Skip to playerSkip to main content
The K Facts - Bumi Pertiwi tak pernah bisa lepas dari satu aktor watak yang enggan turun panggung. Dialah karhutla, sang peluka hutan dan lahan.
Setiap tahun ia kembali, membawa kabut asap, kecemasan, dan pertanyaan yang sebenarnya sudah terlalu sering kita lontarkan, “Apa penyebabnya?”

Sebuah pertanyaan yang selalu kita ucapkan setelah api sudah membesar, dan asap terlanjur menyesakkan dada.
Dan tahun ini, cerita lama itu kembali terulang. Seolah negeri ini punya skenario tetap untuk mengingatkan kita bahwa ketika kemarau tiba, api pun bersiap mengambil peran.

Hingga Juli 2026, Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202 ribu hektar lahan telah terbakar di berbagai wilayah Indonesia.

Di enam provinsi prioritas saja, hingga awal Agustus, hampir 49 ribu hektare lahan telah terbakar.

Angka-angka itu mungkin terdengar statistik saja, tapi jangan lupa, di setiap jengkal hutan dan lahan yang terbakar, ada kehidupan yang kian sekarat di tengah kepungan udara kotor.

Tahun ini alam memang sedang tidak baik-baik saja. El Nino membuat lahan mengering dan lebih mudah terbakar.

👉 Baca berita lainnya diwww.keidenesia.tv(Link di Bio)

ℹ️ Cuplikan video digunakan untuk informasi, edukasi, dan dokumentasi, bukan komersial. Jika Anda pemilik konten dan keberatan, silakan hubungi kami via DM/email.

Follow@keidenesia.tvdan@keidenesiatv.plus

#Keidenesiatv #Viral #Trending #beritaviral #k-fact #KebakaranHutan #Karhutla #KebakaranLahan #KabutAsap #PeduliLingkungan #SelamatkanHutan

Category

🗞
News
Transcript
00:00Bumi Pertiwi
00:10Bumi Pertiwi tidak pernah bisa lepas dari satu aktor watak yang enggan turun panggung.
00:16Dialah Karhutla, sang peluka hutan dan lahan.
00:19Setiap tahun ia kembali membawa kabut asap, kecemasan dan pertanyaan
00:24yang sebenarnya sudah terlalu sering kita lontarkan.
00:28Apa penyebabnya?
00:30Sebuah pertanyaan yang selalu kita ucapkan setelah api sudah membesar dan asap terlanjur menyesakan dada.
00:36Dan tahun ini cerita lama itu kembali terulang seolah negeri ini punya skenario tetap
00:41untuk mengingatkan kita bahwa ketika kemarau tiba, api pun bersiap mengambil peran.
00:47Hingga Juli 2026, Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202 ribu hektare lahan telah terbakar
00:53di berbagai wilayah di Indonesia.
00:55Di 6 provinsi prioritas saja, hingga awal Agustus, hampir 49 ribu hektare lahan telah terbakar.
01:02Angka-angka itu mungkin terdengar statistik saja.
01:05Tapi jangan lupa, di setiap jengkal hutan dan lahan yang terbakar,
01:09ada kehidupan yang kian sekarat di tengah kepungan udara kotor.
01:13Tahun ini, alam memang sedang tidak baik-baik saja.
01:17El Nino membuat lahan mengering dan lebih mudah terbakar.
01:20Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menyalahkan cuaca.
01:23El Nino boleh membuat tanah kehilangan air, tapi ia tidak pernah datang dengan membawa pemantik api.
01:29Dan ketika polisi berhasil membuka tabir kasus pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan,
01:35kita pun menyadari bahwa sebagian persoalan bukan lagi sekedar tentang cuaca.
01:40Di balik lahan yang terbakar, ada keputusan yang diambil dengan sengaja.
01:44Dan saat itu, persoalannya tidak lagi mengenai musim kering semata.
01:48Hingga 21 Agustus 2026, Polri telah menangani 89 laporan karhutlah
01:54dan menutupkan 72 tersangka di 9 wilayah Polgah.
01:58Sejumlah perusahaan yang arealnya terbakar juga telah dikenakan sanksi.
02:02Bahkan ada yang izinnya dibekukan.
02:05Namun pertanyaannya sederhana.
02:06Mengapa kita hanya melakukan itu setelah hutan hangus terbakar?
02:11Kita seolah kembali memainkan pertunjukan takunan yang sama.
02:14Api berkobar, asap menyingat, masyarakat mengeluh, pemerintah bergerak,
02:18dan ketika hujan turun semuanya perlahan kembali dirupakan.
02:22Mungkin sudah waktunya kita berhenti menunggu.
02:24Kapan karhutlah akan padam?
02:26Dan mulai bertanya, kapan kita benar-benar menuntaskannya?
02:30Karena jika hari ini kita mewariskan asap dan tanah yang terbakar,
02:35jangan heran jika suatu hari anak-anak kita menagih kembali
02:38apa yang pernah kita bakar atas nama keuntungan.
02:42Dan ketika itu terjadi, mungkin yang tersisa bukan lagi api untuk dipadamkan,
02:46tetapi perisalan yang sudah terlambat untuk diselamatkan.
Comments

Recommended