini menunjukkan adanya perubahan tingkat aktivitas berdasarkan hasil pemantauan.
08:58Namun, penurunan status bukan berarti seluruh potensi bahaya hilang.
09:02Aktivitas gunung api tetap perlu dipantau karena kondisi gunung api dapat berubah.
09:08Jadi, apa kesimpulannya?
09:10Dua daratan baru memang terdeteksi setelah adanya erupsi gunung anak prakatau pada awal September 2026.
09:18Namun, belum ada dasar ilmiah untuk menyebut dua gumuk baru tersebut adalah gunung api baru atau cucuk rakatau.
09:28Dan material yang masih muda serta kondisi kawasan yang dinamis itu masih akan membuat daratan tersebut dapat berubah.
09:37Jadi, istilah cucuk rakatau mungkin menarik untuk menggambarkan fenomenanya.
09:42Tetapi, secara ilmiah kita masih harus menunggu pemantauan lebih lanjut dan hasil penelitian berikutnya.
09:50Sekian, terima kasih Sobat Kompas TV.
09:53Sampai jumpa.