Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dua bentukan menyerupai daratan baru terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, setelah aktivitas erupsi pada awal September 2026.

Kemunculan bentukan ini kemudian ramai disebut sebagai "Cucu Krakatau". Namun, apakah benar dua bentukan tersebut merupakan gunung api baru?

Dalam video ini, KompasTV mengulas fakta ilmiah di balik kemunculan dua gumuk tersebut, mulai dari aktivitas erupsi Anak Krakatau, akumulasi material vulkanik, hingga pengaruh arus, gelombang, dan erosi laut.

Lalu, bagaimana sebenarnya bentukan tersebut bisa muncul? Apakah bentuknya akan tetap seperti sekarang? Dan apa saja potensi bahaya di sekitarnya?

Simak penjelasan lengkapnya dalam video ini.



Content Creator: Atalya Calista Setiadi (Maganghub Kemnaker)

Video Editor: Arrafi Dzaky Alghifari (Maganghub Kemnaker)

Video Editor & Grafis: Mohamad Haikal Darmawan (Maganghub Kemnaker)



#anakkrakatau #badangeologi #daratanbaru #pvmbg

Baca juga: Muncul Pulau Baru Dekat Anak Krakatau Ini Penjelasan Pakar

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/693891/heboh-kemunculan-daratan-baru-cucu-krakatau-ini-fakta-ilmiah-di-baliknya
Transkrip
00:04Dua daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Rakatau.
00:08Apakah ini merupakan gunung api baru atau ada proses lain setelah erupsi dari Anak Gunung Rakatau?
00:16Untuk mengetahui hal tersebut, kita perlu data pemantauan dan penjelasan dari para ahli.
00:22Dua bentukan menyerupai daratan atau gumuk baru terdeteksi di sekitar Gunung Anak Rakatau yang berada di Selat Sunda, Lampung.
00:33Berdasarkan pemantauan citra satelit sentinel, dua bentukan tersebut berada di sisi barat laut dan tenggara Gunung Anak Rakatau.
00:43Bentukan di sisi barat laut berjarak sekitar 760 meter dari garis pantai Anak Rakatau,
00:50sedangkan bentukan di sisi tenggara berjarak sekitar 495 meter.
00:57Kemunculan dua bentukan ini menjadi perhatian karena terjadi setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Rakatau pada awal September 2025.
01:08Untuk memahami bagaimana bentukan tersebut bisa muncul, kita perlu melihat aktivitas Gunung Anak Rakatau sebelumnya.
01:15Berdasarkan laporan Badan Geologi, Gunung Anak Rakatau mengalami erupsi kontinu sekitar 25 jam,
01:22mulai 4 September 2026, pukul 23.07 WIB, hingga 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.
01:35Dalam periode tersebut, lava mengalir ke arah barat laut, barat, dan barat daya.
01:41Setelah erupsi kontinu tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Rakatau masih berlanjut.
01:48Tercatat terjadi beberapa erupsi skombolian, yaitu letusan yang ditandai lontaran material vulkanik secara berkala.
01:56Sementara itu, berdasarkan citra satelit, tubuh Gunung Anak Rakatau sendiri juga mengalami perubahan luas.
02:03Tapi, ada yang perlu diperhatikan.
02:06Luas tambahan sekitar 32,8 hektare yang disebut dalam laporan,
02:10merupakan pertambahan luas tubuh Gunung Anak Rakatau,
02:14bukan berarti dua gumuk baru tersebut masing-masing atau secara keseluruhan memiliki luas 32,8 hektare.
02:23Nah, disinilah bagian yang sering menimbulkan salah persepsi.
02:27Ketika melihat ada daeratan baru yang muncul di sekitar gunung api,
02:31kita mungkin langsung berpikir, berarti ada gunung api baru?
02:36Belum pasti.
02:37Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono,
02:42dua bentukan tersebut di Daserta Merta dapat disebut sebagai Gunung Api Baru atau Cucuk Rakatau.
02:48Bentukan itu lebih tepat dipahami sebagai akumulasi material vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Rakatau.
02:55Material tersebut dapat berupa abu, batuan, maupun lava yang kemudian terendapkan di sekitar gunung api.
03:03Dengan kata lain, kemunculan daeratan baru ini masih berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Rakatau.
03:10Pertanyaannya kemudian, bagaimana material vulkanik yang berada di laut bisa membentuk daeratan?
03:16Salah satu faktor penting adalah kondisi dasar laut di sekitar kawasan tersebut.
03:21Wilayah Anak Rakatau berada di dalam kawasan kaldera Krakatau Purba yang memiliki bagian dasar laut yang relatif dangkal.
03:29Ketika material hasil erupsi tersebut keluar dan menumpuk di area tersebut, material vulkanik dapat mengalami akumulasi hingga membentuk bentukan yang
03:39terlihat seperti daeratan.
03:40Selain material dari erupsi, kondisi laut juga ikut mempengaruhi proses tersebut.
03:46Arus, gelombang, dan proses erosi dapat memindahkan maupun mengikis material vulkanik yang baru terbentuk.
03:53Jadi, bentuk daeratan yang kita lihat saat ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
03:59Itu merupakan hasil interaksi antara aktivitas vulkanik dan proses laut.
04:05Badan Geologi memberikan penjelasan mengenai kemungkinan proses terbentuknya dua gumuk ini.
04:11Tapi ada satu catatan penting, penjelasan tersebut masih berupa interpretasi awal dan membutuhkan verifikasi dari lakon.
04:20Apa, gumuk seperti pulau begitu ya, itu adanya di barat laut dan tenggara Gunung Api Anak-Rakatau.
04:28Nah, ini kami interpretasikan juga berkaitan dengan erupsi menerus yang terjadi di 4-6 September.
04:36Nah, magma yang bersifat encer, yang terjadi pada saat erupsi menerus itu, keluar ke permukaan itu,
04:46ini kami interpretasikan melalui jalur bukaan, ini memanjang dari barat laut ke tenggara.
04:54Nah, sehingga itu material erupsinya itu membentuk daeratan di lokasi lain yang kita kelihatannya kelihatan seperti dua pulau tadi ya.
05:03Nah, tetapi ini tentunya masih dugaan, masih interpretasi, sehingga memang masih memerlukan konfirmasi.
05:12Nah, konfirmasi ini akan kami lakukan dengan pengecekan langsung ke lapangan dan juga membandingkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi
05:19menerus.
05:20Begitu ya, teman-teman.
05:21Sehingga untuk saat ini belum bisa dikatakan ada cucu anak raka tau begitu ya.
05:27Sekali lagi, ini masih membutuhkan verifikasi lapangan.
05:30Penjelasan tersebut disampaikan badan geologi berdasarkan interpretasi awal terhadap data citra satelit.
05:36Namun, karena kondisi sebenarnya di lapangan belum seluruhnya terverifikasi,
05:42proses pembentukan dua gumuk tersebut masih terus dikaji.
05:46Jadi, apakah dua daratan ini bisa disebut gunung api baru?
05:51Belum.
05:52Dan istilah cucu krak tau juga belum merupakan istilah ilmiah yang menetapkan dua gumuk tersebut adalah gunung api baru.
06:01Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono,
06:05sebuah bentukan baru tidak otomatis dapat disebut sebagai gunung api independen hanya karena muncul setelah erupsi.
06:13Perlu dilihat karakteristik dan sumber aktivitas vulkaniknya.
06:17Dalam kasus dua bentukan baru di sekitar anak raka tau,
06:21material yang membentuknya masih dikaitkan dengan aktivitas gunung anak raka tau.
06:27Karena itu, menyebutnya sebagai cucu krak tau lebih tepat dipahami sebagai istilah populer yang muncul
06:33untuk menggambarkan kemunculan daratan baru tersebut,
06:36bukan sebagai klasifikasi gunung api yang telah ditetapkan secara ilmiah.
06:41Kemunculan daratan baru bukan berarti bentuknya akan selalu seperti yang terlihat sekarang.
06:46Material vulkanik yang baru terendapkan masih relatif muda dan belum tentu stabil.
06:52Gelombang dan arus laut dapat mengikis material tersebut.
06:56Dalam kondisi tertentu, material yang tidak stabil juga dapat mengalami longsoran atau runtuhan ke laut.
07:04Karena itu, bentuk maupun luas daratan tersebut masih dapat berubah.
07:09Bahkan apabila pasokan material vulkanik berhenti sementara,
07:14proses erosi lebih dominan,
07:17bentukan yang sekarang terlihat dapat menyusut atau bahkan hilang.
07:20Sebaliknya, jika aktivitas vulkanik kembali memasok material dalam jumlah besar,
07:27kawasan tersebut juga dapat mengalami pertumbuhan.
07:30Meski terlihat seperti daratan baru,
07:32kawasan ini tidak otomatis berarti dapat dibatangi.
07:37Justru karena material yang masih muda dan aktivitas vulkanik dari anak prakatau masih dipantau,
07:44maka masyarakat dimohon untuk tetap mengikuti arahan dan rekomendasi dari para pihak berwenang.
07:51Badan geologi juga mengingatkan mengenai potensi bahaya di sekitar kawasan tersebut.
07:56Bahaya dapat berasal dari aktivitas erupsi seperti lontaran material pijar,
08:03aliran lava, awan panas, maupun gas vulkanik.
08:07Selain itu, material baru yang berada di laut juga memiliki potensi mengalami erosi,
08:14longsoran, atau runtuhan.
08:15Karena itu, kawasan di sekitar anak prakatau tetap memiliki batas aman yang harus diperhatikan.
08:23Rekomendasi yang disampaikan antara lain tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi,
08:30serta menjaga jarak setidaknya 1 km dari 2 gumuk baru tersebut.
08:35Perkembangan aktivitas gunung anak prakatau juga terus dipantau.
08:39Pada 21 September 2026, badan geologi menurunkan tingkat aktivitas gunung anak prakatau dari level 3 atau siaga menjadi level 2
08:50atau waspada.
08:50Penurunan status ini menunjukkan adanya perubahan tingkat aktivitas berdasarkan hasil pemantauan.
08:58Namun, penurunan status bukan berarti seluruh potensi bahaya hilang.
09:02Aktivitas gunung api tetap perlu dipantau karena kondisi gunung api dapat berubah.
09:08Jadi, apa kesimpulannya?
09:10Dua daratan baru memang terdeteksi setelah adanya erupsi gunung anak prakatau pada awal September 2026.
09:18Namun, belum ada dasar ilmiah untuk menyebut dua gumuk baru tersebut adalah gunung api baru atau cucuk rakatau.
09:28Dan material yang masih muda serta kondisi kawasan yang dinamis itu masih akan membuat daratan tersebut dapat berubah.
09:37Jadi, istilah cucuk rakatau mungkin menarik untuk menggambarkan fenomenanya.
09:42Tetapi, secara ilmiah kita masih harus menunggu pemantauan lebih lanjut dan hasil penelitian berikutnya.
09:50Sekian, terima kasih Sobat Kompas TV.
09:53Sampai jumpa.

Dianjurkan