Skip to playerSkip to main content
  • 13 hours ago
Every education policy must promote equitable opportunities as Malaysia advances in science, technology, engineering and mathematics (STEM), digitalisation and artificial intelligence (AI), says Datuk Seri Anwar Ibrahim.

The Prime Minister said he was concerned that technological advancements could widen existing disparities if policymakers were not careful.

Read more at https://tinyurl.com/ebapu8fy

WATCH MORE: https://thestartv.com/c/news
SUBSCRIBE: https://cutt.ly/TheStar
LIKE: https://fb.com/TheStarOnline
Transcript
00:00But the most important thing about the 7 systems, including MySTEM in 2030, is something that I mentioned earlier about
00:11digital.
00:11I'm excited because, when I talk about digital, AI, it will become a result of that if it is because
00:26it is because of the development of digital,
00:28it is not even more than that.
00:33There are two kinds of things that are elite, then there are two kinds of things that are elite.
00:38Then, we know the STEM, then we do the same again as a result, then we bring the digital and
00:46AI to the level of the development of digital.
00:50Because from the point of view of the government in the country, we must be very sensitive to the reality
01:00of this.
01:01Every view of our view must be a view of the view of the government and the power of the
01:10government.
01:10In some other words, I always say that they must ensure that there is justice.
01:19From the country, from the country, but they know what means justice.
01:28Justice, according to John Rawls, it must be fairness.
01:34Justice for school in Ulu, Kelantan, with justice for school in V.I. or Mali College.
01:41Tentu ada perbedaan kan?
01:45Kemudahan yang disediakan di sekolah terbaik di Kuala Lumpur dengan sekolah di Kapit, Sarawak.
01:55Jadi sebab itu, kata John Rawls, justice itu mesti fair.
02:02Fairness itu dengan peluang dan kesempatan yang baik diberikan.
02:07Kalau kita tidak beri, maka persaingan itu tidak akan sama.
02:12Sebab ini yang tutup mesti ikut merit.
02:15Ada yang juga yang elite, saya lihat dua, tiga orang.
02:19Yang bicara, dia obsession dengan meritocracy.
02:22Kita tidak menolak meritocracy.
02:25Tapi meritocracy itu mesti seimbang dengan justice as fairness.
02:30Berarti kalau kita nak pergi, kita pilih guru, kita pilih guru yang terbaik.
02:34Meritocracy.
02:35Profesor-profesor yang terbaik.
02:37Menteri pun menteri yang terbaik.
02:42Tetapi, yang terbaik itu satu kelompok.
02:48Tapi yang lain, yang tidak diberi kesempatan dan peluang,
02:53kalau dia biarkan tersisi.
02:56Nah, mesti just competition.
03:00How?
03:01Sekolah Manik Urai dan sekolah Kapit harus compete dengan Malik College dan VI.
03:07Dengan kemudahan yang tentunya jauh berbeza.
03:11That's not fairness.
03:13That's not tool justice.
03:15Sebab itu, tanggungjawab kita, pastikan sekolah di Manik Urai atau di Kapit
03:22Atau Chow Tukun.
03:25Itu agak naik istimewa.
03:27Now, sebelum itu, beberapa pertimbangan harus diberikan.
03:32Baik, yang kita sebut berapa ini metrikulasi.
03:36Yang sepuluh E.
03:37Melayu, Cina, India, Iban, Karazhan.
03:42Ya, bukan perkiraan.
03:44Anak-anak ini paling cemerlang diberikan ruang.
03:48Masa metrikulasi.
03:50Tetapi, kalau di yang 6 E, dari sekolah ulu,
03:54itu bagi saya itu seperti 10 E di sekolah yang terbaik.
03:58Jadi, dalam pertimbangan pemerintah yang adil,
04:02yang kita katakan justice as fairness,
04:04perkara ini harus dijelaskan.
04:08Kalau tidak, sampai kita bincang dari sudut yang berbeda.
04:15Keutamaan yang berbeda.
04:17Dan pertimbangan yang berbeda.
04:19Jangan karena kita mau fairness,
04:24kita ketepikan meritocracy.
04:27Dan jangan karena meritocracy,
04:29kita hukum dengan kejam gulungan yang miskin,
04:35dan tersisi, dan terbiak.
04:38Ini bagi saya hal yang diberi perhatian
04:42oleh Kerajaan Pak Dhani dan di Kementerian Pendidikan.

Recommended