00:00Bumi Pertiwi
00:10Bumi Pertiwi tidak pernah bisa lepas dari satu aktor watak yang enggan turun panggung.
00:16Dialah Karhutla, sang peluka hutan dan lahan.
00:19Setiap tahun ia kembali membawa kabut asap, kecemasan dan pertanyaan
00:24yang sebenarnya sudah terlalu sering kita lontarkan.
00:28Apa penyebabnya?
00:30Sebuah pertanyaan yang selalu kita ucapkan setelah api sudah membesar dan asap terlanjur menyesakan dada.
00:36Dan tahun ini cerita lama itu kembali terulang seolah negeri ini punya skenario tetap
00:41untuk mengingatkan kita bahwa ketika kemarau tiba, api pun bersiap mengambil peran.
00:47Hingga Juli 2026, Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202 ribu hektare lahan telah terbakar
00:53di berbagai wilayah di Indonesia.
00:55Di 6 provinsi prioritas saja, hingga awal Agustus, hampir 49 ribu hektare lahan telah terbakar.
01:02Angka-angka itu mungkin terdengar statistik saja.
01:05Tapi jangan lupa, di setiap jengkal hutan dan lahan yang terbakar,
01:09ada kehidupan yang kian sekarat di tengah kepungan udara kotor.
01:13Tahun ini, alam memang sedang tidak baik-baik saja.
01:17El Nino membuat lahan mengering dan lebih mudah terbakar.
01:20Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menyalahkan cuaca.
01:23El Nino boleh membuat tanah kehilangan air, tapi ia tidak pernah datang dengan membawa pemantik api.
01:29Dan ketika polisi berhasil membuka tabir kasus pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan,
01:35kita pun menyadari bahwa sebagian persoalan bukan lagi sekedar tentang cuaca.
01:40Di balik lahan yang terbakar, ada keputusan yang diambil dengan sengaja.
01:44Dan saat itu, persoalannya tidak lagi mengenai musim kering semata.
01:48Hingga 21 Agustus 2026, Polri telah menangani 89 laporan karhutlah
01:54dan menutupkan 72 tersangka di 9 wilayah Polgah.
01:58Sejumlah perusahaan yang arealnya terbakar juga telah dikenakan sanksi.
02:02Bahkan ada yang izinnya dibekukan.
02:05Namun pertanyaannya sederhana.
02:06Mengapa kita hanya melakukan itu setelah hutan hangus terbakar?
02:11Kita seolah kembali memainkan pertunjukan takunan yang sama.
02:14Api berkobar, asap menyingat, masyarakat mengeluh, pemerintah bergerak,
02:18dan ketika hujan turun semuanya perlahan kembali dirupakan.
02:22Mungkin sudah waktunya kita berhenti menunggu.
02:24Kapan karhutlah akan padam?
02:26Dan mulai bertanya, kapan kita benar-benar menuntaskannya?
02:30Karena jika hari ini kita mewariskan asap dan tanah yang terbakar,
02:35jangan heran jika suatu hari anak-anak kita menagih kembali
02:38apa yang pernah kita bakar atas nama keuntungan.
02:42Dan ketika itu terjadi, mungkin yang tersisa bukan lagi api untuk dipadamkan,
02:46tetapi perisalan yang sudah terlambat untuk diselamatkan.
Comments