00:00Amerika Serikat dan Iran kembali saling berbalas serangan.
00:04Lalu bagaimana membaca situasi ini dan apa maknanya atau dampaknya juga terhadap proses kesepakatan damai kedua negara.
00:12Kita akan ulas bersama pengamat militer Said Anton Ali Abbas.
00:17Saat malam Mas Anton.
00:18Saat malam Mas Radhi.
00:21AS Iran saling serang lagi.
00:23Saya ingin Anda juga menjelaskan hubungan kedua negara ini sekarang bagaimana sih sebenarnya setelah kesepakatan damai kemarin.
00:28Nah kali ini katanya saya dengar pemicunya adalah insiden di Selat Hormuz terutama penyerangan kapal Singapura oleh Iran ya.
00:36Mas Anton. Betul demikian?
00:38Ya betul Mas Radhi. Ini memang aksi saling balasnya ini adalah ada keterkaitan dengan ada serangan terhadap salah satu kapal
00:46tanker yang melintas di Selat Hormuz.
00:48Tapi ada beberapa hal yang bisa kita baca terkait insiden terakhir ini.
00:52Yang pertama jelas bahwa ini menunjukkan MOU kemarin itu tidak sama dengan perdamaian.
01:00Itu. Jadi kenapa kemudian ada muncul saling serang.
01:02Itu yang satu.
01:03Yang kedua memang para pihak yang selama ini berunding dalam hal ini dalam Amerika Serikat dan juga Iran itu sama
01:11-sama menggunakan strategi yang namanya eskalasi sambil negosiasi.
01:16Jadi dengan kata lain mereka sama-sama menggunakan pendekatan militer sembari ada negosiasi.
01:21Apalagi misalnya serangan yang tanggal 2.
01:27Rencana ini ada perundingan di akhir pekan ini terkait tim teknis di Burgenstock.
01:33Jadi ini memang agak berdekatan.
01:35Jadi kalau namanya cerita dalam politik ini semua tidak ada sesuatu yang kebetulan.
01:38Ini semua terencana.
01:39Yang ketiga.
01:43Itu bukan serangan acak.
01:45Jadi selama ini Bahrain misalnya.
01:46Bahrain itu tadi disebutkan di dalam Viti.
01:49Dia merupakan salah satu tempat.
01:51Jadi pangkalan Amerika Serikat yang kelima.
01:53Di situ ada.
01:54Lalu juga Bahrain selama ini dikenal sebagai pengkritik keras Iran.
01:57Selain dari Uni Emirat Arab.
02:00Yang jelas.
02:01Dan Iran sendiri menyatakan bahwa serangan mereka kepada negara-negara tetangga itu bukan nyerang negara tetangga.
02:07Tapi menyerang fasilitas militer yang dimiliki oleh Amerika Serikat.
02:11Jadi dia mempertegas tentang itu.
02:12Jadi ini memang menarik.
02:13Apalagi Bahrain sebelumnya juga ada kedatangan Menlu A.S. Marco Rubio.
02:17Jadi memang pesannya jadi cukup jelas.
02:19Bagaimana agar negara-negara di kawasan untuk menjaga jarak dengan Amerika Serikat.
02:24Jadi apakah kemudian kalau nanti ada pertanyaan bahwa ini apakah kemudian balik lagi ke perang lagi atau tidak.
02:30Nah ini yang kita belum tahu.
02:31Bahwa ini akan membuat perundingan akan menjadi semakin alot.
02:36Karena masing-masing mencoba menjaga posisi tawar dengan menggunakan kekuatan senjata Mas Radi.
02:42Anda mengatakan tadi negosiasi sambil juga ada eskalasi.
02:47Dan itu tidak terhindarkan ketika hal ini terjadi.
02:52Itu tidak menedak terjadi tapi ada by design gitu ya kira-kira.
02:57Tapi sebenarnya kalau kali ini pemicunya adalah insiden di Selat Hormus.
03:03Apakah kesempatan kemarin soal Selat Hormus itu juga menyangkut Selat Hormus ini juga tidak sepenuhnya diterima ke dua belah pihak
03:10artinya.
03:10Kalau demikian Mas Anton.
03:12Jadi memang ketika kita bicara tentang apa yang disudah ditatang secara digital tanggal 17 lalu.
03:17Itu kan sama-sama soal Selat Hormus.
03:19Cuma memang ada perbedaan gitu.
03:22Jadi masing-masing mengklaim bahwa ini sudah masuk juga pencakupan soal pengelolaan Selat Hormus.
03:26Cuma memang ada perbedaan gitu.
03:28Kalau Trump kan bilang bahwa ini akan selalu bebas tanpa ada gangguan dan lain-lain selama 60 hari.
03:35Tapi bagi Iran dia bilang bahwa bebas memang tapi harus berkoordinasi sama mereka.
03:40Jadi ada titik yang memang mereka berbeda gitu.
03:43Nah bagi Iran apa yang dilakukan terhadap serangan kepada kapal tanker itu adalah memastikan bahwa tuntutannya itu memang serius.
03:50Ketika bicara tentang mereka itu harus sokol adalah wajib lapor gitu.
03:54Jadi mereka harus koordinasi itu serius gitu.
03:57Kenapa?
03:57Karena Iran sendiri ketika pasca dari Burgenstock misalnya.
04:00Itu kan tidak langsung pulang ke Teheran delegasinya.
04:02Tapi datang ke Muscat, ke Oman untuk bicara apa?
04:05Untuk bicara tentang bagaimana pengelolaan nanti Selat Hormus ke depan gitu.
04:09Dan disebutkan kalau misalnya dalam media Bloomberg gitu ya.
04:12Dibilang bahwa Oman sendiri itu setuju.
04:14Ini bicara bukan ngomong tentang tol.
04:16Tapi bagaimana tentang service fee.
04:18Ada potensi kerusakan lingkungan dan lain-lain.
04:21Disebutkan Oman itu sebutkan setuju juga tentang ada penghutaan gitu.
04:25Jadi bagi saya apa yang dilakukan oleh Iran kali ini itu untuk menunjukkan bahwa tuntutannya.
04:30Apa yang mereka sebutkan bahwa ada pengelolaan baru Selat Hormus itu memang nyata.
04:35Dan itu yang dilakukan bagaimana dia kemudian selalu mengingatkan bagi kapal-kapal tanker.
04:40Yang main nyelonung lewat aja tanpa kemudian melapor atau berkoordinasi dengan Iran.
04:46Nah itu yang kemudian dilihat oleh Amerika itu berbeda.
04:48Kata Amerika ya memang gak boleh ada gangguan.
04:50Nah bagi saya ini adalah salah satu memang kekhawatiran.
04:53Kekhawatiran sekaligus juga kerentanan ketika terjadi ada perbedaan.
04:58Perbedaan persepsi terkait hal-hal yang memang belum banyak detil disepakati dalam perundingan ini.
05:05Mas Radi.
05:06Oke.
05:06Nah kalau gitu saya ingin Anda juga melihat apa ya.
05:10Kalau bisa ditakar kualitas MOU yang kemarin dijelit kedua belah pihak ini sebenarnya sejauh mana.
05:15Saling menguatkan.
05:16Saling juga menjaga trust antara kedua belah pihak.
05:20Dan bagaimana juga peran mediator dalam hal ini.
05:24Ya kalau misalnya jaga trust ya ini memang agak rumit ketika misalnya Trump belakangan ini makin lebih sering memberikan ancaman.
05:34Jadi memang pada awalnya ketika mereka mau duduk berbicara secara langsung itu kan menunjukkan sudah ada sedikit demi sedikit trust
05:41yang terbangun.
05:42Walaupun kemudian apakah ini nanti akan berjalan lama lancar atau tidak itu lain soal.
05:46Itu satu.
05:47Kedua memang ketika kita bicara MOU yang sudah tanda-tanda yang digital itu kan cuma memberikan kerangka besar apa saja
05:53yang akan diatur secara teknis.
05:55Nah teknis ini yang memang nanti akan selesai dalam harapannya selesai dalam waktu kurang dari 60 hari ke depan.
06:02Nah ini yang memang kemudian menjadi pelik.
06:04Karena ada beberapa hal yang bagi saya cukup krusial.
06:07Bicara tentang misalnya tentang uranium.
06:10Uranium ini belum lagi termasuk tentang bagaimana izin terhadap IAEA akan boleh datang atau tidak.
06:18Nah itu juga belum.
06:20Lalu juga penghentian perang di semua front.
06:23Ini juga belum.
06:24Kenapa?
06:25Karena ngomong tentang Hezbollah dan Israel ini juga belum.
06:28Belum lagi kita bicara tentang faktor Hezbollah dengan faktor Israel itu adalah hal yang lain.
06:32Belum lagi kita lihat juga misalnya ini faktor Bahrain ini jangan-jangan bisa menjadi destabilisasi apa yang sudah kemarin sudah
06:40agak mulai ajak.
06:41Ini yang memang kemudian akan menjadi dua hari ke depan apakah kemudian bisa berprogres atau tidak berprogres ini yang nanti
06:50akan kita tunggu Mas Radi.
06:51Tapi memang problemnya jadi di satu sisi para pihak ini kan memang sudah sepakat menggunakan strategi yang namanya Constructive Ambiguity.
07:00Jadi dengan kata lain memang mereka sepakat untuk mau berdamai untuk mau gencatan senjata selama 60 hari tapi poin-poin
07:07yang sudah ditulis di situ itu apa namanya mereka punya beda pendapat gitu.
07:12Jadi dan itu memang sengaja dibuka ruang itu sehingga para pihak itu masing-masing bisa mengklaim sebagai sebuah kemenangan gitu.
07:19Bahwa itu nanti apakah jalan atau lain tidak jalan itu lain soal.
07:23Tapi bagi mereka minimal ada sudah ada keuntungan-keuntungan di bagian awal.
07:27Itu Mas Radi.
07:27Dan Constructive Ambiguity itu tadi sepertinya ini jadi bahan untuk berpikir ulang bagi negara-negara di Timur Tengah untuk menyusun
07:36lagi strategi.
07:36Terutama dalam hal geopolitik dan ekonomi termasuk Bahrain dan juga Oman dan Qatar sepertinya akan juga berpikir ulang.
07:46Dan juga ini harus diantisipasi oleh negara-negara di kawasan lainnya termasuk Indonesia.
07:49Baik terima kasih.
07:50Analis militer atau pengawal militer juga dari site Anton Ali Abbas telah berbagi perspektifnya di Sapa Indonesia Malam.
07:57Kita jumpa lain waktu ya.
07:58Mas Anton selamat malam.
07:59Terima kasih Mas Radi.
Komentar