00:00Coba bayangkan kamu menanam bibit tomat dalam posisi terbalik di langit-langit kamar.
00:05Logika kita bilang tumbuhan pasti bingung dan mati, tapi yang terjadi justru sangat mengejutkan.
00:10Batangnya tetap memutar arah untuk mencari matahari,
00:13sementara akarnya tetap tumbuh menjulur ke atas menembus udara.
00:17Tapi tunggu, bukankah seharusnya akar selalu tertarik ke bawah?
00:21Bagaimana mungkin sebuah tanaman punya kompas internal yang bisa menentukan arah tanpa kita ajari?
00:27Pada abad ke-19, Charles Darwin dan putranya Francis sempat dibuat penasaran oleh hal ini.
00:33Mereka melakukan percobaan sederbaan sederhana namun brilian dengan menyinari ujung kecambah dari satu sisi saja.
00:39Hasilnya, kecambah itu tumbuh membengkok menuju cahaya membuktikan ada area sensitif di ujung tanaman yang mendeteksi stimulus dari lingkungan.
00:48Namun misteri terbesarnya bukan soal cahaya, melainkan gravitasi.
00:51Karena bagaimana sebuah sel tanaman yang tidak punya otak bisa merasakan gaya tarik bumi?
00:57Bayangkan sebuah gelembung level air yang digunakan tukang bangunan untuk memastikan lantai rata.
01:03Di dalam ujung akar tumbuhan, terdapat mekanisme serupa yang jauh lebih sensitif.
01:07Ada butiran-butiran kecil bernama amiloplas yang mengandung pati,
01:11dan butiran ini akan selalu jatuh ke bagian terbawah dari sel akibat gravitasi.
01:16Butiran ini bukan sekadar penanda arah, karena keberadaannya memicu rantai reaksi kimia komplek yang mengubah cara sel akar tumbuh dan
01:24membelah.
01:25Saat amiloplas mengendap di satu sisi sel, hormon pertumbuhan bernama auksin akan terakumulasi di sisi bawah akar.
01:32Dalam batang, auksin merangsang sel untuk memanjang, tapi di akar, auksin justru menghambat pemanjangan sel di konsentrasi tinggi.
01:39Akibatnya, sisi atas akar yang kadar auksinnya rendah justru memanjang lebih cepat daripada sisi bawah.
01:45Perbedaan kecepatan pertumbuhan antara kedua sisi ini menyebabkan akar membengkok ke bawah seperti gerakan truk pemadam kebakaran yang belok tajam.
01:54Fenomena ini disebut gravitropisme positif, di mana akar secara aktif tumbuh mengikuti arah gaya gravitasi bumi.
02:01Berbeda dengan batang yang menunjukkan gravitropisme negatif karena selalu ingin menjauhi pusat bumi menuju cahaya.
02:07Alasan akar mencari ke bawah sangat vital bagi kelangsungan hidup, tumbuhan di alam liar.
02:12Di bawah permukaan tanah terdapat cadangan air tanah yang stabil sepanjang tahun, jauh dari panas matahari yang menguapkan air.
02:20Tanah juga menyimpan mineral dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang larut dalam air dan tersedia di lapisan
02:27dalam.
02:28Tapi tidak semua akar menurut pada aturan gravitropisme positif ini.
02:32Akar pohon bakau di hutan mangrove justru tumbuh ke atas menembus lumpur untuk mengambil oksigen dari udara.
02:39Kemudian ada akar udara anggrek yang tumbuh horizontal di udara kosong untuk menangkap kelembapan dari kabut.
02:45Pohon arah Strangler bahkan mengirim akarnya dari atas kanopi hutan turun ke tanah membalik logika gravitropisme secara total.
02:52Ini membuktikan bahwa tumbuhan memiliki sistem pengaturan yang sangat adaptif terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
02:59Jadi, misteri kenapa akar tidak tumbuh ke atas akhirnya terjawab sudah.
03:03Itu bukan kebetulan, melainkan hasil interaksi cerdas antara hormon auksin dan sensor gravitasi bernama amiloplas yang bekerja tanpa henti setiap
03:11detik.
03:13Cerita ini mengajarkan kita bahwa kehidupan di bumi, kita punya mekanisme yang lebih komplek dari yang pernah kita bayangkan.
03:19Terima kasih sudah menyimak sampai habis penjelasan, penjelasan tentang graviropisme ini.
03:24Kalau menurutmu ada fenomena tumbuhan unik lain yang harus kita bedah, tulis di kolom komentar.
03:30Jangan lupa tekan like dan bagikan video ini ke teman-temanmu yang suka berkebun.
03:34Sampai jumpa di video berikutnya, tetaplah penasaran.