Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun formula baru untuk menentukan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, status desil ekonomi bukan satu-satunya indikator, melainkan akan dikombinasikan dengan kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, serta akses terhadap pemenuhan gizi masyarakat.

Selain melakukan refocusing penerima manfaat, BGN juga memanfaatkan masa penghentian sementara MBG saat libur sekolah untuk mengevaluasi ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dapur-dapur yang dinilai tidak memenuhi standar akan ditinjau satu per satu, bahkan berpotensi dialihkan pelayanannya ke SPPG lain yang lebih siap dan berkualitas demi menjaga mutu program MBG ke depan.

Produser: Prayogi

Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/675682/wakil-bgn-agustina-arumsari-mbg-akan-difokuskan-ke-yang-membutuhkan-dapur-tak-standar-dievaluasi
Transkrip
00:00Andi Bu dari Kata Data, ada dua pertanyaan.
00:03Pertama, soal tadi Ibu bilang desil yang tinggi tidak akan mendapatkan MBG karena sudah mampu.
00:11Itu boleh diperjelas lagi nggak Bu?
00:14Yang akan dapat MBG itu desil berapa aja jadinya?
00:16Satu, dua, tiga, empat, atau sepuluh nggak dapat.
00:19Yang kedua, tadi Ibu juga bilang bahwa penghentian MBG sementara itu untuk standarisasi tata kelola.
00:27Boleh dielaborasi sedikit nggak Bu?
00:28Maksudnya standarisasi tata kelola ini apa?
00:30Apakah nanti jika setelah 13, saat 14 juli semua beroperasi lagi,
00:37kalau ada SBBG yang tidak memenuhi standar bakal cut permanen atau kayak gimana gitu?
00:43Terima kasih.
00:45Iya.
00:47Desil itu hanya salah satu indikator ya.
00:50Jadi nanti tadi saya sudah mengatakan ada kerentanan visi, kondisi sosial ekonomi
00:55yang tadi mungkin salah satu parameternya ada desil.
00:58Kemudian akses terhadap pemenuhan visi.
01:00Nah itu masih kami olah, masih kami ramu kriteria yang tepat seperti apa.
01:07Dan indikator itu intinya memang akan membantu kami dalam membuat kebijakan.
01:14Tapi saya belum bisa membuat begini, karena anggaran yang ada itu nanti besok dan minggu depan masih akan kami bahas
01:23dengan kementerian keuangan juga.
01:25Jadi semaksimal berapa yang bisa kita lakukan efisiensi dengan tentu indikator-indikator tadi.
01:34Kalau memang dia berada di daerah yang rentan visi, kondisi sosial ekonomi yang diindikatorkan dengan desil itu,
01:44dan akses terhadap pemenuhan visi memang rentan, maka itu bisa menjadi pertimbangan bagi kami juga untuk melakukan efisiensi dengan melakukan
01:54refocusing kepada pihak lain yang lebih membutuhkan.
01:57Tapi kalau sekarang ditanya, bu persisnya apa? Nah formula itu yang masih kami susun, ya mas ya.
02:03Jadi ini mohon maaf nih, karena kami juga baru ini ya, dan kami benar-benar mengejar untuk data dan sebagainya.
02:12Mungkin belum bisa seidel yang kami bayangkan, walaupun kami sudah punya gambaran, kira-kira nanti akan ada mekanisme untuk kita
02:20pilah seperti itu.
02:21Ya, ada kerentanan visi, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap pemenuhan visi, dan seterusnya.
02:29Ya, yang kedua tadi standarisasi tata kelola, bu, setelah penghimpinan selama masa libur, kira-kira standarisasi tata kelola seperti apa?
02:37Ya, jadi teman-teman di BGN itu sebenarnya selama ini sudah juga banyak memantau, ya.
02:45Bahkan mungkin sudah rame juga di medsos kan banyak dapur-dapur yang kurang sesuai dengan standar, ya.
02:53Nah itu nanti kami akan evaluasi semua.
02:55Kalau yang benar-benar sangat tidak memungkinkan untuk beroperasi,
03:01sementara di situ memang kebetulan juga penerima manfaatnya tidak ada, gitu ya.
03:05Atau mungkin bisa kita minimalkan, atau bisa kita alihkan ke SPPG terdekat yang memang lebih berkualitas, katakanlah begitu.
03:15Itu nanti kami akan lakukan.
03:16Tapi sekali lagi, Mas, ini harus satu persatu nih, memang agak rumitnya ya.
03:21Harus satu persatu, dan kami berpatokan dulu ke penerima manfaat dulu nih.
03:25Begitu, ya.
03:26Ya, jadi mungkin yang kemarin-kemarin, yang kemarin itu kan, ya mungkin teman-teman sudah tahu lah ya,
03:33ada jual beli titik, sehingga yang menjadi fokus itu SPPG-nya.
03:38Penerima manfaatnya, ya pokoknya nanti dicari terdekat di situ.
03:42Nah, kami tidak ingin seperti itu.
03:44Maka sekarang, pastikan dulu penerima manfaat.
03:48Pastikan dia akan di, apa, suplai, gitu ya, diantar dari SPPG yang mana.
03:54Nah, itu baru nanti kita akan mengikuti proses efisiensinya.
03:59Agak rumit memang, karena memang harus satu persatu di antara tadi ya, 27.820.
04:07Tapi sebenarnya teman-teman di Kedeputian Tawas, Pemantauan Pengawasan, dan sebagainya,
04:12sebenarnya sudah punya data-data awal yang mungkin bisa menjadi fokus kami nanti
04:18untuk kami cermati apakah SPPG itu memang masih bisa kita tingkatkan misalnya ya, secara kualitas.
04:26Atau memang benar-benar, jadi mungkin teman-teman tahu ya, kemarin kan sempat ada perubahan juknis.
04:31Jadi, dari 400 luasan dapurnya diubahlah oleh kepala SPGN yang dulu menjadi 150, kayak gitu dong.
04:45Nah, itu kan yang seperti itu kan menyebabkan dapur-dapur kemudian menjadi tidak memenuhi standar
04:51untuk menghasilkan kualitas makanan yang baik.
04:55Nah, itu pas ya. Ya, memang agak ini harus pelan-pelan di cek satu persatu.
Komentar

Dianjurkan