00:00Bayangkan sebuah area di Samudera Atlantik seluas gabungan dua provinsi di Indonesia.
00:05Di area ini, lebih dari 50 kapal dan 20 pesawat dinyatakan hilang tanpa jejak sejak abad ke-19.
00:11Pesawat terbang dengan bahan bakar penuh lenyap begitu saja dari radar.
00:16Kapal yang dikirimkan pesan semua baik-baik saja ditemukan terapung tanpa satupun awak di atasnya.
00:22Ini bukan skenario fiksi ilmiah, tapi catatan nyata dari Segitiga Bermuda.
00:26Bagaimana bisa lautan yang dilalui ribuan kapal setiap hari menjadi tempat yang seolah menelan manusia hidup-hidup?
00:33Angkanya memang tidak bisa bohong.
00:36Sejak tahun 1945, lima pesawat pengebom Angkatan Laut Amerika Serikat yang dikenal sebagai penerbangan 19 hilang secara bersamaan dalam satu
00:45misi latihan.
00:47Mereka mengirimkan laporan bingung tentang kompas yang berputar liar dan tidak bisa mengenali arah.
00:52Pesawat penyelamat yang dikirim untuk mencari mereka juga lenyap.
00:55Total ada 14 orang yang menghilang begitu saja dari muka bumi.
01:00Ilmuwan dari berbagai negara pun akhirnya terlibat mencoba mencari pola di balik kejadian yang tampak tidak masuk akal ini.
01:08Tersangka pertama yang diperiksa para ilmuwan adalah medan magnet bumi.
01:12Di hampir seluruh permukaan planet ini, kompas menunjuk ke kutub Magnetik Utara, tapi tidak di Segitiga Bermuda.
01:18Di wilayah ini, kompas bisa menyimpang antara 5 hingga 20 derajat dari arah seharusnya.
01:25Penyimpangan ini terjadi karena di bawah wilayah tersebut ada sumber magnetik bawah laut yang sangat kuat yang menarik jarum kompas
01:32ke arah yang salah.
01:33Bayangkan kamu mengemudi mobil di kota asing dan GPS-mu menunjuk arah yang benar-benar berbeda setiap beberapa menit, itu
01:40yang dialami navigator di laut ini.
01:43Tapi ada satu teori yang bahkan lebih mengejutkan.
01:46Di dasar laut Segitiga Bermuda, terdapat cadangan gas metanah hidrat yang sangat besar, yaitu es yang mengandung gas.
01:52Ketika suhu air laut naik secara tiba-tiba atau tekanan berubah, es ini bisa meleleh dan melepaskan gelembung gas raksasa
01:59ke permukaan.
02:00Air yang bercampur dengan gelembung gas kehilangan kepadatannya dan tidak bisa lagi menopang kapal.
02:06Kapal yang tadinya mengapung stabil bisa tenggelam dalam hitungan detik, persis seperti batu yang dilempar ke kolam.
02:13Penyelidikan menemukan tersangka ketiga yang tidak kalah ganas.
02:16Segitiga Bermuda adalah pertemuan dari beberapa arus laut kuat, termasuk Gulf Stream, yang mengalir seperti sungai raksasa di dalam lautan.
02:25Ketika arus-arus ini bertabrakan dengan badai, mereka bisa menciptakan gelombang pembunuh atau rogue waves yang tingginya mencapai 30 meter.
02:33Untuk gambaran, tinggi itu setara dengan gedung 10 lantai yang bergerak menyerang dari laut.
02:38Sebuah gelombang sebesar itu mampu memecahkan kapal kargo terbesar sekalipun menjadi beberapa bagian dalam sekali pukul.
02:46Jadi, apakah segitiga Bermuda benar-benar berhantu? Jawaban ilmiahnya jelas tidak.
02:51Apa yang terjadi adalah akumulasi dari tiga kekuatan alam yang mengerikan?
02:55Pertama, anomali magnetik yang membuat navigasi sangat sulit dan rentan error.
03:00Kedua, ledakan gas metana yang bisa menenggelamkan kapal tanpa peringatan.
03:05Ketiga, gelombang raksasa yang datang tiba-tiba dan menghancurkan segalanya.
03:08Ketika tiga faktor ini bekerja bersamaan dalam satu wilayah yang juga memiliki lalu lintas pelayaran sangat tinggi,
03:15maka hilangnya banyak kapal dan pesawat bukan lagi misteri, melainkan statistik yang menyedihkan.
03:21Terima kasih sudah bertahan sampai akhir video ini dan menyimak pembongkaran mitos segitiga Bermuda.
03:27Sekarang kita tahu bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kekuatannya yang luar biasa.
03:33Kalau ada wilayah laut misterius lain yang menurutmu perlu kita beda dengan pendekatan sains, tulis di kolom komentar.
03:40Jangan lupa tekan tombol like dan bagikan video ini ke teman-temanmu yang suka cerita misteri.
03:45Dan pastikan kamu sudah subscribe ke channel ini agar tidak ketinggalan video-video sains lainnya.
03:51Sampai jumpa di petualangan ilmiah kita berikutnya.