Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Amerika Serikat dan Iran telah resmi sepakat untuk menghentikan serangan militer demi menyelamatkan kesepakatan damai sementara (MoU) yang sempat terancam runtuh.

Laporan penting ini dikonfirmasi oleh pejabat AS, setelah kedua negara terlibat dalam aksi saling serang di sekitar jalur perairan strategis selama beberapa hari terakhir.

Bagaimana membaca strategi kedua negara dalam eskalasi perang yang masih terjadi? Kita bahas bersama Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo.

Baca Juga Balas Serangan AS, Iran Luncurkan Rudal ke Bahrain-Kuwait dan Ancam Hentikan Negosiasi di https://www.kompas.tv/internasional/677839/balas-serangan-as-iran-luncurkan-rudal-ke-bahrain-kuwait-dan-ancam-hentikan-negosiasi

#iran #amerika #negosiasi

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/677891/full-analisis-pakar-soal-as-iran-sepakat-stop-saling-serang-negosiasi-damai-lanjut
Transkrip
00:00Sementara itu Saudara, Komando Pusat Amerika Serikat merilis video yang memperlihatkan serangan terhadap target-target militer Iran.
00:08Rekaman tersebut menampilkan sejumlah serangan terhadap 10 target militer Iran di berbagai lokasi di dalam dan di dekat Selat Hormuz.
00:16Militer AS menyebut serangan ini atas arahan Presiden Donald Trump.
00:20Pesawat militer AS menargetkan infrastruktur, pengawasan, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penerbangan ranjau milik militer
00:31Iran.
00:37Meski saling serang sempat terjadi antara Amerika Serikat dan Iran, tapi yang terbaru Saudara,
00:43Amerika Serikat dan Iran telah resmi sepakat untuk menghentikan serangan militer demi menyelamatkan kesepakatan damai sementara.
00:50Atau MOU yang sempat terancam runtuh, Saudara.
00:54Laporan penting ini dikonfirmasi oleh pejabat AS setelah kedua negara terlibat aksi saling serang di sekitar jalur perairan strategis Selat
01:02Hormuz selama beberapa hari terakhir.
01:04Lalu bagaimana membaca strategi kedua negara dalam ekskalasi perang ini?
01:08Kita bahas bersama dengan pakar geopolitik dan keamanan nasional, Mas Bibawanton, Nugroho Widode yang telah bergabung bersama kami di Kompas
01:14Petang.
01:14Selamat petang, Mas Bibawah.
01:16Selamat petang, Mas Yusuf.
01:17Kita dipertontonkan dengan aksi saling serang, kedua negara saling klaim bahwa sebenarnya tidak saling percaya untuk negosiasi,
01:24tapi yang terbaru pejabat AS mengonfirmasi kedua negara sepakat untuk stop saling perang.
01:30Sebenarnya apa yang Anda baca dari strategi kedua negara ini?
01:34Ya, jadi gini Mas ya, sejak kemarin pendatangan dilakukan, kita itu masuk dalam tahap yang namanya dari empat memanage konflik.
01:44Yang pertama adalah terminasi konflik, yang kedua adalah memanage konflik, yang ketiga adalah resolusi konflik, yang keempat baru transformasi konflik.
01:50Nah, karena kita tidak ada perang dunia, kalau perang dunia itu langsung ke transformasi konflik.
01:55Jadi Amerika dulu melawan Jepang dan melawan Jerman, ada langkah ekstrim yang diambil, perang dunia, dan setelah itu Jepang dan
02:02Jerman menjadi alive dari Amerika.
02:04Itu poinnya itu.
02:05Nah, tapi kita melewati empat proses tadi.
02:08Nah, sekarang ini kita, sejak penatanganan, itu baru dari step pertama menuju ke kedua.
02:13Dari yang namanya konflik dibentikan dulu, ya, deeskalasi, berarti dulu konflik sementara, coba kita menuju kepada manajemen konflik.
02:21Nah, manajemen konflik itu ada up and down.
02:23Nah, untuk kesana dibutuhkan dua variabel.
02:26Variabel pertama itu adalah restorasi saling percaya yang sudah hancur.
02:31Yang kedua adalah peace process.
02:34Jadi, yang penatanganan itu gampang dilakukan.
02:38Yang susah dilakukan itu adalah semangat tanda tangan, kepercayaan itu bisa dibangun apa enggak.
02:42Itu poin satu.
02:43Poin kedua yang kita lihat sekarang, ya, sekarang ini perjanjian yang sudah di tanda tangan itu, itu menghadapi ujian yang
02:49berat, ya.
02:50Nah, ujian yang berat itu jangan dilihat secara pesimis.
02:53Karena di Timur Tengah, ya, khususnya dalam konflik internasional dan khususnya Timur Tengah,
02:59konflik up and down itu bagian dari diplomasi.
03:01Harus dilihat seperti itu.
03:03Nah, sekarang pertanyaannya adalah bukan hanya kenapa mereka konflik,
03:08kenapa mereka sekarang ada serangan militer saling membalas,
03:10tapi adalah apakah mereka masih mau balik lagi berunding?
03:14Kan mereka mau balik lagi berunding.
03:15Itu poinnya, tuh.
03:16Nah, jadi kenapa ini terjadi?
03:18Nah, yang pertama harus kita lihat dari perspective militer, ya.
03:21Yang pertama, itu adalah deterrent signaling.
03:24Jadi, kedua klihak itu menunjukkan bahwa mereka itu masih siap untuk membalas.
03:28Karena kalau mereka tidak bisa membalas, mereka kehilang kredibilitas dan deterrent, daya tangkal.
03:32Yang kedua, mereka menunjukkan kepada domestic audience bahwa pemerintah mereka itu masih kuat.
03:37Yang ketiga, mereka itu menunjukkan bahwa mereka punya military leverage.
03:41Jadi, pada saat mereka mempunyai kekuatan militer yang dapat dibuktikan,
03:45disitulah mereka bisa menekan dalam negosiasi.
03:47Itu poinnya, mas.
03:48Sehingga Anda bisa kita lihat masih bahwa aksi saling serang ini salah satu tujuannya adalah
03:55ingin menunjukkan bahwa kedua negara sebenarnya masih punya kekuatan,
03:58tapi tidak untuk membuat eskalasi perang yang lebih besar,
04:01tapi bagaimana ketika melakukan negosiasi,
04:03masing-masing negara, Amerika Serikat dan Iran ini masih-masih punya power, begitu?
04:08Ya, betul.
04:09Nah, selanjutnya makanya mereka sambil men-testing oponen, memuji.
04:12Karena sebenarnya yang terjadi ini, walaupun sudah di tanda tangan ini,
04:16terjadi namanya perang intelijen.
04:18Perang intelijen itu dikenal dengan C6ISR.
04:21Jadi, C-nya itu Command, Control, Perang Computer, Perang Communication,
04:25Perang Cyber, Perang Combat System, Intelligence, Surveillance, Recognition.
04:29Itu bisa digunakan kapan saja.
04:31Nah, akhirnya digunakan sekarang, men-testing.
04:33Nah, lawan ini responsif nggak?
04:34Berapa banyak rudalnya?
04:36Bagaimana sistem pertahanan udaranya?
04:38Bagaimana intelijensinya?
04:39Bagaimana daya lawannya?
04:41Ya, dan kemampuan intelijen secara menyeluruh.
04:43Ini di-test gitu.
04:44Nah, yang berikutnya mereka juga saling menunjukkan
04:46bahwa mereka bisa melakukan eskalasi kontrol.
04:49Kontrol eskalasi.
04:50Mereka tidak mau menyerah begitu saja salah satu pihak,
04:53tapi mereka juga tidak mau perang terbuka.
04:55Karena kalau perang terbuka, itu berat ongkos secara politik,
04:58ekonomi, dan militer bagi dua negara.
05:00Nah, makanya possibility-nya itu sekarang ada tiga, Mas.
05:03Yang paling mungkin ya.
05:04Yang paling mungkin itu adalah limited strike.
05:06Sekarang itu.
05:06Terjadinya serangan yang sasarannya militer.
05:09Fokus ya.
05:11Menggunakan drone, menggunakan rudal.
05:13Dan militer diserang, militer satunya lagi sebalik menyerang.
05:18Sampai di situ aja begitu.
05:19Nah, skenario yang kedua, yang modernat,
05:23ini bisa berubah menjadi perang Iran-Iran.
05:25Atau perang Rusia-Ukraine.
05:27Namanya perang atrisi.
05:29Perang yang lama.
05:30Jadi itu mengikis kemampuan ekonomi,
05:32kemampuan industri pertahanan,
05:34yang menggunakan rudal,
05:36menggunakan cyber drone, perang ekonomi.
05:39Sehingga akhirnya nanti yang bisa bertahan lama,
05:43itulah yang menang.
05:44Nah, skenario satu itu menghindari invasi darat.
05:47Skenario dua, sudah mungkin akan ada invasi terbatas.
05:51Nah, yang harus diantisipasi,
05:53jangan sampai terjadi, namanya skenario ketiga,
05:56yang paling tidak diharapkan.
05:57Perang regional, di mana akhirnya Israel terlibat lagi,
06:01proksi-proksi Iran terlibat lagi,
06:02dan bisa menarik great power lainnya,
06:04termasuk Trujillo dan China.
06:05Itu tidak diharapkan.
06:06Yang Anda baca saat ini mengarah ke mana?
06:08Karena kalau kita lihat yang terbaru juga sebenarnya,
06:10perundingan juga sudah akan dilakukan lagi di Qatar.
06:14Nah, mereka masih yang paling mungkin,
06:18seperti saya bilang tadi, adalah skenario pertama,
06:20yang paling mungkin sekarang.
06:21Limited strike.
06:23Nah, limited strike itu tadi itu tujuannya.
06:24Hanya untuk menunjukkan bahwa mereka masih punya kekuatan.
06:28Kekuatan itu kekuatan militer yang dipakai sama mereka
06:30untuk melakukan negosiasi.
06:32Itu poinnya itu, Mas.
06:33Dan mereka itu berusaha juga di dalam proses ini,
06:37ada unik, ini orang militer mungkin ngerti ya.
06:40Jadi, di dalam melakukan serangan-serangan militer
06:42dibalas-membalas itu,
06:43mereka sebenarnya saling membangun kepercayaan.
06:45Jadi, artinya kepercayaan satu sama lain itu dibangun gitu.
06:50Artinya gini, Anda berbuat begini,
06:53saya berbuat begitu,
06:54tapi saya mau negosiasi lagi dengan Anda.
06:56Jadi, militer dan militer menggunakan bahasa persenjataan.
07:00Jadi, Anda masih bawah,
07:01maaf, maaf.
07:02Jadi, ini Anda bisa membaca sebenarnya,
07:04aksi saling serang,
07:05sehingga akhirnya mereka sepakat,
07:07make stop saling serang ini,
07:08bagian dari proses up and down
07:09untuk menuju ke negosiasi,
07:11dan membangun saling kepercayaan itu ya?
07:13Ya, karena masalah utama Washington dan Teheran itu adalah
07:18defisit trust strategis yang sudah sangat besar milenya.
07:23Nah, selagi strategi trust deficit itu,
07:29atau defisit kepercayaan strategis itu tidak direstorasi,
07:32tanda tangan itu tidak akan ada hatinya, Mas.
07:35Kalau kita lihat, Mas Ibu mohon maaf, saya potong.
07:38Yang menarik adalah,
07:38kalau kita lihat,
07:39oke lah,
07:40tidak saling percaya,
07:41tapi lebih penting dari itu adalah
07:43bagaimana poin-poin dari kerjasama itu.
07:46Karena kalau kita lihat,
07:47Selat Hormuz,
07:48keterlibatan serangan di Lebanon,
07:50ini menjadi dua poin besar yang
07:52nampaknya kalau kita lihat secara awam,
07:54wah, tidak akan ketemu nih
07:55antara Iran dan Amerika Serikat.
07:56Anda membacanya bagaimana?
07:58Jadi, ada lima variable yang coba kita perhatikan, Mas.
08:02Eskalasi ini bisa menjadi tidak terkontrol
08:04jika yang pertama,
08:05adanya penutupan atau gangguan serius di Selat Hormuz.
08:08Lihat indikator itu.
08:09Indikator kedua,
08:10jika ada mobilisasi besar-besaran pasukan militer,
08:14baik oleh Iran,
08:15proksinya,
08:15dan juga dari Amerika,
08:17dan sekutu.
08:17Yang ketiga adalah,
08:19serangan terhadap fasilitas energi yang utama.
08:21Yang keempat adalah,
08:23keterlibatan langsung negara-negara kawasan,
08:25Iran dan lain-lain.
08:26Israel dan lain-lain.
08:28Yang kelima adalah,
08:29jika jalur diplomasi sudah gagal total.
08:31Nah, selagi lima indikator ini,
08:34belum terlihat,
08:36kita masih harus optimis.
08:38Bahwa,
08:39di dalam bernegosiasi ini,
08:40mereka menggunakan korsif diplomasi,
08:42yaitu diplomasi yang ditopang oleh kekuatan militer,
08:45yang ditunjukkan,
08:46bukan hanya diomongkan.
08:47Dimana di dalam setiap interaksi itu,
08:49yang melibatkan mediator,
08:51mereka juga berusaha membangun class kembali.
08:54Nah, karena isunya adalah,
08:56defisit strategic trust,
08:58yang sangat besar.
09:00Nah, itu masalah utama Teheran,
09:02dan masalah utama Washington.
09:03Nah, kalau ini bisa diatasi,
09:05peace process ini,
09:06bisa berlangsung dengan baik,
09:07bahkan bisa dipercepat,
09:09dari yang namanya,
09:10conflict termination,
09:11maju kepada conflict management,
09:14yang lebih banyak,
09:15tidak ributnya,
09:16dibanding ributnya,
09:17begitu nanti.
09:18Dan akhirnya berubah menjadi,
09:19conflict resolution.
09:20Ada resolusi,
09:21keinginan,
09:22yang mendalam dari kedua belah pihak,
09:24untuk menyelesaikan ini,
09:25dan membuat order baru di Timur Tengah.
09:28Yang keempat,
09:28baru yang namanya,
09:29transformasi konflik.
09:30Nah, disitulah,
09:31yang terjadi,
09:32setelah Perang Dunia.
09:33Yang dulunya,
09:34misalnya Jepang dan Jerman,
09:35itu adalah musuhnya Amerika,
09:36menjadi aliansinya Amerika.
09:38Nah,
09:39karena kita tidak mengambil,
09:40cara Perang Dunia sekarang,
09:42makanya,
09:43untuk Iran dan Amerika itu,
09:44bisa menjadi,
09:46transformatif hubungannya,
09:47harus melewati proses seperti ini,
09:49Terkuali kita langsung memutuskan,
09:50ayo kita perang aja.
09:51Yang menang,
09:53akan dikuti oleh yang kalah.
09:55Dan setelah itu,
09:55mereka akan transformatif hubungannya.
09:57Menarik seperti yang Anda sampaikan ya,
09:58yang masih bawa ya,
09:59diplomasi dengan menunjukkan kekuatan militer.
10:02Sehingga bacaan Anda,
10:03ke depannya ini,
10:04betul akan stop saling serang,
10:06dan menunjukkan negosiasi,
10:07atau balik lagi,
10:08kita dipertontonkan dengan saling serang.
10:09Singkat saja, terakhir.
10:11Ya,
10:12jadi ini akan terus berjalan,
10:14dengan korsif diplomasi.
10:16Diplomasi terus berjalan,
10:17karena kedua belah pihak itu berusaha menghindari perang terbuka,
10:21besar ongkosnya secara politik,
10:22ekonomi, dan militer,
10:23tetapi serangan-serangan militer terbatas ya,
10:26counter force,
10:27bukan counter value,
10:28yang akan dilakukan gitu.
10:30Counter force.
10:30Ini tidak akan berhenti,
10:32sampai orientasi geopolitik dari kedua negara ini,
10:35khususnya,
10:36compatible.
10:37Dengan mempertimbangkan juga,
10:39apa yang menjadi concernnya Israel.
10:40Karena Israel ini juga,
10:42faktor yang tidak bisa diabaikan kan.
10:43Betul.
10:44Begitu.
10:45Harus compatible antara Israel,
10:46Iran,
10:47dan juga Amerika.
10:48Oke,
10:49ini yang nanti kita nantikan bersama ya,
10:50skalasinya seperti apa,
10:51tapi harapannya,
10:52negosiasi akan berlangsung ya.
10:54Berlanjut terus.
10:55Ya,
10:55ini yang kita harapkan bersama.
10:56Terima kasih.
10:56Mbak Pakar Geopolitik dan Kameran Nasional,
10:58Mas Mibawanto Nugroh Widodo telah berbagi perspektifnya di Kompas Petang.
11:02Salam sehat.
11:03Salam sehat.
11:04Terima kasih, Mas.
Komentar

Dianjurkan