Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan sinergi antara Kemenkeu dan BI akan terus dilanjutkan, baik dalam hubungan bilateral maupun melalui KSSK.

Suahasil juga mengatakan, koordinasi dengan BI diperlukan dalam menjaga likuiditas perbankan melalui penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan strategi penerbitan surat berharga pemerintah.

Soal pertemuan Gubernur Bank Indonesia, dan Menkeu untuk memperkuat sinergi kebijakan fiskal-moneter, berikut pembahasannya bersama Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, di program Kompas Bisnis pada Senin (28/9/2026).

Baca Juga Tawa Menkeu Suahasil Ditanya soal Masyarakat Disebut Belum Move On dari Purbaya di https://www.kompas.tv/nasional/692620/tawa-menkeu-suahasil-ditanya-soal-masyarakat-disebut-belum-move-on-dari-purbaya

#menkeu #suahasilnazara #gubernurbi #bankindonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/693016/full-menkeu-suahasil-gubernur-bi-bertemu-redam-isu-dominasi-fiskal-independensi-kompas-bisnis
Transkrip
00:12Intro
00:15Saatnya anda menyaksikan Gompas Bisnis, saudara bersama saya Ian Rahman.
00:19Saudara-saudara Indonesia dan Kementerian Keuangan,
00:21perkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter,
00:24maluwi lima pilar untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,
00:28sekaligus perkuat stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global.
00:35Gubernur Indonesia, Destri Damayanti, bilang lima pilar tersebut
00:39jadi fokus pembahasan dalam pertemuan tingkat tinggi perdana
00:43dengan Menteri Keuangan Suhasil Nazara yang digelar pada 24 September 2026.
00:48Sinergi diperlukan agar kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan searah
00:53dalam mendukung perekonomian.
00:55Kelima pilar jadi bagian dari upaya perkuat koordinasi
00:59dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan menjaga stabilitas nasional.
01:09Koordinasi seperti apa ya? Koordinasi seperti ini.
01:12Kita rutin biasanya bertemu untuk membahas hal-hal yang memang
01:16cross-cutting di antara fiskal dan moneter itu banyak sekali.
01:20Dan sekarang tentunya dengan sinergi yang makin baik ke depannya
01:25kita berharap bahwa dua kebijakan utama kita ini
01:29akan terus menjadi kebijakan yang kredibilitasnya tetap tinggi
01:34dan masing-masing ini mempunyai kekuatan dan koridornya masing-masing.
01:40Jadi bersinergi itu enggak berarti bahwa satu mempengaruhi yang lain
01:44atau satu meng-offset yang lain enggak.
01:46Tapi masing-masing kita bergerak bersama dengan kekuatan masing-masing
01:50kita saling mengisi dan kita mempunyai tujuan yang sama.
01:54Itu bagaimana ekonomi kita makin kuat, makin punya daya tahan
01:58dan juga makin bisa terus tumbuh.
02:03Lima pilar sinergi antara Bank Indonesia dengan Kementerian Keuangan
02:08diantaranya pertama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi
02:11melalui optimalisasi kebijakan fiskal dan moneter yang dimiliki pemerintah dan BI.
02:15Kedua memperkuat ketahanan sektor eksternal
02:18dari sisi perdagangan internasional dan aliran modal asing.
02:21Dalam hal ini BI dan pemerintah berupaya mendorong masuknya aliran modal asing
02:25ke pasar domestik melalui SBN, SRBI, saham hingga pinjaman luar negeri.
02:31Ketiga, pengelola kecukupan ataupun mengelola kecukupan likuiditas
02:35di pasar uang perbankan dan juga perekonomian.
02:38Isu likuiditas jadi pembahasan di mana BI dan Kementerian Keuangan
02:43menyoroti tingginya suku bunga deposito yang mendorong kenaikan cost of fund perbankan.
02:49Keempat, koordinasi kebijakan dalam pengendalian inflasi
02:52melalui peran tim pengendalian inflasi pusat dan daerah.
02:56Kelima, koordinasi untuk pendalaman pasar keuangan
02:59dan hal ini dilakukan untuk memastikan transmisi kebijakan berjalan dengan lancar
03:04sekaligus sempurluas sumber pembiayaan bagi perekonomian.
03:15Sementara itu, Saudara Menteri Keuangan Suhasil Nazara bilang
03:18sinergi antara Kementerian Keuangan dan BI akan terus dilanjutkan
03:22baik dalam hubungan bilateral maupun melalui KSSK.
03:25Suhasil menegaskan sektor real memiliki peran penting
03:29dalam menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
03:32Suhasil juga mengatakan koordinasi dengan BI diperlukan
03:36dalam menjaga likuiditas perbankan melalui penempatan saldo
03:39anggaran lebih atau SAL dan strategi penerbitan surat berharga pemerintah.
03:49Kita ingin menciptakan employment creation tadi dari sisi fiskal
03:55APBN akan terus menjalankan belanja negara dan menjalankan operasi APBN
04:02dan beberapa hal sangat terkait erat dengan peranan dari Bank Sentral.
04:09termasuk soal SAL yang ditempatkan di Bank Imbara,
04:13teman-teman media di dalam update APBN kita yang lalu telah kami sampaikan
04:19bahwa kita melanjutkan dengan cara yang sangat terukur
04:24dan dalam koordinasi yang sangat erat dengan Bank Indonesia
04:29dan juga dengan Bank-Bank Imbara yang ada di bawah dan antara.
04:33Tentu kita akan lanjutkan terus ini.
04:38Sementara itu saudara sebelumnya,
04:40Kementerian Keuangan menerbitkan aturan baru terkait pengelolaan keuangan negara
04:43khususnya KAS pemerintah pusat.
04:45Salah satu yang diatur adalah saldo anggaran lebih atau SAL
04:48yang tak lagi ditempatkan di Bank Indonesia.
04:51Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan atau PMK
04:55Pasal 11 No. 67 tahun 2026 yang berbunyi
04:59Pengelolaan kelebihan KAS bagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat 2
05:03dilaksanakan dengan penempatan yang negara pada Bank Umum
05:08dan atau pembelian SBN.
05:10Belayat ini ditanda tangani Menteri Keuangan periode 2025-2026
05:15Purbaya Yudhisa Dewa dan berlaku sejak 8 September.
05:19Padahal kebijakan sebelumnya, Pasal 11 PMK No. 44 tahun 2024
05:24disebutkan pengelolaan kelebihan KAS dilakukan dengan penempatan yang negara
05:29pada Bank Indonesia, Bank Umum, dan juga pembelian SBN di pasar sekunder.
05:46Saudara-saudara, pertemuan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan
05:49untuk perkuat sinergi kebijakan fiskal moneter
05:52kita bahas bersama Teguh Rifki, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan
05:56APM FFP Universitas Indonesia.
05:58Mas Rifki, selamat pagi. Apa kabar?
06:00Pagi, Mas Yan. Apa kabar?
06:02Baik, Alhamdulillah. Mas Rifki, ini kan sebelumnya di pekan lalu
06:05ada BI dan Kementerian Keuangan yang bertemu
06:08dan kembali memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan juga moneter.
06:12Sebenarnya menurut Anda dalam situasi saat ini,
06:15situasi ekonomi saat ini, apa urgensi pertemuan BI
06:18dengan Kementerian Keuangan?
06:20Persoalan ekonomi apa yang menurut Anda paling mendesak
06:22dan perlu dijawab melalui sinergi ini?
06:25Ya, jadi kalau kita lihat dari sinergi fiskal dan moneter
06:29yang dilakukan pada high level meeting ini,
06:32memang kita memiliki urgensi untuk mendorong
06:35pertumbuhan ekonomi itu lebih cepat.
06:38Caranya gimana?
06:39Caranya adalah dengan postur fiskal kita itu
06:42yang suportif dan produktif terhadap pertumbuhan ekonomi
06:46dan juga mengembangkan serta menciptakan
06:49mesin-mesin pertumbuhan ekonomi baru.
06:51Nah, itu kalau dari sisi fiskalnya.
06:54Tentu untuk mencapai hal ini diperlukan likuiditas yang memadai.
06:58Diperlukan likuiditas yang cukup dan diperlukan likuiditas yang affordable.
07:03Nah, disinilah kemudian peran dari kebijakan moneter
07:07terkait pengelolaan likuiditas menjadi penting
07:10untuk sama-sama mendukung perekonomian yang lebih sehat.
07:15Jadi, kalau kita lihat memang secara urgensi perlu ada koordinasi dan sinergi
07:21untuk kemudian bisa membuat ini sama-sama bergerak ke arah yang produktif.
07:26Tadi juga disampaikan oleh statement Budi Yastri bahwa
07:31sinergi ini tidak berarti saling meng-offset,
07:34tidak berarti saling meng-overpower satu sama lain.
07:38Tapi tetap pada koridornya masing-masing,
07:40di mana BI pada koridor kebijakan moneter,
07:45APBN pada koridor kebijakan fiskal
07:48untuk mencapai tujuan yang secara umum lebih koheren.
07:52Oke, berarti ada beberapa poin
07:54terkait dengan urgensi pertemuan dari keduanya,
07:56termasuk diantaranya mendorong pertumbuhan ekonomi
07:58dan juga kebijakan moneter yang mendukung ekonomi lebih sehat.
08:03Kan ini diungkapkan oleh Gubernur BI,
08:08ada lima pilar sinergi kebijakan yang dihasilkan.
08:11Menurut Anda, Mas Rifki, apa sebenarnya benang merah dari kelimanya
08:15dan target utama yang ingin dicapai?
08:17Mana yang paling strategis dalam jangka pendek dan mengapa?
08:21Ya, kalau kita lihat dari lima ini,
08:23tentu benang merahnya itu adalah produktivitas perekonomian jangka panjang.
08:28Nah, ini memang bukan menjadi tugas utama BI
08:31atau bukan menjadi mandat utama dari BI.
08:34Mandat utama BI adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
08:38dan juga menjaga stabilitas tingkat harga.
08:41Nah, kedua mandat stabilitas ini memang dibutuhkan
08:44untuk mencapai produktivitas ekonomi tadi.
08:47Jadi, memang kalau kita melihat secara peran,
08:50ini memang peran BI itu untuk menjaga agar likuiditas itu cukup,
08:54likuiditas itu affordable,
08:56tingkat harga itu stabil,
08:57dan tingkat nilai tukar itu juga bisa stabil.
09:00Kalau ini bisa tercapai,
09:02maka ini akan lebih mudah untuk kemudian nanti sektor real
09:05mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,
09:08lebih mudah juga untuk postur fiskal mendongkrak mesin-mesin pertumbuhan ekonomi.
09:13Jadi, memang kalau kita lihat secara umum,
09:15ini rolnya memang jangan sampai Bank Indonesia itu fokus ke pertumbuhan.
09:21Mandatnya BI itu bukan di pertumbuhan,
09:23tapi di stabilitas.
09:25Tapi memang stabilitas ini menjadi kunci
09:27untuk kemudian bisa tumbuh lebih tinggi lagi.
09:30Makanya kalau kita lihat tadi dari lima pilar ini,
09:33banyak sekali yang berkaitan dengan likuiditas dan tingkat harga.
09:37Ada pendalaman tim TPI, PT, PID,
09:40pendalaman pasar keuangan,
09:42lalu menarik modal asing,
09:45serta kemudian juga menjaga agar arus lalu lintas modal ini
09:49bisa tetap terjaga dan tidak terlalu volatile.
09:53Apalagi kalau kita lihat sekarang ini kan banyak sekali
09:56tekanan baik di sisi eksternal maupun internal
09:59yang biasanya respon utamanya itu adalah
10:02membuat volatilitas di pasar modal dan juga nilai tukar rupiah.
10:07Oke, Mas Rifki, kalau kita melihat lima pilar
10:11kebijakan untuk sinergi antara Bank Indonesia
10:13dan juga Kementerian Keuangan begitu,
10:16Anda melihatnya dari kelima poin ini,
10:18sinergi ini lebih mengarah ataupun lebih berat
10:20ke mendorong pertumbuhankah atau menjaga stabilitas?
10:24Atau seimbang keduanya menurut Anda?
10:26Saya rasa mungkin salah satu perspektif yang tepat
10:30untuk melihatnya adalah lima pilar ini sebagai fondasi.
10:35Jadi fondasi ini adalah untuk menjaga stabilitas.
10:38Kalau fondasinya sudah solid,
10:40kalau fondasinya sudah kokoh,
10:42baru kemudian ekonomi kita bisa melesat lebih tinggi lagi.
10:45Jadi ini memang sebagai batu pijakan
10:48atau lagi-lagi sebagai fondasi agar kita bisa tumbuh lebih tinggi
10:52dan fondasinya ini dibangun dari aspek stabilitas.
10:56Jadi kalau kita bicara hanya di lima pilar sinergi ini,
10:59memang fokus utamanya itu adalah ke stabilitas.
11:02Tapi stabilitas inilah yang nantinya
11:05memungkinkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi.
11:08Jadi memang ini lagi-lagi balik ke kata kunci sinergi
11:11dan koherensi tadi.
11:13Bahwa ini perlu ada.
11:14Stabilitas ini perlu menjadi dasar
11:16agar kemudian pertumbuhan ekonomi kita
11:18nanti tidak terlalu volatile.
11:20Pertumbuhan ekonomi kita nanti tidak tinggi.
11:22Kemudian tiba-tiba drop.
11:24Tapi kita memiliki pertumbuhan ekonomi
11:26yang sehat dan sustainable
11:28tidak hanya di jangka pendek,
11:29tapi juga jangka menengah dan jangka panjang.
11:33Oke, artinya apakah ini stabilitas dan pertumbuhan ini
11:35tidak dipisahkan satu persatu begitu?
11:38Menjadi satu kesatuan menurut Anda?
11:41Betul. Jadi memang kalau kita lihat
11:43ini menjadi satu kesatuan
11:45dan memang perlu untuk
11:47terutama dari sisi BI ya
11:49memastikan stabilitas ini
11:51bahwa terjaga gitu
11:54agar nanti setiap kebijakan fiskal yang dilakukan
11:57setiap gelanja yang pemerintah lakukan
12:01ini juga menjadi semakin produktif
12:03setiap rupiah yang dikeluarkannya.
12:06Oke, tentunya yang jadi pertanyaan besar
12:08kalau di lini masyarakat begitu
12:10sinergi, kalau konteksnya ke sinergi
12:12yang dilakukan oleh keduanya
12:13apakah ini sinergi dilakukan
12:15agar berdampak terhadap
12:18masyarakat secara real begitu
12:20dan apa saja dampaknya yang bisa dilihat?
12:22Kita bahas selesai jeda
12:22Mas Rifki, tetaplah bersama kami
12:24di Kompas Bisnis.
12:35Terima kasih telah menonton!
12:55Saya bahas pertemuan Gubernur Bank Indonesia
12:57dan Menteri Keuangan untuk perkuat sinergi
12:59kebijakan fiskal moneter
13:00bersama Tegu Rifki, peneliti makroekonomi
13:03dan pasar keuangan LPM FEB Universitas Indonesia.
13:06Mas Rifki, terkait dengan sinergi yang kita bahas sebelumnya
13:09sinergi dilakukan tentu agar dampak real
13:11dirasakan oleh masyarakat.
13:13Kemudian apa dampak konkretnya menurut Anda?
13:15Apakah dalam bentuk daya beli masyarakat yang terus membaik,
13:18lapangan pekerjaan, atau akses pembiayaan yang lebih murah?
13:22Paling tidak ada dua hal.
13:25Kalau kita lihat dari lima pilar tersebut,
13:28pertama adalah inflasi yang terkendali.
13:31Kalau inflasi kemudian bisa terkendali
13:33dan juga nilai tukar terkendali,
13:35ini akan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
13:38Kenapa?
13:39Karena tadi tingkat harga juga cenderung stabil,
13:42lalu kalau nilai tukar yang stabil,
13:43ini juga menurunkan risiko dari imported inflation.
13:47Jadi dari sini langsung mempengaruhi daya beli masyarakat.
13:51Apalagi tingkat harga dan nilai tukar yang stabil,
13:54ini juga bisa menekan production cost.
13:57Artinya sektor usaha bisa semakin lebih efisien dan produktif.
14:01Apabila sektor usaha bisa semakin efisien dan produktif,
14:04maka ini satu,
14:05daya beli masyarakat bisa meningkat
14:07dengan harga barang dan jasa yang lebih murah.
14:09Kedua juga penciptaan lapangan kerja lebih tinggi.
14:12Sehingga income masyarakat juga akan terdorong
14:14dengan daya beli yang semakin tinggi.
14:17Itu satu.
14:18Kedua, pendalaman pasar keuangan,
14:21lalu juga arus modal asing,
14:24dan juga manajemen likuiditas.
14:26Ini akan mempengaruhi cost of fund.
14:28Ini pun juga akan mempengaruhi daya beli
14:30dan produktifitas masyarakat.
14:32Kenapa?
14:33Kemudian kalau cost of fund ini bisa lebih murah
14:35dan lebih efisien,
14:36maka cost of doing business pun juga bisa lebih efisien.
14:39Dari masyarakat yang butuh kemudian kredit,
14:43ini juga bisa lebih produktif.
14:45Dari sisi dunia usaha yang membutuhkan likuiditas,
14:48juga bisa melakukan ekspansi dengan lebih mudah.
14:52Jadi kalau kita lihat,
14:54dari semua indikator stabilitas dan likuiditas ini,
14:58memang ujung-ujungnya bermuara ke produktivitas sektorial,
15:01baik dari sisi konsumsi maupun dari sisi produksi.
15:05Berarti komitmen agar inflasi terkendali ini berhubungan erat betul
15:10begitu dengan daya beli masyarakat.
15:12Kemudian dari kebijakan yang dihasilkan,
15:15dari pertemuan ini,
15:16menurut Anda apakah ini ada sinyal fiskal yang dominan lagi?
15:20Dan apakah tampak ada kompromi tentang independensi Bank Indonesia?
15:26Kalau kita lihat dari lima pilar ini,
15:28sebetulnya tidak ada.
15:30Dan apakah ini nanti baik dari sisi dominansi fiskal,
15:34maupun dari sisi independensi BI,
15:36tidak tercermin adanya tergerusnya atau erosi dari independensi
15:42dan terjadinya dominansi fiskal.
15:45Tapi lagi-lagi ini nanti akan sangat tergantung dari praktiknya.
15:49Pada praktiknya nanti memang perlu dipastikan bahwa
15:52masing-masing kebijakan moneter, kebijakan fiskal ini
15:54tetap berada pada koridornya masing-masing.
15:57Karena kalau ini tidak berada di koridor masing-masing,
16:00ini bisa sangat mudah menjadi penurunan independensi BI
16:04yang justru kontraproduktif dengan tujuan pilar ini,
16:08yaitu meyakinkan investor,
16:10dan juga ini akan kontraproduktif terhadap belanja fiskal yang dilakukan
16:15karena nanti tidak akan optimum dampaknya terhadap produktivitas.
16:19Jadi, selain juga menyusun lima pilar ini,
16:22perlu dipastikan pada praktiknya adalah bahwa independensi BI tetap terjaga
16:26dan ruang fiskal ini tidak mendominasi ruang kebijakan moneter.
16:33Berarti dari lima pilar ini tidak terlihat begitu ya,
16:36secara kasat mata, apakah ini menunjukkan dominasi fiskal
16:40dan akan mengganggu independensi dari Bayu Indonesia.
16:43Tapi kalau kita melihat lagi secara kasat mata,
16:45Mas Rifki, indikator apa sih yang bisa dipantau oleh publik tentunya
16:49untuk menilai apakah lima pilar ini berhasil atau tidak?
16:53Pertama, tentu kita bisa melihat dari sisi inflasi.
16:58Inflasi kan disebutkan secara eksplisit.
17:01Ada TPIP, ada TPID.
17:03Kedepannya ini kita perlu lihat apakah inflasi ini bisa stabil.
17:07Tidak hanya dia berada dalam target range BI,
17:101,5 sampai 3,5 persen,
17:12tapi pergerakannya ini juga tidak terlalu volatile.
17:15Jadi, ini salah satu tanda lima pilar ini berhasil.
17:19Kedua adalah lalu lintas arus modal yang masuk dan keluar Indonesia
17:24ini apakah fluktuatif atau tidak.
17:26Jadi, kita tidak ingin melihat tiba-tiba arus modal asing yang masuk secara deras,
17:31tapi beberapa saat kemudian keluar juga secara deras.
17:34Kita mau, kalaupun nanti misalnya arus modal asing masuk,
17:38itu tidak terlalu besar,
17:39tapi kita ingin arus modal tersebut disustay,
17:42dan juga, kalaupun terjadi capital outflow,
17:45ini masih terjadi secara manageable.
17:47Poin lain yang juga penting adalah pendalaman pasar keuangan.
17:50Ini menjadi sangat penting,
17:52di mana kita perlu melihat adanya pengembangan industri-industri keuangan,
17:58baik bank dan non-bank.
17:59Baik itu asuransi, dana pensiun, perbankan.
18:03Ini perlu terus berkembang sehingga cost of fund lebih murah
18:05dan fungsi sektor finansial sebagai financial intermediaries
18:10ini menjadi berjalan dengan semestinya.
18:13Nah, ini yang saya rasa menjadi beberapa indikator utama
18:17yang kita perlu terus pantau.
18:18Tidak semuanya langsung terlihat di jangka pendek,
18:21misalnya seperti insulasi,
18:22ini mungkin kita bisa langsung ases efektivitasnya di dalam beberapa bulan.
18:27Tapi, pendalaman pasar keuangan,
18:29ini butuh waktu yang biasanya lebih lama.
18:31Sehingga ini kemudian dibutuhkan tidak hanya pilar,
18:34tapi juga konsistensi kebijakan dalam mengembangkan sektor dan pasar keuangan di Indonesia.
18:41Ada beberapa hal yang bisa dipantau oleh publik secara langsung,
18:44terlihat juga dengan pergerakan inflasi dan juga pendalaman pasar keuangan.
18:47Tapi, kalau kita membahas hal lain yang juga diungkapkan dalam pertemuan
18:51dengan Gubernur Indonesia,
18:53Menteri Keuangan bilang,
18:54ini Mas Rifki, akan memperkuat koordinasi soal SAL.
18:57Sementara, Kementerian Keuangan telah menerbitkan aturan baru
19:00melalui PMK No. 67 tahun 2026
19:03yang mengatur saldo anggaran lebih atau SAL
19:05yang tidak lagi ditempatkan di Bank Indonesia.
19:08Bagaimana kita ataupun publik membaca hal ini?
19:10Di satu sisi ada pernyataan perkuat koordinasi SAL,
19:13di sisi lain mengeluarkan aturan SAL tak lagi di Bank Indonesia.
19:17Ya, jadi kalau kita lihat aturan SAL ini kan memang
19:20aturan yang sebetulnya sudah dirumuskan dari
19:23zaman Menteri Keuangan sebelumnya.
19:26Dan ini memang kebijakan yang memiliki beberapa catatan.
19:29Satu, secara umum ini adalah kebijakan pengelolaan likuiditas
19:34yang implicitly ini harusnya masuk ke ranah Bank Indonesia.
19:39Jadi, apakah ini nanti kemudian menjadi sebuah langkah
19:43yang menuju dominansi fiskal?
19:46Ini kita perlu lihat.
19:47Tapi memang ada risiko ke arah sana.
19:49Kedua, yang perlu diperhatikan juga adalah
19:52ini stabilitas di sektor perbankannya.
19:55Bahwa nilai SAL kita ini cukup besar.
19:58Dan, kalau kita lihat dari bisnis model perbankan,
20:01memang saat terjadi penempatan dana yang
20:03baik kecil maupun besar, mereka ini harus menyalurkan sebagai kredit.
20:07Nah, SAL ini sifatnya itu adalah dana jaga-jaga.
20:12Dana yang kira-kira harus liquid, harus bisa digunakan sewaktu-waktu,
20:15sehingga kalau cash flow fiskal kita ini tidak terlalu manageable,
20:21kita bisa menggunakan SAL sebagai buffer
20:24dan tidak perlu menerbitkan surat utang baru.
20:27Permasalahannya, kalau SAL ini ditaruh di perbankan,
20:30maka nanti kementu perlu akan ada tiba waktu-waktu
20:33kementu harus menarik SAL ini secara tiba-tiba
20:36dan mungkin saiznya cukup besar.
20:38Nah, sedangkan bank ini tidak bisa kemudian menarik kredit
20:41yang mereka sudah salurkan secara tiba-tiba.
20:44Nah, ini bisa mempengaruhi terhadap
20:48balance sheet dari perbankan itu sendiri
20:50dan mungkin bisa terjadi guncangan di balance sheet perbankan.
20:54Jadi, saya rasa ini beberapa risiko yang perlu diperhatikan
20:57dari kebijakan penempatan SAL ini
21:00bahwa memang ada risiko di sektor perbankan.
21:03Secara umum memang tidak ada di risiko secara fiskal,
21:06tapi ini justru akan mempengaruhi atau exposure
21:09terhadap kebijakan moneter dan makroprudensial
21:13yang memang secara umumnya ini berada di bawah Bank Indonesia.
21:19Oke, ada beberapa hal yang bisa diambil
21:23terkait juga dengan risiko yang kemudian jadi pertanyaan besarnya
21:26mungkin oleh publik, apa risiko terbesar
21:28jika SAL bisa lagi ditempatkan di Bank Indonesia?
21:31Tadi Anda menyebutkan terkait dengan diperbankan
21:34terkait dengan balance sheet, kemudian di fiskal
21:36kemungkinan tidak ada risiko yang begitu besar.
21:38Namun, ada lagi gak sih risiko yang mungkin
21:41bisa dilihat oleh masyarakat yang berdampak langsung kepada masyarakat
21:45ketika dana SAL ini tidak lagi ditempatkan di Bank Indonesia
21:48atau mungkin justru ini adalah keputusan yang memang ada manfaatnya menurut Anda?
21:54Di satu sisi ada potensi ini kan guyuran likuiditas.
21:57Jadi ada potensi ini akan menekan cost of fund lebih rendah.
22:02Karena bank ini ujung-ujungnya dia tetap harus menyalurkan
22:06excess liquidity yang mereka miliki.
22:09Tapi kalau kemudian bank ini tidak berada dalam kondisi yang
22:13memiliki excess liquidity
22:15maka ini hanya akan menjadi dana yang
22:18kemudian mandat di perbankan
22:21yang mungkin bahkan nanti ujungnya hanya
22:23untuk dibelikan SBN atau surat berharga.
22:27Dan ini tidak mengalami trickle down efek ke masyarakat.
22:30Jadi memang efektivitas dari kebijakan ini
22:33kalau kita melihat dari kacamata produktivitas pertumbuhan ekonomi
22:38dampaknya pun juga masih memiliki beberapa risiko.
22:43Artinya dampaknya pun belum tentu optimum.
22:46Di sisi lain ini juga perlu diperhatikan tadi
22:49balance sheet dari bank ini sangat mungkin terkena shock
22:52apalagi kalau dana SAL ini ditaruh secara besar.
22:56Dan mungkin satu hal lagi yang perlu kita perhatikan adalah
23:00kompetitiveness atau persaingan di sektor perbankan.
23:03Kita tahu ini pengucuran dana sangat besar di bank himbara.
23:07Tapi kan bank-bank non-himbara ini tidak mendapatkan
23:09kucuran dana.
23:10Artinya mereka tidak memiliki likuiditas yang berlimpah
23:13sehingga mereka tidak bisa menawarkan
23:15cost of fund yang lebih murah.
23:17Jadi ini satu akan mempengaruhi balance sheet bank himbara.
23:20Kedua ini juga ada potensi risiko terhadap persaingan bank secara umum
23:25di industri perbankan.
23:27Dan ketiga dana ini belum tentu bisa menjadi produktif ke masyarakat
23:32apabila bank-bank tersebut sebetulnya tidak memiliki excess liquidity.
23:38Mas Rifki terakhir, sejauh mana pertemuan antara Menteri Keuangan dan juga
23:43Gubernur Bank Indonesia akan menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar?
23:48Kalau kita lihat bahwa pasar hari ini masih tertekan begitu,
23:52ini apakah akan menjadi sentimen ataupun katalis positif
23:55bagi pasar di Indonesia?
23:58Paling tidak dalam beberapa hari ke depan iya.
24:01Bahwa ini menunjukkan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan
24:05satu bersinergi.
24:06Kedua mungkin yang lebih penting lagi adalah
24:09mereka fokus pada poin-poin yang tepat.
24:11Jadi lima pilar ini sebetulnya adalah memang pilar-pilar yang dibutuhkan
24:15dalam kondisi perekonomian kita saat ini.
24:18Jadi market mungkin akan membaca bahwa prioritas pemerintah ini sudah on track.
24:23Tapi memang pilar ini harus diturunkan ke dalam kebijakan nyata
24:26dan arah kebijakan yang lebih panjang lagi.
24:30Jadi ini juga market akan menunggu setelah sentimen positif
24:34dari gesture simbolis pertemuan ini, nanti follow-up-nya akan seperti apa?
24:38Bentuk turunan kebijakannya seperti apa?
24:41Dan nanti kemudian sejauh apa sinergi ini bisa produktif,
24:45sejauh mana ini kemudian menjadi kontraproduktif.
24:48Nah inilah yang poin-poin yang perlu menjadi pembuktian
24:52baik itu dari Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan.
24:55Baik, berarti artinya market hari ini masih menunggu
24:58begitu bagaimana kebijakan ini akan berjalan ke depannya.
25:01Baik, terima kasih.
25:02Teku Rifki, peneliti market ekonomi dan pasar keuangan
25:05dari APM, FPB, Universitas Indonesia Atas.
25:07Waktunya bersama kami di Kompas Bisnis.
25:09Terima kasih sehat selalu, Mas.
25:10Ya, terima kasih, Mas.

Dianjurkan