00:00Amerika membuktikan ancamannya untuk melakukan serangan balasan usai Iran menembak jatuh helikopter tempur Apache.
00:06Eskalasi kembali panas, usai Amerika Serikat dan Iran saling serang, selat hormus ditutup.
00:12Lalu apakah Iran akan kembali memborbardir sekutu Amerika Serikat di kawasan?
00:17Kita bahas bersama pakar strategi PPAU, juga alumni US Air World College, Agung Sasongko Jati.
00:23Selamat sore Pak Agung.
00:26Selamat sore.
00:27Ya, Iran Amerika Serikat saling serang dan Amerika Serikat mengatakan tidak lagi menahan diri sejumlah serangan diluncurkan.
00:33Seberapa besar perang yang akan terjadi dengan sisa kekuatan dari masing-masing negara?
00:39Jadi serangan yang dilakukan ini kan memang adalah bagaimana ada terjadi kecelakaan itu pesawat, pesawat helikopter Angkatan Udara Amerika, Angkatan
00:51Udara Amerika sebetulnya,
00:53ditembak dengan kayaknya seperti dengan rudal merek, rudal tapi bersifat drone,
00:59karena kecepatannya cuma tidak kecepatan suara tapi sekitar 700-800 km per jam, itu ranja udara.
01:04Ya memang Apache ini terbang di atas selat hormus yang mana, kita tahu, Iran membuat notem warning bahwa tidak ada
01:14yang boleh melakukan kegiatan di situ.
01:15Ya, dia terbang di situ ya tertembak jatuh lah.
01:18Nah, apa yang terjadi kemudian adalah Amerika membalas kan, membalas dengan kampanye udara.
01:24Ya, dia menyerang di Pulau Kesem dan Guruk serta di Provinsi Hosmosgan.
01:28Jadi apa yang dilakukan oleh Amerika ini adalah kombinasi daripada serangan militer, namun juga penekanan untuk agar segera Iran menyetujui
01:43proposal yang diajukan dari Amerika.
01:45Jadi sebetulnya adalah koersif diplomasi yang dilanjutkan lagi tapi sekarang dengan lebih keras lagi.
01:52Tapi menurut Pak Agung sendiri, apakah Iran akan mempertahankan posisinya?
01:56Meski sebelumnya kalau kita lihat, ini disampaikan juga kepada Amerika Serikat bahwa silahkan tinggalkan medan perang jika AAS akan menguji
02:04tekat kami.
02:05Nanti dijawab, kami sampai kembali saudara. Tetap di Kopas Petang.
02:13Ya, jadi Pak Agung, apakah menurut Anda Iran masih akan bertumpu dengan menutup hormus dan menyerang negara sekutu?
02:19Karena kita lihat bagaimana Menteri Luar Negeri Iran Abbasarakci mengancam Amerika Serikat.
02:25Jadi tekanan Amerika kepada Iran itu adalah pertama adalah tekanan ekonomi ya.
02:30Dengan menutup selat hormus, sanksi ekonomi jelas dari dulu ya.
02:32Kemudian menutup selat hormus sehingga tidak bisa kapal masuk dan keluar ekspornya.
02:36Iran dianggap tidak bisa keluar ekspor minyak lah khususnya.
02:39Tapi tekanan berikutnya sekarang adalah dengan menggunakan senjata.
02:42Nah, yang untuk senjata ini jelas, kita sudah tahu dalam 40 hari itu Iran diserang dengan segala macam senjata mutakhir
02:49Amerika sampai 50 persen senjata Amerika di dunia ini
02:52yang untuk menyerang atau bertahan itu habis.
02:55Tetapi yang itu tidak bergeming lah.
02:56Sekarang kira-kira berapa persen lagi senjata?
02:58Masih tidak terlalu banyak kan?
03:00Artinya tidak akan ada efek daripada serangan ini kepada ketahanan Iran.
03:04Karena memang bukan itu titik center on gravel, titik lemahnya Iran bukan di situ.
03:12Jadi masuk serangan Amerika itu menurut Anda apa? Cuma mengancam saja?
03:17Iya, karena serangan terbatas.
03:18Karena Amerika jelas serangannya terbatas.
03:20Terbatas tidak menyerang pusat pemerintahan Iran, tidak menyerang tokoh-tokoh pimpinan Iran.
03:26Yang diserang adalah tepat-tepat seperti pertahanan darah, kemudian tempat orang melepaskan rudalnya atau melepaskan drone-nya.
03:34Jadi ini adalah hal-hal yang memang proporsional kata mereka.
03:39Jadi namun tentu saja sama Iran juga dibalaskan.
03:44Iran malasnya tidak membalas ke Amerika langsung saja.
03:47Dia menyerang, katanya dia kena nembak, kena kapal Amerika,
03:50tapi juga menembak ke beberapa pangkalan Amerika di Barent, Kuwait, dan Yordania.
03:54Dan kita karena beritanya tertutup, kita tidak tahu hasilnya.
03:57Tetapi kan itu cukup menakutkan dan cukup membuktikan bahwa
04:01memang Iran tidak mungkin bisa ditangkis 5, 10, 20 rudal.
04:06Tapi kalau Iran menginimkan 100 rudal, apakah bisa ditangkis?
04:09Karena masalahnya apa cukup ada pertahanan udara di daerah situ dari Amerika
04:13dan atau tenegara setempat untuk menangkis ratusan rudal Iran.
04:18Kalau sekarang masih bisa.
04:19Hitungannya cuma 1 lusin, 2 lusin.
04:21Tapi kalau sampai 30, 40, 50, 60, belum tentu kan?
04:24Nah ini sudah cukup mengancam sehingga Iran praktis sekarang tidak bergeming.
04:27Soal beginian dia tidak menyerah.
04:2940 hari tidak menyerah, apalagi dia cuma serangan 1 hari.
04:32Jadi sejauh ini menurut Anda bagaimana dengan kekuatan Iran?
04:37Kekuatan Iran ya tetap kan sudah tahu.
04:40Kalau Iran sendiri, kata orang Amerika sendiri, 70 persen itu masih tersisa.
04:45Brunnya sudah pulih kembali seperti semula.
04:47Nah dengan 70 persen, 40 hari perang saja baru 30 persen.
04:51Nah sekarang mau ngajak perang berapa lama lagi?
04:53Dan Tos juga ini cuma tembak-tembakan yang...
04:56Intinya kan sebetulnya Amerika tuh pengen segali, segala ditandatangani proposalnya.
05:00Iran juga sama.
05:01Ini hanya tit and tat sebelum capek.
05:03Karena kan gini, kalau nggak ada perang semaca atau tembak-tembakan seperti ini kan kurang seru ya.
05:09Amerika kan negara yang dramatik ya.
05:11Negara yang masyarakatnya butuh cerita, butuh kusah.
05:14Sehingga akhirnya seolah kelihatan menang atau seolah kelihatan tidak kalah.
05:18Sehingga akhirnya baru tercapai perdamaian.
05:19Karena memang itu yang dibutuhkan oleh Donald Trump untuk menyelamatkan karir politik.
05:23Melihat perkembangan yang ada saat ini, saling serang, kata damai itu masih sangat jauh.
05:30Damai dalam pandangan Amerika lah damai dengan gimana kelihatan dia lebih dapat keuntungan, nuklir Iran ini.
05:37Dan damai di peridang Iran lah dia dapat uangnya, dia bisa menjual dengan bebas.
05:42Perdamaian yang memiliki tarif, apa, tafsir yang berbeda-beda di negara.
05:45Tetapi perdamaian yang dalam versi mereka mungkin dalam waktu dekat,
05:49tapi perdamaian dalam versi kita, masyarakat normal mungkin masih jauh itu.
05:53Baik, terima kasih Pak Gung telah bergabung di Kompas Petang.
05:56Sampai bertemu lagi.
Komentar