Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Apel akbar yang diikuti ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), PPPK paruh waktu, dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Wali Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, berujung ricuh setelah muncul wacana tenaga kontrak akan dirumahkan akibat defisit anggaran daerah.

Suasana apel berubah menjadi aksi protes. Massa sempat melakukan aksi saling dorong, pembakaran, dan berupaya merangsek masuk ke kompleks Kantor Wali Kota. Kericuhan akhirnya mereda setelah sesama pegawai berupaya menenangkan rekan-rekan mereka serta adanya pengamanan dari aparat kepolisian dan Satpol PP.

Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, menyatakan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan mengalami defisit anggaran sebesar Rp50 miliar. Sebagai solusi, ia menegaskan tidak akan merumahkan tenaga kontrak, melainkan memangkas tambahan penghasilan pegawai sebesar 30 persen bagi ASN maupun PPPK. Menurutnya, langkah tersebut disepakati oleh para pegawai. Muhammad Sinen juga menyatakan apabila tenaga kontrak tetap harus dirumahkan, ia berniat mengundurkan diri.

Dalam dialog ini, KompasTV juga menghadirkan pernyataan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang sebelumnya mengungkapkan kondisi keterbatasan anggaran pemerintah daerah, serta membahas dampak kebijakan efisiensi anggaran terhadap pembiayaan pegawai di daerah.

#TidoreKepulauan #PPPK #ASN #MalukuUtara #MuhammadSinen

Baca Juga Defisit Anggaran, Rencana Perumahan PPPK Picu Kericuhan di Tidore Kepulauan | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/679251/defisit-anggaran-rencana-perumahan-pppk-picu-kericuhan-di-tidore-kepulauan-kompas-petang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/679270/wali-kota-tidore-pilih-pangkas-tpp-30-persen-daripada-merumahkan-tenaga-kontrak-berut
Transkrip
00:00Apel akbar yang digelar di kantor Wali Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara,
00:04Senin pagi diwarnai kericuhan.
00:06Para pegawai P3K marah, usai mendengar rencana pegawai kontrak akan dirubahkan.
00:18Suasana apel yang mestinya hikmat,
00:21berubah mencekam saat para pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau P3K
00:26di lingkungan pemerintah Kota Tidore Kepulauan,
00:29menumpahkan kemarahan mereka.
00:32Mereka protes, usai mendengar rencana pegawai kontrak akan dirumahkan.
00:37Situasi semakin tak terkendali saat masa berusaha merangsak masuk ke dalam kantor Wali Kota.
00:44Merespons kemarahan masa, Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen berjanji
00:49tak akan merumahkan pegawai kontrak.
00:52Namun, Pemkot akan memangkas tambahan penghasilan pegawai
00:55baik ASN, P3K, maupun pegawai paruh waktu sebesar 30 persen.
01:02Langkah itu dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi defisit anggaran daerah
01:06sebesar 50 miliar rupiah akibat kebijakan efisiensi.
01:11Bukan seolah dirumahkan ini, ini dia ke solusi terakhir.
01:17Memang kesana tempoh, kemarin tempoh, kalau api ke darah hati,
01:20ya tiapaksa peranggap.
01:21Dan bukan cuma hanya paruh waktu dirumahkan.
01:24Semua pendapatan, pendapat pendapatan ASN,
01:29kepala daerah itu pasti akan dikurangi semua.
01:49Kondisi ASN di Pemkot Tidore Kepulauan,
01:52senada dengan curhatan Gubernur Maluku Utara,
01:55Sherly Coanda, ke DPR bulan lalu.
01:57Di hadapan DPR, Coanda mengaku Pemprov Malut tak lagi punya uang
02:02untuk membayar gaji para P3K hingga akhir tahun 2026.
02:09Karena kami sekarang tidak punya cash flow untuk membayar gaji P3K sampai dengan akhir tahun.
02:14Sehingga apakah masalah kami daerah selesai?
02:17Tetapi permasalahan kita di daerah ketika kita harus melakukan inovasi,
02:21banyak tools, banyak otoritas dari kami itu yang sudah diambil oleh pusat.
02:26Sehingga kami pun tidak memiliki ruang untuk bisa berinovasi.
02:30Di Maluku Utara, daerah kita itu cuma 960 sekian miliar.
02:35Sedangkan belanja pegawai kita itu 1,1 triliun.
02:39Artinya belanja pegawai kita itu sudah melebihi daerah.
02:44Pemerintah pusat memangkas anggaran transfer daerah sebesar 848 triliun rupiah
02:50menjadi 650 triliun rupiah.
02:53Hal ini membuat kepala daerah mesti berhemat
02:57sambil tetap memastikan pembangunan daerah tetap maksimal.
Komentar

Dianjurkan