00:00Setelah lembaga anti rasuah menjerat 4 orang tersangka kasus korupsi ATR BPN yang merupakan orang kepercayaan ataupun orang dekat Menteri
00:08Nusron.
00:09Lalu apakah pola aliran uang ratusan miliar rupiah yang sudah disita ini bisa berputar tanpa menyentuh pucuk pimpinan?
00:17Dan mengapa KPK hingga saat ini belum memeriksa Menteri ATR BPN?
00:21Kita bahas bersama dengan pakar TPPU, Mbak Yenti Gernarsi dan juga praktisi hukum dan aktivis anti korupsi Bang Saur Siagian.
00:29Selamat petang semuanya.
00:31Selamat petang.
00:33Saya ke Bang Saur dulu. Bang Saur, pertanyaannya sama.
00:37Kenapa KPK hingga saat ini belum juga memeriksa Menteri Nusron?
00:41Karena kalau orang awam melihatnya, anak buah dan orang dekatnya ini terjerat gitu.
00:46Bahasanya, masa iya Menterinya ini nggak tahu sama sekali?
00:51Ya, saya bukan orang dalam ya Sir, gitu ya.
00:55Tapi kita menganalisis dari statementnya Dirdik waktu rilis menetapkan 8 tersangka.
01:03Kemudian Dirdik kan mengatakan karena ini OTT, kami terbatas waktu 1x24 jam harus menentukan tersangka yang ditangkap mereka.
01:14Nah ini kan sudah sampai satu minggu.
01:16Nah, oleh karena itu, saya kira teman-teman saya di KPK harus juga mengejar waktu.
01:25Kenapa? Misalnya begini.
01:28Kalau yang 8 ini, katakanlah semua kan bawahan dari Nusron, ada diri jenis, ada kepala pertanahan yang menemukan uang ratusan
01:40miliar.
01:41Nah, uang ratusan miliar ini kan di rumah yang juga kepercayaannya Nusron.
01:49Nggak mungkin Gus itu yang punya uang 106 miliar, pasti ada orang yang lebih besar lagi.
01:57Nah, oleh karena itu, saya kira kita juga kasih ultimatum nih kepada KPK 1x24 jam nih, supaya segera.
02:04Karena kalau tidak, ini bisa meredus kepercayaan publik kepada KPK.
02:11Nah, kalau Golkar sudah menonaktifkan, kalau bahasa mereka kan 6 bulan yang lalu sudah mengundurkan diri katanya.
02:20Ya, biarlah itu antara urusan mereka lah, itu Golkar dengan Nusron.
02:24Dan saya kira juga, Presiden juga, saya kira juga segera menonaktifkan apa?
02:31Ini bisa merusak, apa namanya, citra BPN atau Kementerian Tata Ruang dengan masih aktifnya saudara Nusron ini.
02:44Kenapa tidak dipaketkan?
02:45Kenapa? Malah contoh yang baik itu bahwa Golkar sudah menonaktifkan, kalau dia tidak punya harga diri,
02:54saya kira kita minta Presiden.
02:56Karena apa? Ini menyentuh jantung programnya Presiden.
02:59Yang setiap hari omong-omong soal pemberatasan korupsi, tetapi masih dibiarkan.
03:06Jadi, menurut Anda, tidak hanya mendorong...
03:09Jadi, kalau dari Bang Saur, tidak hanya mendorong KPK untuk segera meriksa Nusron,
03:13tapi Presiden Prabowo ini baiknya harus segera memecat begitu ya, Menteri Nusron ya?
03:19Iya, harus. Menurut saya, Golkar malah menurut saya, terlepas mereka dibilang 6 bulan yang lalu,
03:24ini sudah contoh, malah mestinya Presiden yang di depan segera menonaktifkan.
03:29Karena PRUU Agraria misalnya.
03:31Saya mengutip pernyataan Nusron, soal hak tanah ini harus melindungi fundamental hak-hak warga negara,
03:41supaya tanah-tanahnya jangan diambil, atau tanah-tanahnya dilindungi.
03:45Tapi, faktanya sekarang dalam kepemimpinannya dia, ada warga negara yang lemah,
03:50yang sudah diminta di-blocking dan di-blocking sepihak hanya karena ada uang mengalir.
03:55Oke, tanah sampai di situ dulu, saya ingin ke Bu Yenti.
03:57Bu Yenti, kalau kita lihat KPK sendiri bilang bahwa hari ini sampai saat ini fokus pencarian alat bukti begitu.
04:04Ini koreksi kalau salah, kalau keterangan itu kan tidak bisa dijadiin alat bukti begitu.
04:08Tapi kalau dalam skema TPPU sendiri, Bu Yenti,
04:11pertanyaannya bagaimanakah cara mendeteksi peran dari 4 orang kepercayaan ini,
04:16apakah mereka betul-betul sebagai perantara dari Menteri?
04:21Ya, Bing, kita kan berangkatnya ini dari OTT.
04:24Nah, kita harus menambahkan ke masyarakat OTT.
04:27OTT itu berarti KPK dalam hal ini, dia sudah punya data-data sadapan.
04:34Harusnya sampai berani OTT seperti itu, sudah adalah data-data chatting-chatting sebelumnya.
04:40Karena disadap ya, lebih mudah sebetulnya.
04:42Karena dia sudah dapat laporan, kemudian dapat izin nyadap dan sebagainya.
04:46Dan kemudian tahu, nah berkaitan dengan aliran, tidak mungkin tidak ada di dalam sadapan itu.
04:52Dan KPK itu harus fokus bahwa, kalau ada, akan ada korupsi,
04:57atau ya pasti akan ada korupsi, atau ada deal-deal untuk penyerahan, gratifikasi, swab, dan lain-lain,
05:03dari sadapan dan itu OTT,
05:05harus juga dilihat pembicaraan mereka itu ke arah mana, yang menurut siapa.
05:10Dan kemudian cari aliran, itu kan bisa juga dideteksi dari percakapan itu.
05:17Dan berkaitan dengan menterinya, bukan berkaitan dengan orang-orang kepercayaan, itu kan menurut KPK.
05:25Tetapi faktanya, KPK itu sudah menggeledah dan menetapkan tersangka dirjen.
05:29Nah, ini untuk keterangan juga alat bukti kan ya.
05:33Kemudian, untuk bahwa kemana saja, oh sekarang yang mengumpulkan memang sejak itu melengkapi,
05:41bukan mengumpulkan, karena kan bukti minimum sudah dilakukan.
05:44Sehingga seharusnya, ketika ada dirjen, dan kemudian sebagai,
05:51KPK kan paham ya lembaga kementerian ini,
05:54jadi ada dong tugas tanggung jawab, tanggung jawab sebagai, apa ya,
06:00pertanggung jawaban institusional.
06:03Sebagai institusi, kepala institusi dalam hal ini menterinya,
06:06dan dirjennya sudah dinyatakan tersangka,
06:10dan kemudian ada bahwa ini ada empat orang di luar yang membayang-bayang itu ya,
06:15sebagai perantara atau apapun nanti,
06:17maksudnya kan diperiksa saja,
06:19diperiksa saja, paling tidak diminta keterangan menterinya,
06:22bahwa ada penggeledahan di dirjen-dirjen syukur-syukur,
06:26sudah dapat data-data bahwa hari itu,
06:30waktu itu harusnya sekalian aja ruangan dirjennya,
06:32ruangan menterinya juga digeledah.
06:35Ini akhirnya menjadi pertanyaan publik ya,
06:37Bu Yenti, ini pada saat penggeledahan juga,
06:39ruang menterinya juga tidak digeledah begitu,
06:42sehingga kalau Bang Saur sendiri melihatnya,
06:43apakah status empat tersangka sebagai orang kepercayaan menteri ini,
06:49apakah sudah cukup atau justru belum cukup ini menjadi alasan hukum,
06:53untuk memanggil dan memeriksa Menteri Nyusron?
06:58Gini loh,
06:59saya belum pernah lihat teman-teman di KPK secara lugas,
07:03menyebut orang-orang ditetapkan tersangka ini,
07:06orang-orang kepercayaan.
07:08Ini kan kita bukan datang ke praktek dukun ini sih,
07:14tapi ini adalah penegak hukum yang merilis,
07:18artinya adalah bahwa bukti setidaknya pernyataan itu,
07:26mengindikasikan kuat sekali kepada menteri ini.
07:29Misalnya begini,
07:30yang sekarang kan bisa kita lihat misalnya Golkar,
07:33kenapa menekan...
07:33Kuat sekalinya ini seperti apa?
07:35Maknanya apa?
07:36Ya, artinya adalah berarti sadar atau tidak sadar,
07:42saya kira sadar teman-teman di KPK,
07:44bahwa keterlibatan Menteri Nyusron ini kuat sekali,
07:47kenapa dibilang kepercayaan?
07:49Apa kaitannya?
07:50Bilang aja dampak tersangka,
07:52yang sudah kami dapatkan dirjen,
07:54kemudian ada dua kepala kantor misalnya.
07:58Kenapa teman-teman di KPK mengatakan,
08:01adalah orang kepercayaan,
08:03berarti dia yang dipercaya mengepul uang,
08:07melobi,
08:09kemudian juga
08:10meminta supaya jumlahnya berapa.
08:14Nah, oleh karena itu,
08:16ini bisa didugakan kalau kita sebagai analisis hukum kita,
08:21ini kuat sekali keterlibatannya.
08:24Nah, oleh karena itu,
08:25saya kira,
08:25mengapa misalnya sampai sekarang,
08:28kemudian tidak dilakukan,
08:30katakanlah statusnya setidaknya memanggil,
08:34sehingga publik atau setidaknya tidak lari kemana-mana,
08:38seakan-akan kemudian,
08:40bahwa KPK tidak maksimal melakukan penyidikan kepada saudara Menteri ini.
08:46Meskipun kalau tadi kata juru bicara KPK saat ini fokus pada pencarian alat bukti,
08:51dan memang ada peluang di peperiksaan jika ada keterkaitan begitu.
08:56Nah, yang kita lihat juga dalam kasus ini adalah bagaimana uang ratusan miliar yang disita gitu,
09:03di OTT ini,
09:04terbesar sepanjang OTT dari KPK.
09:06Kalau dari Mbak Yanti sendiri melihatnya seperti apa?
09:08Dari kacamata follow the money begitu.
09:10Indikasi apa yang paling kuat untuk membuktikan bahwa uang tersebut ternyata,
09:15ini bisa mengalir ke atas, Mbak Yanti?
09:18Iya, kan ada strategi pengungkapan ya,
09:21KPK fokus mengumpulkan alat bukti,
09:24ya sejak awal itu emang fokus ya kan,
09:26pada waktu itu ini kan juga fokus dari alat bukti kok aneh jawabannya seperti itu.
09:30Kita kan tidak tahu, KPK memang itu yang harus dilakukan,
09:33mengembangkan, harus mengembangkan apakah tersangkanya itu saja,
09:36apakah tidak ada persangkatan-sangka lain yang berkaitan dengan data-data
09:41bahwa ada penerimaan misalnya, ada penyebutan,
09:43bahwa, enggak tahu itu dari mana ya,
09:46bahwa ada aliran ke lembaga sosial keagamaan untuk muktamar misalnya.
09:50Dikaitkan juga dengan bahwa dari bawah yang bersangkutan juga tadinya
09:55mencalonkan di muktamar itu untuk kemudian enggak jadi.
09:58Itu kan banyak hal-hal yang,
10:00kalau orang pidana ya, itu merangkaikan ya,
10:02rangkaian-rangkaian itu kan terangkai,
10:04bahwa ya waktu itu memang mencalonkan,
10:06dan kemudian bahwa ada muktamarnya,
10:09kemudian ada dirjen-dirjennya di geledah.
10:12Kenapa KPK double standard ya?
10:14Ketika ada CSR-nya Bank Indonesia,
10:18di geledah ke uang gubernurnya juga,
10:20gubernur BI-nya.
10:21Padahal sampai sekarang enggak ada apa-apa nyala ini,
10:24sudah ada tersangkanya,
10:268,
10:273 uang dirjennya dibuka,
10:29di geledah,
10:30kenapa uang menterinya tidak ada?
10:32Enggak, kita tuh hanya berpikir begini.
10:34Gimana Pak?
10:34KPK itu lembaga milik masyarakat,
10:37apapun yang,
10:39apapun biaya mereka itu dari pajak rakyat, gitu ya.
10:42Jadi jangan semau-maunya juga, gitu,
10:44bahwa masyarakat itu juga enggak terlalu,
10:46enggak terlalu anu ya,
10:47enggak terlalu naib sekali lah ya.
10:49Dia juga bisa melihat ini KPK ini ada apa, gitu.
10:51Dan mereka jangan mengabaikan,
10:53bagaimana persepsi kita terhadap KPK yang,
10:56global standard yang sepertinya,
10:58tidak mau melihat,
11:00akan membatasi,
11:01dan tidak mau melihat aliran itu kemana.
11:03Nah, padahal yang namanya kenapa
11:05sampai ada yang 3 kali,
11:07apa, residit sampai 3 kali,
11:10itu karena tidak jera.
11:11Salah satu indikator bahwa
11:13penjeraan terhadap korupsi,
11:15terhadap kejahatan ekonomi itu tidak,
11:17tidak tercapai adalah
11:19tidak mau mengenakan TPPU sejak awal.
11:21Padahal pasal 75 itu sudah jelas,
11:24dikatakan bahwa,
11:25dalam hal, ini KPK ya,
11:26dalam hal KPK sedang memiliki korupsinya,
11:30dan kemudian ada alat bukti
11:32yang kearah mengalirkannya,
11:34maka harusnya KPK langsung
11:36menyedik dua kejahatan itu sekaligus.
11:39Jadi tolong KPK baca itu pasal 75,
11:42Undang-Undang TPPU,
11:44ketika sudah menyampaikan ada aliran dana,
11:46jadi dua.
11:47Jadi kalau KPK sekarang sedang mengatakan bahwa,
11:50sedang mengumpulkan alat bukti,
11:51saya berharap,
11:52yang dikumpulkan alat bukti,
11:53bukan hanya korupsinya saja,
11:55tapi sekaligus dengan alirannya.
11:56Maksud segera memeriksa Nusron Wahid ya?
11:59Terakhir Bang Saur,
12:00singkat saja ini,
12:01di tengah pengusutan kasus ini,
12:02tadi juga sempat Anda singgung,
12:04bahwa tiba-tiba Golkar ini mengeluarkan pernyataan,
12:06kalau Nusron ini sudah mundur sejak beberapa bulan lalu.
12:09Anda membacanya apa ini?
12:11Artinya dugaan keterlibatan Nusron,
12:13barangkali informasi yang didapat sepiak oleh teman-teman di Golkar itu sudah sangat kuat.
12:17Karena begini sih,
12:19kalau kita lihat soal FTT kepala atau di Bogor,
12:24itu kan pembukaan blokir hanya 1,5 miliar.
12:27Tapi ada juga yang ditangkap,
12:30atau tetap yang tersangka kepala BPN di Tangerang itu.
12:32Kemudian juga yang tempat uang itu juga adalah pernah bupati di Kebumen.
12:38Artinya ada dugaan analisis hukum saya,
12:41sangat masif dugaan korupsi ini,
12:44sehingga uang itu sampai di Kepul ini mirip-miripi Ardiansyah,
12:49yang sekarang ini tidak mengakui tuangnya,
12:51tetapi sudah ditapkan sebagai tersangka pemerasan dan TPPU.
12:57Nah ini mungkin analisis saya guncangan yang sangat luar biasa.
13:03Nah ini menurut saya amunisi juga kepada teman-teman salah satu,
13:07katakanlah petunjuk kepada teman-teman di KPK.
13:11Saya yakin mereka sedang serius.
13:14Tapi kecepatan waktu jadi penting,
13:16sehingga publik percaya.
13:19Karena kalau menurut kita,
13:23sebenarnya karena di OTT,
13:25bisa saja pada saat itu Nusron bisa ditangkap,
13:28namun barangkali ada kehati-hatian,
13:30cuman jangan sampai kehatian-hatian ini kalau kita bicara
13:33barang bukti menurut analisi kita sangat kuat.
13:36Ini yang kita nantikan bersama ya,
13:38bagaimana tajinya KPK dalam mengusut kasus ini
13:42tidak berhenti pada level-level tertentu,
13:44tapi bisa juga sampai ke level atas,
13:46begitu termaksud,
13:47kita nantikan nih kapan KPK memeriksa
13:49Menteri ATR BPN Nusronwai.
13:51Terima kasih Bang Sawar,
13:52terima kasih Mbak Yanti telah berbagi perspektifnya
13:55di Kompas Petang.
13:56Salam Sehat.
Komentar