00:00Intro
00:03Sedara memasuki puncak musim kemarau,
00:06ancaman kebakaran di kota Bandung semakin meningkat.
00:09Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung mencatat,
00:12kasus kebakaran di area terbuka mengalami kenaikan sekitar 20%
00:16dibandingkan periode sebelumnya.
00:24Musim kemarau membuat lahan kosong yang dipenuhi rumput kering
00:27dan alang-alang menjadi sangat mudah terbakar.
00:30Kondisi ini menyebabkan kebakaran di area terbuka atau outdoor
00:34mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
00:39Kebakaran lahan meningkat.
00:41Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung,
00:44Soni Bahtiar, mengatakan peningkatan sekitar 20%
00:48dibandingkan periode sebelumnya.
00:51Kebakaran dipicu oleh kelalaian manusia,
00:54salah satunya kebiasaan membakar sampah di lahan terbuka.
00:58Selain berpotensi memicu api merambat ke lahan maupun permukiman,
01:02pembakaran sampah juga berbahaya karena dapat memicu ledakan api
01:05akibat gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah.
01:13Trendnya meningkat untuk kebakaran di outdoor ya,
01:17karena mungkin ini adalah musim kemarau,
01:21sehingga banyak lahan-lahan yang kosong,
01:27rumputnya mengering, ada alang-alang,
01:31dan itu butuh perhatian dari warga masyarakat sekitar
01:35untuk bersama-sama lah kita menjaga lingkungan
01:38sehingga tetap bersih, tetap aman,
01:40sehingga tidak terjadi kebakaran di outdoor yang lebih banyak lagi.
01:46Karena peningkatnya cukup signifikan,
01:48ada peningkatan sekitar 20% dari kebakaran outdoor.
01:54Masyarakat diimbau mengelola sampah dengan cara yang lebih ramah lingkungan,
01:58seperti didaur ulang atau dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomis.
02:03Langkah sederhana ini dinilai mampu menekan risiko kebakaran
02:07selama musim kemarau, sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
02:11Azifardian Syah, Kompas TV, Bendung, Jawa Barat.
02:16Untuk mengantisipasi kebakaran saat puncak musim kemarau,
02:19kita sudah bersama dengan Kepala Dinas Pemadam dan Penjelamatan Kota Bandung,
02:24Soni Bakhtiar.
02:25Pak Soni, apa kabar?
02:27Terima kasih sudah bergabung bersama kami di Jurnal Nusantara.
02:30Alhamdulillah, kabar baik, Mbak.
02:33Dan semoga juga Mbak dalam kondisi yang sehat, polafiat ya.
02:37Amin, amin, Pak.
02:38Pak Soni, kan kita sudah memasuki musim kemarau ya, Pak.
02:40Apakah ada peningkatan kebakaran di Kota Bandung, Pak?
02:44Iya, kalau kita bandingkan dengan tahun 2025,
02:48memang ada peningkatan tadi yang saya sampaikan,
02:52ada peningkatan sekitar 20 persen.
02:54Namun, kalau kita bandingkan dengan bulan Juni,
02:58satu bulan sebelum bulan Juli kemarin,
03:02itu peningkatannya justru sangat luar biasa, Pak.
03:05Jadi, bulan Juni kemarin ada 26 kasus kejadian kebakaran.
03:12Pada bulan Juli, ini kita ada 54 kasus pada terjadi kebakaran.
03:18Artinya ada kenaikan 108 persen.
03:21Nah, peningkatan paling mencolok itu terjadi di kebakaran yang outdoor.
03:25Ini kebakaran alang-alang, semak, lahan kosong.
03:30Ini yang melonjak dari 4 kejadian bulan Juni.
03:33Bulan Juli itu ada 28 kejadian.
03:36Atau naik 600 persen.
03:39Nah, tentu ini menyumbang sekitar 52 persen di total kejadian kebakaran, Pak.
03:46Baik, meningkat cukup tinggi, Pak.
03:48Lalu, faktor apa saja yang menjadi penyebabnya, Pak?
03:52Baik itu di kebakaran permukiman maupun di kebakaran lahan terbuka, Pak?
03:57Iya.
03:57Pertama, iklim kita sekarang sedang kering, kemarau.
04:02Itu juga menjadi faktor yang kunci, yang penyebab utama, ya.
04:08Terutama yang di outdoor.
04:10Tetapi kalau yang di indoor, faktor iklim sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, Pak.
04:16Tetapi kelalaian-kelalaian itu yang sering terjadi akibat konsleting
04:21atau instalasi listrik yang tidak memenuhi standar, ya.
04:25Lalu kelalaian untuk penggunaan kompor, LPG, abung gas, gitu ya.
04:31Pembakaran sampah yang tidak diawasi.
04:35Sedangkan di lahan terbuka, penyebab utamanya adalah
04:38banyak yang ini membakar sampah atau rumput-rumput yang kering tadi.
04:44Padahal saat api sudah mulai merambat, ini tidak bisa terkendali oleh warga masyarakat.
04:50Atau kelalaian lagi, buang puntung rokok, ya.
04:55Dibuang sembarangan, ternyata mengenai lahan kosong yang memiliki rumput yang kering,
05:01itu juga menjadi penyebab utamanya.
05:04Pada wilayah kota Bandung ini, bagaimana ya, Pak, yang memang potensinya ini banyak
05:11sebagai daerah yang rawan kebakaran dan selama musim kemarau ini
05:14dan langkah antisipasi apa yang sudah disiapkan, Bapak?
05:18Ya, langkah antisipasi yang kami persiapkan adalah
05:22Pertama, kita membuat pencanangan, patroli siaga kemarau, ya.
05:29Dengan kegiatan berupa, pertama adalah pemetaan titik rawat kebakaran di wilayah kota Bandung.
05:37Yang kedua, pemeriksaan kesiapan sarana dan prasarana proteksi kebakaran.
05:43Lalu berikutnya adalah kita melakukan koordinasi dengan kewilayahan,
05:49ini kecamatan, kelurahan, dan juga relawan kebakaran, ya.
05:54Jadi kita memiliki rekar, itu di satu RT itu satu rekar.
06:01Sementara kita baru memiliki 2.800 rekar se-kota Bandung.
06:07Dari jumlah total, RT yang ada adalah 9.980-an RT lah dari se-kota Bandung.
06:17Nah, peningkatan kesiap-siagaan personil dan juga armada ini juga kami antisipasi
06:26agar kesiap-siagaan personil ini juga bisa menekan ya tingginya angka kebakaran yang terjadi.
06:34Baik, Bapak. Kalau edukasi kepada masyarakat ini juga diberikan, Bapak,
06:38dari Dinas Pemanam Kebakaran ini seperti apa, Pak?
06:42Ya, edukasi selalu kita berikan pada masyarakat, termasuk adalah relawan-rawan Pemanam Kebakaran tadi.
06:51Edukasi kita berikan ke sekolah-sekolah, perkantoran, kawasan permukiman, ya.
06:57Dan kampanye kewaspadaan selama musim kemarau melalui media sosial maupun kanal informasi yang lainnya, Mbak.
07:07Baik, Bapak. Lalu bagaimana kesiap-siagaan personil juga untuk dari armada serta pelalatan damkar di kota Bandung ini, Pak,
07:15untuk menghadapi nanti potensi kebakaran yang terjadi?
07:18Ya, kami sedang memperkuat kolaborasi dengan masyarakat sebagai bagian dari peningkatan ketangguhan masyarakat,
07:28sekaligus juga mendukung peningkatan fire resilient indeks kita.
07:33Ya, jadi kota Bandung target fire resilient indeks kita di tahun 2026 ini 75, ya.
07:45Jadi dari semua variable yang ada di Virli tadi, ada beberapa hal sederhana namun sangat penting.
07:53Yang pertama adalah jangan membakar sampah, terutama saat cuaca panas dan berangin, ya.
07:58Lalu pastikan instalasi listrik ini aman dan tidak menggunakan stop kontak yang bertumpuk secara berlebihan.
08:06Itu juga akan bisa berakibat konsleting listrik juga.
08:10Lalu matikan kompor setelah digunakan dan jangan meninggalkan masakan tanpa pengawasan.
08:18Lalu periksa kondisi selang dan regulator LPG.
08:23Ya, ini yang biasa ibu-ibu jangan sampai lupa, ini secara berkala dicek.
08:29Jangan membuang puntung rokok yang sembarangan, bersihkan semak atau rumput kering di sekitar rumah.
08:36Jangan biarkan anak-anak kita bermain api atau petasan.
08:41Nah, langkah-langkah sederhana ini yang dapat mencegah terdia dina kebakaran,
08:44termasuk juga peningkatan kapasitas dari warga masyarakat sendiri.
08:50Baik Pak, ini jika masyarakat ini menemukan titik api gitu ya Pak ya,
08:54apa langkah pertama yang harus dilakukan dan juga cara tercepat ini Pak
08:58untuk menghubungi dinas pemadam kebakaran terdekat Pak?
09:02Ya, pertama jangan panik ya Pak.
09:06Lalu apabila api masih sangat kecil dan aman untuk ditangani,
09:11gunakan apar yang harus selalu kita siapkan di rumah kita.
09:16Atau alat pemadam sederhana.
09:18Nah, namun apabila nanti mulai api membesar,
09:23segera menjauh dan selamatkan diri dan keluarga kita,
09:28kemudian beritahu warga sekitar agar membantu proses evakuasinya.
09:32Nah, setelah itu segera hubungi
09:35Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung.
09:37Kalau Kota Bandung kita menggunakan call centernya 113
09:41atau 022-113.
09:45Saat melapor,
09:46sampaikan lokasi secara jelas,
09:48titik patokan terdekat,
09:50kalau perlu share lock,
09:51berikan agar petugas nanti akan mudah untuk mencapai
09:56ke titik lokasi yang terlapor.
09:59Demikian, Mbak.
10:01Baik, terima kasih Pak Soni Bakhtiro
10:03sudah bergabung bersama kami di Jurnal Nusantara.
10:05Salam sehat selalu, Bapak.
Komentar