00:01Saudara situasi Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, kedua negara kembali saling serang.
00:07Kemudian bagaimana dengan kesepakatan damai dari kedua negara?
00:11Kita bahas kali ini bersama dengan pengamat intelijen dan keamanan Universitas Indonesia, Mas Tanis Law Sriyanta.
00:17Selamat malam, Mas Tanis, apa kabar?
00:20Selamat malam, kabar baik.
00:21Kabar baik. Mas Tanis, ini kan aksi saling serang kembali terjadi antara Amerika dan juga Iran.
00:28Maaf, kalau menurut Anda aksi saling serang ini bisa dikategorikan aksi saling balas terbatas atau mengarah pada eskalasi menuju perang
00:38terbuka?
00:39Apa indikator yang perlu kita cermati?
00:42Ya, paling penting sebenarnya ini menunjukkan bahwa perjanjian antara kedua negara ini sifatnya rapuh.
00:48Jadi ketika ada pihak yang memprovokasi, maka mereka dengan cepat akan melakukan perang lagi.
00:55Ini menunjukkan bahwa sebenarnya perjanjiannya rapuh.
00:58Nah, kita lihat juga di faktor lain bahwa untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah, termasuk di Iran, di Selatan Hormuz,
01:06itu tidak cukup perjanjian itu hanya dilakukan oleh Iran dan Amerika saja.
01:10Di situ ada pihak-pihak lain yang terlibat memprovokasi atau terlibat di dalam perang yang berkaitan dengan situasi tersebut,
01:17seperti Israel, kemudian dengan Libanon.
01:19Nah, kalau kita melihat situasi ini, maka sebenarnya memang perjanjiannya yang rapuh tersebut,
01:24sudah banyak pangkat yang menduga seperti itu, maka akan mudah sekali akan terjadi pelanggaran-pelanggaran,
01:30termasuk serangan.
01:32Iran mengklaim bahwa Amerika duluan, Amerika mengklaim bahwa Iran duluan,
01:36tapi faktanya bahwa kedua pihak ini saling menyerang pasca perjanjian ditandatangani.
01:42Jadi, nampaknya memang perjanjian itu tidak cukup.
01:45Jadi, perlu ada upaya-upaya lain untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.
01:49Jadi, siapa, Mas? Pihak-pihak atau aktor yang berkepentingan agar konflik ini tidak meluas?
01:55Kalau kita melihat di dalam misalnya disiplin intelijen,
01:58sebenarnya dalam suatu peristiwa itu bisa ditanyakan suatu pertanyaan kui bunuh,
02:03siapa yang diuntungkan dari peristiwa ini.
02:06Sebenarnya, perjanjian antara Iran dan Amerika itu ada pihak yang tidak suka,
02:11ada yang tidak suka mereka melakukan perdamaian, seperti Israel misalnya.
02:14Karena Israel punya kepentingan supaya Amerika terus melakukan serangan terhadap Iran,
02:19sehingga Israel akan merasa aman jika Iran itu takluk atau kalah oleh Amerika.
02:25Nah, banyak kemungkinan yang menyebutkan bahwa Israel salah satu negara yang memprovokasi
02:31supaya perjanjian ini tidak terjadi, atau kemudian dibatalkan atau dilanggar.
02:37Jadi, saya kira itu salah satu hal yang menjadi dugaan banyak orang.
02:40Tapi, saya kira masuk akal kita melihat bahwa sebelum perjanjian ditatani pun,
02:45Israel terus melakukan aksi-aksi supaya hal itu tidak terjadi, perjanjian tidak terjadi.
02:49Jadi, ketika mewujudkan perdamaian di Timur Tengah,
02:53maka Israel, Lebanon, Amerika, Iran itu harus duduk bersama dan menandatani perjanjian,
02:59tidak hanya Iran dan Amerika saja.
03:00Tapi, kelihatannya penandatanganan perjanjian ini tidak semulus yang kita kira, Mas Tanis.
03:06Apakah perlu ada peran dari negara teluk, kemudian kekuatan Eropa,
03:11atau justru tekanan ekonomi yang sebenarnya yang bisa berperan paling banyak untuk kemudian
03:17menghentikan serangan aksi saling balas ini?
03:21Ya, tidak mudah mewujudkan perdamaian di Timur Tengah,
03:24yang konflik yang sudah cukup lama, kemudian permusuhan juga sudah cukup lama,
03:28tidak hanya konflik masalah wilayah misalnya, tapi juga ideologi.
03:32Jadi, saya kira memang perlu pihak lain,
03:34seperti negara-negara di kawasan untuk bersatu untuk mewujudkan ini.
03:38Selain itu juga mungkin PBB bisa terlibat.
03:41Tetapi, semakin banyak yang campur tangan,
03:45itu eskalasi bisa justru juga membesar.
03:47Makanya harus hati-hati untuk melibatkan pihak-pihak tentu dalam urusan perdamaian ini.
03:52Saya kira yang paling bagus adalah pihak-pihak yang berada di kawasan,
03:56seperti Qatar, Bahrain, Unia Milit Arab,
03:59kemudian sudah didahului oleh Pakistan.
04:01Itu saya kira bagus untuk misalnya kemudian bersatu,
04:04bertemu untuk mengusulkan perdamaian ini.
04:06Tapi, negara besar itu juga bisa mendorong di balik layar misalnya,
04:11seperti Rusia, Cina, kemudian negara Eropa.
04:14Mungkin juga bisa mendorong untuk itu.
04:16Kalau soal ekonomi, saya kira perjanjian kemarin itu juga didorong oleh ekonomi.
04:21Jadi, faktor ekonomi politik di internal Amerika itu cukup menekan Trump,
04:24sehingga Trump mengupayakan perjanjian ini dengan sangat cepat.
04:29Kemarin yang harusnya ditandatangani di Swiss,
04:30tapi didahulukan di Perancis.
04:35Tetapi, kita melihat bahwa perjanjian tanpa melibatkan Israel,
04:38tanpa melibatkan Lebanon itu rapuh.
04:40Akhirnya terjadi seperti ini.
04:41Jadi, kalau melihat dari dinamika yang terjadi sampai dengan hari ini,
04:46apakah peluang perundingan damai ini masih realistis, Mas Tanis?
04:51Ya, kita harus optimis bahwa perdamaian akan terjadi.
04:54Itu adalah komitmen harusnya semua pihak untuk mengusulkan perdamaian.
04:59Jadi, arah kita harus sana.
05:00Kita tidak bisa memihak Amerika, memihak Israel,
05:03atau memihak pihak yang berperang.
05:04Jadi, kita harus mendorong bahwa semua pihak yang di kawasan,
05:09misalnya pihak negara-negara Timur Tengah, itu untuk bersatu.
05:12Saya kira ketika mereka mau bersatu, bertemu,
05:15perdamaian bisa terwujud.
05:16Kuncinya adalah mau bertemu.
05:17Kalau kita melihat bahwa perjanjian antara Amerika dan Iran,
05:20itu tidak didahului dengan pertemuan.
05:21Mereka menertai ini secara digital di tempat yang berbeda.
05:25Jadi, saya kira kuncinya adalah pertemuan ketika pihak yang berperang ini bertemu,
05:28kemudian dapat mengah.
05:29Saya kira perdamaian, meskipun agak lambat, itu pasti bisa terwujud.
05:33Ya, Mas.
05:34Tapi, kalau melihat dari konflik sebenarnya yang terjadi hingga saat ini,
05:38antara Amerika Serikat, Iran, dan juga Israel,
05:40ini ada tiga batu sandungan.
05:42Yang pertama adalah soal keamanan Selat Hormuz,
05:46kemudian juga program nuklir Iran,
05:48dan yang terakhir adalah konflik melalui kelompok proksi,
05:50seperti Hezbollah di Lebanon.
05:53Dari ketiga isu ini,
05:54mana sebenarnya yang paling menentukan berhasil atau tidaknya suatu upaya perdamaian?
06:00Ya, poros-poros perlawanan memang sangat menentukan,
06:03karena mereka memang melakukan perlawanan-perlawanan terhadap pihak-pihak yang menjadi musuh mereka,
06:08dan ini cukup menjadi dinamika yang penting di Timur Tengah,
06:13seperti Hezbollah, kemudian Houthi, dan lain-lain,
06:17seperti di Palestina juga ada Hamas.
06:18Tapi isu lain seperti Hormuz,
06:22ini kan juga menjadi pertanyaan besar,
06:25apakah memang sebenarnya ini hanya dimanfaatkan oleh Iran
06:29untuk menjadi sistem baru,
06:31kemudian mereka mendapatkan keuntungan,
06:32atau memang ini sebenarnya adalah
06:34secara tiba-tiba muncul,
06:36karena memang ini menjadi senjata Iran,
06:38senjata Iran untuk mewujudkan keinginannya.
06:41Nah, dan hal lain seperti nuklir misalnya,
06:44saya kira Iran sudah clear ya,
06:46bahwa pemimpin tertingginya juga sudah mengatakan
06:49tidak akan menggunakan nuklir sebagai senjata,
06:52itu ada maklumat saya kira yang dilakukan oleh Iran seperti itu.
06:55Jadi nuklir yang mereka gunakan adalah untuk kepentingan yang lain,
06:58kepentingan non-perang.
07:00Jadi saya kira ini bukan mana yang lebih tinggi,
07:02mana yang lebih besar,
07:03tapi saya kira ini tiga masalah yang harus diselesaikan bersama-sama,
07:06jadi tidak bisa dibobotkan mana yang lebih besar,
07:08tapi memang ini secara paralel harus diselesaikan bersama-sama.
07:11Jadi memang ini masalah yang sangat kompleks,
07:15yaitu sangat kompleks,
07:16yaitu banyak penyebab dan banyak aktor yang terlibat,
07:20jadi tidak mungkin selesai dalam sekejap,
07:23jadi perlu bantuan banyak pihak,
07:24terutama untuk duduk dan berunding, bertemu,
07:28ini saya kira menjadi kunci awal perundingan.
07:29Selama mereka tidak bertemu,
07:30hanya menandatangani secara digital dari jauh,
07:33saya kira perjalanan itu sangat rapuh.
07:34Mas Tanis, tapi kalau melihat dari model serangan dari kedua negara,
07:39menurut Anda serangan yang saat ini terjadi itu
07:42kedua negara saling menunjukkan kekuatan mereka
07:46atau memang keduanya ini sudah menunjukkan
07:49bahwa mereka siap perang dalam jangka waktu yang panjang?
07:52Ya saya kira ini belum serius ya,
07:55belum serius maksudnya memang perang untuk menghancurkan tidak.
07:58Kita meyakini bahwa Amerika punya kekuatan besar
08:01untuk rudal, kemudian besar tempur,
08:03Iran juga punya kekuatan besar.
08:06Dan sekarang teknologi sudah cukup canggih,
08:07ada GPS kan, jadi seharusnya tepat sasaran.
08:09Kalau misalnya mau saling menghancurkan,
08:11saya kira sangat mudah untuk melakukan serangan,
08:13kemudian membuat penghancuran.
08:15Jadi saya melihat bahwa Amerika masih hati-hati,
08:18Iran masih hati-hati untuk melakukan serangan,
08:20itu masih berupa peringatan-peringatan.
08:22Atau mungkin untuk menunjukkan eksistensi,
08:24bahwa dia masih kuat,
08:25atau dia ingin menunjukkan keinginan tertentu,
08:28supaya dipenuhi.
08:29Jadi ini belum serius untuk perang besar,
08:31tapi masih menunjukkan sinyal-sinyal bahwa
08:33semacam tekanan-tekanan yang dilakukan
08:36untuk diikuti keinginannya.
08:39Tapi harapan kita tentu tidak dilanjutkan
08:42dengan perang lebih besar lagi,
08:43karena ini kan menjadi bencana kemanusiaannya.
08:45Tapi eskalasi ini tidak akan berhenti
08:47selama mereka tidak duduk bersama.
08:50Baik, terima kasih atas analisa Anda,
08:53pengamat intelijen dan keamanan
08:55Universitas Indonesia,
08:56Mas Tanis Lausrianta.
08:57Salam sehat selalu, Mas Tanis.
08:59Terima kasih.
08:59Terima kasih.
09:00Terima kasih.
Komentar