Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KUPANG, KOMPAS.TV - Jenazah dokter yang meninggal diduga akibat intimidasi, Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha, dimakamkan di Kupang, NTT, Senin (29/6/2026) siang.

Keluarga dan kerabat ikut mengantarkan jenazah Dokter Icha ke liang lahat.

Sejumlah pejabat, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga warga dari berbagai daerah juga mengantarkan Dokter Icha ke peristirahatan terakhir di Tempat Pemakaman Umum Liliba, Kota Kupang, NTT.

Sejumlah pihak menyampaikan penghormatan terakhir, seperti dari pihak RS Leona, tempat praktik Dokter Icha dan pengurus Ikatan Dokter Indonesia NTT.

Mereka mengenang almarhumah sebagai dokter yang ramah, tulus, dan berdedikasi tinggi melayani pasien.

Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT telah menerima dokumen rekomendasi dari pimpinan DPRD terkait kasus dugaan intimidasi Dokter Icha, per Senin (29/6/2026).

DPRD TTU akan memanggil ketiga anggota terkait dan memastikan akan menindaklanjuti laporan ini sesuai dengan tata cara, kode etik dan tata tertib lembaga.

Bagaimana perkembangan penulusuran fakta terkait kematian Dokter Icha?

Kita akan membahasnya bersama pihak keluarga, paman dari almarhumah Dokter Icha, Fabi Banase dan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, Slamet Budianto.

Baca Juga [FULL] Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Kapolres Beberkan Perkembangan Penyelidikan | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/nasional/677851/full-dugaan-intimidasi-dokter-icha-kapolres-beberkan-perkembangan-penyelidikan-kompas-petang

#dokter #doktertewas #dprd #kupang

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/677897/full-keluarga-ungkap-dugaan-intimidasi-yang-dialami-dokter-icha-ini-respons-ketum-idi
Transkrip
00:00Penelusuran fakta terkait dengan kematian Dr. Ica, kita akan membahasnya malam hari ini.
00:04Sudah hadir bersama pihak keluarga, ada paman dari almarhumah Dr. Ica, Fabi Banase.
00:10Pak Fabi, selamat malam.
00:16Sambil diperbaiki untuk komunikasinya, Pak Fabi, saya mau menyapa juga, sudah hadir di ruang Zoom.
00:22Ada Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia IDI, selamat Budianto.
00:25Pak Selamat, selamat malam.
00:27Selamat malam.
00:28Iya, saya mau ke Pak Fabi dulu. Pak Fabi, kami tentu turut berduka, cita sedalam-dalamnya ya Pak, atas kepergian
00:36Dr. Ica.
00:38Terima kasih, Pak.
00:40Pak Fabi, dari yang Bapak dengar, sebagai paman, sebenarnya bagaimana Dr. Ica terakhir sebelum dinyatakan meninggal dunia,
00:51sempat curhat nggak Pak? Gimana, apa yang dialami Dr. Ica belakangan ini?
00:57Dr. Ica, terima kasih.
01:00Jadi, Dr. Ica curhat, dia merasa stres dan depresi karena diintimidasi.
01:07Dan terakhir semenjak cukup itu mendapat WA dari nomor-nomor yang tidak jelas setiap jam di atas jam 4.
01:17Pokoknya di waktu subuh lah.
01:20Bahwa ada nomor-nomor asing yang masuk, itu berupa teror, habis ancaman, bahwa hati-hati kamu, kamu itu...
01:31Pokoknya seperti yang narasi-narasi yang dibangun sebelum si Ica ke Kupa.
01:38Lalu dia katakan bahwa dia ini stres, mau kembali ke CTO itu, dia merasa terancam dengan seri laku di anggota
01:49Dewan itu.
01:50Lalu dia trauma lagi dengan kejadian...
01:52Iya, mohon maaf Pak Babi, nanti saya mau, masih banyak hal yang saya tanyakan.
01:57Tapi kita jeda sejenak untuk mendengarkan kumandang azan maghrib bagi wilayah Jakarta dan sekitarnya.
02:03Anda kembali menyaksikan Sampai Indonesia Malam.
02:05Kami lanjutkan perbincangan dengan Pak Fabi, paman dari Almarhumah Dr. Ica dan juga Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, Pak Selamat
02:12Budianto.
02:12Pak Fabi, kalau tadi Bapak bercerita bahwa belakangan Dr. Ica memang sering curhat ya, yang mengeluhkan, ada yang meneror, subuh
02:22-subuh, dini hari, dan terakhir Dr. Ica juga meninggalkan surat ya.
02:26Pak Fabi ya, suratnya apa yang ditinggalkan Dr. Ica, Pak?
02:28Surat itu sementara di tangan Pegidik, dan waktu itu Pegidik juga menunjukkan isi surat bahwa pertama, Dr. Ica menyampaikan permohonan
02:42maaf kepada orang tua,
02:44bapak dan mamanya, bahwa dia apa, sebagai kakak dia gagal.
02:57Maksudnya dia minta maaf, meminta maaf kepada orang tua sebagai kakak, dia, Pak, istilahnya, saya lupa juga bahasanya, tapi...
03:07Gagal apa yang kira-kira dirasakan Dr. Ica, Pak, bukannya?
03:10Gagal mengujudkan cita-cita orang tua, tapi kedua, dia mau kembali ke TPU itu, dia masih merasa trauma jika tiga
03:19orang ini tidak diproses hukum.
03:25Lalu, dia mengampuni tiga orang ini, tapi tidak dengan proses hukumnya.
03:34Biarlah dia menjadi korban, asal jangan ada, biarlah dia mati, asal jangan menjadi korban berikut, sehingga tidak ada lagi korban
03:44Ica-Ica yang lain.
03:45Oke, artinya di situ Dr. Ica memang sudah melakukan yang semestinya sebagai dokter jaga kala itu,
03:54tapi kemudian ia mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya, itu yang sangat dialami Dr. Ica selama berapa lama, Pak Fabi?
04:02Itu dialami semenjak kejadian tanggal 13 ke 13 Juni.
04:09Setiap hari ada teror?
04:11Hampir setiap hari ada teror. Teror terus, sehingga pada tanggal 24 itu, 23, kami setelah keluar dari rumah sakit Leona,
04:23kami bawa, kami bawa orang tua kandungnya, dokter Ica, bawa ke Tupang.
04:28Jadi tanggal 24 itu, kami lakukan tes kejiwaan di klinik mental health, itu di Tupang.
04:38Dan saat itu juga, ada lagi setiap malam itu teror-teror dari nomor-nomor asli yang selalu...
04:47Itu isinya apa, Pak? Kurang lebih saja, isi bentuk terornya apa? Ancaman seperti apa?
04:52Ancaman, kamu hati-hati, kamu jangan sampai kamu kalau kamu...
04:58Pokoknya kamu skill yang aneh-aneh, kamu hati-hati saja.
05:02Gitu.
05:04Artinya di sini tidak ada berupa intimidasi fisik secara langsung, tapi verbal ya, maupun yang dikatakan langsung,
05:12maupun tadi berupa WhatsApp atau SMS di handphone?
05:16Ya, kalau intimidasi langsung, waktu kejadian.
05:21Pas kejadian, itu intimidasi verbal melalui WhatsApp dan teror hampir setiap hari.
05:28Dan pada tanggal 24, setelah dokter Ica di Tupang dan selesai tes kejiwaan,
05:35itu setiap malam, pasisi dokter Ica itu selalu menghubungi saya di jam 4 lewat 15, karena terjangkai sekali.
05:42Saya bilang, dia tidak bisa matikan handphone, karena ada banyak pasien yang selalu gini.
05:47Jadi, begitu dia buka, selalu saja ada teror nomor-nomor asli yang selalu masuk meneror dia.
05:52Sehingga saya setiap jam 4, saya katakan bahwa,
05:55Nah, noktena saja, besok baru kita jumpa.
05:58Oke, saya mau ke Pak Selamat dulu ya, Pak Fabi.
06:01Pak Selamat, bentuk intimidasi ini benar-benar artinya sudah di luar batas sekali ya, Pak ya?
06:08Antara tadi, pasien, keluarga pasien, dan juga dokter yang merawat, yang menjaga.
06:13Ya, dokter itu kan manusia juga ya, walaupun seorang dokter dididik dengan keras, disiplin, panjang,
06:25mereka manusia juga, apalagi yang dokter jaga di UGD.
06:31UGD itu adalah bagian dari rumah sakit yang full menangani penyakit-penyakit yang gawat dan darurat.
06:40Sehingga seorang dokter yang jaga di UGD itu fokus konsentrasi pada pelayanan medis di UGD.
06:50Tidak ada intimidasi saja, seorang dokter UGD itu sudah stres.
06:57Tekanan yang luar biasa, stres apa? Menangani penyakit-penyakit yang berat.
07:03Yang kedua, kalau pasien itu meninggal, atau pasien itu tidak sembuh, itu sudah stres.
07:08Apalagi ditambah intimidasi sampai seorang dokter itu depresi.
07:15Sehingga saya kira kalau memang nanti itu terbukti intimidasi, kami mengutuk keras dan harus dihukum seberat-beratnya.
07:24Karena dokter Ica ini, walaupun dia diintimidasi, handphonenya tetap masih aktif.
07:31Karena masih banyak pasien-pasien yang membutuhkan dia dari rumah sakit, seperti itu.
07:35Kalau dari yang diterima informasinya dari pihak rumah sakit dan juga keterangan dari para saksi, Pak Selamat.
07:44Sebenarnya waktu itu kejadiannya bagaimana?
07:46Pada saat dokter Ica ini adalah dokter jaga yang berada di UGD, Leona, kemudian merawat anak pasien yang tergigit ular.
07:57Ya, untuk kronologis yang valid, hari ini tim IDI dengan tim Kementerian Kesehatan melakukan investigasi.
08:06Baik di rumah sakit maupun di keluarganya.
08:10Sehingga nanti kita mendapatkan informasi yang lebih valid lagi.
08:16Dan sampai hari ini saya belum mendapatkan info itu.
08:18Yang kami dapatkan adalah bahwa dokter Ica melakukan meninggal dikarenakan intimidasi-intimidasi tadi.
08:28Artinya intimidasi tersebut adalah sangat luar biasa.
08:32Sehingga menyebabkan dokter Ica depresi dan meninggal.
08:36Intimidasi ini apakah termasuk pada saat kalau keluarga pasien ini mengintervensi atau mencoba mengintervensi pada saat kejadiannya?
08:48Jadi begini, UGD itu kan semua penyakit-penyakit yang gawat pasti didituhkan.
08:54Oke, karena perlu pertanganan khusus gitu ya, dan cepat gitu ya.
08:58Dokternya stres karena menangani penyakit-penyakit gawat.
09:01Oke.
09:02Si pasien juga stres juga kalau ada anggota keluarganya yang sakit gawat dan urat.
09:08Di situlah muncul harapan besar dari menurut pasien dan keluarganya atau bahkan pejabat.
09:17Oh harusnya begini, oh harusnya begini.
09:19Harusnya ada di film-film di luar negeri seperti ini.
09:21Padahal tidak seperti itu.
09:23Seharusnya bahwa seorang dokter yang ada di situ melayani maksimal mungkin
09:28untuk menyelamatkan nyawa atau menyembuhkan sesuai dengan standar profesi.
09:34Manakala si pasien tidak sesuai harapan dokter, dokternya juga sedih.
09:43Si keluarganya juga sedih.
09:45Nah di situlah mulai terjadi sengketa.
09:49Si pasien intervensi.
09:51Si keluarganya intervensi.
09:54Bahkan pejabat pun intervensi.
09:56Dan itu tidak boleh ya? Dilarang ya?
09:59Itu tidak boleh.
10:01Coba nanti kalau mbak keluarganya, kalau masuk UGD sudah.
10:04Kedalam sudah sendirian.
10:06Itu urusan dokter dan perawat.
10:08Sedangkan di Indonesia masih bisa intervensi.
10:11Apalagi pejabat, apalagi rumah sakitnya.
10:14Misalnya rumah sakit milik pemerintah.
10:16Padahal itu harusnya tidak boleh.
10:17Oke, saya kembali lagi ke Pak Fawi.
10:19Pak Fawi pada saat dokter Ica ini merawat keluarga pasien yang digigit ular.
10:25Saat itu dokter Ica cerita enggak ada berapa orang yang datang untuk mencoba untuk menanyakan lebih dalam lagi kepada dokter
10:35Ica?
10:36Ya, ada sekitar tiga orang anggota dewan.
10:39Yang pertama itu seorang ibu namanya Veronika Lakeh dari fraksi PDB.
10:46Yang kedua, Subir Tusubani dari fraksi PKB.
10:51Yang ketiga, saudara Lethe Lasakar dari PTB.
10:55Oke.
10:58Lalu?
11:00Lalu si Veronika ini,
11:05dia mengatakan bahwa kami ini menurutnya, kami ini lebih paham SOP.
11:10Dalam enam jam itu sudah harus bla bla bla bla bla.
11:13Panggil wartawan, panggil wartawan.
11:15You tidak tahu kami ini siapa.
11:17Lalu tidak lama masuk lagi si anggota DPR nama Nobetu Subani.
11:22Dia langsung mencerok, kamu tidak tahu kami ini siapa, saya ini siapa.
11:27Catat nama saya, tanda muka saya, saya ini anggota DPR Komisi Tiga yang berurusan dengan kesehatan.
11:34Saya bisa pindahin kamu, saya bisa ini, pokoknya segala macam.
11:38Tidak lama lagi masuklah anggota DPR dari fraksi,
11:44oh karena meneris Lasakar,
11:45dia langsung menjawab,
11:46ah ini bagaimana ini,
11:48ini sepertinya kalian salah kasih obat,
11:50kenapa kasih paracetamol, segala macam gitu.
11:52Dan perlu kita ketahui bahwa
11:54dua anggota DPRD dari fraksi,
11:58Golkar dan
12:01PKB ini mereka,
12:03mereka bawa alkohol.
12:05Dan menurut saksi yang ada,
12:08sebelum mereka masuk,
12:09mereka masuk ke dalam,
12:11serobot ke IGD itu,
12:13mereka juga konsumsi miras.
12:15Oh.
12:15Itu menurut keterangan saksi.
12:16Oke.
12:18Oke.
12:20Oke, kalau gitu,
12:21ini kan akhirnya keluarga pasien yang tergigit ular,
12:25ini akhirnya berhasil disembuhkan ya?
12:27Berhasil selamat begitu ya, Pak ya?
12:30Pasien ini sembuh,
12:31tetapi waktu itu ditanya.
12:33Nah, sebentar Pak,
12:34nanti kita akan lanjutkan ya.
12:35Pak Fabi, sebentar,
12:37kita akan lanjutkan.
12:37Iya, iya, iya.
12:51Kembali lagi,
12:52tadi apa yang dikatakan Pak Fabi,
12:54jadi kan keluarga pasien yang anaknya,
12:59apa, tergigit ular ini kan akhirnya sembuh ya?
13:02Dirawat oleh Dr. Ica,
13:03akhirnya sembuh ya Pak Fabi ya?
13:04Dr. Ica saat itu pernah cerita enggak ke bapak,
13:08kaget enggak,
13:08kenapa seharusnya keluarga pasien ini kan,
13:10seharusnya berterima kasih,
13:12karena anaknya sudah sehat,
13:13sudah pulih lagi.
13:14Tapi kenapa sebaliknya,
13:15malah mengintimidasi berhari-hari
13:17dengan kata-kata yang tidak baik?
13:21Jadi sebelum kejadian ini kan,
13:24begitu saya dengar,
13:27anak saya ini dikirakan,
13:29pertama itu di media.
13:31Saya enggak tahu bahwa yang terjadi ini
13:33anak saya, Dr. Ica.
13:35Setelah hari minggu itu saya tahu,
13:37saya langsung minta nomor telpon
13:39dua anggota Dewan,
13:41Yasmie Teres Lesakar dan Nobeto Subhani.
13:43Teres Lesakar ini saya langsung
13:46WA ke dia,
13:46saya katakan bahwa
13:48saya Fabi Banase,
13:49penakan kandung dari Dr. Ica.
13:51Saya bisa telpon,
13:53dah lama si Teres ini dia telpon bahwa,
13:56oh ini masalah CPL,
13:58sudah selesai,
13:58kita sudah komunikasi habis.
14:00Saya bilang, oh gitu ya.
14:01Lalu,
14:02si Nobeto Subhani,
14:04saya WA lagi,
14:05nama saya Fabi Banase,
14:07saya penakan kandung dari,
14:08saya om kandung dari,
14:10Dr. Ica penakan kandung saya.
14:11langsung,
14:13saya WA,
14:14pokoknya saya kirim,
14:15oh ternyata,
14:16Anda ini jago juga ya,
14:18peraninya intimidasi perempuan.
14:19Ada bukti WhatsApp saya ke dia.
14:21Lalu saya kirim link berita,
14:23di link berita saya bilang,
14:25Anda ini,
14:27bagaimana?
14:27Malah dia nantang lagi,
14:29saya bilang,
14:29saya akan LP Anda di polda.
14:31Dia malah nantang,
14:32siap gitu.
14:33Lalu setelah itu,
14:35saya telponlah ketua DPRD,
14:37TPU,
14:38saya katakan,
14:39saya bilang,
14:40Pak Ketua,
14:41mohon izin,
14:43bisa nggak fasilitasi,
14:44dua orang ini,
14:45mereka,
14:47konferensi pers saja,
14:49bahwa mereka silap.
14:50Kalau yang terjadi,
14:51mereka katakan bahwa,
14:53hari,
14:53mereka katakan bahwa,
14:55ah,
14:55kami tidak,
14:56kami tidak pernah,
14:57apa,
14:58mengintimidasi.
14:59Kami tidak membentak.
15:01Kami hanya,
15:02keluarkan suara,
15:03nada tinggi saja.
15:04Jadi saya tanya ke Pak Ketua DPR,
15:06apa perbedaan antara membentak,
15:09dengan nada tinggi.
15:10Tolong di jalan-jalan ke saya.
15:11Gitu.
15:12Oke,
15:13jadi artinya,
15:14masih tanda tanya juga ya,
15:15bukannya harusnya berterima kasih,
15:16jadi malah menantang balik ya,
15:18dan tidak terselesaikan gitu ya.
15:19Saya kembali ke Pak.
15:20Mungkin saya,
15:21saya klarifikasi lagi,
15:22bahwa,
15:23pasien ini,
15:24pasien rujukan dari rumah sakit umum daerah,
15:28dan dirujukan rumah sakit Leona.
15:30Nah,
15:30kalau mereka mau ribut,
15:31sebenarnya harus di rumah sakit sebelumnya,
15:33bukan rumah sakit Leona.
15:35Oke,
15:36saya kembali lagi ke Pak Selamat,
15:37sebelum ke Pak Fabi.
15:38Pak Selamat,
15:39kalau bentuk perlindungan seperti apa,
15:41sebenarnya,
15:42yang diterima oleh dokter yang menjaga,
15:46dan termasuk ketika keluarga pasien,
15:48ini apakah boleh masuk ke dalam,
15:50misalnya pada saat penanganan-penangan khusus?
15:54Keluarga pasien,
15:56kondisi daerah depan.
15:58itu kalau dokter fokus melayani medis,
16:04punya kewenangan,
16:05melarang.
16:07Apakah tidak boleh,
16:08kalau di luar negi itu tidak boleh masuk.
16:10Yang boleh masuk adalah tenaga medis,
16:13dan tenaga perawat,
16:14dan lain-lain.
16:16Sehingga kalau sampai keluarga pasien masuk,
16:19saya tidak tahu,
16:21aturan yang ada di rumah sakit tersebut.
16:23Tapi secara medis itu tidak boleh.
16:26Apalagi anggota DPR,
16:29atau pejabat yang lainnya,
16:30itu sama sekali tidak boleh.
16:32Perlindungan yang harus dilakukan adalah,
16:34rumah sakit itu harus wajib melindungi,
16:37dokter-dokternya yang bekerja di rumah sakit.
16:40Karena Undang-Undang Nomor 17 itu seperti itu.
16:43Nah, si dokter ini apalagi pasiennya adalah,
16:46sembuh lah misalnya kan.
16:48Kok bisa terjadi seperti ini?
16:50Kalau memang itu adalah anggota DPR,
16:53atau kebupati,
16:54atau ke awali kota,
16:56itu harus diselesaikan.
16:57Karena dokter ini juga manusia,
17:00kalau diintimidasi juga mereka stres.
17:03Dengan tugas yang sangat berat di UGD,
17:06dibebani hal seperti ini,
17:08mereka akan berat.
17:09Jadi seperti itu.
17:10Dan saya yakin,
17:12kalau ini betul-betul terjadi intimidasi,
17:15sudah serayaknya anggota DPR,
17:17itu sudah dapat sanksi yang berat.
17:19Oke, saat ini sejauh ini,
17:21IDI membantukah proses investigasinya,
17:23Pak Selamat?
17:24Ya, hari ini kami dengan Kementerian Kesehatan,
17:27melakukan investigasi langsung di tempat.
17:30Kita ada IDI wilayah NTT,
17:32maupun IDI kota Kupang.
17:34Oke, dari sementara,
17:36penyelidikan sementara,
17:38atau apa yang Bapak dapatkan,
17:39bukti-bukti sementara,
17:40dari keterangan saksi,
17:41maupun juga dari pihak-pihak rumah sakit,
17:42dan lain sebagainya,
17:44apakah memang bisa dikategorikan,
17:45bahwa memang apa yang dilakukan dokter Icah ini,
17:48tidak salah,
17:49artinya sudah sesuai prosedur,
17:50dan keluarga pasien,
17:52atau pasiennya pun ini sudah semu,
17:54dan ini tidak ada sama sekali,
17:56kaitannya dengan dokter Icah,
17:57yang salah prosedur,
18:00pada saat penanganan di UGD.
18:02Ya, itu,
18:03makanya kami melakukan investigasi,
18:06untuk,
18:07biar mengetahui informasi yang sebenarnya.
18:12Kalau dokternya sudah sesuai standar profesi,
18:14ya sudah selesai,
18:16apalagi pasiennya sembuh.
18:18Kalau dokternya tidak sesuai standar profesi,
18:20silakan,
18:21dilakukan di majelis disiplin profesi,
18:23atau majelis kehormatan etik kedokteran IDI.
18:27Itu kan prosesnya seperti itu.
18:28Nah, kok ini sudah sembuh.
18:32Kemudian,
18:33kok ada intimidasi,
18:34apakah karena,
18:36arogansi seorang pejabat negara,
18:38atau pejabat pemerintah,
18:40dan itu sebut,
18:41nanti saya belum mendapatkan hasil investigasinya.
18:44Pak Fabi,
18:45saya yakin,
18:45pasti Bapak,
18:46sebagai Paman,
18:47dan juga keluarga,
18:48pasti menguatkan dokter Icah,
18:49tapi pada saat,
18:51menguatkan dokter Icah,
18:53kan dokter Icah,
18:54katanya sempat dirawat di rumah sakit juga ya Pak,
18:56karena kondisinya drop ya,
18:57betul Pak Fabi ya.
18:58Terus kemudian,
18:58diberbolehkan pulang,
19:00untuk menjalani rawat jalan di rumah,
19:02betul?
19:03Benar.
19:04Nah, kemudian,
19:05apa kira-kira,
19:06kalau yang Bapak lihat,
19:08pemicu sehingga dokter Icah ini,
19:11mengambil langkah lain Pak?
19:15Jadi,
19:16pemicunya adalah,
19:19sejak dokter Icah,
19:22laporkan tiga anggota DPRD ini,
19:24ke badan kehormatan DPR.
19:26Nah, ketika sudah laporkan,
19:27jadi selama ini,
19:30mereka pikir bahwa,
19:31ini mungkin agak rasis,
19:32tapi mereka berpikir bahwa dokter Icah ini bukan anasli NTT,
19:35karena namanya itu.
19:37Karena selama ini nggak pakai marga,
19:38pakai noni, gitu.
19:39Jadi, mereka pikir ini dokter dari luar,
19:42jadi mereka berasa bahwa,
19:44oh, ini dokter pendatang,
19:46itu yang kita setalkan,
19:47ini dokter pendatang,
19:49jadi, ah, kita bisa semena-mena saja.
19:51Ini persepsi saya.
19:53Karena begitu,
19:53setelah kita laporkan ke,
19:58laporkan tiga anggota DPR ini,
19:59ke badan kehormatan DPR,
20:00di situ kan cantumkan nama lengkap.
20:02dokter Elisa Priscila Utami Pakenoni.
20:06Nah, Pakenoni ini anak,
20:07ini marga kami,
20:08anak asli Sektimor Tengah Utara.
20:11Nah, kenapa sampai gitu?
20:13Nah, puncak teror itu setelah dokter Icah melaporkan mereka ke badan kehormatan DPRD.
20:18Dan itu pun,
20:20saya masih komunikasi dengan Ketua DPR,
20:23saya katakan bahwa,
20:25kalau misalnya masalah ini,
20:27kalian minta maaf dulu,
20:29komprinsipnya,
20:30kalian mengakui,
20:31tetapi mereka tetap ngotot,
20:32mereka ingin jumpa keluarga dulu,
20:33baru mereka komprinsipnya.
20:35Kenapa begitu?
20:36Katanya mereka,
20:36kalau mereka mengakui bahwa,
20:38mereka, apa,
20:40kekeliruan,
20:41artinya bahwa mereka itu sudah terindikasi tindak pidari.
20:44Saya juga nggak tahu,
20:45itu persepsi dari mana,
20:47tapi itu info yang saya dapat,
20:49hasil saya komunikasi dengan Ketua DPRD.
20:51Oleh karena itu,
20:53Ketua DPRD katakan bahwa,
20:55mereka tetap tidak mau konfers,
20:57jadi hak keluarga untuk bagaimana,
20:59nah, pas ke laporan itu,
21:01sesuai undang-undang MD3 kata Ketua DPR,
21:05segera nanti disumpulkan persoal administrasi
21:10untuk dilanjutkan kepada persiapan sidang
21:14penelenggaraan kode etik oleh tiga anggota DPRD.
21:17Oke,
21:18DPRD.
21:19Oke, Pak Selamat,
21:20hari ini kan polisi juga sudah memanggil
21:22tiga anggota DPRD ya,
21:24yang sejauh Bapak terima,
21:26apa sih sebenarnya,
21:27yang menjadi alasan ketiga anggota DPRD ini
21:30mencoba mengintervensi,
21:32kemudian berkata-kata yang tidak pantas begitu
21:35kepada dokter yang menyelamatkan keluarga pasien,
21:38atau pasien, maksud saya.
21:39Ya, saya mendengar sedikit ya,
21:42karena saya menunggu hasil investigasi.
21:44Mungkin karena ketidakkuasan
21:46anggota DPRD terhadap pelayanan dokter tersebut,
21:51tapi saya tidak tahu itu ketidakkuasan
21:55sesuai seleranya sendiri,
21:57atau sesuai dengan SOP rumah sakit.
22:00Kalau SOP rumah sakit kan sudah jelas,
22:02pasti dokter UGD tahu.
22:04Jadi, untuk pastinya nanti saya menunggu
22:07hasil investigasi tersebut.
22:08Oke, dan yang jelas,
22:10ini dokter Ica tidak menyalahi prosedur apapun ya,
22:13karena TOP pasiennya juga sudah sembuh ya,
22:15dari perawatan dokter Ica ya,
22:16paslamat itu yang perlu di-highlight juga ya.
22:17Dan sayangnya,
22:18ya memang sayangnya dokter Ica gak melapor IDI
22:21pada saat dia melaporkan ke
22:24Badan Kehormatan DPRD,
22:26kalau dia melaporkan ke IDI kan
22:28kita bisa memberikan
22:30pendampingan dan bantuan hukum.
22:32Kita tunggu upaya penyelidikan selanjutnya
22:34dari polisi,
22:36termasuk juga dari Kementerian Kesehatan
22:37dan juga Ikatan Dokter Indonesia.
22:38Terima kasih Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia,
22:40Pak Selamat Budianto,
22:41dan ada juga Paman dari Almarhumah,
22:44Dr. Ica, Pak Fabi Barnase.
22:47Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan