Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Dalam setahun terakhir, Indonesia beberapa kali dilanda bencana yang berdampak pada masyarakat di sejumlah daerah.

Bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur menyebabkan korban jiwa hingga ratusan orang. Selain korban jiwa, bencana juga berdampak pada tempat tinggal dan fasilitas umum.

Sementara itu, kabut asap masih mengepung sejumlah wilayah di Kalimantan dan provinsi terdampak sejak Agustus lalu. Kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

#bencana #gempabumi #ntt #kabutasap #kalimantan

Baca Juga Kabut Asap Karhutla Ganggu Ganggu Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Kalteng | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/692668/kabut-asap-karhutla-ganggu-ganggu-penerbangan-di-bandara-tjilik-riwut-kalteng-sapa-malam

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/692800/gempa-dan-karhutla-melanda-sejumlah-daerah-dpr-dorong-percepatan-penanganan-sapa-siang
Transkrip
00:05Intro
00:12Letak Indonesia yang berada di kawasan cincin api pasifik
00:16menjadi faktor kuat seringnya terjadi gempa bumi.
00:20Seperti gempa di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026
00:25yang menelan banyak korban.
00:27Selain gempa, kebakaran hutan dan lahan pun marak terjadi di Indonesia.
00:34Ratusan hektar hutan dan lahan hangus,
00:36kepulan asap mengganggu warga hingga ke negara tetangga.
00:41Indonesia dilanda bencana.
00:44Apa kata para wakil rakyat untuk mempercepat penanganan ini?
00:53Di tanggal 15 Agustus 2026,
00:56gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7
00:59telah mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya.
01:03BMKG menyatakan adanya potensi tsunami di beberapa wilayah provinsi,
01:08yaitu NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
01:14Sebagai langkah antisipasi, BMKG merekomendasikan evakuasi menyeluruh
01:20bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak.
01:24Tercatat pula ratusan jiwa menjadi korban meninggal dunia
01:27dan ribuan lainnya luka-luka.
01:31Di NTT, hingga 31 Agustus 2026,
01:36jumlah pengungsi korban gempa mencapai 188 ribu jiwa.
01:41Namun kini warga belum juga sepenuhnya pulih secara sikis dan fisik.
01:45Harta benda dan tempat tinggal pun rusak.
01:49Rumah sudah rusak.
01:51Saya punya cucu dengan anak tinggal di sini.
01:54Sudah satu bulan lebih.
01:55Presa rumah di sana rusak semua.
01:59Harpans bantuan dari pemerintah.
02:03Semen dengan besi, pasir, air,
02:06supaya mau bikin rumah.
02:08Mereka kasih kami makan, minum,
02:11sumbangan juga kami dapat.
02:14Air bersih, mereka kasih kami air,
02:17tua itu kami minum.
02:20Air soling kami ambil dari sana,
02:22itu baru kami masak.
02:23Kalau pemerintah cepat,
02:25tanggung saya, supaya saya duduk dengan cucu saya.
02:28Saya sekarang ini karena saya pikir begini.
02:31Orang ada rumah baik,
02:33mau masak, mau tidur,
02:36apalagi saya.
02:37Dapur juga jatuh.
02:40Rumah mau tidur, tidak ada.
02:42Kalau orang lain, bisa.
02:44Kalau saya, tidak bisa.
02:46Kalau masuk di dalam, itu miring.
02:49Sampai saya pikir, sampai sekarang ini.
02:53Andreas Hugo, Wakil Ketua Komisi 13,
02:56Daerah Pemilihan NTT,
02:58melihat kondisi masyarakat di wilayah terdampak
03:00sedang memasuki fase pemulihan.
03:03Dari delapan kabupaten yang ada di Flores,
03:07tujuh kabupatennya itu terdampak jempa.
03:10Dan setelah masa tangkap darurat ini adalah
03:12pasca pemulihan.
03:14Kita tahu bahwa ada bantuan yang langsung diberikan oleh Presiden,
03:18kepada tiap kabupaten,
03:20juga bantuan dari pemerintah,
03:22dan terutama dari masyarakat,
03:24yang secara sukarela ke sana memberikan bantuan,
03:29ya itu sangat berterima kasih untuk bantuan-bantuan tersebut.
03:34Cuma juga, satu hal yang mungkin perlu menjadi perhatian
03:38dari pemerintah ke depan,
03:41bahwa kita punya BNPB.
03:43Cuma di daerah, di daerah itu BPBD,
03:48kita tahu bahwa BPBD,
03:50Badan Penanganan Bantuan Bencana di daerah,
03:54itu hanya nama relatif.
03:57Sementara mereka tidak punya kesiapan-kesiapan logistik standar
04:02untuk menangani ketika bencana terjadi.
04:06Nah, ini yang kemudian menjadi penyebab daerah relatif tidak siap,
04:11tunggu bantuan dari pusat.
04:13Kita tidak berharap,
04:14tetapi kita harus bersiap apabila terjadi bencana
04:18di dalam proses pemulihan.
04:21Dan proses pemulihan ini,
04:23saya kira lebih baik langsung on the spot.
04:25Jadi, pemerintah menyiapkan dana,
04:28dana dan kemudian dialokasikan
04:30sesuai dengan tingkat kerusakan.
04:33Jadi, kalau saya melihat,
04:35jangan dijadikan proyek.
04:36Dan kemudian juga,
04:39ya ini bisa menimbulkan
04:40proses birokrasi yang terlalu panjang,
04:43sehingga perlu waktu.
04:44Nah, juga perlu menjadi catan,
04:46sebaiknya sebelum musim hujan,
04:49penanganan itu sudah dilakukan.
04:51Karena kalau ketika terjadi hujan,
04:54ini pasti akan lebih menyulitkan lagi.
04:57Wakil Ketua Komisi 8, Abidin Fikri, menjelaskan,
05:01pemulihan pacar bencana di NTT dan sekitarnya
05:03perlu dilakukan dengan pendekatan yang spasial,
05:07khususnya berkaitan dengan pemulihan trauma psikologis.
05:10Dan diharapkan melalui kementerian dan lembaga,
05:15baik di komisi-komisi yang lain,
05:18itu segera mengevaluasi dan menindaklanjuti
05:23apa yang sepertinya dilakukan
05:26untuk memulihkan keadaan di NTT.
05:29Agar kehidupan ekonomi dan sosial itu bisa berjalan
05:32seperti sedia kalah pasca bencana ini memang
05:37dibutuhkan intensitas yang cukup tinggi
05:42dalam memulihkan keadaan di Nusantara Timur.
05:45Yang paling utama ya,
05:48memastikan itu layanan publik.
05:50Pemerintahan berjalan,
05:52kemudian sektor-sektor layanan publik
05:54seperti kesehatan,
05:57kemudian kehidupan ekonomi,
06:01kemudian sekolah,
06:03dan rumah ibadah,
06:06pelabuhan, dan lain sebagainya itu bisa
06:08dipulihkan segera.
06:10Karena aktivitas masyarakat kan
06:12harus berlanjut.
06:14Dan tentu dengan pendekatan-pendekatan yang
06:18spesial berkaitan dengan memulihkan
06:21trauma psikologisnya.
06:25Percepatan penanganan dan pemulihan pasca bencana
06:27menjadi harapan bersama.
06:30Indonesia sebagai negara yang letaknya
06:32tidak bisa dihindari oleh gempa bumi
06:34harus lebih siap dan sigap
06:36sebelum bencana terjadi.
06:51Kebakaran hutan dan lahan Karhutla
06:53masih menjadi sorotan di Indonesia.
06:56Badan Nasional Penanggulangan Bencana
06:58BNPB mencatat
06:59dalam laporan perkembangan bencana
07:01periode 9 hingga 10 Agustus 2026,
07:05Karhutla terjadi di berbagai daerah.
07:08Hal ini didominasi oleh kemarau panjang.
07:11Namun dibalik itu,
07:13iklim bukanlah penyebab tunggal.
07:16Memasuki Agustus 2026,
07:19sejumlah wilayah di Indonesia pun
07:20menghadapi peningkatan titik panas
07:23yang disertai kabut asap.
07:25Berdasarkan data Kementerian Kehutanan
07:27pada 12 September 2026,
07:29jumlah titik panas mengalami penurunan
07:32menjadi 567
07:33dari sebelumnya 627 titik panas
07:37yang terdeteksi di 6 provinsi prioritas.
07:41Kalimantan Tengah
07:42masih menjadi yang paling dominan
07:44dengan 197 titik panas.
07:48Tentunya Karhutla di Kalimantan
07:49memicu krisis kesehatan serius
07:51dan penurunan produktivitas.
07:56Tentu dengan kabut asap ini
07:58ekonomi sangat terganggu ya.
08:00Saya masih tetap beraktivitas seperti biasa
08:02karena pekerjaan saya juga tidak bisa ditunda.
08:06Untuk harapannya semoga kabut asap ini
08:08segera berakhir,
08:09segera ditangani oleh pemerintah.
08:12Karena kita disini sudah hampir 3 bulan ya,
08:15memasuki bulan ketiga kabut asap
08:17dan beberapa hari ini semakin parah.
08:20Semoga ada penanganan dari pemerintah ya.
08:22Masalah ekonomi saya juga terganggu.
08:25Nah, lagipun kan saya juga terkadang
08:28diambil jadi model.
08:29Nah, tapi semenjak ada kabut asap
08:31jadi saya jarang keluar gitu bang.
08:34Harapan saya semoga kabut asap ini
08:37cepat berakhir.
08:39Daniel Johan dari Komisi 4 DPR RI menegaskan,
08:42penanganan karhutla di Indonesia
08:44harus dilakukan dengan fokus
08:45untuk pemulihan yang lebih cepat.
08:48tiga minggu terakhir saya ke Ketapang
08:50itu lagi parah-parahnya,
08:53bahkan ada yang meninggal.
08:56Jadi,
08:57kita ingin memastikan
08:59tentu nomor satu,
09:02segera,
09:03segala upaya,
09:05secara cepat,
09:06secara kilat,
09:07secara gotong royong,
09:09meskipun
09:10pemerintah sudah bekerja keras,
09:12tetapi skalanya itu
09:14jauh lebih besar
09:16daripada yang sudah dilakukan.
09:19Dan juga jangan sungkan,
09:21jangan jengsi
09:21untuk menerima bantuan internasional,
09:24terutama
09:24yang menyangkut teknologi.
09:27Yang kedua adalah
09:28memastikan korban-korban itu
09:30tidak ditinggal.
09:32Terutama untuk
09:33anak-anak sekolah,
09:34bayi,
09:35orang tua
09:36yang punya
09:37sakit akut.
09:39Fokuskan
09:40darurat sekarang.
09:42jangan sampai
09:43karena kekurangan anggaran.
09:44Karena ini
09:45seluruh lintas kementerian.
09:46Pastikan
09:49dulu kita ada
09:50BRGM,
09:51badan restorasi gambut,
09:53itu bisa
09:54tertangani
09:56jauh lebih baik,
09:57meskipun masih banyak kurang.
09:59Jadi,
10:01tetapi kan kemarin dibubarkan.
10:02Jadi,
10:03wanti-wanti saya,
10:04jangan sampai
10:05badannya dibubarkan,
10:06tapi fungsinya juga hilang.
10:08Itu fungsi harus
10:09diambil alih penuh.
10:11Tidak boleh kurang
10:12oleh Kementerian Kehutanan.
10:14Jadi,
10:15kita harus bisa
10:17mengatasi
10:18soal kebencanaan ini.
10:19Macem-macem kebencanaan,
10:20tsunami,
10:22gempa,
10:23yang memang
10:25karena kondisi alam
10:26dan lain sebagainya.
10:27Dan justru,
10:28kita sebagai
10:29warga negara Indonesia
10:31harus memahami ini.
10:33Tanpa,
10:33tidak ada,
10:34tanpa kesadaran lingkungan
10:35yang tinggi,
10:36saya kira,
10:36kita akan terus.
10:37Karena kan
10:38di banyak
10:40tempat
10:41kita sudah
10:42mendapatkan
10:43pengetahuan bahwa
10:45satu diantara
10:46banyak hal
10:47yang menyebabkan
10:48isu lingkungan itu
10:49mengembangkan itu
10:50karena ulah manusia.
10:51Nah,
10:51perbuatan manusia inilah
10:52yang merusak
10:53lingkungan itu
10:54yang harus kita
10:56minimalkan.
10:56Karhutlah kali ini
10:58terasa lebih berat
10:59dari sebelumnya
11:00karena terdapat
11:01beberapa faktor
11:02yang menjadi kendala
11:03di lapangan.
11:05Penuh diketahui
11:06bahwa kekeringan
11:07di 2026 ini
11:09sangat berbeda
11:11dengan 2015
11:12yang waktu itu
11:13juga kekeringannya
11:14tinggi.
11:14Yang kedua
11:16itu
11:16sumber air
11:18untuk pemadaman
11:19itu
11:20rata-rata
11:21juga kering.
11:22Tapi ya itu
11:23sekali lagi
11:23bahwa
11:25tempatnya
11:26cukup luas
11:27tapi catatannya
11:28adalah
11:28seluruh
11:30kebakaran di Kota Samarinda
11:31dari sekitar
11:32193 kejadian
11:34dengan luas
11:36416,97
11:38itu bisa
11:39dipadamkan semua.
11:41Kita juga
11:41memanfaatkan
11:43aplikasi
11:44lembus wana
11:45maupun sipongi ya.
11:47Tapi itu
11:48kadang-kadang
11:49kalau apinya kecil
11:50atau tidak luas
11:52itu tidak terdeteksi.
11:53Kita punya
11:54detektor
11:57dari SDM
11:58Pak Wali Kota
11:59sejak
12:0125 Agustus
12:03itu
12:03dengan
12:04memanfaatkan
12:05anggaran
12:07biaya
12:07tidak terduga.
12:08Itu akhirnya
12:09ditapkan tanggal
12:10dorat.
12:11Dan sudah
12:11di review
12:12dari biaya
12:13SP Torat
12:13maka terjadi
12:15penambahan
12:15kurang lebih
12:16800 juta.
12:18Itu karena
12:19kita
12:21untuk biaya
12:22penambahan
12:23BBM
12:23yang kedua
12:25juga
12:27distribusi air bersih
12:29kita kan
12:29dan
12:30pertanggung jawabannya
12:31jelas bahwa
12:31BTT ini
12:32pasti akan
12:34dilakukan
12:34pengawasan.
12:35sebagai pengamat
12:37kebencanaan
12:37menurut
12:38Dwi Korita
12:39Karnawati
12:39pencegahan
12:40dan penanganan
12:41pasca bencana
12:42harus direalisasikan
12:43dengan maksimal.
12:45Untuk
12:46NTT
12:46saya melihat
12:47dari info
12:48dini
12:48yang disampaikan
12:49BMKG
12:50sudah cepat
12:51hanya tinggal
12:53tentunya
12:54semoga saja
12:55di
12:56respon
12:57ditanggap
12:58darurat
12:58rehabilitasi
12:59rekonstruksi
13:00juga
13:00cepat
13:02karena
13:03mengingat
13:04juga
13:04ternyata
13:06cukup
13:07banyak
13:08kerusakan
13:09itu
13:09di daerah
13:10yang sulit
13:11dijangkau
13:11Karhutlah
13:12ini agak
13:12beda
13:15sebetulnya
13:16ini kan
13:18sudah
13:18berjuang
13:19ini
13:19sudah
13:21mati-matian
13:22kalau
13:24alam itu
13:24tidak mengenal
13:25batas
13:26jadi
13:27perlu
13:28ada
13:30penjagaan
13:31yang ketat
13:32sebetulnya
13:33saya
13:35yakin
13:36pemerintah
13:38itu kan
13:38pinter
13:38banyak
13:39orang
13:40pinter
13:40dan
13:41mendengarkan
13:42informasi
13:43bahwa
13:44Indonesia
13:45itu
13:45negara
13:46multi
13:49bencana
13:49tapi
13:50persoalannya
13:51apakah
13:52itu menjadi
13:53pertimbangan
13:54utama
13:54prioritas
13:56jadi
13:57insyaallah
13:58kita mau
13:59belajar
14:00dengan
14:00perkembangan
14:01bencana
14:02saat ini
14:03itu
14:03semuanya
14:04itu
14:04ada yang
14:05bisa
14:05dicegah
14:06ada yang
14:07bisa
14:07dikurangi
14:08risikonya
14:09dimitigasi
14:10dan
14:11literasi
14:11masyarakat
14:12tetap
14:12terus
14:13digencarkan
14:13untuk
14:15seluruh
14:15daerah
14:18bencana
14:19bencana
14:19tak semata
14:19karena
14:19alam
14:20tapi
14:21juga
14:21karena
14:21ulah
14:22manusia
14:22yang
14:23melakukan
14:23tanpa
14:24kesadaran
14:24bagi
14:25masyarakat
14:26hidup
14:27aman
14:27dan
14:27tenang
14:27dari
14:28bencana
14:28adalah
14:28suatu
14:29rasa
14:29syukur
14:30namun
14:31kebijakan
14:32tentang
14:32bencana
14:32tetap
14:33harus
14:33ditegakkan
14:36terima
14:41terima
14:44Terima kasih.

Dianjurkan